Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Bukan Urusan Kamu


__ADS_3


Arkana berlari menuju ruangannya, dia memastikan jadwal hari ini sudah selesai semua sehingga dia bisa pulang lebih awal. Ketika dia baru saja tiba di ruangannya, sosok Nisa membuatnya kembali menanyakan kabar pasien di ruangan mawar.


“ Gimana keadaan pasien?”


“ Pasien yang mana dok.?”


“ Yang di ruangan mawar.”


“ Pasien belum siuman dok, sekitar jam empat atau jam lima sore kemungkinan dia akan siuman.”


“ Kata Tsania kamu nyuruh panggil aku barusan.?”


“ Nggak dok, saya belum ketemu Tsania sama sekali. Dan pasien juga masih belum siuman kok.”


“ Terus kenapa Tsania bilang begitu barusan.?”


“ Mungkin dokter capek, sebaiknya pulang dan istirahat aja dok. Selama ada mahasiswa koas semua bisa di handle oleh mereka, dokter bisa pulang lebih awal.” Ujar Nisa kemudian.


“ Ya sudah kalau begitu, tolong kamu awasi mereka sekalian ya.” Pinta Arkana langsung mendapat jempol dari Nisa.


**


Arkana baru saja tiba di rumah, dia melihat titik GPS Jingga yang kini sudah berada di rumah. Dia berpikir jika Jingga akan melarikan diri lagi darinya, ternyata kali ini dia kembali tanpa harus di ancam.


Ketika Arkana masuk ke dalam rumah, dia tidak melihat Jingga ada dimana-mana. Kebetulan bi Inah lewat, dan Arkana pun menanyakan keberadaan Jingga padanya.


“ Barusan non Jingga pulang dengan ekspresi yang datar tuan, di tegur tidak merespon, bahkan di tanya mau makan apa dia nggak jawab.” Jelas bi Inah.


Cukup aneh mengetahui Jingga pulang tanpa menyelesaikan check upnya hari ini, dan dia pulang tanpa di antar oleh pak Jefri. Arkana tidak tahu apa yang terjadi pada Jingga, sampai akhirnya dia berjalan menuju kamar wanita itu dan mencoba untuk mengetuknya dengan pelan.


Tok…tok…tok…

__ADS_1


“ Jingga? Buka pintunya.?” Ucap Arkana terus menatap pintu itu.


Setelah di tunggu beberapa saat, tidak ada jawaban dari dalam dan pintu pun terkunci dari dalam. Arkana kembali mengetuk dan memaksa Jingga untuk membuka pintunya segera.


Suara pesan masuk baru saja membuat Arkana bergeming, dia mengecek ponselnaya dan mendapati pesan dari Jingga.


“ Aku capek, tolong jangan ganggu aku mas.” Tulis Jingga dalam pesannya.


Arkana menahan diri untuk tidak mengganggunya lagi, setidaknya dia sudah tahu kalau wanita itu sudah ada di dalam kamarnya. Arkana pun bergegas menuju kamarnya, meskipun beberapa kali dia menoleh menatap kamar Jingga.


**


Wanita itu tampak memperhatikan foto hasil USG terakhir kali dia melakukan pemeriksaan, tangan kirinya menyentuh perutnya sambil di usap dengan sangat lembut.


“ Maafin mama ya, kamu sudah mendengar kalimat yang sangat jahat dari mulut papa kamu. Meski begitu masih ada mama yang akan selalu menganggap kamu sebagai sesuatu yang paling berharga di dunia ini, sekarang mama Cuma punya kamu. Jadi kamu harus bisa bertahan sampai kita ketemu nanti, apapun yang terjadi ke depannya kalau mama dan papa harus berpisah. Kamu akan tetap mama perjuangin, mama nggak masalah kalau kita hidup berdua. Jadi tolong bersabar sedikit lagi, kamu harus sehat terus ya di sana.” Ucap Jingga dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya.


Tidak bisa di pungkiri bahwa percakapan Arkana dan Qania di anak tangga hari ini membuat Jingga merasa sedih, hal ini membuatnya ingin segera berpisah dengan Arkana sekalipun itu bisa di lakukan secepat yang dia harapkan.


