Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Aku Mau Kita Pisah


__ADS_3


Diana bangun terlambat pagi itu, saat dia keluar dari kamar dia berjalan menuju ruang makan. Disana hanya ada Jingga yang baru saja menyambutnya dengan senyuman.


“ Suami kamu mana.?” Tanya Diana melirik kesana-kemari.


“ Mas Arka sudah berangkat kerja, katanya ada jadwal operasi pagi.” Jawab Jingga.


“ Kamu sama suami kamu pasti jarang quality time bareng kan.?” Lontar Diana tiba-tiba.


“ Gimana mau quality time bareng kalau dia sangat sibuk dengan urusan rumah sakit.”


“ Kana da hari libur, memangnya dia nggak pernah ajak kamu jalan-jalan.”


“ Pernah kok, tapi aku ngerti kalau dia banyak kerjaan aku nggak mau minta di ajak jalan-jalan.”


“ Tetap aja, dia harus membuat waktu berdua sama kamu. Pengantin baru kan memang seperti itu, kecuali dia nggak sayang sama kamu.”


“ Sudah cukup ya bahas mas Arka, kenapa kita nggak bahas hal lain aja.?” Jingga mulai kesal dengan ucapan Diana yang selalu membahas Arkana karena hanya akan membuatnya terus berbohong padanya.


“ Oke, aku paham.” Balas Diana pasrah.


Diana melihat menu sarapannya di atas meja, dia terkejut dengan rasanya yang enak. Kemudian Jingga mengaku bahwa itu adalah buatannya, sontak hal itu membuat Diana terkejut karena dia tahu bahwa Jingga tidak bisa masak.


“ Aku belajar masak selama menikah dengan mas Arka, itu sebabnya masakanku ada perkembangan sekarang.” Jawab Jingga.


“ Aku ingat waktu itu kamu buatin nasi goreng buat Nawa, rasanya sangat asin tapi Nawa memakannya sampai habis karena tahu itu buatan kamu.” Lontar Diana kembali mengungkit masa lalu antara mereka dan Nawa.


**


Kepergian Diana hari ini benar-benar membuat Jingga sedih, meskipun dia tahu bahwa Diana akan menetap di Jakarta pun rasanya mustahil jika mereka bisa bertemu sesering mungkin.


Jingga tak mau melepas pelukannya dari Diana sejak tadi, hal itu membuat Diana mengangapnya seperti bayi yang tidak mau berpisah dari ibunya. Sebelum pergi Diana mengatakan sesuatu yang cukup serius.

__ADS_1


“ Kapan pun kamu butuh aku, hubungi aku selalu. Kalau kamu dalam masalah jangan sungkan memberitahuku semuanya, aku pasti akan membantu kamu.” Ucap Diana sambil menggenggam erat kedua tangan Jingga.


“ Terima kasih.” Jingga tak mau Diana melihatnya menangis sehingga dia langsung memeluk wanita itu cukup lama.


Taksi online pesanan Diana sudah datang dan ini menandakan bahwa dia sudah harus pergi dari rumah itu, dan setelah mereka selesai berpelukan Diana pun pamit undur diri.


Dia melambaikan tangan pada Jingga dari dalam mobil sampai mobil itu benar-benar melaju meninggalkan rumah. Diana yang sudah cukup jauh dari kediaman Jingga mulai memperbaiki posisi duduknya.


“ Kamu jelas-jelas menyembunyikan sesuatu dari aku, sebenarnya ada masalah apa dengan pernikahanmu itu Jingga? Kamu nggak kelihatan bahagia sama sekali, bahkan kamu terus berbohong selama aku tinggal disana.” Benak Diana yang memandang langit kelabu dengan tatapan sayu.


**


Sore itu langit terlihat sangat gelap menandakan sebentar lagi akan turun hujan, kedua pembantu rumah sudah meninggalkan rumah setelah mereka selesai membuat makanan untuk nanti malam.


Di rumah hanya ada Jingga sendirian, pak Hasan sedang cuti karena ibunya sedang sakit di kampung dan pak Jeffri sedang di rumah sakit menunggu Arkana selesai bekerja. Alhasil Jingga harus menunggu sampai Arkana pulang ke rumah.


Hari sudah semakin larut, angina kencang diluar sana terlihat menerbangkan semua benda-benda ringan ke segala arah. Jingga masih setia menunggu Arkana di ruang tamu, dia mulai takut sendirian di rumah.


