Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Resiko Kematian


__ADS_3


Dering ponsel yang terdengar nyaring baru saja membangunkan seseorang yang sedang tertidur pulas bersama istrinya. Aizen membuka kedua matanya dan mulai melirik ponsel yang terdapat di nakas.


Aizen sadar bahwa ponsel yang berdering ternyata adalah milik Qania, dia sedikit terkejut melihat siapa yang baru saja menelpon di tengah malam itu.


“ Arkana? Kenapa dia menelpon Qania di jam segini.?”


“ Ada apa mas.?” Qania ikut terbangun saat menyadari ada sesuatu yang bergerak di sampingnya.


“ Arkana nelpon kamu, pas aku mau angkat ternyata udah berhenti panggilannya.” Jawab Aizen.


“ Arkana?” Ponsel itu kembali berdering yang membuat Qania langsung menjawabnya.


“ Aku butuh kamu sekarang. Tolong ke rumah sakit, Jingga mendadak sesak nafas.”


“ Di rumah sakit ada dokter siapa yang jaga.?”


“ Nggak ada dokter bedah toraks atau bahkan dokter jantung, mereka semua mahasiswa koas. Aku butuh kamu sekarang, cepat kemari Nia.”


“ Oke..oke, aku kesana sekarang juga.”


Qania langsung beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Aizen yang juga merupakan dokter bedah toraks ikut menemani istrinya, tidak mungkin dia membiarkan Qania pergi tengah malam sendirian.


**


Pada pukul 3:00 dini hari Arkana berhasil mengumpulkan para dokter untuk memeriksa keadaan Jingga, mereka adalah dokter dari berbagai spesialis yang akan memeriksa keadaan Jingga yang terlihat semakin memburuk sampai harus di bantu oleh selang oksigen untuk dapat membantu pernafasannya.


Arkana tidak kuat menyaksikannya sehingga dia hanya bisa menunggu diluar bersama Aizen, semua dokter sedang bekerja keras di dalam sana. Dan saat ini Arkana hanya bisa menunduk ketakutan, dia sampai tidak bisa mendengar apapun di sekitarnya.



“ Jangan khawatir, Jingga pasti akan baik-baik saja.” Kata Aizen sambil menenangkan Arkana.

__ADS_1


Arkana masih tidak merespon apapun, dia bahkan kembali menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Jingga. Dia begitu takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Jingga dan calon anaknya.


Sementara itu dokter di dalam sana sedang berdiskusi selama memeriksa keadaan Jingga, mereka belum bisa mengetahui hasil pasti karena harus membawa sampel darah ke laboratorium. Hal ini akan cukup memakan waktu, dan selain Qania dan Nala tidak ada dari mereka yang tahu kalau Jingga sedang mengidap lemah jantung di masa kehamilannya ini.


“ Ku dengar kamu sebagai dokter yang menangani istrinya dokter Arkana.?” Tanya dokter Zakir pada Qania.


“ Benar dok, saya yang selama ini menangani Jingga.” Jawabnya lirih.


“ Beritahu saya apa yang di alaminya selama ini.?”


“ Jingga mengidap Kardiomiopati peripartum dok, gejalanya sudah muncul saat usia kandungannya memasuki lima bulan. Sebelumnya dia mengkonsumsi obat dari dokter luar negeri, tapi obatnya tidak baik untuk janinnya. Dan karena setelah itu dia tidak mengalami hal ini lagi, jadi kami memutuskan untuk berhenti memberikan obat dengan mengganti vitamin dok.”


“ Siapa yang bekerja sama denganmu.?”


“ Dokter Nala dok.”


“ Kenapa kamu nggak kasih tahu ke saya?


“ Maaf dok, ini salah saya karena tidak menyarankan untuk langsung memeriksanya ke spesialis jantung.”


“ Bedah toraks memang menangani jantung, tapi kamu harus ingat kalau masalah ini sebaiknya di serahkan ke saya.”


Dokter Zakir sendiri merupakan dokter spesialis jantung yang sudah bekerja cukup lama di bidang itu, dia sudah banyak menangani kasus seperti Jingga dan membantu mereka tetap sehat selama masa kehamilan terjadi.


“ Jadi bagaimana dok? Apa yang harus kita lakukan sekarang.?” Tanya dokter Inka yang merupakan spesialis penyakit dalam.


