
Bi Inah berlari ke halaman belakang rumah dengan was-was, melihat aksinya membuat bi Salma dan Jingga pun di buat penasaran. Kemudian wanita itu memberitahu mereka kalau dirinya baru saja bertemu Arkana di dapur, sontak hal itu membuat mereka terkejut.
“ Dia nggak curiga kan bi.?” Tanya Jingga.
“ Tenang non, saya sudah pastikan tuan masuk ke dalam kamarnya tanpa rasa curiga sama sekali.” Balas bi Inah kemudian.
“ Syukur deh, jangan sampai dia lihat kejutannya sebelum besok.” Kata Jingga kembali menyiapkan dekorasi untuk ulang tahun Arkana besok.
“ Oh iya non, soal kuenya udah di pesan belum.?” Tanya bi Inah.
“ Sudah bi, saya sudah pesan di salah satu toko kue langganan saya dulu. Pihak toko sendiri yang akan mengantarnya besok, semoga aja mas Arka nggak ada di rumah pas kuenya datang.” Jawab Jingga.
“ Non, maaf ya kalau saya lancang. Setelah apa yang di lakukan sama tuan ke non, memangnya non Jingga nggak benci.?” Tanya bi Salma.
“ Saya nggak benci sama mas Arka, sebaliknya saya sekarang tahu kenapa dia kaya gitu.” Jawab Jingga.
“ Memangnya kenapa non.?”
“ Rahasia.” Jingga mendekatkan jari telunjuknya ke arah bibir sambil tersenyum kecil, hal itu justru membuat dua pembantunya merasa semakin penasaran.
**
Dan keesokan harinya segala rencana Jingga untuk memberikan kejutan pada Arkana mendadak harus di lakukan dengan sangat hati-hati, pasalnya Arkana tidak pergi kerja karena gejala morning sickness yang dia alami semakin menjadi-jadi.
Untuk itu bi Salma terus memantau pintu kamar Arkana jika sewaktu-waktu berubah, rencana Jingga terpaksa harus di majukan dan dia berharap kue ulang tahun segera datang.
Kue ulang tahun pesanan Jingga baru saja tiba, mereka harus membawa kue itu melalui pintu samping yang menghubungkan langsung ke halaman belakang rumah.
“ Terima kasih ya mas, ini tip buat kalian.” Jingga memberikan dua lembar uang merah pada kurir yang mengantar kue ulang tahun tersebut.
Semua sudah lengkap, mulai dari dekorasi, balon, kue, dan juga hadiah untuk Arkana. Sekitar pukul 10:0 Jingga menghubungi Arkana, dia mengira Arkana tidak akan menjawab panggilannya, ternyata dia salah.
“ Kenapa nelpon.?” Tanya Arkana dengan nada yang datar.
__ADS_1
“ Bisa ke halaman belakang sebentar nggak.?” Pinta Jingga.
“ Ngapain.?”
“ Kesini aja kalau kamu penasaran.”
“ Kalau aku nggak penasaran gimana.?”
“ Pokoknya kamu sekarang kesini ya.” Jingga mengakhiri panggilannya sebelum Arkana menjawab.
Kini Jingga menunggu sampai Arkana datang, dia sudah siap sedia memberikan kejutan yang dia siapkan sejak kemarin. Jingga juga memanggil pak Hasan dan pak Jefri untuk memeriahkannya, dan mereka berlima sekarang sudah sangat siap menyambut kedatangan Arkana.
Pintu baru saja bergeser ke samping, lokasi kejutan berada di sudut dimana harus berjalan beberapa langkah sampai kesana. Suara langkah kaki terdengar saat itu juga. Dalam hitungan 3, 2, 1, Jingga mengucapkan selamat ulang tahun tepat di depan Arkana yang baru saja muncul dari balik pintu.
“ Selamat ulang tahun mas Arka.” Seru Jingga.
“ Selamat ulang tahun tuan Arka.”
“ Selamat ulang tahun ya tuan.”
“ Semoga panjang umur, sehat selalu.”
“ Aku bahkan lupa ulang tahunku sendiri.” Benak Arkana masih tak mempercayainya.
“ Kenapa kamu melakukan semua ini.?” Tanya Arkana membuat mereka ikut terdiam.
