Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Semakin Frustasi


__ADS_3


Jingga terkejut saat sesuatu terasa menggelitik di bagian perutnya, dia belum pernah merasakan sesuatu seperti itu sebelumnya. Kemudian dia sadar kalau barusan adalah sebuah tendangan dari bayinya, dia bisa tahu itu karena tendangannya terasa cukup kuat beberapa saat.


“ Kamu mau mama kasih kesempatan buat papa.?” Benak Jingga sambil menyentuh perutnya.


“ Tapi sayangnya, papa nggak mau mengakui kamu nak. Setidaknya dia bisa ingat kalau dia pernah melakukannya dengan mama, kenapa sampai sekarang dia tidak ingat apa-apa? Bagaimana bisa dia bilang cinta sama mama kalau hal penting itu tidak bisa dia ingat sama sekali.” Jingga kembali membatin sendirian, terlihat Arkana yang menunggu jawaban darinya.


“ Aku nggak akan bilang apa-apa, sekarang kamu coba ingat sesuatu yang mungkin kamu lupain selama ini. Kalau kamu sudah ingat, kamu bisa ketemu sama aku lagi dan mungkin saat itu aku bisa memikirkan kembali hubungan kita.” Ucap Jingga seketika membuat Arkana bingung.


“ Aku harus ingat apa.?”


“ Ingat sendiri dong, kok aku yang harus kasih tahu ke kamu.”


“ Setidaknya kamu kasih aku clue untuk mengingatnya, aku nggak tahu harus ingat apa.?”


“ Kayaknya untuk mengingat kejadian itu nggak seberapa dengan apa yang kamu perbuat ke aku selama ini, aku nggak peduli se-tersiksa apa kamu dalam mengingatnya. Aku kasih kamu waktu satu bulan untuk ingat semuanya, kalau lewat dari itu nggak ada kesempatan lagi dari aku.”


“ Oke, aku terima. Akan ku coba mengingatnya walaupun aku nggak tahu harus ingat apa. Kesempatan ini nggak akan pernah aku sia-siakan, bahkan sebelum batas waktunya habis, aku yakin sudah bisa mengingatnya.” Ucap Arkana yang terlihat begitu bersemangat padahal beberapa saat yang lalu terlihat seperti seekor kucing yang mengemis perhatian pada majikannya.


“ Coba saja, bahkan selama hampir enam bulan aku mengandung kamu sama sekali nggak pernah ingat.” Benak Jingga hanya bisa menghela nafas panjang.


**


Hujan masih belum redah sampai saat ini, Jingga dan Arkana sudah memutuskan untuk pulang saat urusan mereka telah selesai. Jingga mencoba menghubungi taksi yang di pesannya saat dia datang ke kafe itu, tapi sayang panggilannya tak kunjung di jawab oleh supir taksi itu.


“ Biar aku yang antar kamu pulang.” Tawar Arkana.


“ Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Balas Jingga tanpa menoleh pada Arkana sama sekali.


“ Aku nggak akan bawa kamu pulang ke rumah kita, aku Cuma mau antar kamu pulang ke rumah mama.”


“ Taksi.” Jingga memanggil taksi free yang lewat di dekat tempat itu, kemudian dia pergi meninggalkan Arkana begitu saja.

__ADS_1


“ Dia benar-benar nggak mau menerima bantuanku? Sakitnya sampai disini.” Kata Arkana sambil menyentuh dadanya.


“ Ingatan apa yang sudah ku lupa? Aku tidak tahu harus mengingatnya kalau aku sendiri tidak tahu harus ingat apa.?” Arkana kembali di buat pusing atas ucapan Jingga hari ini.


“ Sebaiknya aku pulang, mungkin aku bisa menemukan jawabannya di rumah.” Gumam Arkana segera pergi menuju mobilnya yang terparkir di dekat kafe.


**


Arkana tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan ucapan Jingga, dia sudah berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi padanya dan Jingga selama mereka menikah. Tapi sampai saat ini tidak ada jawaban yang cukup, bagaimana dia bisa menyelesaikan semuanya dalam satu bulan kalau dia tidak bisa menemukan satu clue pun dari perintah Jingga.


“ Selamat pagi dok.” Suara itu baru saja membuat Arkana menoleh dengan tatapan yang tak bersemangat.


