
Keadaan rumah setelah papa Hendra dan mama Widya kembali ke Indonesia cukup berbeda, Jingga tidak pernah bertemu dengan Arkana sejak saat itu. Dia hanya fokus mengurus Keenan, dan dia juga tidur di kamar Keenan beberapa hari terakhir ini.
Yang selalu menyediakan makanan adalah Arkana meskipun dia sibuk dengan pekerjaannya, sebenarnya Jingga menyadari hal itu dan sedikit merasa kasihan padanya. Namun apa daya, dia masih takut untuk berada di dekat Arkana lama-lama.
Hari ini Jingga bangun terlambat dan tidak melihata keberadaan Keenan di sampingnya, dengan panik dia bangkit dari tempat tidur dan mengecek segala tempat di kamar itu.
“ Keenan? “ Jingga memanggil nama Keenan berkali-kali dengan wajah takutnya.
Saat Jingga keluar dari kamar, dia bisa melihat Keenan dan Arkana yang sedang bercanda bersama. Keenan terlihat terus tertawa keras dengan candaan yang Arkana berikan untuknya.
“ Pa, aku kangen mama yang dulu.” Gumam Keenan tiba-tiba.
“ Sama nak, papa juga kangen. Kita harus sedikit bersabar ya, mama pasti kembali ke mama yang dulu.” Balas Arkana lembut.
Sebelumnya Arkana sudah menjelaskan kepada Keenan tentang keadaan Jingga, meskipun Keenan masih terlalu muda dan belum paham tentang amnesia, setidaknya dia tidak terlalu sedih karena sudah di jelaskan oleh Arkana sebelumnya.
Jingga yang mendengar percakapan mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, dia tidak bisa mendekati mereka untuk saat ini. Setidaknya dia sudah merasa tenang setelah melihat Keenan bersama Arkana.
**
Hampir setiap hari Jingga melatih ingatannya dengan melihat foto dan video yang ada di ponselnya, sejak hari dimana dia mengalami amnesia sampai saat itu juga dia belum pernah keluar dari rumah.
Jingga berpikir bahwa dia harus keluar untuk membantu ingatannya kembali dengan cepat, di rumah itu sudah tidak ada Arkana karena dia pergi bekerja.
Keenan sedang sekolah, dan hanya ada satu orang pembantu di rumah itu untuk menjaga dan menemani Jingga. Sejak Jingga sakit, Arkana memutuskan untuk menyewa jasa pembantu lagi di rumahnya.
“ Bu Jingga mau kemana.?” Tegur pembantu yang bernama bi Yuli.
“ Saya mau keluar sebentar.” Jawab Jingga lirih.
“ Tapi saya di beritahu pak Arka kalau bu Jingga nggak boleh kemana-mana dulu.”
“ Sebentar aja kok bi, saya akan pulang ke rumah kalau urusan saya sudah selesai.”
Bi Yuli tidak bisa menahan Jingga lagi untuk tetap tinggal, dan setelah Jingga meninggalkan rumah saat itu juga bi Yuli menghubungi Arkana dan memberitahunya bahwa Jingga baru saja pergi dari rumah karena suatu urusan.
Saat Jingga keluar, dia melihat sebuah mobil terparkir di garasi dan membuatnya diam sejenak. Mobil itu tampak tidak asing, tapi seingatnya dia tidak pernah memiliki sebuah mobil sehingga dia pergi menggunakan taksi yang telah dia pesan sebelumnya.
Taksi yang datang menjemput Jingga sudah sampai diluar sana, dan dia segera naik tanpa berpikir panjang. Tujuannya bahkan tidak jelas, dia hanya menyuruh supir taksi untuk mengajaknya berkeliling kota.
**
Seharian Arkana tidak fokus dalam bekerja, padahal hari ini ada begitu banyak pasien yang datang berobat. Hal itu karena dia telah di beritahu oleh bi Yuli tentang kepergian Jingga dari rumah, meskipun Jingga berkata akan kembali tapi tetap saja dia merasa takut jika Jingga pergi seperti waktu itu.
