
Setelah kembali dari pantai sore ini, Jingga dan Arkana sudah tiba di rumah sekitar pukul 7:00 malam. Keduanya sudah makan malam diluar sehingga tidak perlu makan lagi di rumah, dan mereka juga sempat belanja beberapa cemilan atas request Jingga.
“ Aku mau mandi dulu.” Ucap Jingga yang hendak membuka pintu kamarnya.
“ Nanti malam kamu tidur di kamarku lagi kan.?” Sahut Arkana sebelum Jingga benar-benar masuk ke dalam.
“ Kamarku udah bersih, udah nggak ada serangga. Jadi malam ini aku tidur di kamarku.” Balas Jingga kemudian membuat raut wajah Arkana langsung berubah.
Jingga kemudian ingat kalau kemarin malam Arkana kesulitan tidur, obat yang biasa di minum sudah di buang semua. Sambil menghela nafas panjang akhirnya Jingga menyetujui untuk dirinya tidur di kamar itu lagi malam ini, alhasil raut wajah Arkana kembali berubah dengan senyum yang merekah di bibirnya.
**
Jingga dan Arkana sudah berbaring di atas tempat tidur lagi, namun keduanya tidur saling membelakangi satu sama lain. Arkana masih terjaga karena Jingga ada di sebelahnya, begitu pun dengan Jingga yang saat itu entah mengapa ingin makan buah strawberry.
Arkana menyadari kalau Jingga baru saja turun dari tempat tidur, dia pura-pura tidak bergeming sampai dia mendengar suara pintu terkuak secara pelan-pelan.
“ Dia mau kemana? Apa jangan-jangan dia nggak mau tidur sama aku.?”
Karena penasaran Arkana pun turun dari tempat tidur dan keluar mengikuti Jingga, dia diam-diam berjalan sampai keluar dan ternyata mendapati Jingga sedang berada di depan kulkas mengambil sesuatu.
“ Kok nggak ada sih? Mas Arka nggak pernah beli buah apa.?” Ucap Jingga dengan ekspresi kecewanya.
“ Kamu mau makan apa.?” Tegur Arkana sontak membuat Jingga terkejut bukan main.
“ Kamu ngagetin aku, kenapa kamu ikut bangun.?” Tanya Jingga.
“ Aku belum tidur tadi, lihat kamu keluar kamar aku pikir kamu mau balik ke kamar kamu.” Balas Arkana.
“ Kamu nggak pernah beli buah mas? Aku ngidam makan strawberry, tapi nggak ada buah-buahan di dalam kulkas.”
Arkana melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2 : 00 dini hari, kemudian dia menyuruh Jingga untuk menunggu selagi dia pergi ke supermarket untuk membeli buah-buahan.
“ Tapi ini udah malam, kamu nggak usah keluar.” Sahut Jingga.
__ADS_1
“ Nggak apa-apa, kamu tunggu disini. Di dekat jalan besar ada supermarket yang buka 24 jam, aku kesana sebentar jadi kamu duduk manis aja tunggu aku.” Jelas Arkana yang hanya bisa di balas anggukan pelan dari Jingga.
**
Jingga sudah menunggu cukup lama tapi Arkana belum kembali juga, dia ingin menelpon tapi sayangnya Arkana tidak membawa ponselnya. Jingga mulai khawatir dan terus menerus mengecek keluar apakah diluar sudah ada mobil Arkana atau belum, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3:00 pagi dan Arkana sudah pergi selama satu jam.
“ Nggak biasanya dia kaya gini, sikapnya yang dulu pura-pura baik dan sekarang jadi baik sungguhan sangat tidak cocok dengannya.”
Suara deru mobil baru saja terdengar, sekarang Arkana sudah sampai di rumah. Dia datang membawakan begitu banyak buah-buahan untuk Jingga, sayangnya untuk buah strawberry hanya bisa dia dapat satu kotak saja.
“ Maaf ya, di supermarket depan habis jadi aku pergi ke pusat kota buat cari strawberrynya. Dan juga aku beliin buah lain biar kamu bisa makan juga, aku beli anggur, apel, pear, sama mangga.” Jelas Arkana.
“ Terima kasih ya mas.” Ucap Jingga sukses membuat Arkana tersipu malu.
“ Aku yang terima kasih karena kamu sudah mau tinggal sama aku lagi, perkara beli buah malam-malam bukan apa-apa. Aku rela kalau harus pergi beli strawberry langsung ke puncak.”