“ Pagi.” Jawab Arkana pelan.


“ Dokter kenapa? kok kelihatan nggak bersemangat? Ada masalah sama istrinya ya.?” Tebak Tsania.


“ Nggak kok, Cuma kecapekan aja dan kurang istirahat.”


“ Ini buat dokter, aku buat smootie dengan bahan buah-buahan segar.”


“ Kalau dokter nggak mau, ya udah biar aku buang aja.”


“ Kenapa di buang? Mending kamu kasih ke orang lain aja.”


“ Aku nggak ada orang lain selain dokter Arka, jadi tolong terima smootie ini.” Tsania menyodorkan botol smootie itu untuk Arkana sekali lagi.


Arkana menerimanya karena kasihan, mungkin smootie itu akan dia kasih ke Nisa nanti.


“ Jangan di kasih ke siapa-siapa lagi, waktu itu sandwitch yang aku kasih ternyata di kasih kembali ke kak Nisa.” Celetuk Tsania yang ternyata sudah tahu tentang hal itu.


“ Aku makan kok, tapi sisanya aku kasih ke Nisa.” Balas Arkana terpaksa bohong.


“ Kalau begitu yang itu nggak bisa di kasih ke siapa-siapa lagi kan.” Tunjuk Tsania pada botol smootie di tangan Arkana.

__ADS_1


Arkana hanya mengangguk pelan, dia tidak yakin akan meminumnya. Dan setelah itu mereka pun berjalan bersama masuk ke rumah sakit, di depan pintu rumah sakit keduanya bertemu dengan Qania dan Aizen.


“ Kalian datang berdua.?” Tanya Qania melirik Arkana dan Tsania bergantian.


“ Nggak kok, kami nggak sengaja ketemu di parkiran.” Jawab Arkana cepat.


Qania merasa harus tetap waspada pada Tsania, semakin hari tingkah gadis itu semakin menjengkelkan. Karena tak ada percakapan lagi, mereka berempat segera ke ruangan mereka masing-masing.


**


Tok..tok…tok…


Arkana menyuruh seseorang yang mengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya, siang ini dia mendapat waktu istirahat cukup lama dari biasanya. Sehingga dia bisa bersantai, tapi ternyata ada tamu yang datang dan dia adalah Qania.


“ Bagaimana kemarin? Apa kalian berdua sudah menyelesaikan masalah dengan baik.?” Tanya Qania sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Arkana masih duduk di kursi kerjanya dan terlihat sangat frustasi, karena Qania sudah mau membantunya dia pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Qania.


“ Dia menyuruhmu mengingat sesuatu?”


“ Iya, aku nggak tahu harus mengingat apa. Aku benar-benar bingung dan frustasi sekarang.”


“ Sepertinya aku tahu apa yang di maksud Jingga, tapi memberitahu Arkana sekarang mungkin tidak akan menyenangkan. Biarkan saja, siapa suruh dia melupakan kejadian penting itu. Semabuk-mabuknya kamu, pasti ada sedikit ingatan yang masih membekas.” Benak Qania hanya dapat geleng-geleng.


“ Menurut kamu apa yang harus ku lakukan? Aku nggak tahu harus apalagi, apa sebaiknya aku jujur ke dia kalau aku nggak bisa ingat apapun dan memintanya untuk melakukan hal lain supaya aku di maafkan.?”


“ Coba kau ingat-ingat lagi, jangan menyerah dengan cepat. Jingga memberikan kesempatan yang cukup mudah kan, seharusnya kamu bisa melakukan itu.”


“ Mudah dari mana? Ini bahkan lebih susah dari pada aku harus memberikan jantungku ke dia.” Ketus Arkana kesal.


“ Kau tahu kan kalau kamu itu nggak jago minum, kamu selalu mabuk berat dan lupa segalanya di saat itu. Mungkin kau melakukan kesalahan itu ketika kamu mabuk, coba kau pikir baik-baik lagi.” Lontar Qania terpaksa memberikan satu clue yang dia harap dapat membuat Arkana mengingat kejadian itu.


“ Kapan terakhir kali aku mabuk.?” Benak Arkana mulai berusaha mengingatnya dengan baik.

__ADS_1



__ADS_2