Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Mencurigakan


__ADS_3


Arkana mendatangi butik Diana setelah dari rumah papa Aidan, melihat Arkana yang datang ke butiknya tentu membuat Diana terkejut. Dia mengira kalau Arkana datang karena Jingga telah berhasil di temukan, namun ternyata bukan hal itu.


“ Aku ingin tahu semua tentang Nawa lebih jelas dari kamu.” Ucap Arkana seketika membuat Diana kebingungan.


“ Kenapa tiba-tiba.?”


“ Nawa masih hidup, dan itu membuatku takut sekarang.”


“ Nawa masih hidup? Apa jangan-jangan Nawa itu Bima? Dia Bima kan? Aku sudah curiga sejak awal, kemarin pun saat ku hubungi dia terlihat sangat cuek.”


“ Kau menghubunginya.?”


“ Kau ingat surat dari Jingga yang waktu itu ku ambil dari kamu? Aku mengirim foto surat itu kepada Bima, ku pikir jika dia adalah Bima dia bisa tahu tulisan tangan Jingga. Tapi dia tidak meresponku, dia sangat cuek seolah-olah tidak peduli soal itu.”


“ Ini aneh, dia bukan terlihat tidak peduli. Tapi mungkin saja dia yang membawa Jingga pergi dari rumah sakit.” Kata Arkana semakin membuat Diana tidak mengerti.


“ Apa maksudmu?”


“ Bima adalah Nawa, aku nggak tahu bagaimana dulu dia bisa selamat dari kecelakaan itu dan siapa yang meninggal, aku hanya tahu kalau Bima adalah Nawa yang dulu hampir menikahi Jingga.” Jelas Arkana.


“ Aku pun sudah curiga kalau dia adalah Bima, dia tidak bisa berhenti menatap Jingga waktu itu. Aku tahu dari sorot mata yang dulu sering aku lihat, tapi ini benar-benar buat aku terkejut karena ternyata Nawa itu adalah saudara kamu. “


“ Aku harus pergi menemuinya, dia tidak pernah muncul sejak hari itu. Aku sangat yakin kalau dia ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Jingga.”


“ Jadi tolong, beritahu aku tentang dia sebelum aku pergi menemuinya.” Pinta Arkana sekali lagi.


**

__ADS_1


Arkana mendengar kabar dari bi Ijah bahwa Bima berada di rumah mamanya, dan untuk memantau keberadaan pria itu. Arkana sampai menunggu di sekitar rumah sampai Bima keluar agar dia bisa mengikuti kemana Bima biasanya pergi.


Selama hampir dua jam lebih Arkana menunggu di dalam mobilnya, sampai pada akhirnya dia melihat sebuah mobil sport berwarna merah keluar dari pelataran rumah itu.


Arkana pun mengikuti kemana mobil itu pergi, dia sudah tahu pasti bahwa di dalam mobil itu adalah Bima. Dan dari arah kemana Bima pergi, tampaknya dia akan pergi menuju daerah yang cukup jauh karena mengambil arah jalan tol.


Sebelum memutuskan untuk mengikuti Bima, Arkana menyuruh Diana untuk menjaga Keenan. Sehingga dia bisa pergi dalam waktu yang lama, dan seperti dugaan Arkana barusan bahwa Bima benar-benar keluar dari dari Jakarta menuju Bandung.


“ Jadi kau membawa Jingga ke sana. Nggak heran kalau dia sulit di temukan.” Ucap Arkana sambil mencengkram kuat stir mobilnya.


Selama dua jam setengah menuju Bandung, kini Arkana sudah tiba di lokasi yang di tuju oleh Bima. Dia sengaja memarkir mobilnya sedikit jauh dari Bima agar tidak ketahuan, dan ketika Arkana perhatikan baik-baik ternyata dirinya tiba di sebuah rumah sakit.


Rasa penasaran Arkana semakin besar, dia pun turun dari mobil dan mengikuti kemana Bima pergi. Dia masih sempat melihat Bima memasuki rumah sakit itu, dan tanpa menunggu waktu lama Arkana pun mengikutinya dengan cepat.


