Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kiss


__ADS_3


Qania sudah tiba di ruangannya, hari ini dia mendapatkan sekitar lima pasien yang akan datang check up dengannya. Dari daftar nama yang tertera membuat Qania terkejut karena ada nama Jingga, biasanya Jingga memberitahunya kalau dia mau datang tapi kenapa hari ini dia datang tanpa memberitahu apa-apa.


“ Tolong panggil pasien sesuai urutan daftar ya.” Pinta Qania pada asistennya.


“ Baik dok.” Jawabnya cepat dan segera keluar.


Satu persatu pasien hari ini telah selesai di periksa oleh Qania, dan sekarang adalah pasien terakhir yaitu Jingga. Kini wanita itu sudah masuk ke dalam ruangannya dengan senyum yang merekah seperti biasa.


“ Gimana bulan madunya? Seru nggak.?” Tanya Jingga.


“ Seru, aku sama suami have fun kok selama disana.” Jawab Qania.


“ Jadi hari ini apa keluhan kamu?” Qania mulai mengubah topik dan masuk pada intinya.


“ Semalam aku merasa sesak, padahal aku nggak melakukan banyak hal berat. Rasanya nggak enak sampai aku nggak bisa tidur nyenyak semalam, apa kamu tahu solusinya.?”


“ Jingga, dengarkan aku. Gejala yang kamu rasakan tidak selamanya di sebabkan karena kamu sedang kelelahan fisik, tapi pikiran juga bisa mempengaruhinya. Kamu pasti lagi banyak pikiran kan, ini ada hubunganya sama Arkana lagi kan.?”


Jingga terdiam dan menunduk sambil mempermainkan kukunya, Qania sudah tahu jawabannya meski Jingga tidak menjawabnya saat ini.


“ Arkana kelihatan aneh akhir-akhir ini, hampir semua orang di rumah sakit membahasnya. Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi ini pasti ada kaitannya dengan kesepakatan kalian kan? “ Lanjut Qania masih menatap Jingga penuh serius.


“ Aku sama mas Arka sudah pisah rumah, sekarang aku tinggal di rumah mama Widya. Mungkin ini lebih baik untuk membuat jarak di antara kita semakin renggang, tiga bulan lagi anak ini akan lahir dan semuanya akan berakhir dengan cepat.”


“ Kamu yakin dengan keputusan kalian untuk berpisah? Bahkan saat Arkana mulai cinta sama kamu.?”


“ Mas Arka nggak akan pernah cinta sama aku, dan aku nggak berharap dia cinta sama aku.”

__ADS_1


“ Arkana sangat mudah untuk di tebak, aku bisa tahu kalau dia galau akhir-akhir ini di sebabkan karena kamu. Aku yakin dia pasti menyesal dan sedang memikirkan kamu, coba di pikirkan baik-baik lagi.”


“ Kamu nggak pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku, selama delapan bulan aku hidup sama dia dan merasakan penderitaan. Aku sudah berusaha peduli ke dia tapi aku dapat balasan yang sama, jadi untuk apalagi aku bertahan? Anak ini nggak butuh sosok ayah seperti dia, aku bisa hidup berdua hanya dengan anakku.”


“ Maaf sudah membuatmu tertekan, kita selesaikan pemeriksaan hari ini. jangan terlalu banyak pikiran ya, kamu harus tetap sehat sebelum hari kelahiran tiba.” Kata Qania tak ingin membuat Jingga semakin tertekan memikirkan masalah itu.


**


Qania dan Jingga baru saja keluar dari ruangan itu bersama-sama, Qania akan mengajak Jingga ke kafe dekat rumah sakit untuk mengobrol santai tanpa melibatkan Arkana.


“ Kamu kesini sama siapa.?” Tanya Qania saat mereka sedang menunggu pintu lift terbuka.


“ Aku datang sama Diana, tapi hari ini dia Cuma antar aku sampai rumah sakit soalnya dia ada klien yang mau pesan gaun ke dia.” Jawab Jingga.


“ Jadi nanti pulang sama siapa.?”


Tingg..


