
Jingga sangat syok mendengar pernyataan Arkana yang menyuruhnya untuk mengandung dengan pria lain. Hal ini tentu menyinggung perasaannya, Arkana benar-bena tidak memikirkan perasaannya sama sekali.
“ Aku harus hamil sama siapa mas kalau bukan sama kamu? Suamiku itu kamu, dan aku nggak mau melakukannya sama orang lain.” Sahut Jingga menatap Arkana lurus.
“ Aku akan cari laki-laki yang bisa kasih kamu keturunan sehingga keinginan mama untuk menimang cucu akan segera terlaksana.” Balas Arkana dengan santai.
“ Aku nggak mau mas.” Tolak Jingga dengan tegas.
“ Apa kamu bilang? Kamu nggak mau.?” Arkana baru saja memegang dagu Jingga dengan sangat kuat dan menatapnya penuh kekesalan.
“ Kamu harus nurut apa kata suami, ingat kalau kamu menolak artinya kamu udah durhaka sama aku.” Arkana melepasnya dengan kuat hingga membuat tubuh Jingga kembali jatuh ke tempat tidur.
“ Aku tetap nggak akan mau mas kalau aku harus mengandung anak orang lain, kamu kenapa sih nggak mau kalau kamu aja yang melakukannya.?” Sahut Jingga dengan tangis yang pecah.
“ Aku nggak cinta sama kamu, dan aku nggak akan pernah mau melakukan hal itu dengan orang lain tanpa rasa cinta.” Balas Arkana dengan penuh penekanan.
“ Tapi itu dosa mas, aku nggak bisa memenuhi perintah kamu barusan.” Ucap Jingga sambil sesegukan.
“ Nggak ada tapi-tapi, kalau kamu menolak aku akan bunuh kamu.” Kata Arkana begitu tajam.
Arkana pun menyuruh Jingga untuk keluar dari kamarnya, dia tidak boleh melaporkan hal ini kepada siapapun jika dia masih ingin hidup.
**
Jingga di kurung di dalam kamarnya oleh Arkana, dia tidak boleh kemana-mana sampai dia pulang dari rumah sakit. Makanan untuk pagi sampai malam sudah tersedia di dalam kamar sehingga tidak ada alasan untuk keluar jika dia merasa lapar.
__ADS_1
Sementara itu Jingga terlihat lesu di dalam kamarnya sejak tadi pagi, dia tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ponselnya di sita oleh Arkana sehingga dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk menyelamatkannya.
Rencana Arkana yang akan membuatnya mengandung dengan orang lain masih di pikirkan olehnya, untuk itu dia mengurung Jingga agar dirinya tidak kemana-mana sampai dia menemukan pria yang tepat untuk memberikan anak kepada mamanya.
Suara kunci pintu terbuka baru terdengar, Jingga menoleh ke arah pintu kamarnya dengan perasaan takut. Saat pintu terbuka dia mengira yang datang adalah Arkana, ternyata yang datang adalah Jefri.
“ Nyonya, anda di suruh siap-siap oleh pak Arkana sekarang juga.” Ucap Jefri dengan sopan.
Jingga benar-benar tidak menyangka hari ini akan datang di hidupnya, bagaimana mungkin suaminya sendiri dengan tega ingin memberikan dirinya kepada pria lain hanya untuk dapat mengandung seorang anak.
“ Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mau di sentuh pria lain selain suamiku.” Benak Jingga masih tidak beranjak dari tempatnya meskipun Jefri sudah memintanya dengan baik.
“ Tunggu saya di luar, lima menit.” Ucap Jingga yang tidak tahu harus bagaimana lagi, dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Arkana kepadanya.
**
“ Nyonya Adyatama.” Ucap seseorang membuat Jingga berhenti melamun.
Seorang karyawan hotel baru saja menegurnya, ternyata Arkana sudah menyuruh seseorang di tempat itu untuk membawa Jingga menuju kamar yang telah di reservasi sebelumnya.
Jingga tidak tahu apakah di dalam kamar itu benar Arkana atau orang lain, dia hanya berharap semoga Arkana tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Apapun akan dia lakukan asal bukan melakukan hubungan dengan orang lain.
Sekarang Jingga telah sampai di depan kamar nomor 200, karyawan hotel yang menemaninya pun segera pergi. Kini Jingga menatap tulisan di depan pintu kamar itu dengan jantung yang bergedup sangat kencang, tubuhnya gemetar hebat dan dia benar-benar bingung sekarang.
Jingga berdoa dalam hatinya semoga yang ada di dalam sana adalah Arkana, kemudian dia membuka knop pintu sehingga dirinya bisa melihat situasi di dalam kamar tersebut.
Tampak seorang pria duduk di atas sofa dengan memegang segelas wine di tangannya, Jingga merasa lega ketika melihat yang ada di dalam ternyata adalah Arkana.
__ADS_1
“ Lama banget.” Lontar Arkana dengan ketus.
“ Sekarang pilih di antara ketiga foto itu yang mana ingin kamu pilih.” Sambung Arkana menunjuk ke arah meja dimana terdapat tiga foto pria tampan yang harus di pilih oleh Jingga.
“ Mas, kumohon sekali lagi. Aku nggak mau melakukannya sama orang lain.” Pinta Jingga dengan sangat.
“ Aku udah pilih 3 orang kandidat yang cukup tampan, ini akan membuat anak yang kamu kandung nanti setidaknya memiliki gen yang sesuai denganku. Jadi sekarang pilih, aku nggak mau dengar kamu memohon supaya aku menarik ucapanku ini.” Sahut Arkana menggertak.
Jingga terpaksa melakukannya, dia tidak tahu apa benar Arkana akan membunuhnya jika dia sampai menolak. Dan alhasil Jingga memilih pria dengan rambut hitam sebagai pilihannya, dari ketiga foto tersebut hanya pria rambut hitam yang di anggap Jingga adalah pria baik sehingga nanti dia bisa meminta untuk tidak melakukan apapun.
Arkana kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang, setelah beberapa saat pintu kembali terketuk dan muncul sosok pria yang persis dengan di foto yang di tunjuk oleh Jingga barusan.
“ Wah, aku nggak nyangka kalau wanita yang memesanku akan secantik ini.” Seru pria itu membuat Jingga terkejut, ternyata wajah dan sikapnya tidak seperti yang dia duga.
“ Aku akan meninggalkan kalian berdua sampai malam disini, terserah kalian ingin melakukannya kapan. Yang jelas aku ingin kamu membuatnya hamil, aku tahu tempatmu melarang jika tidak menggunakan alat pengaman saat berhubungan dengan pelanggan. Tapi aku akan membayarmu lima kali lipat jika kamu menuruti perintahku ini.” Ujar Arkana serius.
“ Siap bos, aku nggak keberatan dengan memberikan sebanyak apapun benih kepada wanita cantik ini.” Ucap pria itu sambil tersenyum menatap Jingga.
“ Mas, kamu tega sama aku? “ Sahut Jingga yang kembali menangis dengan situasi yang di alaminya saat ini.
“ Berisik. Aku pergi dulu, pastikan wanita ini tidak akan pergi kemana-mana.” Lanjut Arkana yang akhirnya meninggalkan ruangan itu.
Jingga berusaha untuk mengejar Arkana namun di tahan oleh pria yang bernama Erwin.
“ Lepasin aku.” Ucap Jingga berusaha untuk melepaskan tubuhnya namun Erwin justru mendorongnya ke atas tempat tidur.
“ Sesuai perintah, aku nggak akan biarin kamu kemana-mana.” Kata Erwin yang perlahan melepaskan pakaiannya satu persatu.
__ADS_1