Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Ada Aku Mas


__ADS_3


“ Cuaca di luar bagus ya.” Ucap Jingga yang ikut menatap keluar jendela.


“ Kamu ngapain disini? Memangnya acara di dalam udah selesai.?” Tanya Arkana yang cukup terkejut melihat kehadiran Jingga di sampingnya.


“ Aku kurang suka berada di tempat orang banyak, jadi aku keluar cari udara segar.” Jawab Jingga akhirnya menatap wajah Arkana.


Arkana memalingkan wajahnya dan kali ini dia menunduk diam, dia ingin sendirian untuk saat ini tapi Jingga justru datang di hadapannya. Kemudian Arkana berpikir untuk pergi dari tempat itu, dia merasa tidak di butuhkan oleh siapapun sehingga tak ada alasan lagi dia berada di tempat itu.


“ Aku mau pergi, kalau kamu mau pulang tolong hubungi aku.” Kata Arkana sambil memutar tubuhnya.


“ Kamu mau kemana mas.?” Cegah Jingga.


“ Ada urusan di rumah sakit, kalau nanti ada yang cari aku, tolong kasih tahu aku ada urusan penting di rumah sakit.” Jawab Arkana dan terus berjalan meninggalkan Jingga.


Arkana terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi, dan sekarang dia sudah masuk ke dalam mobilnya. Namun dia di kejutkan dengan Jingga yang baru saja masuk ke dalam mobil juga.


“ Kenapa kamu ikutin aku.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Aku mau ikut kamu.” Jawabnya ketus.


“ Tapi aku ada urusan.”


“ Urusan apa? Bukannya di rumah sakit udah ada mahasiswa koas? Aku tahu kamu bukan mau ke rumah sakit karena urusan penting, kamu hanya mau pergi menyendiri kan.?”


“ Kamu ngomong apa sih, aku lagi nggak mood sekarang.”


“ Aku tahu semuanya mas, aku tahu tentang kamu dan mama Widya. Kamu pikir selama ini aku nggak tahu apa-apa? Aku ngerti gimana perasaan kamu sekarang, dan sebagi istri aku mau nemenin kamu. Memangnya salah.?”


“ Bukannya kamu nggak suka sama aku? Kamu nggak perlu repot-repot bersikap seperti ini karena kasihan sama aku.”


“ Nggak suka bukan berarti aku nggak peduli, dan aku bersikap begini bukan karena aku kasihan sama kamu. Aku mau ada di samping kamu di saat kamu sedih, kamu boleh kasih tahu aku perasaan hati kamu. Jangan di pendam, semuanya boleh kamu kasih tahu ke aku.”


**


Deburan ombak menyapu lembut tepi pantai dan membuat sesuatu yang berada di sekitarnya tersapu hingga bersih, tampak sepasang manusia sedang duduk di sebuah kursi panjang dengan es kelapa muda yang menemani duduk santai mereka saat itu.

__ADS_1


Jingga dan Arkana memutuskan untuk meninggalkan tempat acara tanpa memberitahu siapapun, kemudian mereka memilih pantai sebagai tempat untuk mereka bisa bersantai dengan tenang.


Sebelumnya Jingga sudah memberitahu Arkana bahwa dia sudah tahu semua tentangnya, Jingga juga menyuruh Arkana untuk tidak perlu berpura-pura lagi di depannya. Arkana bebas bersikap sesuka hatinya, dan dia boleh menjadi dirinya sendiri untuk saat ini.


“ Sejak kapan kamu tahu tentang hubungan keluargaku.?” Tanya Arkana.


“ Hmmm, sejak kita pulang dari Thailand aku sedikit demi sedikit mulai tahu semuanya. Papa Hendra, Qania, dan bi Ijah yang kasih tahu aku semuanya. Kamu jangan marah sama mereka ya, aku juga penasaran jadi aku cari tahu dari mereka semua.” Jawab Jingga.


“ Aku nggak marah, justru aku merasa lega karena kamu sudah tahu semuanya sekarang. “


“ Aku tahu pasti berat berada di posisi kamu selama ini, tapi jangan menyerah. Kamu nggak sendirian kok, walaupun mama Widya bersikap seperti itu, tapi kamu masih punya orang-orang yang peduli sama kamu.” Lontar Jingga.


" Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, aku udah sendirian sejak aku kecil." Gumam Arkana.


" Ada aku mas." Jawab Jingga dengan serius.


