Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Pertemuan


__ADS_3


Suara seseorang yang asing terdengar sampai di kamar tempat Jingga berada sekarang, dia yang penasaran pun segera membuka sedikit pintu kamarnya agar bisa mendengar suara itu terdengar jelas di telinganya.


“ Saya sudah berhati-hati selama perjalanan dari Jakarta, tapi adik pak Bima terus mengejar. Sampai akhirnya saya tahu kalau dia menyimpan GPS di amplop itu, untungnya saya memiliki dua amplop yang di antarkan di unit yang berbeda dan mungkin sekarang dia sudah menyerah.”


“ Jadi Arkana sampai mengikuti kamu ke Bandung?”


“ Iya pak, saya benar-benar minta maaf. Tapi saya pastikan dia nggak akan tahu unit apartemen pak Bima yang asli. “


“ Dia mungkin masih berada di sekitar sini, pastikan dia pergi supaya dia tidak tahu tentang aku.”


“ Baik pak.”


Bima terlihat menatap amplop yang asli dengan tatapan sayu, dia pun sangat terkejut mengetahui Arkana sampai datang ke Bandung untuk mencaritahunya.


Saat Bima hendak memutar tubuhnya, dia secara langsung di kejutkan dengan keberadaan Jingga. Bima terkejut karena ternyata Jingga sudah bangun dari tidurnya, Bima sampai terlihat tak berkutik karena takut semua yang dia bahas barusan sampai di ketahui oleh Jingga.


“ Sejak kapan kamu berdiri disana.?” Tanya Bima penasaran.


“ Kamu jujur sama aku, kamu bohong kan tentang mas Arka yang akan segera menikah dan menerima perceraian itu? ini semua ulah kamu kan biar aku nggak bisa pergi dari kamu.?”


“ Jingga, dengerin aku dulu.”


“ Aku nggak mau dengar kamu lagi. Sudah cukup, aku muak dengan kamu yang sekarang. Dan asal kamu tahu aja ya, selama ini aku nggak benar-benar tulus buat balikan sama kamu. “


Jingga segera beranjak dari apartemen itu dan keluar untuk mencari Arkana, namun Bima dengan cepat mengejarnya. Ketika Bima berhasil menarik tubuh Jingga untuk kembali, saat itu juga Jingga mengancamnya akan berteriak jika dia tidak di lepaskan sekarang.


“ Lepasin aku.”

__ADS_1


“ Nggak, aku nggak mau kamu pergi lagi.”


“ Kamu egois tahu nggak? Yang sejak awal pergi pertama itu kamu, kalau saja kamu nggak pergi semua ini nggak akan terjadi.”


“ Tapi aku sayang sama kamu, rasa sayangku masih sama sejak pertama kali kita ketemu.”


“ Kamu hanya masa lalu aku Nawa, tapi sekarang aku punya mas Arka. Jadi lepasin aku, aku mau ketemu sama dia.”


Bima yang tak terima dengan permintaan Jingga segera menggendong wanita itu dengan paksa, Jingga sudah meronta-ronta dan juga berteriak meminta tolong tapi sayangnya lantai unit apartemen tempat mereka tinggal begitu sunyi sehingga tidak ada yang keluar mendengarnya.


Jingga menggigit punggung Bima hingga akhirnya Bima melepaskan tubuh Jingga, kemudian Jingga mendorong tubuh Bima hingga dirinya jatuh ke lantai. Tak ingin sampai tertangkap lagi, akhirnya Jingga berlari secepat yang dia bisa.


Jingga terus berlari sampai akhirnya dia berhasil menemukan lift, dengan cepat dia menekan tombol lift sambil menoleh ke belakang memastikan apakah Bima sudah bergerak mengejarnya atau tidak.


Terlihat Bima yang sudah berusaha mendekatinya, karena pintu lift begitu lama terbuka akhinrya dia menggunakan tangga darurat. Bima sudah berteriak memanggil namanya dan memohon sekali lagi, namun Jingga tidak mau mendengarnya dan terus berlari sampai akhirnya dia tiba di salah satu lantai gedung apartemen itu.


“ Mas Arka, kamu dimana mas.? “ Benak Jingga tak kuasa menahan air matanya.


