
Pria yang bernama Wirawan Caksono itu baru saja berdiri dari kursinya, dia menghampiri Arkana dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Saat dia sudah berdiri di hadapan Arkana, dia menatap Arkana seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dari mata, rambut, bentuk wajah, semuanya sangat mirip dengannya. Dan sudah dapat di pastikan bahwa Arkana tidak sedang berbohong dengan mengaku-ngaku sebagai putra dari Widya Raharjo.
“ Kamu anak itu? anak yang waktu itu lahir dan tidak sempat untuk ku lihat.?” Ucap Wira sambil menyentuh Arkana dan melihat bagaimana Arkana tumbuh dengan baik sampai sekarang.
“ Tidak perlu bersikap seolah-olah anda menyesal karena kita tidak pernah bertemu, selama tiga puluh satu tahun saya hidup dengan mama, anda tidak tahu seberapa berat hidup saya sejak itu.” Balas Arkana menyingkirkan tangan Wira dari tubuhnya.
“ Kamu benar, saya tidak pantas di anggap sebagai seorang ayah sejak awal, tapi kalau boleh saya tahu, apa yang membawamu datang kemari? Bahkan selama ini Widya tidak ingin saya melihatnya dan mengetahui keadaan kalian berdua.”
Arkana menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali menatap Wira, dia pun menjelaskan kedatangannya menemui Wira dengan hati-hati. Terlihat Wira yang berusaha keras memikirkan ucapan Arkana, dia tidak tahu harus meresponnya seperti apa setelah mendengar keadaan Widya sekarang.
“ Saya mohon sama anda, datang dan minta maaf kepada mama saya. Dia mungkin akan mendengarkan semua orang lagi jika anda mau pergi menemuinya.” Pinta Arkana kemudian.
“ Baik, aku akan datang menemuinya.” Balas Wira tegas.
**
Datang menemui Widya setelah tiga puluh satu tahun lamanya, membuat Wirawan Caksono sedikit mulai grogi. Terakhir kali dia bertemu Widya ketika Widya masih menjadi istri Aidan, dan sekarang Widya sudah menjadi istri dari seorang konglomerat yang tak lain adalah Hendra.
Sebelum masuk menemui Widya, tampak Hendra dan Aidan saling bertemu sebentar dan Hendra memberitahu Wira tentang apa yang terjadi pada Widya selama ini agar nantinya tidak ada kesalahan yang di lakukan oleh Wira.
Selain itu, Hendra juga memberitahu bahwa kondisi Widya sulit untuk di kendalikan, jadi dia harus bersiap dengan sesuatu yang mungkin akan terjadi nantinya.
“ Dimana dia sekarang.?” Tanya Wira.
“ Dia berada di halaman belakang rumah dengan cucunya.” Jawab Hendra kemudian.
__ADS_1
Wira pun berjalan menuju halaman belakang dengan perasaan yang campur aduk, ketika dia sudah berada disana, terlihat Widya yang sedang asik menimang seorang bayi dengan senandung khas seorang ibu yang menidurkan anaknya.
Arkana ikut muncul untuk mengambil Keenan sebelumnya, dia berhasil mengambil Keenan dari mamanya ketika Arkana berkata ingin membawa Keenan untuk di berikan Asi.
Setelah Arkana dan Keenan pergi, barulah Wira muncul dan membuat Widya terkejut bukan main. Dia sampai menganggap bahwa apa yang di lihatnya sekarang adalah sebuah ilusi.
“ Ini aku, Wira.” Sahutnya lagi dan membuat Widya akhirnya tersadar.
“ Kenapa kamu ada disini? Siapa yang mengizinkanmu masuk.?”
“ Aku datang untuk melihat keadaanmu, sekaligus meminta maaf atas apa yang dulu ku perbuat. Kau mungkin lupa pada hari dimana kita melakukannya, tapi aku sama sekali tidak ingin menyentuhmu waktu itu.”
“ Kau yang memaksaku untuk melakukannya karena kau merasa jenuh dengan Aidan, tapi kalau kau menganggap semua ini adalah salahku, tidak apa-apa. Kau boleh menyalahkanku, maka dari itu, aku ingin minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu.” Lanjut Wira.
Hatinya nyeri.
Hatinya pedih.