Arkana bisa melihat bagaimana Bima datang ke rumah sakit itu dan terlihat sudah sangat mengenal beberapa orang di dalamnya, para perawat menyapanya dengan ramah dan dia berjalan menuju pintu lift.


Arkana sengaja mengambil langkah lambat untuk melihat ke lantai mana Bima pergi, dan terlihat bahwa Bima pergi menuju lantai tiga rumah sakit. Arkana mencari tata letak rumah sakit yang tertera di lantai satu, dan di lantai tiga sendiri merupakan ruang perawatan pasien VIP dan juga ruang kerja beberapa dokter spesialis.


“ Maaf sus, saya mau tanya disini ada pasien atas nama Nitaria Jingga nggak.?”


“ Sebentar ya pak, saya lihat dulu.”


Arkana menunggu sampai perawat itu mengecek daftar pasien dengan perasaan yang tak karuan, kedua matanya sibuk mengamati keadaan rumah sakit yang terlihat cukup mewah lebih dari bintang harapan.


“ Maaf pak, kami belum menerima pasien atas nama Nitari Jingga.”


“ Yakin sus? Coba di periksa lagi, mungkin salah cek.”


“ Sudah pak, kami sudah mengecek semua unit kamar dan tidak menemukan nama pasien tersebut.”

__ADS_1


Arkana mulai berpikir bahwa Bima mungkin memalsukan nama Jingga agar tidak ketahuan, tapi dia tidak tahu nama apa yang di gunakan Bima untuk Jingga.


“ Kalau saya boleh tahu, sekitar satu atau dua minggu yang lalu ada pasien yang masuk ke rumah sakit ini dengan riwayat penyakit jantung?”


“ Banyak pak, sekitar sepuluh orang sedang di rawat di rumah sakit ini dengan penyakit yang bapak sebutkan barusan.”


“ Apa ada pasien wanita? Wajahnya seperti ini.” Arkana menunjukkan foto Jingga kepada perawat tersebut.


“ Sebentar ya pak, saya coba cek daftar pasien wanitanya.”


Perawat itu pun menyebutkan ada tiga pasien wanita muda yang di rawat di tiga kamar berbeda, satu di bangsal, satunya lagi di kamar biasa, dan yang terakhir di kamar VIP.


Arkana yang telah berhasil mendapatkan daftar ketiga pasien itu segera berlari menuju kamar mereka satu persatu untuk mengeceknya, dia sudah tidak peduli lagi jika sampai bertemu dengan Bima. Jika perlu dia akan memaksa kakaknya itu untuk segera mengaku.


Arkana mengecek kamar bangsal yang berada di lantai satu terlebih dulu, dia masuk dan membuka satu persatu tirai yang menutupi tempat pasien dengan harapan bisa melihat Jingga disana.


“ Nggak ada.”


Kemudian dia berlari menuju lift untuk pergi ke lantai dua, disana ada kamar nomor 101 atas nama Anita yang terdengar cukup mirip dengan nama depan Jingga.


Arkana mengetuk pintu kamar nomor 101 dengan pelan, sampai seseorang keluar dengan tatapan bingung karena tidak mengenal Arkana.


“ Cari siapa pak.?” Tanya wanita setengah baya itu.


“ Maaf bu, saya boleh lihat pasien bernama Anita? Saya punya teman yang sedang sakit, tapi saya nggak tahu kamarnya dimana.”


“ Silahkan pak.”


Dan Arkana pun di perbolehkan masuk untuk melihat pasien atas nama Anita itu, dan setelah dilihat ternyata memang bukan Jingga. Arkana pun mengucapkan terima kasih dan maafnya kepada wanita barusan.

__ADS_1


Sekarang adalah kamar terakhir, kamar VIP yang dimana Bima juga pergi ke lantai tiga barusan. Nama pasien di kamar VIP 6 itu adalah Yulia, Arkana sangat berharap bahwa pasien yang di sebut Yulia adalah Jingga.



__ADS_2