Jingga melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam lift, dia pun dengan cepat berlari agar sampai dengan tepat waktu di tempat itu. Hanya beberapa detik sampai akhirnya pintu lift hendak tertutup, Jingga berhasil masuk sedangkan Bima tidak.


“ Kamu kenapa dek.?” Tanya seorang wanita yang berada di dalam lift yang sama dengannya.


“ Saya mau turun ke lantai satu bu, tolong antar saya ke lantai satu sekarang.” Pinta Jingga sambil mengatur pernafasannya yang berburu dengan hebat.


Kini Jingga berhasil tiba di lantai satu, dia segera menuju lobby dan berharap dapat menemukan Arkana disana. Namun sayangnya yang pertama di temukannya adalah Bima, dengan nafas yang tersengal-sengal pria itu menarik tangan Jingga untuk tidak melarikan diri lagi.


“ Kita di tempat umum sekarang, aku akan teriak sekarang sampai buat semua orang menganggap kamu sebagai penjahat. Lepaskan tanganku.” Ancam Jingga yang menarik lengannya dengan kasar.


“ Dengarkan aku dulu, aku janji nggak akan kasar sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, tolong kamu ngerti aku.” Pinta Bima.

__ADS_1


“ Nawa yang aku kenal nggak kaya gini, kamu bukan Nawa yang dulu. Dan aku juga bukan Jingga yang dulu, jadi cukup dan biarin aku kembali ke suami aku.” Ucap Jingga ketus.


“ Oke aku minta maaf, aku salah. Aku udah bersikap bodoh, aku benar-benar minta maaf sama kamu.”


“ Percuma, maaf pun nggak akan memperbaiki semuanya.”


Obrolan mereka berdua terlihat mendapatkan perhatian yang lebih dari beberapa penghuni apartemen yang lain, meski begitu Jingga tidak merasa terusik karena baginya dia merasa jauh lebih aman sekarang.


“ Dengerin aku sekali aja, please.” Pinta Bima menjulurkan tangannya untuk Jingga.


“ Aku nggak mau.” Jingga kembali memutar tubuhnya dan hendak pergi.


Saat itu dia melihat sosok Arkana yang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang, Bima pun menyadari keberadaan Arkana ketika Jingga hendak berteriak memanggil namanya.


Bima menutup mulut Jingga dan menahan tubuhnya agar tidak pergi, dan dengan paksa menarik Jingga dari tempat itu. Tapi dengan sekuat tenaga Jingga memberontak dan mengigit tangan Bima kasar.


“ MAS ARKAAAA.”


Teriakan Jingga cukup terdengar satu ruangan yang membuat si pemilik nama yang di panggil pun langsung menoleh dengan cepat. Tampak dari tempatnya berdiri membuat Arkana sangat terkejut melihat keberadaan Jingga bersama Bima yang tampak memaksanya pergi.


Arkana murka melihatnya dan langsung berlari menghampiri mereka, langkah Arkana yang semakin dekat membuat Bima melepaskan tubuh Jingga. Kemudian saat Arkana sudah tiba di hadapan mereka, terlihat Arkana yang memberikan pukulan yang sangat keras di wajah Bima hingga dia tersungkur ke lantai.


Arkana langsung meraih tubuh Jingga dan memeluknya dengan erat, tatapan tajam Arkana tertuju kepada Bima seakan pukulan barusan tidak cukup untuk melampiaskan rasa kesalnya.


“ Jadi ternyata benar kalau selama ini kamu yang menyembunyikan Jingga? Kau berpura-pura menolong tapi ternyata kau juga yang melakukannya, aku sudah menduga sejak awal kalau kau memang licik seperti mama.” Lontar Arkana tak kuasa menahan air matanya akibat emosi yang tak tertahankan lagi.


Sementara itu terlihat Arkana yang akhirnya menatap Jingga dengan tatapan tak percaya, setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat wajah istrinya. Di sentuhnya wajah Jingga dengan kedua telapak tangannya sambil menatap kedua manik mata yang indah itu dengan tatapan penuh bahagia.


“ Akhirnya aku berhasil menemukanmu.” Ucap Arkana dengan nada yang serak.

__ADS_1



__ADS_2