Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 203


__ADS_3

Di sebuah kursi yang ada di taman area kampus Nasya. Reza sedang mengobati luka bekas gigitan Nasya, saking kerasnya gigitan itu sampai menyebabkan lehernya terluka berdarah. Meski tidak terluka parah tapi luka tetaplah luka yang harus mendapatkan pengobatan yang tepat sebelum terjadi infeksi pada luka itu.


Reza membersihkan darah itu dengan sapu tangannya lalu meneteskan obat merah pada lukanya.


"Ahh, perih sekali," gumam Reza. "Astaga gadis itu jauh lebih berbahaya dari buronan yang dia selamatkan," sambung Reza.


Saat akan masuk ke dalam ruang kelas tiba-tiba Nasya ditarik oleh El dan memperlihatkan Reza yang duduk di sebuah kursi sambil berusaha meneteskan obat luka itu pada lukanya.


"Aduh! Apaan sih kamu narik-narik?" ucap Nasya kesal.


"Lihat!" El mengarahkan jari telunjuknya pada Reza.


"Kenapa dia?" ucap Nasya setelah melihat Reza.


"Dasar bodoh, dia terluka gara-gara kamu gigit tadi," ucap El.


"Gak mungkin. Aku tidak mungkin melukainya lagipula tadi aku menggigit nya pelan," ucap Nasya.


"Buktinya dia terluka jangan sampai dia memenjarakan kamu. Sana! Obati lukanya," ucap El sembari mendorong tubuh Nasya.


"Tapi kelasku akan dimulai," ucap Nasya.


"Kamu mau dipenjara?" ucap El dengan nada sedikit tinggi.


"Nggak mau." Dengan terpaksa Nasya berjalan mendekati Reza!


"Dasar aneh masa gigit orang sampai terluka. Astaga, jangan-jangan Nasya keturunan drakula?" gumam El.


Tak ingin ikut pusing dengan urusan percintaan langka dan unik merdeka, El pun pergi meninggalkan tempat itu!


"Sini!" Nasya mengambil alih betadine itu dari tangan Reza.


"Lembek banget jadi laki-laki, masa cuma digigit pelan aja langsung berdarah," sambung Nasya.


"Kalau gak mau bantu gak usah, lagi pula ngapain kamu mengobati luka yang sudah kamu buat sendiri?" ucap Reza tapi tetap membiarkan Nasya mengobati lukanya.


"Aku tidak sengaja melukai kamu tadi aku hanya ingin pergi dari kamu," ucap Nasya.


"Aduh, awh sakit," ucap Reza meringis.


"Ya ampun ternyata aku menggigit kamu sampai lukanya sedalam ini. Maaf, maaf ya aku benar-benar tidak sengaja," ucap Nasya.


"Perih sekali," ucap Reza.


"Jangan meniupnya," sambung Reza karena Nasya meniup lukanya.


"Kenapa? Aku hanya membantu."


"Aku takut digigit lagi."

__ADS_1


"Nggak. Kali ini aku tidak akan mengigit," ucap Nasya.


Nasya menyentuh leher Reza dengan tangan kanannya dan tangan satunya lagi menyentuh dada bagian kanan Reza, dia terus meniup luka itu tanpa disadari Reza terus memperhatikannya.


"Nasya ini begitu misterius, dia galak tapi ternyata dia juga bisa bersikap lembut. Dia istimewa karena mempunyai kemampuan bela diri meski tidak seberapa," batin Reza.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Nasya setelah sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Reza.


"Kamu cantik," ucap Reza.


"Semua perempuan pasti cantik. Lukanya sudah diobati, aku harus mengikuti kelas dulu," ucap Nasya sembari beranjak dari duduknya.


Baru Nasya akan melangkah Reza meraih tangannya hingga membuat dirinya harus menghubungkan langkahnya.


"I love you," ucap Reza lalu mencium jemari Nasya.


Nasya terdiam mematung, bibirnya tertutup rapat, jantungnya terasa berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat mendengar perkataan Reza barusan, ini kali pertama ada laki-laki yang mengucapkan itu padanya.


"Nasya, kamu baik-baik saja?" tanya Reza karena Nasya hanya terdiam mematung.


