Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Provokator


__ADS_3


Aizen tampak termenung di ruang pantry saat dia sedang menyeduh kopi untuknya, kemudian seseorang datang dan menyapanya dengan lembut. Aizen mengenal gadis itu, dia adalah Tsania yang di temuinya tadi pagi di pintu masuk rumah sakit.


“ Kok sudah punya istri tapi masih buat kopi sendiri dok.?” Tegur Tsania.


“ Ini kan di rumah sakit bukan di rumah, mana mungkin saya meminta Qania untuk membuatkannya. Lagi pula nggak ada salahnya kan kalau harus buat sendiri. “ Balas Aizen.


“ Setidaknya kalian bisa minum bareng atau paling tidak pergi makan siang bareng kan, tapi tadi saya lihat kok dokter Qania justru pergi ke ruangannya dokter Arkana.”


“ Mungkin masalah pekerjaan.”


“ Sejak kapan dokter bedah toraks ada urusan dengan bedah syaraf? Mereka berdua kan pernah pacaran, dokter Aizen tahu kan.?”


“ Saya tahu, memangnya kenapa kalau mereka mantan pacar? Toh masing-masing sudah punya pasangan.”


“ Mungkin dokter Aizen mau dengar sesuatu yang penting, tapi tolong jangan kasih tahu orang lain termasuk dokter Qania kalau aku yang kasih tahu dokter Aizen soal rekaman ini.” Tsania menunjukkan sebuah rekaman pada ponselnya saat ini.


“ Rekaman apa itu.?”


“ Rekaman percakapan dokter Qania dan dokter Arkana di ruangannya barusan, saya nggak sengaja dengar dan saya rekam.”


“ Saya nggak mau dengar, dan tolong hapus rekaman itu sekarang juga.”


“ Yakin nggak mau dengar dok? Mereka bahas tentang perceraian loh.”


**


“ Mas, nanti singgah di supermarket di depan ya. Aku mau belanja buah-buahan, kayaknya di kulkas udah nggak ada buah deh.” Ucap Qania sambil merogoh isi tasnya mengecek apakah tidak ada yang ketinggalan ketika mereka sudah pergi dari rumah sakit.


Qania menoleh ke luar jendela melihat bagaimana supermarket itu di lewati oleh Aizen begitu saja, Qania pun menoleh ke arah suaminya yang tampak menyetir dengan pandangan lurus ke depan.


“ Mas, kamu kenapa? kamu nggak dengar aku bilang apa barusan.?” Tegur Qania sukses membuat Aizen kembali pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“ Maaf Nia, aku nggak dengar. Kamu bilang apa tadi.?” Tanya Aizen merasa bersalah.


“ Kamu berhenti dulu, kita menepi di pinggir jalan sekarang.” Pinta Qania dan langsung di turuti oleh suaminya.


“ Sekarang kamu cerita sama aku, kamu kenapa sampai mengabaikan ucapanku barusan? Kamu mikirin sesuatu kan? Bukannya kita sudah janji kalau ada apa-apa kita cerita, jangan sampai ada kesalahpaham yang nantinya akan terjadi.” Ucap Qania menatap suaminya dengan tulus.


“ Aku sudah dewasa, bahkan aku lebih tua lima tahun dari Qania. Tapi kenapa aku bersikap seperi anak-anak sekarang? Hanya karena dia dekat dengan mantannya, bukan berarti mereka akan kembali kan.” Benak Aizen masih menutup diri untuk mengatakannya.


“ Tentang Arkana? kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku menemui Arkana hari ini bukan karena aku ingin dekat dengan dia, tapi karena aku ingin bantu dia sama Jingga untuk kembali bersama.” Sahut Qania sukses membuat Aizen terkejut.


“ Tapi aku nggak pernah bilang ini soal Arkana.” Balas Aizen.


Qania meraih tangan Aizen dan menatapnya dengan lembut.


“ Kita sudah menikah, aku nggak mungkin melirik pria lain apalagi dia adalah masa laluku. Sekarang dan selamanya hanya ada kamu mas, kamu percaya sama aku kan.” Ucap Qania yang membuat Aizen merasa semakin bersalah.


Aizen meraih Qania ke dalam pelukannya, dia meminta maaf pada Qania sebanyak tiga kali. Dia sangat menyayangi Qania sampai membuatnya tidak ingin melepaskan wanita itu.


“ Aku nggak butuh dengan rekaman itu, aku lebih percaya sama kamu.” Benak Aizen semakin memeluk Qania dengan erat.


