Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Akhirnya Bertemu


__ADS_3


Kembali ke rumah sakit setelah sekian lama membuat Jingga merasa ada yang aneh, terutama dengan tatapan beberapa orang disana. Diana terlihat menemani Jingga bicara agar dia tidak begitu fokus dengan mereka, tapi Jingga tidak bodoh karena dia sangat merasakan perbedaan itu sekarang.


“ Mereka kok lihat aku kaya gitu ya.?” Tanya Jingga sedikit berbisik.


“ Siapa? Nggak kok, mereka nggak lihat kamu dengan tatapan aneh, perasaan kamu aja kali.” Balas Diana.


“ Masa sih? Tapi perasaanku nggak enak, apa sebaiknya kita ketemu mas Arka dulu ya habis itu ketemu dokter Nala.?”


“ Jingga dengar, kamu itu datang kesini buat check up. Urusan ketemu Arkana nanti aja ya.”


Jingga akhirnya mendengar ucapan Diana, keduanya kembali melangkah menuju ruangan dokter Nala yang sebentar lagi terlihat oleh mata kepala mereka.


Begitu mereka tiba di ruangan dokter Nala, pemeriksaan pun segera dilakukan. Beberapa pertanyaan dari dokter Nala di jawab oleh Jingga dengan baik, setelah itu hasil pemeriksaan langsung di jelaskan oleh beliau.


“ Di kehamilan yang menginjak usia 32 minggu ini kamu akan sering merasa sesak nafas, sebaiknya setelah ini langsung pergi menemui dokter Zakir ya. Saya tidak bisa menjelaskan keadaan pastinya, tapi ini ada hubungannya dengan keadaan jantungmu sekarang.”


“ Lalu bagaimana dengan kondisi bayinya dok.?”


“ Bayinya sehat, dia benar-benar anak yang sangat pintar dan tidak menyusahkan ibunya sama sekali. Yang perlu di perhatikan disini adalah kesehatan jantungmu Jingga, jangan terlalu banyak pikiran ya.”


“ Iya dok, terima kasih atas jawabanya.”


Sekarang Diana akan lanjut menemani Jingga periksa ke ruangan dokter Zakir, sebiasa mungkin Diana membawa Jingga ke ruangan itu dengan cepat tanpa membuatnya harus berinteraksi dengan orang-orang yang ada di rumah sakit.


Akhirnya setelah melewati begitu banyak pasang mata kini mereka sudah berada di ruangan dokter Zakir, karena Jingga merupakan pasien khusus maka dia mendapatkan pelayanan spesial sehingga ketika dia baru saja tiba maka dia di perbolehkan langsung masuk untuk periksa.


“ Apa ada keluhan selama beberapa minggu ini.?” Tanya dokter Zakir ketika Jingga sedang berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.


“ Saya nggak yakin dok, tapi detak jantung saya kedengaran agak lambat dari biasanya. Saya juga merasa sesak di beberapa posisi tidur, jadi biasanya saya mencoba menggunakan satu posisi saja waktu tidur.”


“ Obatnya masih di minum kan.?”


“ Masih kok dok.”

__ADS_1


“ Jangan berhenti ya, sekali saja melewatkan minum obat akan berpengaruh besar pada kondisi kamu.”


“ Baik dok.”


Ekspresi dokter Zakir mendadak berubah ketika memeriksa keadaan Jingga, dia terlihat menarik sebuah alat yang dapat mendeteksi detak jantung dengan memperlihatkan garis naik turun pada sebuah layar monitor.


“ Kehamilan ini membuat jantung kamu sedikit membengkak, saya sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Dalam keadaan seperti ini kamu harus lebih banyak istirahat, dan jangan lupa untuk mengelola stress dengan baik.”


Diana yang menyaksikannya hanya dapat menahan diri dimana dia merasa kasihan pada Jingga, selama dia berteman dengan Jingga ini adalah kali pertama dia melihat sahabatnya dalam keadaan sesulit ini.


“ Sekarang apa yang harus ku lakukan? Kalau kamu masih ingin bertemu dengan Arkana, dia bahkan nggak ada di sini.” Benak Diana mulai khawatir.


**


Setelah semua pemeriksaan telah selesai di lakukan, Diana segera bertindak untuk membawa Jingga pergi dari rumah sakit. Namun saat Jingga sadar dirinya di tarik oleh Diana menuju lantai satu, seketika membuat Jingga menahan langkahnya dari Diana.


“ Aku mau ketemu sama mas Arka mumpung kita lagi di rumah sakit.” Seru Jingga.