"Aku ... aku baik-baik saja. Aku pergi dulu," ucap Nasya sembari menarik tangannya yang masih dalam genggaman Reza.


*********


Di rumah sakit.


Aby baru tiba di rumah sakit tempat Mawar melahirkan, di parkiran ia juga bertemu dengan Pak Mahendra dan Jingga yang juga akan memastikan keselamatan Mawar dan bayinya.


"Iya. Aku duluan ya," ucap Aby lalu langsung berlari menuju ruang persalinan!


"Ayo, Pa," ucap Jingga sambil berjalan mengikuti Aby dari belakang.


Setibanya di lorong rumah sakit, Aby melihat keluarganya sedang duduk di depan sebuah ruangan. Ia pun langsung berlari menghampiri mereka!


"Dimana Mawar?" tanya Aby dengan raut wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran.


"Dia di dalam," ucap Marisa.


"Tenang, By duduklah dulu," ucap Bu Ratna.


"Semoga mereka baik-baik saja, semoga mereka selamat," ucap Aby.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk," ucap Pak Ija.


Tak lama Pak Mahendra dan Jingga juga tiba di sana, mereka ikut bergabung bersama keluarganya untuk menunggu proses persalinan Mawar.


Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya seorang dokter keluar dari ruang persalinan itu.


Mereka semua langsung berdiri dan menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" ucap Aby.


"Anda suaminya?" tanya dokter itu.


"Iya, dokter. Saya adalah suaminya, bagaimana kondisi istri saya?" ucap Aby.


"Bu Mawar sudah berhasil melahirkan tapi dia kehabisan banyak darah, dia harus segera mendapatkan transfusi darah," ucap dokter itu.


"Lakukan apa pun yang dapat membuat istri saya selamat," ucap Aby.


"Rumah sakit ini kehabisan stok darah yang cocok dengan pasien dan kami juga sudah menghubungi beberapa bank darah tapi tidak ada darah yang sesuai dengan golongan darah Bu Mawar untuk itu saya serahkan pada keluarga agar secepatnya mencari pendonor darah untuk Bu Mawar," ucap dokter itu.


"Saya Papanya Mawar, saya bersedia mendonorkan darah untuk Mawar," ucap Mahendra.


"Tapi, Pa akhir-akhir ini Papa kurang sehat," ucap Marisa mencegah agar Mahendra tidak mendonorkan darahnya.


"Papa baik-baik saja, Ma. Mama tenang saja," ucap Mahendra.


"Ayo dokter, saya tidak ingin anak saya kenapa-kenapa," ucap Mahendra.


"Baik, Pak kalau gitu kita akan segera melaksanakan pemeriksaan terhadap Anda," ucap dokter itu.


Mahendra pun berjalan mengikuti dokter itu dengan tanpa rasa ragu sedikit pun!


"Akhirnya waktu yang selama ini aku takutkan tiba juga," batin Marisa.


Marisa pun menangis karena sudah tahu apa yang akan terjadi beberapa saat lagi.


Di salah satu ruangan di rumah sakit itu.


Roger dan Michaela sedang menemani Mitha memeriksa kesehatannya karena dari kemarin wanita itu merasa pusing dan sakit kepala.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan ini hanya migrain biasa Ibu akan sembuh setelah meminum obat dari saya," ucap dokter pada Mitha.


"Baik, dokter," ucap Mitha.


"Yakin ya, dok tidak ada yang perlu dikhawatirkan? Mama saya tipe orang yang gak mau merepotkan orang, beliau tidak pernah bilang kalau merasa kesakitan terkecuali sudah sangat menyiksanya," ucap Roger.


"Tidak, Pak. Anda tenang saja Mama Anda sehat," ucap dokter itu.


Di tempat lain.


"Maaf, Pak darah Anda tidak cocok dengan darah Bu Mawar," ucap dokter itu setelah melakukan pencocokan darah mereka.


"Tapi saya ini Papanya, dok. Tidak mungkin kami tidak cocok," ucap Mahendra.


"Kenyataannya seperti itu Pak. Bu Mawar memiliki golongan darah A sedangkan Anda B," jejas dokter itu.


Mahendra tak percaya bahwa ternyata dirinya bukanlah Ayah biologisnya Mawar lalu anak siapakah Mawar sebenarnya?

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2