Kepalanya berisik, suara keributan mulai terdengar, mendengung dengan sangat jelas di telinganya. Membuat suara Wira barusan terdengar redam, kalah berisik dengan isi kepala Widya sekarang.
Dia marah sekaligus kecewa, entah kepada siapa, intinya Widya sangat marah. Mungkin kepada masa lalu yang begitu banyak dan menyakitkan, tentang kedua orang tuanya, mantan suami, pria yang menghamilinya, kehidupan setelah menikah yang kedua kalinya.
Widya tiba-tiba merasa mual dan berlari ke tempat dimana dia memuntahkan seluruh isi perutnya, Wira yang khawatir baru saja hendak mendekatinya, namun di kalah cepat oleh Hendra yang ternyata sudah memperhatikan mereka sejak awal.
“ Biar saya saja, “ kata Hendra sambil meraih Widya yang lemas ke dalam gendongannya.
Hendra pun berjalan membawa Widya masuk ke dalam kamar, dari yang sebelumnya masih sadar kini Widya sudah tidak menunjukkan kesadarannya lagi. Dia pingsan tiba-tiba seperti itu dan merupakan hal yang cukup baru bagi kondisinya sekarang.
“ Untuk sementara waktu biarkan dia istirahat, setelah dia sadar baru kita memutuskan untuk melanjutkan pertemuan kalian atau tidak.” Kata Hendra pada Wira setelah dia selesai merawat istrinya.
__ADS_1
**
Tiga puluh dua tahun yang lalu
Wanita itu pergi dari rumah selama tiga hari dan tidak pulang ke rumah meskipun ada suami dan anak yang harus dia urus, kehidupan di rumah membuat kepalanya sakit dan belum lagi dia harus menerima kenyataan yang sangat menyakitkan tentang kondisi ekonomi yang sulit.
Widya yang masih ingin hidup bebas pergi menemui teman-teman SMA nya, pertemuan pertama setelah dia menikah membawa dirinya pada sebuah club malam yang di penuhi oleh orang-orang yang bebas berekspresi.
Untuk pertama kalinya Widya merasa sangat bebas dan tidak merasakana ada banyak masalah di pundaknya, kedatangannya di tempat itu di sambut oleh orang-orang baru yang dia kenal. Semuanya tampak asik dan begitu baik kepadanya.
Widya di berikan minuman berupa alkohol kepada mereka, dan salah satu dari mereka berkata bahwa minum alkohol dapat membuat masalah hilang. Widya yang polos dan mudah terbawa arus kehidupan tidak bisa menolaknya lagi, hingga dia menghabiskan satu botol penuh seorang diri.
Karena tak dapat menahan kadar alkoholnya, Widya pun mabuk parah. Semua orang juga mabuk, tak ada yang mengurus Widya kecuali satu orang. Dia adalah Wira, hanya pria itu yang tidak minum karena dia tahu kalau minum alkohol hanya akan membuatnya kehilangan kesadaran.
Wira yang merupakan teman Widya sejak SMA sekaligus seseorang yang diam-diam mencintai Widya merasa harus bertanggung jawab membawa wanita itu kembali ke rumahnya.
Wira pun membawa Widya pergi dari club, tapi sayang Wira tidak tahu alamat rumah Widya dan dia juga tidak punya ponsel untuk menghubungi suami Widya. Alhasil Wira membawa Widya ke sebuah motel di dekat club, tadinya dia hanya ingin mengantarnya dan setelah itu pergi.
Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Widya menggodanya terang-terangan, dia bahkan langsung menarik Wira ke atas tempat tidur dan memeluknya dengan sangat erat.
“ Bawa aku pergi dari suamiku, aku tidak tahan hidup miskin dengannya.”
“ Kamu mabuk, jadi lepaskan aku sekarang.”
“ Nggak, aku nggak mau.”
Widya membuka kedua matanya dan menatap Wira dengan tatapan serius, kemudian Widya mencium Wira yang membuat pria itu terkejut bukan main.
“ Kau mencintaiku kan? Jadi miliki aku sepenuhnya.” Lanjut Widya yang akhirnya membuat Wira tak bisa menahan perasaannya lagi.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam penuh gairah di antara mereka berdua, Wira kehilangan kendali atas dirinya dan membuat Widya menjadi miliknya malam itu. Entah besok apakah Widya akan menyesal atau tidak, tapi Wira tak bisa berhenti dan terus melakukannya.