“ Siap bos, kita putar balik ke supermarket.” Balas Aizen yang kembali bersemangat di buatnya.


**


Hari ini Arkana datang ke tempat praktek Gilang lebih awal dari waktu itu, karena Gilang sedang tidak ada pasien akhrinya membuat dia mengajak Arkana untuk masuk lebih awal.


“ Hari ini tumben datang cepat.”


“ Ya, karena urusan di rumah sakit ada mahasiswa koas jadi bisa pulang lebih awal.”


“ Begitu ya, tapi bagus kita bisa memulainya sedikit lama hari ini.”


“ Oh iya dok, apa kamu bisa bantu aku mengingat sesuatu yang sempat ku lupa.?” Tanya Arkana.

__ADS_1


Gilang menatap Arkana bingung dengan ucapannya barusan, dia tidak mengerti dan meminta Arkana untuk menjelaskannya secara detail.


“ Jingga menyuruhku mengingat sesuatu, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik. Mungkin kejadian itu ku lakukan di saat aku sedang mabuk, dan aku tipe orang yang mudah mabuk dan melupakan kejadian apapun saat itu. Jadi aku ingin mengingatnya dengan bantuanmu. Apa kau bisa melakukannya.?”


“ Maafkan aku, tapi itu mustahil bagiku melakukannya. Tapi biasanya kita bisa mengingat satu kejadian kalau kita kembali melakukannya, apa sudah kau coba sebelumnya.?”


“ Aku belum pernah minum lagi sejak saat itu, selama menikah dengannya aku ingat hampir beberapa kali minum tapi setelah dia hamil aku tidak pernah melakukannya lagi.”


“ Sepertinya Jingga belum memberitahu Arkana tentang anak itu, apa yang harus ku lakukan untuk membantu mereka.?” Benak Gilang berusaha berpikir.


“ Aku bisa membantumu dengan cara lain, mau mendengar kisah Jingga dan masa lalunya?”


“ Aku tidak mau mendengar masa lalunya, apalagi dengan pria lain.”


“ Maksudku, kau mungkin bisa mengambil pelajaran untuk mendekati Jingga setelah ini.”


Arkana terlihat berpikir sebentar, setelah beberapa saat kemudian dia mempersilahkan Gilang untuk menceritakan masa lalu Jingga kepadanya.


“ Dulu saat kami masih SMA, Jingga adalah anak yang ceria dan sangat baik pada semua orang. Sampai kami kedatangan murid pindahan yang bernama Nawa, dia anak laki-laki yang aktif dan terang-terangan ingin menikahi Jingga di hari pertama dia jadi anak baru. Perjuangan Nawa untuk mendapatkan Jingga cukup lama, sampai kita lulus pun Nawa tidak pernah berhenti mendapatkan hatinya. Semua hal di lakukan oleh Nawa, sampai akhirnya Jingga luluh dan membalas perasaan Nawa. “


“ Aku menyesal menyuruhmu menjelaskannya, mendengarnya membuatku kesal.”


“ Nawa sudah tidak ada dan perasaan Jingga pada Nawa mungkin sudah memudar, ini kesempatanmu untuk masuk ke dalam hatinya.”


Arkana masih menunjukkan ekspresi kesalnya setelah dia merasa di banding-bandingkan dengan Nawa, selama ini Arkana sudah sering mendengar nama itu dari teman-teman Jingga. Dia tidak tahu seperti apa wajah Nawa, bahkan saat ini Arkana merasa dia jauh lebih tampan dari pada pria yang bernama Nawa itu.


“ Jangan kesal dulu, dari kisah Nawa kamu bisa menarik kesimpulan. Untuk mendapatkan hati Jingga kembali, kamu harus berusaha lebih keras. Jingga memang sulit menerima orang baru di hatinya, tapi sekalinya dia sudah membuka hati maka dia tidak akan pernah melupakan sosok yang di cintainya.”


“ Jadi maksudmu aku harus jadi Nawa supaya mendapatkan hati Jingga lagi.”


“ Ya itu terasa kamu saja, dari pada memaksa memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa kamu ingat.”


“ Lupakan soal itu, kita mulai hipnoterapinya hari ini.” Kata Arkana yang sudah siap untuk melakukannya.

__ADS_1


“ Baiklah, kita mulai hipnoterapi hari ini.” Balas Gilang yang mulai mempersiapkan segalanya.



__ADS_2