Arkana tersadar kalau dulu setiap kali dia merasa hancur karena perbuatan mamanya, dia pasti akan melakukan sesuatu yang diluar dari kemaun hatinya. Dia bisa pergi mabuk-mabukan, menyakiti orang lain, dan bahkan menyakiti dirinya sendiri.


Tapi semua berubah setelah dia menyukai Jingga, kehadiran Jingga benar-benar bisa menjadi obat yang paling mujarab dari apapun yang ada di dunia. Kalaupun seluruh dunia pergi meninggalkannya, dan hanya menyisakan Jingga seorang, dia akan merasa lebih bahagia lagi.


“ Kamu harus tanggung jawab.” Kata Arkana membuat Jingga kebingungan.


“ Karena sikap peduli kamu sekarang semakin buat aku jatuh cinta sama kamu.” Balas Arkana menatap wajah Jingga dengan tatapan sayu.


Jingga diam membisu di tempatnya, dia merasa wajahnya mulai panas sekarang. Kemudian Arkana menegurnya kalau wajahnya ikut memerah yang artinya Jingga sedang tersipu malu sekarang.


“ Kamu tersipu kan sama ucapan aku barusan.?” Tebak Arkana.


“ Nggak, kata siapa.” Jingga memalingkan wajahnya karena tak ingin Arkana salah paham.


“ Itu buktinya wajah kamu merona kaya gitu.”


“ Ini blush on, kamu nggak tahu blush on apa.?”


“ Tapi hari ini kamu nggak pakai make up tebal, aku tahu kamu lagi merona, udah ngaku aja.”


Suasana di tempat itu tiba-tiba berubah dari yang sendu menjadi ceria, Arkana terlihat tidak memasang wajah sedih lagi. Begitu pun Jingga yang terus menyangkal bahwa dirinya tidak sedang merona menahan malu.

__ADS_1


Matahari mulai terbenam saat itu, langit benar-benar terlihat sangat indah dan membuat Jingga tak berhenti menatap ke atas. Sudah cukup lama mereka berada di pantai, dan kejadian saat ini mengingatkan mereka saat mereka ada di Madrid.


“ Kamu ingat waktu itu aku buat perjanjian konyol tentang perceraian kita,?” Tanya Arkana.


“ Iya, aku ingat.” Jawab Jingga.


“ Aku mulai sadar kalau saat itu sebenarnya aku sudah mulai jatuh hati sama kamu, egoku saja yang terlalu besar sampai memberikan perjanjian yang pada akhirnya ku langgar sendiri.”


“ Kamu beneran suka sama aku mas.?”


Arkana menoleh ke arah Jingga dengan tatapan seriusnya, setelah apa yang dia katakan dan perbuat selama ini nyatanya tak membuat Jingga bisa percaya kalau dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada sosok istrinya itu.


“ Kamu mau aku petik bintang dulu biar kamu percaya sama aku.?” Seloroh Arkana.


“ Nggak gitu juga, aku cuma masih ragu aja sama ucapan kamu itu.”


Arkana kemudian bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan beberapa langkah ke depan, Jingga meliriknya bingung karena sekarang Arkana sudah menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


“ JINGGA, AKU SAYANG DAN CINTA SAMA KAMUUUUU.”


Teriakan Arkana yang begitu keras berhasil membuat pengunjung pantai yang lain langsung menoleh ke arah mereka, Jingga langsung di buat malu oleh tingkah Arkana barusan dan memilih menutup wajahnya dari orang-orang yang memperhatiakan mereka berdua.


“ Masih kurang percaya? Mau aku teriak lagi.?”


“ Nggak usah, udah cukup. Aku percaya sekarang.”


Arkana tersenyum puas karena akhirnya Jingga percaya jika dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada Jingga. Lantas Arkana kembali duduk di sebelah Jingga, dia pun meminta maaf dengan nada yang lebih serius sekarang.


“ Maaf kalau aku nggak bisa mengingat apa yang kamu mau, tapi aku jujur saat bilang cinta sama kamu.” Kata Arkana lirih.


“ Masih ada waktu kok buat kamu mengingat semuanya.”


“ Tapi kamu sudah tinggal di rumah yang sama denganku, kenapa aku harus mengingatnya lagi?”


“ Pokoknya kamu harus ingat, mau kita satu rumah atau tidak pun, kamu harus tetap berusaha mengingatnya.” Ketus Jingga.


__ADS_1



__ADS_2