
Jingga dan Adera menoleh dengan kompak saat Shanum telah kembali dari kamar kecil, terlihat penampilan Shanum yang lebih rapih dari sebelumnya. Dia bahkan sampai mengganti bajunya dengan dress yang terlihat begitu cocok untuknya.
Sekarang Shanum telah duduk di sebelah Jingga, dia tampak malu-malu menatap Adera. Kemudian Jingga menjelaskan bahwa kedatangan Adera kemari untuk berterima kasih kepada keluarga Shanum karena telah memberikan bantuan tak terhingga kepada mamanya.
Shanum ikut senang mendengarnya, sebab Adera juga menjelaskan bahwa dia belum sempat datang karena sibuk dengan perkuliahannya. Adera memberitahu Shanum bahwa sekarang dia sedang fokus mengurus skripsinya, dan sebentar lagi dia akan ujian yang membuat Shanum memberikan semangat kepada Adera.
“ Bunga ini buat kamu, kata mama kamu suka beli bunga mawar putih.” Ucap Adera sambil menyerahkan keranjang bunga yang begitu cantik kepada Shanum.
“ Terima kasih.” Shanum menerima bunga itu meski dia tahu kalau dia tidak suka bunga mawar putih.
“ Kalian mau ngobrol berdua? Biar mama ke dalam.?” Tawar Jingga melirik Shanum.
“ Tapi aku nggak tahu mau ngobrol apa ma.?” Bisik Shanum sambil menarik baju Jingga.
“ Santai aja, mama tahu apa yang kamu rasakan.” Balas Jingga tersenyum simpul.
Jingga meninggalkan Shanum dan Adera berdua saja, dia pun sudah merasakan suasana hati Shanum sejak gadis itu kembali ke kamarnya hanya untuk mengganti pakaiann yang lebih pantas untuk di tampilkan di hadapan Adera.
Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, Shanum tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba mulutnya kaku dan dia hanya bisa menatap ke arah lain dengan perasaan yang campur aduk.
“ Kalau lulus nanti mau kuliah dimana.?” Tanya Adera yang memulai percakapan mereka.
“ Masih belum kepikiran mau dimana kak.” Jawab Shanum pelan.
“ Memangnya mau masuk jurusan apa.?”
“ Hmm.., aku maunya fashion desainer sama kaya mama.”
“ Di UI aja, jurusan fashion ada kok.”
“ Nanti deh aku pikir-pikir lagi.”
“ Kalau nanti masuk UI, ada aku yang kenalin kampus disana.”
“ Kak Dera serius mau ngenalin kampus UI ke aku.?”
“ Serius dong, ngapain juga aku bohong.”
“ Ya udah deh, aku mau masuk di UI aja nanti.”
__ADS_1
“ Cepat banget berubah pikirannya.”
“ Hehe, soalnya kalau disana kan sudah ada kak Dera.”
“ Kalau gitu aku tunggu kamu di kampus UI ya.”
Percakapan mereka harus berakhir lantaran Adera yang harus segera kembali ke toko bunga, cukup lama dia dan Adera mengobrol sampai membahas segala macam hal yang membuat Shanum sudah terbiasa dengan Adera.
Setelah melepas kepergian Adera di pintu gerbang, terlihat Shanum yang tidak berhenti tersenyum menatapnya. Hal itu membuat Lingga yang baru saja keluar menatapnya penuh curiga, sebelumnya Lingga sudah mendengar dari mamanya bahwa Shanum baru saja bertemu dengan seorang pria baik.
“ Jangan terlalu baper kak, ingat harus hati-hati sama laki-laki.” Sahut Lingga yang nyatanya masih tidak setuju dengan Shanum yang membuka hati pada pria baru.
“ Iya, kamu jangan khawatir. Sekarang aku bisa bedain mana laki-laki baik dan mana yang hanya datang karena penasaran.” Jawab Shanum santai.
“ Kamu sendiri mau kemana.?” Tanya Shanum justru penasaran dengan penampilan Lingga sekarang.
“ Mau ke rumah sakit, nenek minta aku kesana.” Jawab Lingga yang telah bersiap masuk ke dalam mobil.
“ Kamu mau bawa mobil sendiri.?” Tegur Shanum.
“ Cuma sampai depan, supir mama nggak bisa datang kesini jadi aku yang harus kesana bawa mobilnya nanti dia yang lanjut.” Balas Lingga yang baru saja masuk ke dalam mobil.
Shanum telah memutuskan untuk masuk kampus Universitas Indonesia setelah lulus SMA nanti, dia semakin giat belajar untuk memperoleh nilai terbaik. Di samping itu, dia juga semakin dekat dengan Adera.
Pria itu selalu membantu Shanum dalam segala hal, meskipun tidak setiap hari tapi dia senang setiap Shanum meminta waktu bertemu, dia akan selalu datang menemuinya.