Lampu tiba-tiba padam ketika Jingga berjalan menuju kamarnya, dia yang takut kegelapan segera mengaktifkan mode flashlight pada ponselnya. Meski dengan penerangan ponsel dia tetap merasa takut, alhasil Jingga segera berlari menuju kamarnya.


Sambaran petir diluar sana terdengar sangat kencang, dia hanya bisa menutup telinganya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir karena takut, dia benar-benar takut sampai tidak sadar kalau Arkana baru saja masuk ke dalam kamarnya.


“ Kenapa lampu bisa padam.?” Sahut Arkana membuat Jingga melepaskan kedua tangannya.


Jingga turun dari tempat tidur dan langsung memeluk Arkana sambil terisak dalam tangisnya. Saat itu Arkana tidak bergerak sama sekali, kilauan kilat diluar sana menunjukkan ekspresi ketakutan Jingga yang baru pertama kali dilihatnya.


“ Lepaskan aku.” Arkana mendorong Jingga menjauh darinya.


Jingga hanya bisa terisak menatap Arkana yang berdiri di hadapannya, secara tidak sadar dia sudah memeluk Arkana yang sudah jelas itu akan membuatnya marah.


“ Nggak usah manja, kamu bukan anak kecil yang harus takut sama kegelapan.” Lontar Arkana ketus.


Lampu akhirnya kembali menyala, pak Jefri telah selesai memperbaikinya diluar sana. Jingga menyeka air matanya dan menoleh membelakangi Arkana.

__ADS_1


Arkana pun meninggalkan kamar Jingga setelah lampu sudah menyala, Jingga sendiri naik ke atas tempat tidurnya dan memeluk bantal sambil menangis sesegukan.


Di saat seperti ini Jingga tiba-tiba teringat dengan Nawa, dari semua orang hanya pria itu yang selalu datang menenangkannya jika dia takut pada kegelapan.


“ Aku kangen sama kamu Nawa.” Ucapnya masih dalam tangisan.


**


Pagi itu Jingga bangun dan langsung menuju kamar Arkana, hari ini Arkana libur sehingga dia akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.


Jingga sudah mengetuk pintu kamar itu beberapa kali sampai pada akhirnya Arkana keluar dan menatapnya dengan tatapan kesal.


“ Ada apa? “


“ Aku mau ngomong serius sama kamu mas.”


“ Masuk.” Arkana kemudian berjalan masuk ke dalam kamar di ikuti langkah kecil Jingga.


Arkana duduk di atas tempat tidurnya sedangkan Jingga tampak berdiri di depannya, Jingga mendadak bingung memulainya dari mana. Semalaman dia sudah memikirkan keputusan itu baik-baik, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuknya bicara sama Arkana.


“ Mau ngomong apa? Cepetan, aku mau tidur.” Sahut Arkana ketus.


“ Aku mau minta cerai mas.” Ucap Jingga tak berani menatap wajah Arkana.


Arkana mengangkat wajahnya menatap Jingga dengan tatapan tak percaya, ucapan Jingga barusan cukup membuatnya kaget dan membuatnya menyuruh Jingga untuk mengulanginya.


“ Aku capek mas dengan semua ini, aku merasa kalau kita nggak akan pernah bisa cocok. Aku juga nggak ngerti kenapa kamu terus bersikap begini ke aku, kalau memang kamu nggak bisa cinta sama aku mending kita pisah.”


“ Aku nggak mau pisah sama kamu.” Balas Arkana yang akhirnya membuat Jingga menatap wajahnya.


“ Kenapa? pernikahan kita bahkan sudah nggak sehat sejak awal, kamu sering pukul aku, jahatin aku, dan bahkan sewa orang buat hamilin aku. Alih-alih melakukan semua itu, kamu bisa cari wanita yang kamu cinta dengan berpisah dari aku.” Sahut Jingga yang tak tahan lagi dan kembali menangis di depan Arkana.


“ Aku bilang nggak ya nggak. Kamu harus ingat kalau istri minta cerai sampai kapan pun itu nggak akan pernah terjadi, beda halnya dengan aku jika aku yang bilang hari ini juga maka kita berdua pasti akan resmi berpisah.” Kata Arkana menunjuk Jingga dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2