
“ Arkana benci masuk rumah sakit, hal itu membuatnya trauma untuk di rawat. Itu sebabnya jika dia sakit, kamu harus bisa merawatnya dengan baik.”
Jingga teringat dengan ucapan Qania sebelumnya, dia mengikuti saran Qania untuk tidak membawa Arkana ke rumah sakit. Jingga mengerjap beberapa kali sambil menatap wajah pucat Arkana yang masih tertidur, terhitung sudah tiga hari dia tidak sadarkan diri. Jingga sudah memanggil Qania untuk mengecek keadaannya, dan kemarin Qania bilang kalau Arkana hanya mengalami demam dan bisa di rawat di rumah.
Saat ini suhu tubuh Arkana sudah turun normal, Qania bilang mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Jingga sendiri sudah sangat khawatir di buatnya, tiga hari yang lalu Arkana mengurung diri dan saat di cek ternyata dia sakit yang membuatnya tak sadarkan diri sampai sekarang.
“ Kamu kapan bangun mas.” Ucap Jingga dengan nada yang lirih.
Jingga sudah berbohong pada mama Widya bahwa Arkana tidak berangkat kerja karena dia ingin menjaganya, mama Widya percaya akan hal itu sehingga dia tidak menanyakan keberadaan Arkana lagi.
Saat itu Jingga baru saja membalas pesan dari mama Widya, kemudian ponsel Arkana berdering menandakan ada pesan yang masuk. Jingga melirik Arkana sebelum akhirnya meraih ponsel itu, dia hanya ingin memastikan saja pesan siapa yang masuk.
Mama : Kamu sudah tiga hari nggak masuk kerja, Jingga baik-baik aja kan? Awas ya kalau sampai dia dan kandungannya kenapa-napa.
Jingga meminta maaf pada Arkana karena telah lancang membuka pesan dari mama Widya, membaca isi pesan tersebut lantas membuat Jingga langsung membalasnya agar Arkana tidak mendapat masalah lain.
Setelah dia membalas pesan tersebut dengan berpura-pura menjadi Arkana, ponsel itu kembali di letakkan oleh Jingga. Dia kemudian berniat untuk membersihkan wajah Arkana menggunakan air hangat, dan wanita itu pun segera beranjak dari tempatnya.
**
Perlahan namun pasti Arkana mulai membuka kedua matanya, dia merasa begitu pusing untuk saat ini hingga dia menyentuh kepalanya dengan hati-hati. Sesuatu membuatnya tersadar saat dia melihat ada seseorang yang tertidur di sampingnya, dia cukup terkejut melihat istrinya yang terlelap di atas kursi dengan kepala yang di letakkan di bibir tempat tidur.
Arkana berusaha mengingat apa yang telah terjadi, dan saat itu juga dia langsung meraih ponselnya. Arkana sadar kalau dirinya sudah tertidur selama tiga hari, dan hal pertama yang di lihat adalah pesan dari mamanya.
Arkana tertegun saat mendapati pesan itu telah di balas oleh seseorang, kemudian tatapannya tertuju pada Jingga yang masih terlelap dengan tenang. Sekarang sudah jam 10:00 malam, Arkana kemudian menatap Jingga dengan tatapan sayu.
“ Kenapa kamu masih begitu peduli sama aku yang sudah jahat sama kamu? Aku bahkan nggak berhak mendapatkan kebaikan kamu.” Benak Arkana.
“ Hey, bangun.” Arkana mencoba menyentuh kepala Jingga pelan hingga akhirnya wanita itu terbangun.
“ Mas Arka, kamu udah bangun.” Jingga terlihat sangat senang melihat Arkana yang akhirnya terbangun dari tidurnya.
“ Kamu boleh kembali ke kamar kamu, ingat kesehatan kamu juga penting.” Balas Arkana yang membuat Jingga terkejut mendengarnya.
“ Aku nggak apa-apa, kamu gimana? Apa yang kamu rasain sekarang? Kamu pasti lapar kan, aku bawain makanan ya.”
__ADS_1
“ Kenapa sih kamu peduli banget sama aku? “ Lontar Arkana.
“ Jawabannya simple mas, itu karena kamu suami aku.” Jawab Jingga yang kali ini membuat Arkana tak bisa berkata-kata.
“ Jadi kamu mau apa? Biar aku buatin.” Sambung Jingga kemudian.
“ Aku mau bubur aja.”
“ Kamu tunggu sebentar ya, aku buatin bubur dulu.”