Pintu lift baru saja terbuka, namun Jingga dan Qania di buat terkejut melihat dua sosok manusia di dalam lift yang sedang berpelukan tepat di depan mata mereka.


“ Arkana.?” Ucap Qania menatapnya tak percaya.


Arkana lebih terkejut lagi melihat kehadiran Jingga saat ini, menyadari Tsania masih memeluknya lantas membuat Arkana mendorongnya dengan cepat.


“ Jingga, dengar. Aku bisa jelasin, ini nggak seperti yang kamu lihat.” Arkana menghampiri Jingga dan berusaha untuk menyentuhnya, namun Jingga mundur dan membuat dirinya menjaga jarak dari Arkana.


“ Kamu nggak perlu jelasin apa-apa, aku nggak masalah kalau kamu dekat sama dia. Tapi tolong, jangan melakukan hal ini di tempat umum, kamu nggak mau reputasi kamu jelek kan.?” Lontar Jingga meliriknya dengan tatapan datar.


Jingga kemudian menarik tangan Qania masuk ke dalam lift, Tsania sudah keluar dari lift dan berdiri di samping Arkana. Pintu lift masih terbuka saat itu, Arkana berdiri menatap Jingga dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


“ Tunggu, jangan pergi dulu.” Arkana menahan pintu lift agar tidak tertutup, kemudian dia memaksa untuk masuk ke dalam.


“ Sebaiknya kalian harus bicara berdua, biar aku keluar.” Qania dengan cepat memberikan kesempatan kepada Arkana untuk bertemu dengan Jingga.


Pintu pun tertutup dan mereka berhasil pergi, sekarang Qania sedang menatap Tsania dengan kesal. Jika ini bukan rumah sakit, dia mungkin sudah menampar wajah Tsania saking kesalnya.


“ Dengar ya, aku berusaha nggak peduli kamu diam-diam dekat sama Arkana atau menjalin hubungan bersama, tapi ini sudah kelewatan. Kalau kamu masih memiliki hati nurani, tolong di pake.” Bisik Qania dengan nada yang sangat serius.


**


Pintu lift baru saja terbuka dan Jingga keluar dari sana tanpa memperdulikan Arkana sama sekali, pria itu sudah meminta Jingga untuk mendengar penjelasannya, tapi Jingga tidak merasa harus mendengar penjelasan tersebut.


Melihat ada beberapa orang yang memperhatikan mereka, akhirnya Jingga mengajak Arkana untuk bicara di tempat yang lebih sepi. Dia hanya akan menyuruh Arkana untuk berhenti mengejar dan membiarkannya pulang, dia tidak bisa melakukan itu di depan umum agar orang lain tidak memiliki persepsi yang buruk tentang mereka berdua.


“ Aku nggak peduli kamu selingkuh atau nggak, itu hak kamu mau dekat sama siapa aja. Toh kita bakal cerai juga, jadi tolong jangan bersikap seolah-olah hubungan kita spesial.” Kata Jingga tanpa menatap wajah Arkana.


“ Jadi selama ini sikap baik kamu ke aku itu apa? “ Tanya Arkana.


“ Aku bersikap baik ke kamu bukan berarti aku cinta, aku peduli dan menghormati kamu sebagai suamiku. Tapi kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan melakukan hal itu lagi. Sekarang kita hidup masing-masing, kamu bebas mas.” Ucap Jingga dengan penuh penegasan.


“ Tatap mata aku dan bilang kalau kamu nggak cinta sama aku.” Arkana menarik tangan Jingga dan membuat mereka akhirnya saling menatap satu sama lain.


“ Aku nggak cinta sama kamu.” Lontar Jingga menatap kedua bola mata Arkana tanpa rasa ragu sama sekali.


Arkana menarik wajah Jingga dan mencium bibir merah muda itu cukup lama, Jingga syok sampai membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Dia tidak menyangka kalau Arkana akan menciumnya seperti itu.


“ Sekarang bilang kalau kamu memang nggak cinta sama aku.” Kata Arkana masih menatap wajah Jingga dengan tatapan teduh.


__ADS_1


__ADS_2