Hari ini Jingga telah melewatkan check up kandungannya, dia akan menghubungi dokter Nala nanti dan mereschedule jadwal pertemuannya di lain waktu.


**


Ketika Arkana baru saja sampai di meja makan dan hendak duduk, Jingga langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju kamar. Arkana yang melihatnya pun di buat melongo sebab Jingga tidak mengatakan apapun kepadanya sama sekali.


“ Kamu mau kemana? Aku baru datang loh.” Sahut Arkana.


“ Aku mau istirahat.” Jawab Jingga lirih tanpa menoleh ke arah Arkana.


Jingga bersikap cukup aneh malam ini, bahkan dia tidak menjelaskan kenapa dirinya pergi dari rumah sakit sebelum check upnya dimulai. Namun Arkana tidka mau ambil pusing, dia pun terpaksa harus makan malam sendiri hari ini.


**


Dan pagi keesokan harinya, Jingga kembali mengabaikan Arkana. Padahal pagi itu dia baru saja menyentuh sarapannya, namun ketika Arkana muncul dia sudah selesai dan bergegas pergi ke kamarnya.

__ADS_1


“ Kamu kenapa sih.?” Tegur Arkana menahan langkah Jingga untuk tidak pergi.


“ Aku kenapa? aku nggak kenapa-napa.” Balas Jingga dengan wajah santainya.


“ Sikap kamu aneh tahu nggak, sejak semalam kamu bersikap kaya gini kenapa sih.?”


“ Kenapa kamu peduli? Bukannya selama ini kamu nggak peduli sama aku? Selagi aku sehat dan masih ada di rumah ini bukannya sudah cukup buat kamu.” Balas Jingga mulai berani melawan.


“ Aku Cuma mau tanya satu hal, kemarin kenapa kamu nggak datang ke ruangan dokter Nala? “


“ Anak ini bukan anak kamu kan? Jadi kamu nggak usah peduli soal hasil pemeriksaannya, kalau pun aku skip jadwal check up pun itu bukan urusan kamu mas. Udah, aku capek mau ke kamar.” Lanjut Jingga mengehentakkan kaki meninggalkan Arkana yang syok kena sembur darinya.


Bi Inah dan bi Salma terlihat jauh lebinh syok melihat Jingga yang seberani itu menghadapai Arkana, bahkan membuat Arkana tidak berkutik sama sekali adalah kesempatan yang sangat langkah.


**


Setibanya Arkana di rumah sakit, dia masih terus memikirkan ucapan Jingga pagi ini. Sikap ketus Jingga membuatnya bingung, padahal selama ini dia yang paling sering memarahi Jingga tapi sekarang justru dia yang mendapatkan karmanya.


Langkah Arkana berhenti ketika di berdiri di depan pintu ruangan Qania, dia menatap pintu itu sebentar sebelum akhirnya mengetuknya dengan pelan.


“ Masuk.” Seru Qania di dalam sana.


Saat Arkana masuk ke dalam, dia melihat Qania dan Aizen yang sedang mengobrol di sofa. Kedatangan Arkana membuat Aizen merespon dengan cepat dan menyapanya seperti biasa.


“ Ada apalagi Ar? Bukannya kemarin sudah jelas.?” Sahut Qania menatapnya lurus.


“ Ini bukan masalah kemarin, ini soal Jingga. Tapi sebelum itu, aku minta dokter Aizen keluar dulu.” Pinta Arkana.


“ Baik, saya keluar. “ Aizen kemudian beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan Qania.


Sekarang hanya ada Arkana dan Qania di ruangan itu, Arkana sudah duduk di atas sofa dan sekarang terlihat melirik Qania.


“ Apa hasil tes Jingga kemarin.?”

__ADS_1


“ Memangnya Jingga nggak kasih tahu kamu.?”


“ Kami belum sempat mengobrol, ada baiknya kalau aku tahu langsung dari dokter yang menanganinya.” Ucap Arkana kembali.


__ADS_2