“ Kamu nggak perlu melakukan itu, begini aja udah buat aku senang.” Jawab Jingga sekali lagi membuat Arkana merasa ikut senang mendengarnya.
**
Akhir-akhir ini hujan terus melanda kota Jakarta, langit yang semula cerah mendadak gelap di sertai dengan angina yang cukup kencang. Arkana sedang berada di ruangannya sambil mengirimkan pesan kepada Jingga dan memberitahunya kalau dia akan segera pulang.
Arkana : Nanti mau aku bawain apa?
Arkana : Diluar hujan, jangan keluar rumah ya. Lantainya licin, nanti kamu jatuh nggak ada yang tolongin gimana?
Arkana : Kayaknya besok aku suruh bi Inah sama bi Salma balik kerja deh, biar ada yang nemenin kamu di rumah.
Arkana : Kamu lagi ngapain? Kok nggak balas pesan aku.?
Arkana mulai cemberut melihat pesannya tidak mendapat balasan sama sekali, dia kembali mengecek lokasi Jingga dan kembali merasa tenang saat mengetahui wanita itu tidak pergi dari rumah.
Jingga : Aku baru bangun, kamu bawain aku ayam woku sama desert box by najla ya. Dan soal pembantu, kayaknya aku butuh mereka buat bantu aku masak.
Arkana kembali tersenyum lebar ketika mendapat pesan balasan dari Jingga, dia tidak sabar menunggu Nisa datang membawakan hasil laboratorium pasien dan mengeceknya sebentar, kemduain dia bisa pulang ke rumah.
__ADS_1
Suara ketukan pintu baru saja terdengar, Arkana menyahut dari dalam dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.
“ Kamu lama banget sih, aku udah nunggu dari tadi.” Arkana terdiam ketika dia baru saja menoleh dan mengira yang datang adalah Nisa, ternyata orang lain yang membuat ekspresi wajahnya seketika berubah.
“ Ngapain kamu kesini.?” Tanya Arkana sinis.
“ Hanya melihat-lihat bagaimana ruang kerjanya adikku saja.” Jawab Bima santai seperti biasanya.
“ Tidak sopan masuk ke ruangan orang tanpa seizing dari pemiliknya, kau bukan pasienku yang boleh masuk ke ruangan ini. Silahkan keluar sekarang.”
“ Sebenarnya tujuanku datang kemari ingin mengajakmu ngobrol, kau punya waktu kan.?”
“ Aku nggak ada waktu buat orang seperti kamu.”
“ Jahat sekali, memangnya kamu nggak kangen sama kakakmu ini.?”
Arkana langsung menggebrak meja dengan keras sambil menatap Bima dengan tatapan yang di selimuti oleh emosi yang meluap, Bima tidak takut sama sekali dengan tatapan itu karena baginya Arkana masih sama seperti Arkana berusia sepuluh tahun yang dia kenal, manja dan rapuh.
“ Keluar, sebelum kesabaranku habis.”
“ Oke, oke, aku akan keluar. Tapi sebelum itu, boleh kan aku jalan-jalan ke rumah kalian? Aku belum mengobrol santai dengan adik iparku.”
“ Jangan mimpi, aku nggak akan pernah izinin kamu datang menemui Jingga.”
“ Kenapa nggak boleh.?” Tanya Bima penasaran.
Arkana tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak ingin mempertemukan Bima dan Jingga karena wajah Bima yang mirip dengan Nawa, dan Arkana pun tidak menjawabnya sehingga membuat Bima semakin di buat penasaran.
“ Kamu takut Jingga jatuh cinta sama aku.?” Kata Bima sontak membuat Arkana terkejut.
“ Apa maksud,” belum sempat Arkana melanjutkan ucapannya, Nisa baru saja masuk membawa hasil lab. Dia di kejutkan dengan kehadiran Bima, dan berniat untuk keluar kembali tapi di tahan oleh Arkana.
“ Aku pulang dulu, sampai jumpa lagi adikku yang tampan.” Seru Bima kemudian melewati Nisa sambil tersenyum manis, lalu dia keluar dan membuat Arkana tampak sangat kesal.
“ Dok? Yang barusan itu.?”
__ADS_1
“ Berikan hasilnya, jangan bertanya apapun tentang dia.” Balas Arkana ketus.
“ Ini dok.” Nisa pun memberikan hasil lab kepada Arkana, dia bisa merasakan suasana di ruangan itu mendadak dingin karena perubahan sikap Arkana saat ini.