“ Kamu nggak dengar kata dokter barusan? Kamu itu harus banyak istirahat, kondisi kamu lagi nggak baik Jingga.” Jelas Diana.


Diana sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia bingung harus meyakinkan Jingga seperti apa melihat sahabatnya itu sudah sangat ingin menemui Arkana.


“ Kamu boleh pulang kalau memang ada urusan, dari tadi aku perhatikan kamu kelihatan gelisah begitu. Aku nggak mau di temenin kalau ternyata kamu lagi ada urusan lain.”


“ Nggak, bukan gitu. Aku lagi free sekarang, tapi aku.”


Diana tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika Jingga melewatinya begitu saja, Diana memutar tubuhnya menatap kepergian Jingga yang entah mau kemana.


“ Mas Arka, itu kamu kan mas.?” Sahut Jingga yang mendapati seorang pria dengan masker dan kaca mata baru saja berusaha menghindari Jingga.


Jingga mempercepat langkahnya begitu dia yakin kalau pria itu adalah Arkana, barusan saat dia dan Diana sedang bicara tanpa sengaja Jingga melihat pria itu yang terlihat sangat aneh karena terus memperhatikan mereka berdua.


Jingga mengenal hoodie yang di kenakan oleh pria itu, dan dari postur tubuhnya pun sudah dapat di tebak bahwa dia adalah Arkana. Namun apa yang membuat Arkana melarikan diri seperti itu, meskipun Jingga berusaha untuk mengejarnya.


“ Jingga.” Teriak Diana ketika melihat Jingga yang tidak kuat berjalan dan menjatuhkan tubuhnya di lantai begitu saja.

__ADS_1


Pria itu sempat berhenti dan menoleh ke belakang, melihat Jingga yang berada di lantai seperti itu membuatnya berlari menghampiri Jingga dan langsung memeluk wanita itu dengan penuh kelembutan.


“ Aku tahu itu kamu mas.” Ucap Jingga membalas pelukan itu dengan tangis bahagia.


**


Beberapa saat yang lalu…


Arkana sudah tiba di rumah sakit dengan menggunakan masker dan kaca mata agar tidak ada yang mengenalnya, dia juga sengaja melakukan itu supaya tidak ada yang bisa melihat bekas lebam di wajahnya.


Sebenarnya alasan Arkana datang ke rumah sakit bukan hanya ingin melihat keadaan Jingga, melainkan dia di panggil oleh papa Hendra untuk melakukan pemeriksaan tubuhnya.


Arkana langsung menuju ruangan papa Hendra dimana beliau masih memiliki satu ruangan pribadi tempatnya selama ini bekerja, dan hanya Arkana dan mama Widya saja yang tahu soal ruangan itu.


Kini Arkana sudah masuk ke dalam ruangan papa Hendra, kemudian dia mulai melakukan pemeriksaan bersama beliau. Dari hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa kondisi tubuhnya sudah kembali membaik, hanya bekas lebam di wajahnya saja yang membutuhkan sedikit waktu lagi untuk benar-benar menghilang.


“ Papa mau bicara serius sama kamu.” Lontar papa Hendra saat mereka telah selesai melakukan pemeriksaan.


“ Bicara serius tentang apa.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Kamu ambil ini dan segera pergi dari Jakarta bersama Jingga. ” Lanjut papa Hendra sambil menyerahkan sebuah dokumen kepada Arkana.


“ Apa ini.?”


“ Saham keluarga Adyatama yang sengaja papa kasih buat kamu, di dalamnya termasuk satu unit rumah, tempat praktik, dan juga dua unit apartemen. Semua ini ada di Bali, kamu bisa kesana bersama Jingga.”


“ Tapi untuk apa.?”


“ Papa tidak bisa banyak membantumu selama ini, dan sekarang sudah waktunya kamu meninggalkan kehidupanmu sekarang dan bawa istri dan anakmu pergi sejauh mungkin.”


“ Papa melakukan ini demi kebaikan kalian berdua, mungkin kamu belum mengetahuinya. Tapi sebenarnya niat mamamu menikahkan kamu dan Jingga adalah untuk menguras semua harta yang di miliki Jingga, semua harta itu tidak bisa di ambil jika Jingga belum memiliki seorang anak.”


“ Papa hanya ingin kamu segera pergi bersama Jingga sebelum terlambat, kita nggak tahu apa yang akan mamamu lakukan ke depannya.” Lanjut papa Hendra benar-benar sukses membuat Arkana terkejut bukan main.


__ADS_1


__ADS_2