Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 230


__ADS_3

Di kamar Michelle dan Dirga.


"Michelle, apa kamu yakin suka sama pemuda itu?" tanya Dirga yang saat ini sedang duduk sembari terus menatap Michelle.


"Kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan sang suami Michelle malah bertanya balik padanya.


"Aku gak mau kamu melanjutkan misi itu biarkan saja Abymana cari tahu sendiri," ucapan Dirga.


Michelle yang saat itu sedang membuka pakaiannya karena ia baru akan membersihkan tubuhnya pun menatap Dirga dengan kondisi tubuh yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.


"Cemburu ya?" ucap Michelle sambil tersenyum jahil.


"Nggak. Siapa yang cemburu," sahut Dirga yang tak mau mengakui bahwa dirinya memang cemburu.


"Oh gak cemburu. Ya udah kalau gak cemburu, aku mau video call dulu dengan laki-laki itu, mau pamer tubuh bugil," ucap Michelle sembari berjalan mengambil tasnya yang didalamnya ada ponselnya.


"Heh, mau kemana kamu?" Dirga menarik tangan Michelle hingga mereka berdua kini terbaring di atas tempat tidurnya!


"Tubuh ini milik aku. Ngapain kamu kasih lihat orang lain? Mulai malam ini handphone kamu aku sita dan kamu ... kamu gak boleh pergi kemana-mana," ucap Dirga yang sekarang menindih tubuh Michelle.


"Hmmm cemburu, bilang aja kalau kamu cemburu," ucap Michelle sembari meraba dada bidang Dirga.


"Aku gak cemburu, aku cuma takut kamu hilang."


"Itu cemburu namanya."


"Nggak." Dirga terus menyangkal perkataan Michelle, ia bangkit dari sana lalu mengambil borgol dari laci yang ada di sampingnya dan tanpa tahu anak kuncinya dimana, Dirga langsung memborgol sebelah tangan Michelle dan menyatukannya dengan tangannya.


"Nah, kalau gini kamu gak akan bisa ke mana-mana," ucap Dirga setelah memborgol tangannya dan tangan Michelle.


"Aku belum mandi lho, emang kamu mau mandi lagi?" ucap Michelle sembari memainkan borgol yang sudah terkunci itu.


"Apa sih yang nggak buat kamu?" Dirga menatap Michelle dengan tatapan tajam.


"Udah ah main-mainnya buka nih borgol! Aku cinta sama kamu, gak mungkin aku jatuh cinta sama laki-laki lain sementara aku punya kamu yang lebih segalanya," ucap Michelle dengan tatapan mata yang dalam.


"Serius?" tanya Dirga.


"Iya, kalau gak percaya tanya saja sama hatimu."


"Kok hatiku?"


"Karena hatimu yang tahu seberapa besarnya aku mencintaimu."


"Laki-laki itu gimana?" tanya Dirga.


"Dia bukan apa-apa tadi aku cuma bercanda."


"Jujur aku cemburu," ucap Dirga.


"Memang itu tujuanku, aku ingin membuat kamu cemburu." Michelle tersenyum jahil.


"Mana kuncinya?" ucap Dirga yang ingin menyudahi candaan mereka.


"Aku gak tahu. Aku pikir kamu tahu," ucap Michelle.


"Serius kamu? Aku juga gak tahu kuncinya dimana," ucap Dirga.


**********


Di kediaman Athalia.


Saat ini El sedang bersantai di depan rumahnya. Dia duduk di kursi yang ada di teras rumahnya sambil menikmati udara sejuk malam itu.

__ADS_1


"Mbak, Ussy pulang dulu ya," ucap Ussy yang baru akan pulang setelah bekerja di rumah itu.


"Kamu gak mau nginap saja di sini?" tanya El.


"Ada anak yang sedang tidak enak badan jadi, Ussy gak bisa menginap di sini karena harus mengurus anak itu," jelas Ussy.


"Kalau gitu besok gak usah kerja dulu, urus saja anak yang sakit itu," ucap El.


