
Setelah Arkana merasa lebih tenang, kini mereka sudah melepas pelukan barusan. Jingga menyeka air mata Arkana dan membuat pria itu kembali tersenyum lagi.
“ Kamu hebat sudah berjuang selama ini mas, dan sekarang kamu nggak sendirian. Ada aku dan nantinya ada anak kita juga, semua luka di masa lalu biar jadi kenangan dan pelajaran untuk masa kini.”
Arkana tersenyum senang mendengarnya, seperti yang di katakan oleh Jingga bahwa sekarang dia tidak perlu merasa sedih lagi. Walaupun mamanya masih belum berubah tapi jika ada sosok Jingga di sampingnya, semua itu sudah sangat cukup untuk Arkana.
“ Sekarang kita tidur ya. “ Ajak Jingga di balas anggukan pelan dari Arkana.
Kemudian Arkana memperbaiki posisi bantal untuk Jingga agar dia bisa tidur dengan nyaman, tak lupa dia memasangkan selimut untuk istri tersayangnya itu.
“ Selamat tidur sayangku.” Ucapnya sambil mengecup pelan kening Jingga.
Setelah beberapa saat Arkana adalah orang pertama yang tidur lebih awal, Jingga masih belum bisa tidur setelah mendengar semua cerita Arkana dari dirinya langsung.
“ Sekarang aku mengerti mas kenapa sikap kamu dulu ke aku kaya gitu, ternyata mendengarnya langsung buat aku semakin mengerti tentang kamu. Sekarang jangan sedih lagi, aku janji nggak akan pernah pergi dari hidup kamu.” Benak Jingga sambil memeluk tubuh Arkana dengan lembut.
**
Hari libur untuk Arkana bisa menikmati waktu bersamanya dengan Jingga sepanjang hari, dia akan terus menempel pada Jingga bahkan tidak peduli jika istrinya itu menyuruhnya untuk menjauh sebentar.
Jingga sengaja mengajak Arkana keluar hari ini, bukan tanpa alasan melainkan ada misi yang harus di lakukan olehnya, dimana hari ini Jingga ingin mempertemukan Arkana dengan Bima.
Sebelum bertemu dengan Bima, mereka berdua akan pergi ke beberapa tempat dan setelah itu barulah mengajak Arkana diam-diam.
Sebelumnya Jingga sudah memberitahu Bima untuk bertemu di salah satu tempat yang dia pilih, sementara itu Jingga tidak ingin memberitahu Arkana secara langsung karena dia sudah menduga kalau Arkana pasti akan langsung menolaknya.
“ Kamu udah siap belum mas.?” Tanya Jingga yang baru saja keluar dari ruang walking closetnya.
Jingga tertegun di tempatnya ketika melihat Arkana yang terlihat begitu tampan hari ini, dia belum pernah melihat sisi Arkana yang seperti itu sampai membuatnya tersipu malu.
“ Aku udah siap, yuk berangkat.” Ajak Arkana yang sudah berdiri di depan Jingga.
**
Tujuan pertama rencana hari ini adalah mengunjungi kedai gelato dimana Jingga sangat ingin makan gelato saat itu. Dan seperti biasa, Arkana akan selalu memberikan lebih untuk Jingga dimana dia memesan seluruh rasa yang ada di kedai itu namun dengan ukuran kecil agar semua bisa di habiskan oleh Jingga.
__ADS_1
“ Kamu sengaja mau bikin aku gendut ya.?" Keluh Jingga menatap Arkana dengan ekspresi memelas.
“ Nggak kok, aku lakuin ini semua untuk kamu dan anak kita. Kamu bisa bebas makan yang mana aja, sisanya biar aku yang habisin.”
Arkana melihat wajah cemberut Jingga meskipun dia sudah memberikan jawaban yang cukup. Arkana tahu kalau hormon wanita hamil sedikit merepotkan dan cenderung terbawa perasaan dengan hal-hal yang sederhana.
“ Walaupun kamu gendut, tapi kamu tetap cantik kok.” Sahut Arkana yang akhirnya berhasil membuat senyuman di wajah Jingga terukir jelas.
“ Habis ini aku mau makan jajanan Korea.”
“ Siap tuan putri, apapun yang tuan putri inginkan akan pangeran tampan ini kabulkan dengan cepat.” Seloroh Arkana membuat Jingga tertawa kecil di buatnya.
**
Setelah selesai mengunjungi beberapa tempat yang ingin di kunjungi oleh Jingga dan Arkana, kini tujuan terakhir mereka adalah tempat dimana Jingga membuat janji untuk pertemuan Arkana dan Bima.
