Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Skenario Tuhan


__ADS_3


Jingga berlari menuju kamar Arkana saat dia tahu kalau Arkana pulang dalam keadaan mabuk berat, baru saja dia memasuki kamar itu aroma alkohol yang sangat menyengat tercium hingga membuat Jingga merasa tidak nyaman menciumnya.


“ Kamu kenapa bisa mabuk-mabukan sih mas.?” Jingga berusaha melepaskan sepatu dan kaos kaki Arkana terlebih dulu.


“ Niaa.., aku masih sayang sama kamu.” Jingga terdiam sejenak saat Arkana mengigau menyebut nama wanita lain.


“ Nia siapa.?”


Arkana terlihat membuka matanya sedikit, saat ini dia menyebut Jingga sebagai Nia dan hal itu membuat Jingga sampai berusaha untuk menyadarkannya.


“ Ini aku Jingga mas, aku bukan Nia.” Kata Jingga berusaha menjelaskannya namun Arkana terlihat tetap menganggapnya adalah Qania.


Arkana kemudian menarik tubuh Jingga ke atas tempat tidur, dia tampak terlihat di rasuki oleh dirinya yang berbeda. Jingga tidak bisa melawannya karena cengkraman Arkana saat ini begitu kuat.


Jingga tahu apa yang akan dilakukan oleh Arkana, dia takut dan juga bingung apa harus menerimanya atau tidak. Saat ini bahkan Arkana menganggapnya sebagai wanita lain, bagaimana bisa dia melakukan itu sedangkan Arkana hanya melihat wanita lain saja.


Kemudian Jingga teringat tentang Erwin dan kejadian ini, semua tidaklah terjadi tanpa suatu alasan. Jingga berpikir jika dia melakukannya bersama Arkana dan berhasil hamil, dia tidak harus menanggung dosa besar karena hal ini dia lakukan bersama suaminya sendiri.


Jingga pun pasrah, jika dengan ini dia bisa menutupi rencana Arkana maka dia akan melakukannya. Dia sangat berharap bisa mengandung anak dari Arkana setelah ini, dia tidak peduli kalau pun Arkana terus menyebut nama Qania sepanjang mereka melakukan hubungan tersebut.


Mereka melakukannya sampai tengah malam dimana Arkana masih di kuasai oleh efek alkohol, setelah semua selesai dan Arkana terlihat tak sadarkan diri. Saat itu juga Jingga mengganti pakaian Arkana dan membersihkan kekacauan yang terjadi.


“ Aku nggak tahu mas ini akan buat kamu marah saat kamu sadar nanti atau nggak, aku hanya berharap kamu nggak akan menyesalinya.” Kata Jingga menatap wajah Arkana dengan tatapan teduh.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


**


Jingga dan Arkana akan berkunjung di kediaman mama Widya untuk memberitahu kabar kehamilan Jingga. Arkana sampai mengambil cuti sehari untuk menemui mamanya, dia yakin kalau mama Widya pasti akan sangat senang mendengar kabar kehamilan Jingga.


“ Ingat, kamu jangan sampai keceplosan soal kejadian di hotel.” Kata Arkana sebelum mereka turun dari dalam mobil.


“ Iya mas, aku nggak akan bilang soal itu.” Balas Jingga lirih.


Arkana yang turun duluan dari mobil segera beranjak membuka pintu untuk Jingga, kemudian mereka berjalan bersama memasuki rumah megah mama Widya sambil bergandengan tangan.


“ Selamat datang tuan dan nyonya, nyonya Widya sudah menunggu kedatangan kalian di ruang keluarga.” Ucap salah seorang pekerja di rumah itu.


Begitu mereka sampai di ruang keluarga, mama Widya yang mulai penasaran segera menyuruh mereka untuk memberitahunya berita bahagia apa yang mereka siapkan.


“ Ma, selamat ya sebentar lagi mama akan jadi seorang nenek.” Jingga memberikan bukti kehamilannya kepada mama Widya yang di terima oleh wanita itu dengan ekspresi yang terkejut.


