
Hari ini merupakan hari dimana Aizen akan melamar Qania di depan keluarganya, karena acaranya sangat private maka hanya beberapa tamu undangan saja yang dapat hadir disana.
Jingga akan hadir di acara ini tapi tidak dengan Arkana, sejak semalam dia terus mengurung diri di kamarnya. Jingga sudah mendapat izin dari Arkana untuk dapat hadir disana, dan Jingga akan pergi seorang diri.
Sekarang Jingga telah siap dengan balutan dress berwarna biru navy, dia sengaja memakai pakaian yang sedikit oversize agar membuat lekuk tubuhnya tidak begitu terlihat.
Ketika Jingga baru saja keluar dari kamarnya, dia di buat terkejut dengan keberadaan Arkana yang juga telah siap dengan balutan jas berwarna hitam. Arkana sangat tampan dengan balutan jas, siapapun tidak akan meragukan hal itu.
“ Kamu mau kemana mas.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Ke acara lamaran mereka.” Jawab Arkana pelan.
“ Bukannya kamu nggak mau pergi>?”
“ Memangnya aku ada bilang kaya gitu? Nggak kan? Lagi pula apa kata mereka kalau aku nggak pergi sedangkan kamu pergi, mereka bakal berpikir kalau aku gagal move on.”
“ Terserah kamu aja mas, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum terjebak macet.” Ajak Jingga kemudian.
**
Jingga dan Arkana sudah hadir di kediaman keluarga Qania, mereka duduk di salah satu kursi yang telah di siapkan untuk para tamu. Acara sebentar lagi akan dimulai, dan keduanya tampak menunggu dengan sabar.
“ Kalau kamu nggak bisa hadir, kamu nggak perlu memaksakan diri kamu mas.” Bisik Jingga.
“ Kata siapa aku nggak bisa? Aku bisa lihat mereka lamaran.” Jawab Arkana ketus.
“ Bumillll.” Seru seorang wanita dengan balutan dress yang sedikit mencolok.
Diana langsung memeluk Jingga sambil mengelus baby bump wanita itu, tampak Diana yang sangat bersemangat dengan Jingga dan tidak memperdulikan Arkana sama sekali.
“ Katanya kamu ya yang jahit kebaya buat Qania.?” Tanya Jingga.
“ Bukan untuk lamaran, aku di beri amanah sama dia buat jahit gaun nikahan dia.” Jawab Diana dengan bangga.
__ADS_1
“ Wah hebat banget, emang kamu bisa.?” Seloroh Jingga.
“ Kenalin nih, Diana Amanda lulusan Nouva Accademia Di Belle Arti Milan. Aku bahkan lebih dulu terkenal sebagai desainer dari pada kamu, jangan macam-macam ya.” Balas Diana terlihat semakin sombong.
Mereka harus diam setelah mendengar pembawa acara hari ini mulai mengangkat mic, dan acara lamaran pun tiba ketika pihak keluarga dari Aizen sudah tiba di kediaman Qania.
Jingga melirik Arkana yang sejak tadi menundukkan wajahnya, tak tega melihatnya seperti itu akhirnya Jingga menarik Arkana untuk segera pergi dari sana.
“ Kalian mau kemana.?” Tanya Diana.
“ Aku nggak enak badan, kayaknya aku mau pulang duluan deh. Salam yah sama Qania, maaf aku nggak bisa ikut acaranya sampai habis.” Jawab Jingga.
Dan akhirnya setelah mendengar bahwa Jingga merasa kurang sehat, Arkana pun membawa wanita itu keluar dari sana. Begitu mereka sudah tiba di mobil, tiba-tiba saja Jingga ingin di ajak makan es krim oleh Arkana.
“ Tadi katanya nggak enak badan? Kenapa sekarang minta di ajak makan es krim.?”
“ Aku lagi ingin makan es krim, kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa.”
“ Ya udah, pasang sabuk pegamanannya.”
**
“ Ini kebanyakan, kamu selalu kaya gini. Gimana cara menghabiskannya? Kalau makan es krim banyak-banyak juga nggak baik.” Keluh Jingga.