Sebuah tempat permainan perahu bebek dimana Jingga ingin Arkana dan Bima naik berdua perahu bebek itu dan membahas apapun yang ingin mereka bahas berdua di atas sana nanti.
Jingga sudah bisa membayangkan bagaimana rencananya itu akan berjalan, diam-diam dia melirik ponsel memastikan apakah Bima sudah datang apa belum.
“ Aku nggak mau kamu naik perahu bebek itu, kamu lagi hamil begini masa mau naik gituan.” Protes Arkana menatap perahu-perahu bebek itu hampir ada dimana-mana.
“ Kok aku? Jangan-jangan kamu ngidam yang aneh lagi sekarang dengan nyuruh aku naik perahu bebek sendirian.”
“ Nggak sendirian kok, tapi sama dia.” Tunjuk Jingga ke belakang dan membuat Arkana ikut melirik tunjukan Jingga.
“ Kenapa dia ada disni?” Arkana jelas sangat terkejut setelah melihat sosok Bima yang berdiri di belakangnya.
“ Aku nggak nyangka kalau tempat pertemuannya akan di tempat ini.” Sahut Bima yang semakin mendekati mereka.
“ Apa yang terjadi Jingga? Kenapa dia disini? Apa maksudnya tempat pertemuan.?” Arkana melirik Jingga dengan harap bisa menemukan jawaban yang cukup.
“ Aku minta maaf kalau sebelumnya nggak bilang ke kamu soal ini, jadi mas Bima dan aku sepakat untuk bertemu di tempat ini supaya kamu sama mas Bima bisa mengobrol berdua.” Jelas Jingga kemudian.
__ADS_1
“ Aku nggak mau. “ Tolak Arkana ketus.
Jingga kemudian meraih tangan Arkana dan menatapnya dengan serius.
“ Kamu bilang kalau kamu mau berubah kan, ini waktunya untuk kamu memperbaiki semua masalah kamu satu persatu. Dan sekarang kamu dan mas Bima bisa mengobrol berdua, hilangkan kesalahpaham yang terjadi di antara kalian selama ini.” Ucap Jingga dengan sungguh-sungguh.
“ Nggak ada yang perlu di bahas sama dia.”
“ Demi aku mas, tolong kamu lakukan demi aku.”
Arkana mulai menatap kedua bola mata Jingga yang terlihat sangat berharap padanya. Dengan menghela nafas panjang akhirnya Arkana menerima permintaan Jingga untuk bisa mengobrol dengan Bima.
Sekarang keduanya memilih duduk di atas sebuah kursi panjang dan bukannya perahu bebek karena Arkana yang menginginkannya. Sementara itu Jingga pergi menjauh dari mereka karena tak ingin terlibat dengan masalah dua bersaudara itu.
**
“ Bagaimana kabar kamu? Kita sudah lama tidak bicara berdua, sudah dua puluh tahun bahkan sejak aku kembali kita masih belum akur seperti dulu.” Lontar Bima memulai pembicaraan.
“ Aku baik seperti yang kau lihat sekarang.” Balas Arkana ketus.
“ Maaf ya kalau aku sudah buat kamu susah selama ini.”
“ Kenapa minta maaf? Semuanya bukan salahmu.”
“ Tetap saja, aku sebagai kakak tidak pernah ada di saat kau butuh. Sejak saat itu kita benar-benar lost contact, bahkan untuk mengetahui kabarmu pun aku tidak tahu sama sekali.”
Arkana tetap diam dan bahkan tidak tertarik menatap lawan bicaranya.
“ Kamu dan mama pasti sudah melewati kehidupan yang berat, tapi aku bangga karena kamu bisa menjaga mama setelah perceraian orang tua kita.”
“ Berhenti bicara omong kosong. Sudah ku duga kalau obrolan ini tak ada gunanya, sebaiknya kita akhiri saja. Jingga sendirian, dan aku nggak mau membiarkannya sendirian di tempat ini.” Arkana beranjak dari tempatnya dan hendak pergi, namun tiba-tiba saja dia berhenti dan menoleh ke arah Bima.
“ Berhenti menghubungi Jingga, kalian nggak perlu dekat atau apapun itu. Dan kalau mau merencanakan hal ini cukup datang temui aku di rumah sakit, kau boleh pulang.” Lanjut Arkana yang kemudian melanjutkan langkahnya.
“ Ternyata memang sangat sulit ya.” Ucap Bima sambil menggaruk kepala tak gatal menatap kepergian adiknya itu.
__ADS_1