“ Kenapa harus kamu? Suruh pembantu di rumah aja.”
“ Bi Salma pulang kampung soalnya anaknya sakit, kalau bi Inah lagi flu jadi aku suruh pulang aja. Biar aku yang buatin, aku janji bakal buat bubur yang enak.”
“ Ya sudah, terserah kamu aja.”
**
Malam itu Jingga yang menemani Arkana menghabiskan bubur yang dia buat sendiri, meskipun Arkana menyuruhnya untuk keluar dari kamar dengan tegas Jingga menolak dan akan menemaninya sampai dia kembali tidur.
“ Infusnya udah mau habis, kamu bisa cabut jarumnya sendiri kan? Nanti aku yang beresin selebihnya.” Lontar Jingga.
“ Siapa yang pasang infusnya.?” Tanya Arkana.
“ Aku panggil dokter lain yang nggak kerja di rumah sakit kamu, aku tahu kamu pasti nggak mau ketahuan kalau kamu sakit kan.” Jawab Jingga terpaksa berbohong atas permintaan Qania.
Jingga baru saja selesai membereskan bekas infusan Arkana, dia juga meminta Arkana untuk berganti baju karena sudah tiga hari tidak mengganti bajunya.
“ Aku mau mandi.” Ucap Arkana hendak bangkit dari tempat tidurnya.
“ Jangan, udah malam. Aku lap aja ya.”
“ Gila kamu ya.”
“ Kok gila mas? Aku kan Cuma mau lap badan kamu aja.”
“ Aku nggak mau.” Tolak Arkana dengan wajah yang memerah menahan malu.
__ADS_1
“ Aku udah lihat semuanya, kenapa kamu harus malu.” Lontar Jingga frontal.
“ Bisa nggak sih kamu jangan bahas itu, udah aku mau mandi. Kamu mending balik ke kamar kamu aja sana.” Arkana akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Jingga sudah tidak bisa melarangnya lagi, karena Arkana pergi ke kamar mandi dia pun memutuskan untuk mengganti seprei yang baru agar Arkana bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Beberapa saat kemudian Arkana keluar dalam keadaan sudah mandi, dia berjalan menuju tempat tidur sambil melihat sekitar kamarnya. Nampaknya dia mencari-cari Jingga, karena tidak menemukan wanita itu dia pun duduk di atas tempat tidurnya.
Arkana menyadari bahwa sepreinya telah di ganti oleh Jingga, bahkan wanita itu juga memasang aroma terapi di kamar itu yang membuat Arkana kembali terdiam di buatnya.
Arkana kemudian meraih ponselnya, sekali lagi dia melihat isi pesan yang ada ponselnya. Kalimat yang di gunakan oleh Jingga kepada mama Widya tidak membuatnya marah sama sekali, justru dia merasa senang atas jawaban Jingga yang seperti itu.
**
Pagi keesokan harinya Jingga telah bangun mempersiapkan sarapan di meja makan, pagi itu dia membuat semua jenis masakan kesukaan Arkana agar dia bisa memilihnya dengan bebas.
Selang beberapa saat Arkana keluar dengan pakaian santai, kondisinya sudah membaik sekarang dan dia juga bisa makan apapun yang dia ingin. Saat itu Arkana duduk duluan, sedangkan Jingga masih sibuk di dapur.
“ Kamu mau biarin aku makan sendirian disini.” Lontar Arkana sontak membuat Jingga menghentikan pergerakannya.
“ Kamu mau aku temenin makan.?” Sahut Jingga.
“ Biasanya kan emang gitu, tumben banget kamu nggak mau sarapan apa.?” Tegur Arkana.
“ Aku udah sarapan duluan, kamu makan aja mas. Aku lagi buat kue buat kamu, jadi nggak bisa di tinggal.”
“ Aku nggak mau makan kalau kamu masih di dapur.” Kata Arkana merajuk.
Jingga pun terpakasa mengentikan aktifitasnya di dapur dan beranjak ke meja makan, saat dia duduk barulah Arkana mau menyantap makanannya. Melihat Arkana yang menikmati makanan buatannya dengan nikmat sukses membuat Jingga merasa senang.
“ Gimana mas? Masakan aku enak nggak.?”
“ Biasa aja.”
“ Masa sih? “
“ Kamu nggak usah cerewet, kalau aku masih mau makan artinya masakan kamu enak.”
__ADS_1
Jingga tersenyum kecil di buatnya, dia gemas dengan Arkana yang tidak mau jujur dan cenderung bersikap cuek seperti itu.