Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Malam Yang Dingin )


__ADS_3

Arkana mulai memasuki rumah dan ikut bergabung bersama para orang dewasa, dia baru saja di beritahu oleh mamanya bahwa pria yang sedang memakai jaket kulit berwarna coklat tua adalah seseorang yang jahat dan akan membawa mamanya pergi dari rumah.


Tak lama setelah itu mama Widya ikut keluar bersama nenek Dina, Arkana bisa melihat tatapan mama Widya kepadanya yang membuat Arkana paham dan mengangguk pelan.


“ Maaf sudah membuat kalian menunggu lama, Widya bingung memilih pakaian untuk bertemu dengan nak Hendra.” Ucap nenek Dina.


“ Pakai apa aja tetap cantik kok.” Sahut Hendra melirik mama Widya yang bahkan tidak meliriknya balik.


“ Jadi bagaimana untuk tanggal pernikahan.?” Ucap nenek Dina lagi.


“ Nggak boleh.” Sahut Arkana tiba-tiba membuat semua mata tertuju padanya.


“ Arka? Kamu kenapa sayang.?” Tanya nenek Dina.


“ Mama nggak boleh nikah sama om itu, dan untuk om. Jangan bawa mamaku pergi, aku nggak akan biarin mamaku pergi sama om.” Arkana beranjak dari kursinya dan segera menghampiri mama Widya.


“ Arkana sayang, ini urusan orang dewasa ya. Kamu sebaiknya main diluar dulu.” Lontar nenek Dina.


“ Kalau Arka menolak untuk aku menikah lagi, maka aku nggak akan melakukannya ma. “ Gumam Widya.


“ Widya, kamu ini apa-apaan.” Sahut nenek Dina.


“ Semuanya maaf, ini keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat lagi. Anakku tidak menginginkan sosok ayah baru, jadi aku sebagai ibunya pun tidak akan menerima pernikahan ini.”


“ Ayo Arka, ikut mama ke dalam.” Lanjut Widya menarik tangan Arkana pergi dari ruangan itu.


**


Sejak hari itu, Arkana selalu mendengar mamanya menangis di kamarnya. Dia tahu kalau kakek dan neneknya lah yang membuat mamanya menangis, mama Widya terus di paksa menikah dengan pria bernama Hendra itu.


Meskipun Arkana sudah berusaha untuk menggagalkannya akan tetapi tak membuat kakek dan neneknya menyerah, bahkan sekarang mereka mengancam mama Widya untuk meninggalkan rumah dan hidup diluar jika dia tidak menerima pernikahan itu.


Karena menolak pernikahan itu, akhirnya mama Widya angkat kaki dari rumah orang tuanya sendiri. Dia membawa Arkana bersamanya meninggalkan rumah itu, keduanya pergi dari rumah tanpa ada tujuan yang ingin mereka tuju waktu itu.

__ADS_1


“ Kita mau kemana ma.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Kamu diam aja, jangan banyak bicara.” Balas mama Widya ketus.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, cuaca malam itu terlihat berubah dengan angina kencang yang menerbangkan segala sesuatu. Sebentar lagi akan turun hujan sehingga mereka harus mencari tempat untuk berteduh.


Tak kunjung menemukan tempat berteduh, hujan pun terlanjut mengguyur kota malam itu. Mama Widya dan Arkana berlari menuju sebuah ruko yang memiliki atap yang dapat membuat mereka berteduh dari hujan.


Seluruh baju Arkana dan mama Widya basah kuyup begitu pun dengan barang bawaan mereka, udara yang dingin sampai menyentuh tulang-tulang mereka.


“ Aku lapar ma.” Keluh Arkana melirik mamanya dengan tatapan memelas.


Mama Widya terlihat mengecek isi tasnya, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan sebungkus roti untuk Arkana.


“ Makan, dan jangan banyak bicara lagi.” Ujar mama Widya tegas.


Arkana pun patuh apa kata mamanya, dia hanya menikmati sebungkus roti itu dalam diam. Hujan masih belum reda, dan malam semakin larut. Mungkin tempat itu akan menjadi tempat mereka istirahat malam ini, meskipun mereka harus tidur dalam keadaan basah kuyup.