“ Untuk saat ini kita kirim sampel darah ke lab, kita harus segera mengetahui hasilnya. Saya takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika terus di biarkan, lemah jantung pada ibu hamil sangat wajar karena jantungnya akan bekerja lebih keras saat usia kandungan memasuki masa trimester berikutnya. Tapi jika terus di biarkan tanpa adanya pemantauan lanjut, hal ini bisa beresiko mengalami gagal jantung. Dan itu akan mengancam nyawa sang ibu dan bayinya.”


“ Untuk malam ini biarkan pasien mendapatkan selang oksigen dan pastikan denyut jantung berdetak normal, setelah pasien sadar jangan lupa untuk mengecek keadaannya setiap dua jam sekali.” Jelas dokter Zakir.


Setelah semua pemeriksaan telah selesai di lakukan, ketiga dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan dan menemui Arkana yang terlihat semakin khawatir dengan hasilnya.


“ Bagaimana keadaan Jingga dok.?” Tanya Arkana penasaran.

__ADS_1


“ Sudah lebih baik, dokter Arkana tenang saja. Hasilnya mungkin baru akan keluar paling lambat dua hari, tapi saya rasa tidak sulit untuk membuat hasilnya keluar dengan cepat.”


“ Selebihnya biarkan dokter Qania yang menjelaskan, saya harus pulang untuk istirahat karena jam 8:00 pagi nanti harus ada operasi.” Jelas dokter Zakir.


**


Arkana menangis di samping Jingga yang masih belum sadarkan diri, belum sembuh rasa sakitnya melihat Jingga harus di infus dan di pakaikan selang oksigen dan sekarang dia mendengarkan penjelasan Qania tentang kondisi Jingga yang belum di jelaskan oleh dokter Zakir sebelumnya.



“ Aku minta maaf Ar, seharusnya aku merujuk Jingga ke dokter Zakir lebih awal.” Sahut Qania ikut merasa bersalah.


“ Ini bukan salah kamu kok, aku yang salah karena berusaha menutupi penyakitnya dari semua orang. Aku memang bodoh, aku sudah banyak membuatnya dalam bahaya.” Kata Arkana yang tak dapat menahan semuanya.


“ Jangan saling menyalahkan. Akan lebih baik kalau kita fokus dengan kesehatan Jingga, kalau dia melihat kalian sedih dan merasa bersalah hal itu juga akan membuat kesehatannya semakin terganggu.” Sahut Aizen.


Arkana mulai tegar beberapa saat, lalu dia beranjak dari kursinya dan menoleh menatap Qania dan Aizen secara bergantian.


“ Terima kasih karena sudah datang membantu, dan maaf sudah mengganggu waktu kalian. Sekarang biar aku yang menemani Jingga, kalian boleh kembali ke rumah.” Kata Arkana sambil tersenyum simpul.


“ Kabarin kita kalau sesuatu terjadi pada Jingga.” Ucap Qania langsung di balas anggukan pelan dari Arkana.


Setelah Qania dan Aizen meninggalkan ruangan itu, Arkana kembali duduk di sebelah Jingga sambil menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan. Dia sudah berusaha untuk tidak sedih tapi tidak berhasil.


“ Seharusnya aku memilih spesialis jantung sejak awal, supaya aku bisa tahu keadaan kamu sekarang.” Isak Arkana menyesali bahwa dirinya adalah seorang dokter bedah syaraf yang tidak ada kaitannya dengan penyakit Jingga.


Perlahan namun pasti Jingga terlihat membuka kedua matanya, dan Arkana langsung bangkit menatapnya tak percaya. Dia tidak menanyakan apapun karena tak ingin membuat Jingga bicara, dia tahu menggunakan selang oksigen sangat mengganggu dan memilih untuk menyuruh Jingga kembali tidur.


“ Kamu tidur lagi ya, istirahat aja. Nanti kalau kondisi kamu sudah membaik aku akan cerita semuanya ke kamu.” Ucap Arkana dengan lirih.


Beruntung Jingga mendengarkan ucapan Arkana, kemudian dia kembali menutup kedua matanya. Arkana tidak akan pergi dari sana dan bahkan dia tidak berniat untuk tidur dan ingin terus menjaga Jingga.


__ADS_1


__ADS_2