__ADS_1
Dengan kondisinya yang sekarang mana mungkin dia mengingat nama tempat dan jalan, tempat mereka tinggal saja masih belum di hafal dengan baik oleh Jingga.
Hari ini ada satu pasien yang mengalami amnesia dan datang berobat bersama suaminya, melihat pasien itu lantas membuat Arkana langsung teringat dengan Jingga.
Pasiennya ini memang sudah lama mengalami amnesia, dan sampai sekarang masih belum mengingat apapun. Tapi yang membedakan adalah meskipun dia melupakan ingatannya, tapi dia masih bisa menerima suaminya dan menjalani kehidupan rumah tangga mereka dari awal lagi.
“ Dokter kenapa? kok kelihatan cemas begitu.?” Tanya pasien yang mengalami amnesia itu.
“ Oh nggak, saya baik-baik aja kok.” Balas Arkana tak mau sampai orang lain mengetahui permasalahannya saat ini.
Pasien terakhir hari ini sudah selesai mendapat konsultasi dari Arkana, dan sekarang tiba saatnya bagi Arkana pergi menjemput Keenan di sekolah. Sebelum akhirnya pergi mencari Jingga.
Setibanya di sekolah, Arkana di buat terkejut karena Keenan sudah tidak ada disana. Sekolah sudah hampir sepi, dan saat Arkana menemui guru yang selalu menemani Keenan, dia pun menjawab.
“ Keenan sudah di jemput oleh mamanya.”
“ Mamanya? Dia datang kemari menjemput Keenan.?”
“ Iya pak.”
Arkana jelas di buat terkejut dengan kemajuan satu ini. jika Jingga sudah datang ke sekolah menjemput Keenan, itu artinya ingatan Jingga mungkin sudah kembali sedikit demi sedikit.
“ Oh iya pak, barusan Keenan menangis jadi saya telpon mamanya untuk datang. Mereka sudah pulang dua jam sebelum sekolah berakhir, jadi mungkin mereka sudah di rumah sekarang.”
“ Baik, terima kasih Miss.”
**
Beberapa saat yang lalu..
Jingga sedang menatap langit dari balik jendela taksi, sampai dering ponselnya membuat Jingga bergeming. Terlihat sebuah nama yang tidak dia kenal namun tersimpan di ponselnya.
“ Ms. Nayna.?” Gumam Jingga mencoba untuk menjawab panggilan tersebut.
“ Halo? Mamanya Keenan.?”
“ Iya, ini saya? Ada apa ya.?”
“ Maaf mom, Keenan habis berantem sama teman kelasnya dan sekarang dia nggak mau berhenti menangis. Mom bisa datang ke sekolah sekarang?”
“ Kirim alamatnya sekarang, saya kesana.”
Ms. Nayna bingung saat Jingga meminta alamat sekolah kepadanya, tapi dia tetap mengirimkan alamat sekolah tersebut. Jingga pun memberikan alamat sekolah kepada supir taksi sehingga mereka langsung meluncur menuju lokasi.
Setibanya di sekolah, Jingga langsung berlari memasuki pelataran dan bertemu guru yang menemani Keenan. Melihat kedatangan Jingga sontak membuat Keenan kembali menangis sambil memeluk mamanya.
__ADS_1
“ Mama disini, kamu jangan takut.” Ucap Jingga sambil mengusap pundak putranya.
Ms. Nayna yang sedari tadi menunggu Jingga menghampiri mereka dan menjelaskan kejadian di kelas pagi ini, wanita itu memberitahu Jingga bahwa salah satu anak di kelas merebut mainan Keenan dan Keenan memukul anak itu hingga menangis.
Anak yang di pukul oleh Keenan membalasnya dengan mengigit lengan Keenan yang saat ini terlihat biru lebam, Jingga merasa sakit melihat bekas gigitan yang membekas di lengan putranya.