Setelah mendengar berita membahagiakan itu, mama Widya langsung menghubungi beberapa toko untuk mengirim perlengkapan bayi ke rumah mereka berdua.


Jingga sudah menolak karena masih terlalu dini melakukan hal itu, namun mama Widya sudah sangat antusias dan dia ingin segera melakukannya. Jingga dan Arkana pun tidak bisa melarangnya lagi, semua yang di inginkan oleh mama Widya di lakukan hari itu juga.


“ Ingat ya Arka, kamu harus full jagain Jingga. Jangan di tinggal lama-lama, apapun yang dia mau kamu harus kasih. Kalau wanita ngidam itu harus di turutin kemaunnya, atau nanti anak kalian suka ngeces kalau kemauan ibunya nggak di turutin.” Lontar mama Widya.


“ Iya, mama nggak usah khawatir soal itu.” Balas Arkana tersenyum simpul.


“ Oh iya, papa mana ma.?” Tanya Jingga penasaran karena sejak tadi dia tidak melihat mertua laki-lakinya itu.


“ Papa sibuk dan sekarang ada di rumah sakit, nanti biar mama yang kasih tahu papa soal kehamilan kamu.” Ucap mama Widya kemudian.

__ADS_1


**


Arkana sudah masuk kerja lagi setelah kemarin dia menemani Jingga seharian di rumah mama Widya, semenjak Jingga hamil perhatian mama Widya semakin besar dan dia menjadi sangat cerewet kepadanya.


Ketika Arkana tiba di rumah sakit banyak yang mengucapkan selamat kepadanya, hampir setiap orang yang mengenalnya memberikan selamat atas kehamilan Jingga dan membuat Arkana hanya bisa tersenyum palsu di buatnya.


Di koridor menuju ruangannya tanpa sengaja Arkana bepapasan dengan Qania, keduanya saling menatap satu sama lain. Saat itu Qania tidak lama menatap Arkana dan dia pun langsung masuk ke dalam ruangannya sendiri, kebetulan ruangan mereka saling berdekatan.


Pintu ruangan Qania baru saja terbuka, dia terkejut saat melihat yang masuk ternyata adalah Arkana. Wanita itu langsung menunjukkan sikap ramahnya seperti biasa, tak lupa dia juga mengucapkan selamat kepada Arkana atas kehamilan Jingga sekali lagi.


“ Kamu sedih kan mendengar kabar ini.?” Lontar Arkana sontak membuat Qania tertawa mendengarnya.


“ Apaan sih, justru aku senang kamu akan jadi seorang ayah.” Balas Qania sibuk merapihkan meja kerjanya.


“ Tatap mataku kalau kamu baik-baik aja soal ini.” Sahut Arkana ketus.


Perlahan namun pasti Qania mulai mengangkat wajahnya hingga dia bisa menatap Arkana yang berdiri dengan tatapan lurus kepadanya.


“ Hubungan kita sudah berakhir cukup lama, aku nggak mau sikapmu sekarang buat aku dapat masalah ke depannya.” Lontar Qania.


“ Kamu nggak akan dapat masalah apa-apa, aku hanya minta satu hal dari kamu. Mengetahui aku sudah menikah dan akan menjadi seorang ayah, buat kamu terluka kan.?”


“ Sok tahu kamu, aku udah lama melupakan kamu dan perasaanku juga udah nggak ada. Sebaliknya disini hanya kamu yang terlihat masih sayang sama aku Ar.”


“ Aku juga sama kaya kamu, aku udah nggak ada perasaan sama kamu.” Arkana mengatakannya tanpa berani menatap wajah Qania lagi.


“ Mata seseorang tak bisa berbohong, tatapan mata tidak bisa di sembunyikan. Terutama saat kamu menatap seseorang yang kamu cintai, aku tahu kalau disini sebenarnya kamu yang belum bisa melupakan aku.”

__ADS_1


Arkana tampak kesal mendengar ucapan Qania barusan, dia pun memutar tubuhnya meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun. Sementara di dalam sana terlihat Qania yang menjatuhkan air matanya, dia sudah menahan agar air matanya tidak keluar saat di hadapan Arkana barusan.


__ADS_2