
Pagi-pagi sekali ketika Jingga sedang mengurus Keenan, mulai dari memberinya susu, mandi, memberikan pakaian terbaik, hingga yang terakhir mengajaknya menghirup udara segar di halaman rumah.
Arkana masih tidur karena semalaman menjaga Jingga, dan ketika Jingga bangun, dia memang sengaja tidak membangunkan Arkana. Di halaman depan rumah, terlihat Jingga sedang menggendong Keenan sambil mengajaknya mengobrol.
Ketika Jingga sedang asik mengobrol dengan keenan, dia merasa sangat sesak dan perasaan ini mengingatkannya saat sebelum Keenan lahir. Dengan cepat Jingga memanggil bi Salma yang kebetulan sedang menyiram tanaman di halaman.
“ Ada apa non.?”
“ Tolong gendong Keenan dulu, dada saya sakit.”
Setelah Jingga memberikan Keenan kepada bi Salma, Jingga segera duduk dan mencoba untuk mengatur pernafasannya. Rasa sesaknya semakin menjadi-jadi bahkan ketika dirinya sudah mencoba berbagai hal untuk meredakan sakitnya.
“ Sebentar saya panggilkan den Arka.” Bi Salma segera masuk ke dalam sambil menggendong Keenan.
Ketika Arkana sudah keluar dari dalam, dia melihat Jingga yang tergelatak di lantai dan sudah tak sadarkan diri. Kemudian Arkana menggendong tubuh Jingga untuk membawanya ke dalam kamar.
**
Jingga di bawa ke rumah sakit setelah Arkana memeriksa keadaannya, dia tahu gejala yang di rasakan Jingga sama seperti ketika dia belum melahirkan. Sejak awal dia sudah menduga pasti hal ini akan kembali terjadi kepada Jingga.
Ketika sudah berada di rumah sakit, dokter Zakir pun langsung menjalankan tugasnya dengan baik. Hasilnya akan keluar hari ini, dan Arkana terlihat begitu takut sampai tidak meninggalkan ruangan Jingga walau hanya sedetik.
“ Kali ini aku nggak akan tinggalin kamu, aku akan jagain kamu sampai kamu sadar.” Kata Arkana sambil menggenggam tangan Jingga dengan lembut.
Suara ketukan pintu baru saja membuat Arkana menoleh, dan ternyata yang datang saat itu adalah dokter Zakir. Sebelumnya Arkana sudah meminta kepada dokter Zakir untuk memberitahu keadaan Jingga di kamar itu saja, dan beliau pun langsung datang saat hasil pemeriksaan sudah keluar.
“ Saya sudah pernah menjelaskannya di awal, penyakit jantung yang di alami oleh Jingga belum sepenuhnya sembuh. Operasi yang kita lakukan waktu itu hanya untuk mengubah rute aliran darah ke otot jantung. Umumnya operasinya ini di lakukan pada pasien gagal jantung, dan melihat keadaan Jingga sekarang, sepertinya kerja jantungnya kembali mengalami penurunan.” Jelas dokter Zakir.
“ Mungkin sebelumnya dia sudah mengalami banyak hal di tambah dengan aktivitas yang berlebihan yang mungkin telah dia lakukan, apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang ibu dan merawat anaknya sendiri. Banyak faktor yang membuat jantungnya kembali mengalami masalah. “ lanjut dokter Zakir lagi.
“ Untuk sementara waktu, biarkan dia di rawat dan jangan membuat pikirannya terganggu.”
__ADS_1
“ Baik dok.”
**
Dua minggu kemudian
Perlahan namun pasti wanita itu mulai membuka kedua matanya, dilihatnya seisi ruangan yang sudah tidka asing lagi. Dia mencoba mengingat kenapa dia bisa berakhir di tempat itu lagi.
Terdengar suara dentingan mesin EKG yang berada di samping tempat tidur, Jingga tahu benda itu berguna untuk mendeteksi kondisi jantungnya. Mendengar suaranya yang normal menandakan bahwa dia baik-baik saja. Sesaat kemudian dia merasakan ada seseorang yang menggengam tangannya.
Jingga melirik seorang pria yang tertidur sambil menggenggam tangannya, dengan lembut Jingga menggerakkan tangannya yang ternyata membuat Arkana terbangun dan langsung membuka kedua matanya.