“ Saya benar-benar minta maaf karena tidak memperhatikan mereka, saya janji nggak akan ada lagi kejadian seperti ini.” Ucap Ms. Nayna merasa sangat bersalah.
“ Saya bawa anak saya pulang, terima kasih.” Balas Jingga menggendong Keenan pergi dari sekolah itu.
Saat ini Jingga sangat marah pada guru itu dan juga anak yang telah mengigit Keenan, jika mendengar penjelasan dari Ms. Nayna, jelas bahwa anak itu yang duluan berulah karena telah merebut mainan milik Keenan.
“ Mama tanya sama kamu sayang, apa benar kamu memukul anak itu.?” Tanya Jingga ketika mereka sudah berada di dalam taksi.
“ Aku tidak memukulnya ma, dia yang duluan mengingit tanganku.” Jawab Keenan dengan wajah memelasnya.
Jingga memeluk putranya sekali lagi dan meminta maaf karena tidak berada disana sejak awal, Jingga juga percaya pada Keenan bahwa semuanya bukan ulah putranya.
**
Saat ini Jingga dan Keenan sedang berada di mall, Jingga sengaja membawa Keenan bermain disana dan menikmati makanan kesukaan Keenan sepuasnya. Melihat putranya sedih seperti tadi tak tega membuatnya pulang ke rumah begitu saja, alhasil dia dan Keenan terlihat bersenang-senang bersama.
Keenan sedang makan pasta kesukaannya saat ini, Jingga mengamatinya dengan penuh semangat. Ketika melihat putranya makan dengan baik rasanya sangat menyenangkan, dan pandangannya tak lepas dari Keenan saat itu.
Ponsel Jingga baru saja berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Melihat nama Arkana disana seketika membuat Jingga diam menatap layarnya, tidak ada keinginan untuk menjawab panggilan tersebut.
Namun Arkana terus menghubunginya sampai terhitung lima kali panggilan tak terjawab, sampai akhirnya ada pesan dari Arkana yang menanyakan keberadaannya.
Jingga pun mulai tergugah untuk menjawab, dia tahu pasti Arkana cemas terhadap Keenan. Jadilah Jingga memberitahu Arkana bahwa dia dan Keenan sedang berada di Plaza Singapura.
“ Anak itu merebut mainan Malik, dan dia juga memukulnya. Orang tuanya pasti tidak mengajarkan anak mereka sopan santun, anak nakal seperti itu tidak pantas berada di sekolah yang sama dengan anak kita.”
Jingga tertegun ketika mendengar suara itu, ketika dia menoleh dia mendapati seorang wanita dengan tubuh yang berisi mengisi meja yang tak jauh dari tempatnya dan Keenan saat ini.
Jingga tidak mengenali mereka, tapi saat mereka menyebut nama sekolah Keenan rasanya tidak salah lagi jika yang mereka bahas saat ini adalah Keenan.
“ Ibu dari anak itu juga terlihat seperti pembantu, suaminya sangat tampan tapi kenapa mendapat istri seperti dia.” Lanjut wanita itu yang kali ini membuat Jingga tak bisa menahan emosinya lagi.
“ Keenan, yuk kita pergi dari sini sayang. Mama kayaknya nggak betah lama-lama berada di satu tempat yang sama dengan kuda nil.” Ucap Jingga dengan suara yang cukup keras dan dapat di dengar oleh wanita itu.
Wanita yang barusan membicarakan Jingga terkejut melihat keberadaan Jingga dan Keenan disana, dan apa yang di katakan oleh Jingga barusan membuat si wanita itu tersinggung hingga menyahut dengan kesal.
“ Maksud kamu apa hah.?” Protes wanita itu.
“ Opps, kok anda tersinggung? Memangnya anda kuda nill.?” Seloroh Jingga dengan senyuman simpul.
__ADS_1