
Michelle masih duduk di kursi itu dengan kepalanya yang terus tertunduk, ia mulai kehilangan rasa percaya diri untuk dapat menemukan orang tuanya. Sudah sejak lama ia berusaha mencari mereka tapi tak kunjung ada hasilnya.
"Michelle, sudahlah, Nak kalau memang kalian ditakdirkan bertemu suatu saat pasti akan bertemu," ucap Bu Jena.
"Mungkin mereka memang tak menginginkan aku," ucap Michelle dengan nada lirih.
"Mungkin aku adalah anak pembawa sial untuk mereka," sambung Michigan.
"Nak, tidak ada anak pembawa sial, semua anak pembawa berkah."
"Kalau seperti itu kenapa mereka membuang ku begitu saja?"
Jena terdiam, ia tak dapat menjawab pertanyaan Michelle karena tidak mungkin ia mengatakan mungkin Michelle adalah anak yang tak diinginkan atau anak hasil hubungan tanpa pernikahan, dirinya takut perkataannya akan menyakiti perasaan Michelle.
*********
Di kediaman Aby.
Setelah lelah mengepel lantai itu, Marisa menghampiri Mawar yang sedang asyik membaca buku di kursi ruangan keluarga.
Melihat Mawar yang sedang fokus pada bukunya, Marisa melayangkan gagang pel_an itu ke kepala Mawar hingga Mawar kesakitan dan seketika pandangannya berubah menjadi hitam.
Kini, Mawar meringkuk di lantai. Kepalanya terasa sakit yang amat sangat. Beberapa detik kemudian, Mawar mulai mendapatkan pandangannya lagi, ia melihat Marisa dan Jingga berdiri di depannya dengan senyum penuh kepuasan di bibirnya.
"Kalian," ucap Mawar yang masih tergeletak di atas lantai.
"Makanya jangan pernah main-main sama kita. Kalau sampai besok lo masih ada di sini, gue akan melakukan yang lebih dari ini," ucap Jingga sembari menunjuk wajah Mawar.
"Dengar ya Mawar, jangan pernah kamu menjadikan saya sebagai babu karena kamulah yang pantas menjadi seorang babu. Dasar anak gak tahu diri," ucap Marisa.
Jingga dan Marisa melemparkan ember dan pel_an itu pada Mawar hingga menimpa tubuh Mawar lalu mereka pergi dari rumah itu.
Mawar yang masih merasakan sakit akibat pukulan keras di kepalang tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan mereka pergi.
Mawar tak kuasa untuk bangkit, ia merasa kepalanya tak dapat digerakkan hingga membuatnya memilih untuk tetap di sana gagang pel_an yang masih berada di atas tubuhnya.
**********
"Roger anak laki-lakinya Arman, aku tak menyangka dia akan menyimpan dendam padaku," gumam Randy.
__ADS_1
Setelah mendapat laporan dari Michelle, Randy terus memikirkan tentang Roger dan keluarganya, ia tak menyangka masa lalu pahit bersama sahabatnya dapat menimbulkan bahaya baginya.
"Aku harus bicara dengan Roger, dia tidak boleh terus-terusan meneror aku dan keluargaku seperti ini," batin Randy.
Di ruangan Dirga.
"Dirga, tolong kamu panggil Aby ke sini ya," ucap Ratu pada Dirga.
"Baik, Bu. Sebentar ya," sahut Dirga.
"Mas ganteng, jangan lama ya," ucap Nasya.
"Paling satu jam," sahut Dirga sembari berlalu pergi.
"Satu jam, emang semut yang berjalannya lama pakai banget," ucap Nasya.
"Kamu yakin kan kalau kakak kamu ada perempuan lain?" tanya Ratu.
"Yakin Ma, kak Aby sendiri yang bilang kalau dia ada cewek lain namanya Caroline. Mas ganteng juga tahu."
"Jangan sampai Mama udah marahin dia ternyata kamu bohong," ucap Ratu.
"Di rumah kakakmu ada Mawar, kasian dia kalau tahu kakakmu punya wanita lain. Gimana perasaannya nanti," ucap Ratu.
"Ada apa Ma? Tumben Mama datang ke kantor?" ucap Aby yang baru tiba di ruangan Dirga.