Saat itu mama Widya menatap Arkana dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, kemudian dia meraih Arkana ke dekapannya untuk membuat mereka berdua tetap merasa hangat.


“ Kita tidur disini malam ini.” Kata mama Widya lirih.


**


Keesokan paginya, Arkana dan mama Widya terbangun dari tidur mereka saat pemilik ruko menyiram mereka dengan seember air, keduanya langsung bangun dari tempat itu dan sekali lagi mendapat amarah dari pemilik ruko.


“ Gembel kaya kalian jangan tidur di depan ruko saya, bisa bawa sial tau nggak.” Lontarnya dengan kalimat yang begitu sarkas.


Mama Widya langsung terbawa emosi saat itu, dia ikut membalas ucapan wanita tadi. Namun pada akhirnya mama Widya justru akan di laporkan pada polisi jika tetap berada disana, alhasil mereka berdua segera meninggalkan tempat itu.


Arkana pingsan saat di jalan mencari tempat bernaung yang baru, mama Widya di buat semakin kesal dengan keadaan Arkana saat ini. Karena tak ingin terjadi sesuatu pada putranya, dia pun membawa Arkana pergi ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, dokter yang menangani Arkana pada saat itu adalah Hendra pria yang akan di jodohkan dengan mama Widya. Mengetahui bahwa yang sakit adalah Arkana, membuat Hendra menyiapkan ruangan yang terbaik untuk dia dan mama Widya bisa istirahat dengan nyaman.

__ADS_1


Setelah Arkana di periksa oleh Hendra, kini dia di pindahkan ke ruangan itu untuk melanjutkan perawatan. Selama hampir dua jam tertidur, akhirnya Arkana bangun dan mendapati ruangan yang asing di penglihatannya.


“ Hey jagoan kecil, kamu sudah sadar.” Suara itu membuat Arkana menoleh, dia terkejut melihat Hendra yang berdiri di sebelahnya.


Mereka baru tahu kalau ternyata Hendra adalah seorang dokter dan ayahnya merupakan seorang direktur utama di rumah sakit miliknya, itu mengapa Arkana mendapatkan perawatan yang spesial dari Hendra.


“ Arkana hanya demam karena kelelahan, di usianya seperti ini dia harus lebih banyak istirahat dan makan makananan yang bergizi.” Lontar Hendra.


Mama Widya bangkit dari tempatnya, dia berkata akan pergi ke suatu tempat. Kini hanya ada Arkana dan Hendra di ruangan itu, Arkana masih benci dengan Hendra akibat ucapan mamanya yang mengatakan bahwa Hendra adalah pria yang sangat jahat.


“ Om jangan bawa mama aku pergi.” Sahut Arkana terdengar parau.


Hendra yang mendengar ucapan Arkana langsung duduk di atas kursi, dia menatap anak laki-laki di depannya dengan tatapan sayu.


“ Om nggak akan pernah bawa mama kamu pergi dari kamu kok.” Jawab Hendra kemudian.


“ Jadi om bukan orang jahat.?”


“ Kata siapa kalau om ini jahat.?”


“ Mama bilang sama aku kalau om itu orang jahat.”


Mendengar pengakuan Arkana barusan sukses membuat Hendra tertawa kecil, dia tidak tersinggung atau pun marah padanya.


“ Om, aku sama mama nggak punya rumah lagi. Kakek sama nenek mengusir kami berdua, kalau om bukan orang jahat tolong bantu mama.” Lontar Arkana pelan.


“ Kalian di usir.?” Hendra nampak sangat terkejut mendengarnya.


“ Semalam aku sama mama kehujanan dan tidur di depan ruko orang, kami di usir dari sana dan mama kelihatan sangat sedih.” Jelas Arkana lagi.


“ Kamu tenang aja, nanti kalau mama kamu kembali biar om bicara sama dia ya.” Balas Hendra.


“ Terima kasih banyak om.”

__ADS_1


__ADS_2