Sama seperti hari ini, Shanum meminta waktu Adera untuk menemaninya ke toko buku. Kemudian Adera datang menjemputnya langsung di sekolah, hal itu sampai membuat beberapa temannya heboh lantaran yang datang menjemput Shanum adalah seorang pria tampan yang terlihat sangat jenius.
“ Maaf, udah lama ya nunggunya.?” Tanya Shanum yang baru saja berhenti tepat di depan Adera.
“ Nggak juga kok.” Balas Adera lirih.
“ Yuk berangkat.” Ajak Shanum yang menerima helm dari Adera.
Keduanya meluncur menuju toko buku tempat dimana pertemuan kedua mereka di lakukan. Dan tempat itu juga yang paling sering menjadi saksi pertemuan mereka.
Setibanya di toko buku, Shanum dan Adera sedang melihat-lihat buku yang ada di rak. Saat itu Shanum mendapati Adera sedang melihat sebuah buku yang berjudul I’M NOT VIRGIN, seketika itu juga Shanum langsung menunduk dan tersadar.
“ Kenapa ya, kalau seorang perempuan yang kehilangan keperawanannya akan selalu di pandang sebelah mata? Kenapa mereka hanya menyalahkan si perempuan? Padahal laki-laki juga memiliki kesalahan yang sama, dan yang paling menyebalkannya lagi. Banyak laki-laki yang tidak sudi menerima perempuan yang sudah tidak virgin lagi, sedangkan laki-laki yang tidak perjaka masih bisa di terima? Lucu kan.?” Lirik Adera yang membuat Shanum tidak bisa berkata-kata lagi.
Shanum sangat kaget dengan pola pikir Adera yang ternyata masih memandang seorang perempuan tidak perawan dengan baik, saat itu juga Shanum merasa seperti ada harapan.
__ADS_1
“ Aku nggak tahu kak, kakak sendiri gimana? “ Tanya Shanum sambil menunduk.
“ Gimana apanya.?” Adera kembali melirik Shanum karena tidak mengerti dengan pertanyaannya.
“ Kalau seandainya kak Dera punya pacar, dan kak Dera tahu dia sudah nggak virgin? Apa kak Dera masih akan menerimanya.?” Tanya Shanum yang akhirnya berani melirik Adera.
“ Aku? Kalau seandainya aku punya pacar dan dia ketahuan sudah nggak virgin, no problem.” Jawabnya dengan santai.
“ Kenapa? “
“ Nggak kenapa-napa, mungkin dia juga nggak mau kehilangan keperawanannya kan? Kita nggak tahu gimana masa lalu dia, dan selagi dia masih menjadi versi terbaik dari dirinya dan aku nyaman dengan hal itu. Aku akan tetap terima dia.”
Shanum merasa hatinya hampir meledak mendengar jawaban manis Adera yang begitu terbuka, tanpa sadar dia tersenyum dan salah tingkah. Seperti ada secercah harapan meski itu masih terlihat samar.
Kemudian Shanum berkata akan pergi ke kasir untuk membayar bukunya, dia pun pergi sambil tersenyum malu-malu. Sambil membayar bukunya, pandangan Shanum kembali tertuju pada Adera yang masih berdiri di tempat yang sama.
Terlihat seorang wanita yang menghampiri Adera dengan senyum yang merekah, Shanum mengingat wajah wanita itu dimana dia adalah wanita yang sebelumnya di lihat Shanum di tempat yang sama.
“ Aku hampir lupa kalau ternyata kak Dera sudah menjadi milik orang lain.” Gumam Shanum dengan wajah memelasnya.
Shanum yang merasa canggung untuk kembali kesana terpaksa harus pergi tanpa bilang, setelah menyelesaikan pembayarannya dia langsung pergi membawa buku yang telah dia beli di toko itu.
Sementara itu Adera tampak celingak celinguk mencari keberadaan Shanum, dia sudah melirik ke arah kasir dimana sebelumnya dia bisa melihat gadis itu berdiri.
" Dia dimana.? "
" Kamu cari apa Der.?" Tegur Kikan yang ikut memperhatikan sorot mata Adera tertuju.
" Shanum, aku kesini sama dia tadi. Tapi kok nggak ada ya.?" Jawab Adera masih mencari-cari keberadaan gadis itu.
" Shanum? Cewek SMA yang sering kamu cerita itu.?"
" Iya, dia orangnya."
Kemudian mereka berdua lanjut mencari Shanum di setiap sudut toko buku, bahkan Adera sampai mencoba untuk menghubungi nomor Shanum. Tapi sayangnya nomor Shanum sulit untuk di hubungi, Adera mulai panik dan menanyakan keberadaan Shanum pada kasir toko.
" Cewek ini sudah pulang setelah melakukan pembayaran." Jawab kasir yang melayani Shanum barusan.
Terlihat Adera yang kebingungan mendengarnya, tidak biasanya Shanum pergi tanpa bilang-bilang seperti ini. Kemudian Adera takut sesuatu terjadi pada Shanum, dia pun mengakhiri pertemuannya dengan Kikan dan bergerak cepat keluar dari toko buku.
__ADS_1