"Sini kamu!" Ratu menarik telinga Aby sampai ke dekat meja kerja Dirga.
Dirga terkejut melihat Ratu yang tiba-tiba menjewer telinga bosnya.
"Aduh, aduh sakit. Ma, Ma ampun," ucap Aby yang belum tahu permasalahan apa yang sedang dialaminya saat ini.
Ratu melepaskan tangannya lalu memukul Aby dengan tasnya!
"Awwh, Ma ada apa ini, kenapa tiba-tiba Mama menyiksa aku gini?" ucap Aby.
"Siapa Caroline?" tanya Ratu dengan tegas.
"Caroline?" Aby menatap Mamanya lalu menatap Nasya dan Dirga.
__ADS_1
"Pasti kalian yang mengadu pada Mama," ucap Aby.
"Aku. Kakak mau apa hah?" ucap Nasya.
"Keterlaluan kamu ya Aby, kurang apa Mawar itu hah? Dia, sudah cantik, baik dan bisa melakukan segalanya sendiri kalau perempuan lain yang jadi istri kamu, mungkin kamu gak akan pernah merasakan masakan istri kamu dan kamu pasti sudah kehabisan banyak duit buat membiayai istri manja kamu itu," ucap Ratu.
"Gimana lagi Ma, aku udah terlanjur cinta sama Caroline," ucap Aby dengan begitu santainya seolah sedang tidak melakukan kesalahan apapun.
"Mama gak mau tahu pokoknya kamu tinggalkan Caroline dan pertahankan Mawar, jangan sampai Papa tahu tentang ini kalau dia tahu kamu gak akan dapat apa-apa dari Papa," ucap Ratu.
************
Di kediaman Aby.
Mawar baru bisa bangkit dari tempat itu setelah beberapa menit ia terbaring di lantai, dengan gerakan sangat pelan Mawar berdiri lalu duduk di kursi yang ada tak jauh darinya
"Astaga, sakit sekali," ucapnya dengan nada lirih.
Mawar menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit dan tak ia sangka ternyata kepalanya berdarah meski hanya sedikit.
"Darah," ucapannya sembari melihat jari tangannya yang berwarna merah darah.
"Sebenarnya aku ini anak Bu Marisa atau bukan, setidaknya kalau pun dia tidak menginginkan aku, dia tidak memukulku seperti ini. Sebenci ini kah dia padaku? Hanya karena dia menginginkan aku terlahir sebagai anak laki-laki, dia tega memperlakukan aku seperti ini," batin Mawar.
Butiran berwarna bening itu berhasil lolos dari pelupuknya, Mawar tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi sudah berdesakan ingin keluar dari tempatnya.
"Kenapa aku terlahir jika hanya untuk seperti ini. Aku tidak mengharapkan banyak dari mereka, pengakuan mereka terhadapku saja sudah dapat membahagiakan aku," batin Mawar lagi.
Mawar yang sudah mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tua angkatnya merasa tak cukup dan ingin mendapatkan pengakuan dari orang tua kandungnya, ia memang lebih menyayangi kedua orang tua angkatnya tapi apa salahnya jika menuntut haknya dari kedua orang tua kandungnya.
Di tempat itu, di atas kursi itu, Mawar duduk dengan tangisnya yang tak pernah berhenti, air mata yang sudah membasahi pipi dan juga bajunya tak lagi ia hiraukan.
Sakit, sesak, marah bercampur aduk dalam dirinya hingga dirinya tak dapat menghentikan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
Dua puluh tahun dirinya tak pernah mendapatkan haknya dari orang tua kandungnya, jangankan kasih sayang seprti yang mereka berikan pada Jingga, pengakuan atas dirinya saja tak pernah ia dapatkan dari Mahendra dan Marisa.
"Bukan ingiku terlahir menjadi seorang perempuan tapi kenapa kalian terus saja menyalahkan aku dan menghantam kokohnya pendirian dalam hatiku yang sudah kubangun sejak lama. Aku pernah berpikir untuk mengakhiri ini semua tapi aku tidak bisa bahkan aku tidak sanggup menyentuh kalian dengan kemampuan bela diri yang kupelajari sejak dulu. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku sayang pada kalian," batin Mawar.
Bersambung
__ADS_1