“ Kamu suamiku, dan aku ingin merayakan ulang tahun kamu. Bukannya itu hal yang wajar.?” Jawab Jingga.
Tak sampai di situ saja, kejutan lain datang baru-baru ini dimana mama Widya baru saja datang membawa kue ulang tahunnya sendiri sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Arkana.
“ Selamat ulang tahun Arka anak mama.” Ucap mama Widya sambil memberikan pelukan dan kecupan kepada putra bungsunya itu.
Arkana masih terlihat sangat syok mendapatkan kejutan dari mama Widya, setelah dua puluh tahun akhirnya mama Widya mengingat ulang tahunnya dan memberikan kejutan seperti ini.
“ Mama ingat sama ulang tahun aku.?” Ucap Arkana lirih.
“ Ingat dong, kamu kan anak mama.” Jawab mama Widya tersenyum lebar.
__ADS_1
“ Terima kasih ma, Arka senang mama masih ingat sama ulang tahun Arka.” Ungkapnya merasa begitu bahagia.
Dan hari itu juga semua orang merayakan ulang tahun Arkana di halaman belakang, tampak Arkana yang terlihat sangat menikmati ulang tahunnya. Dari tempatnya duduk, Jingga bisa melihat betapa bahagianya Arkana di beri kejutan setelah dua puluh tahun tidak mendapatkan ucapan dari mamanya.
( Arkana sudah melupakan hari dimana dia dilahirkan, mamanya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun sejak dua puluh tahun yang lalu. Kamu bisa memberikan kejutan dan mengundang mamanya di hari ulang tahunnya, aku yakin Arkana pasti akan sangat senang.)
Jingga bersyukur kemarin dia sempat menghubungi Qania, dia bisa tahu soal ulang tahun Arkana yang tidak pernah di rayakan. Selama ini Arkana tidak pernah merayakan ulang tahunnya sendiri, umurnya bertambah tanpa ada kenangan yang membekas setiap tahunnya.
“ Ma, terima kasih sudah mau datang.” Bisik Jingga pada mama Widya.
“ Terima kasih karena kamu sudah ingatkan mama.” Balas mama Widya sambil menyentuh wajah Jingga dengan gemas.
**
Tengah malam Jingga kembali harus terbangun karena merasa lapar, dia ingin makan sesuatu yang kecut-kecut saat ini. Jingga pun turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar, dia menyalakan lampu menuju dapur dan di kejutkan dengan kehadiran seseorang disana.
“ Mas Arka.?”
Arkana terkejut melihat Jingga yang bangun tengah malam ketika dirinya juga merasa ingin makan sesuatu, padahal semalam mereka sudah menikmati steak buatan bi Salma dan rupanya itu tidak membuat mereka puas.
“ Aku lapar, makanya mau masak mie instan.” Jawab Arkana.
“ Kamu udah bisa cium aroma dapur emangnya.?” Tanya Jingga.
“ Lumayan.”
“ Ya sudah sini, biar aku yang masak.”
Arkana pun menyingkir dan memberikan tempatnya kepada Jingga, sama seperti malam sebelumnya dimana mereka berdua menikmati semangkuk mie instan bersama.
Tak cukup lima menit Jingga telah menyelesaikan semuanya, dia baru saja membuat dua mangkuk mie instan dengan perasan jeruk dan potongan telur rebus di atasnya.
“ Silahkan makan mas.” Seru Jingga setelah dia menghidangkannya di atas meja.
Arkana menarik mangkuk tersebut ke arahnya, aromanya sangat lezat membuat Arkana tak sabar untuk segera menyantapnya. Jingga juga ikut menyantap mie instan miliknya, dia menambahkan perasan jeruk ekstra untuk memenuhi keinginannya makan makanan yang kecut.
“ Aku mau bilang terima kasih sama kamu soal kemarin.” Ucap Arkana membuat suasana hening menjadi lebih terasa.
__ADS_1
“ Sama-sama mas.” Jawab Jingga di akhiri dengan senyuman.
Tadinya Arkana terlihat ingin mengajak Jingga mengobrol lebih lama, namun dia tidak tahu pembahasan apa yang harus mereka bahas. Alhasil dia hanya diam sampai isi mangkuknya habis tak tersisa.