“ Kamu coba aja satu-satu, nanti aku yang habisin.” Jawab Arkana.
“ Nggak, ini masih tetap kebanyakan. Kita makan beberapa aja, sisanya di bawa pulang.” Jingga kembali memanggil pelayan untuk membungkus sisanya.
Sekarang hanya ada tiga macam rasa di atas meja, favorite Jingga tentu saja es krim vanilla dengan toping madu di atasnya. Sedangkan Arkana dia lebih suka yang rasa coklat.
“ Eankanya.” Seru Jingga setelah mencicipinya sedikit.
Arkana melihat ekspresi Jingga yang sudah berubah dan tidak seperti kemarin, dia pun merasa lebih baik dengan perubahan itu dan ikut mencoba es krim yang ada di tangannya.
“ Kamu mau coba yang rasa vanilla juga nggak.” Tanya Jingga.
__ADS_1
“ Boleh.” Jawab Arkana cepat.
Jingga baru saja menyendoknya dan hendak menyuap Arkana, sebaliknya Arkana terlihat sudah bersiap menerima suapan dari Jingga. Namun tiba-tiba saja keduanya sadar dengan yang mereka lakukan, Jingga menarik tangannya kembali tapi Arkana menariknya ulang hingga dia berhasil menerima suapan itu.
“ Hmm, lumayan.” Jawab Arkana setelah ia berhasil mencobanya.
“ Rasa vanilla emang yang paling enak.” Kata Jingga sambil tersenyum simpul.
Mereka berdua cukup lama berada di tempat itu, es krim yang mereka pesan sudah habis dan sekarang mereka berpikir untuk pergi dari sana. Arkana sempat berpikir jika datang ke tempat itu bersama Jingga bukanlah keputusan yang buruk, dia bahkan bisa melupakan kesedihannya beberapa saat yang lalu.
Setelah dari kafe menikmati es krim, sekarang mereka tiba di taman untuk bersantai sebelum pulang ke rumah. Kebetulan saat itu ada penjual gelembung balon yang menarik perhatian Jingga, dia ingin membelinya dan meminta izin pada Arkana sebelumnya.
“ Memangnya kamu anak kecil mau main kaya gitu.?” Lirik Arkana.
“ Seru tahu, aku beli dulu ya.” Kata Jingga namun langsung di tahan oleh Arkana.
“ Kamu disini aja, biar aku yang beli.” Lanjut Arkana kemudian.
Setelah Arkana kembali membawa gelembung balon itu, Jingga pun mencobanya dan dia berhasil menciptakan begitu banyak gelembung balon di sekitarnya.
“ Lihat mas, yang satu ini besar banget.” Seru Jingga merasa sangat antusias.
Bluppp..
Arkana meletuskan gelembung yang paling besar dengan wajah tanpa dosanya, hal itu langsung membuat Jingga kesal dan membuat gelembung besar yang lain.
Setiap kali Jingga membuat gelembung, setiap saat itu juga Arkana selalu meletuskannya. Tanpa sadar mereka berdua menikmati waktu bersama samapai lupa waktu, baik Arkana dan Jingga terlihat tertawa lepas hanya karena gelembung balon yang meletus dan tanpa sadar Arkana semakin melupakan kesedihannya berkat Jingga.
**
Arkana baru saja keluar dari kamar mandi, dia baru saja selesai keramas sehingga rambutnya masih sedikit basah. Sambil mengeringkannya dengan handuk, dia duduk di atas tempat tidur dan tiba-tiba saja teringat kejadian hari ini.
Terlihat Arkana yang tersenyum senang saat membayangkannya, dia benar-benar merasa sangat puas hari ini. Bahkan dirinya tidak pernah merasa bisa sebebas ini, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah dan itu semua karena Jingga.
“ Apa yang ku pikirkan? Aku yang menyuruhnya untuk tidak jatuh hati padaku, tapi kenapa aku yang terlihat jatuh hati padanya? Ini nggak boleh sampai terjadi, kita akan berpisah setelah anak itu lahir.” Kata Arkana sambil menepuk wajahnya beberapa kali.
__ADS_1