“ Kamu udah sadar.??” Tanya Arkana yang terlihat begitu khawatir.
Jingga mengangguk pelan dan berusaha untuk tersenyum, Arkana ingin keluar memanggil dokter namun di tahan oleh Jingga. Jingga tidak ingin Arkana pergi meninggalkannya, dan Arkana pun mengangguk pelan dan tidak akan pergi kemana-mana.
“ Aku kenapa lagi mas? Kenapa aku bisa masuk rumah sakit.?” Tanya Jingga parau.
“ Ada apa mas? Kok berhenti.?”
“ Kamu sudah melakukan operasi tranplantasi jantung, sekarang kamu sudah sehat. Kamu nggak akan pernah lagi merasakan sakit.” Isak Arkana justru membuat Jingga semakin keheranan.
“ Kok kamu nangis? Bukannya kamu senang karena aku udah nggak sakit lagi.?” Tanya Jingga.
“ Aku menangis bahagia, aku nggak sedih kok.” Balas Arkana jelas terlihat tidak seperti biasanya.
“ Bagaimana dengan Keenan? Dimana dia sekarang.?”
“ Keenan ku titip di rumah papa Aidan, dia bersama tante Syifa dan kak Zara. Sedangkan bi Salma sama bi Inah mereka harus pulang kampung, aku nggak ada pilihan lain selain menitipkan Keenan ke mereka.”
“ Nggak apa-apa kok, mereka orang-orang baik. Mereka pasti akan menjaga Keenan dengan baik.”
“ Aku di rumah sakit yang sama dengan Nawa juga kan? Gimana keadaan dia sekarang? Dia baik-baik aja kan mas.?” Tanya Jingga lagi.
__ADS_1
“ Dia udah nggak di rumah sakit ini lagi.” Jawab Arkana pelan.
“ Syukurlah, aku senang kalau dia keluar lebih dulu dari aku.”
Arkana hanya menatap Jingga dengan sayu, dia tidak melanjutkan kata-katanya setelah melihat Jingga yang terlihat tenang seperti itu.
**
Selama lima hari setelah siuman, Jingga sudah boleh kembali ke rumah. Saat ini Jingga sedang bersiap-siap untuk pulang. Dia berada di kamar mandi kamar inapnya untuk mengganti pakaian. Arkana berada di luar dan sibuk menyusun barang-barangnya.
Saat itu Jingga menatap tubuhnya yang terbuka di depan sebuah cermin besar, dia melihat bekas sayatan yang di jahit di bagian dadanya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya sudah di nyatakan sembuh dari penyakit jantung yang selama ini hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Jingga menyentuh dadanya dan merasakan detakan yang begitu kuat, saat dia menatap wajahnya di depan cermin ada sebuah perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“ Siapapun kamu yang telah mendonorkan jantungmu ke aku, terima kasih. Sepertinya kamu jadi lebih bersemangat saat aku melihat wajahku sendiri.” Gumam Jingga sambil tersenyum simpul.
“ Kamu kok lama banget? Kamu nggak kenapa-napa kan.?” Sahut Arkana di luar sana.
“ Sebentar mas, aku lagi ganti baju.” Balas Jingga yang akhirnya mengenakan pakaiannya dengan cepat.
Setelah Jingga selesai, dia pun keluar menemui Arkana. Dia sempat bertanya tentang pendonor yang telah memberikan jantungnya, tapi saat itu Arkana terlihat diam tak berusara.
“ Dia cewek atau cowok mas? Kok waktu aku lihat wajahku di cermin aku merasa senang dan suka aja lihat wajahku, biasanya nggak kaya gitu.”
“ Dia orang baik, dia cowok. Mungkin karena kamu cantik makanya saat kamu melihat wajahmu di cermin, dia yang sebelumnya memiliki jantung itu merasa terpesona dengan kamu.” Jawab Arkana.
“ Dia kok bisa memberikan jantungnya ke aku?”
“ Sudah waktunya kita pergi menjemput Keenan, papa bilang dia sangat rewel dan mungkin udah kangen banget sama kita.” Sahut Arkana yang mengalihkan topik saat itu juga.
“ Ya udah yuk, aku juga kangen banget sama Keenan.” Balas Jingga yang akhirnya lebih memikirkan tentang Keenan sekarang.
__ADS_1