"Semoga malam ini sudah membaik. Ussy permisi, Mbak."


El hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan Ussy.


**********


Di kediaman Aby.


Saat Aby sedang berkumpul di ruang keluarga. Mawar lebih memilih diam di dalam kamarnya, entah apa yang dilakukannya? Tak seorang pun mengetahuinya.


"Mawar sedang apa? Dari tadi dia gak keluar kamar," ucap Pak Ija.


"Mungkin dia lelah jadi, dia istirahat lebih awal," ucap Aby.


"Seharian dia ngurus anak-anak, wajar saja dia kelelahan," ucap Bu Ratna.


"Aku sudah berusaha membantu mengurus anak-anak tapi Mawar ingin melakukan semuanya sendiri," ucap Marisa.


"Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Asal dia bahagia semua akan aman," ucap Pak Mahendra.


**********


Di kediaman Mitha.


Malam hari Michelle merasa kehausan dan akhirnya dia harus keluar kamarnya untuk mengambil air minum.


"Ya ampun, kalian kenapa diborgol gitu? Kapan ada polisi ke sini dan kenapa mereka memborgol kalian?" ucap Roger.


Michelle dan Dirga menoleh menatap ke arah suara dan mereka langsung tersenyum geli.


"Gak tahu nih Dirga. Aku diborgol gini mungkin biar gak kabur," ucap Michelle.


Michaela tertawa melihat kelakuan Michelle dan Dirga.


"Kalian ada-ada aja. Udah malam, bercandanya besok lagi aja," ucap Michaela.


"Tahu nih gimana bukanya, kuncinya gak ada," ucap Michelle lagi sedangkan Dirga hanya tersenyum karena merasa dirinya konyol.


"Dasar konyol. Terus kalian mau apa dengan tangan yang seperti itu? Lagian kalian aneh ngapain mainan borgol segala," ucap Roger.


"Ini kan mainan Michelle, aku pikir dia tahu dimana kuncinya," ucap Roger.


"Udah ah aku haus, mau minum dulu," ucap Michelle sembari melanjutkan langkahnya menuju dapur!


Roger dan Michaela saling menatap dan saling melempar senyuman.


"Anak muda emang suka gitu. Suka mengambil keputusan tanpa memikirkan resiko setelahnya," ucap Roger.


"Bisa awet muda kalau kita tetap tinggal di sini. Setiap hari ada aja kelakuan mereka yang bikin kita ketawa," ucap Michaela.


"Semoga saja mereka gak buru-buru pindah ke rumah mereka yang mereka dapat dari bosnya Dirga," ucap Roger.


"Semoga saja."


**********

__ADS_1


Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya, kini pagi mulai menyapa dunia sihar mentari sudah menyinari beberapa belahan dunia.


Pagi ini di kediaman Abymana.


"Selamat pagi semuanya," ucap Mawar pada semua keluarganya.


"Pagi, Sayang," ucap semua orang yang sudah berkumpul untuk sarapan.


"Aku mau pergi lebih awal karena ada meeting penting," ucap Aby.


"Pergilah, jangan kecewakan klien kamu," ucap Mawar.


"Jingga, hari ini Papa ada urusan di luar kamu urus kantor dengan baik ya," ucap Pak Mahendra pada Jingga.


"Baik, Pa," sahut Jingga.


"Papa mau kemana?" tanya Mawar dengan santainya. Disuapnya nasi yang sudah mengisi sendok makannya itu lalu dikunyahnya perlahan.


"Papa ada urusan bersama kawan lama. Kami akan bertemu di tempat dia kerja," jelas Pak Mahendra berbohong.


"Oh," ucap Mawar dengan hanya ber oh ria saja.


"Sayang, aku pergi ya," ucap Aby pada Mawar.


"Iya, Mas hati-hati," ucap Mawar sembari mencium punggung tangan Abymana.


Aby mencium kening Mawar lalu segera pergi meninggalkan rumah! Tak lupa sebelum itu ia menyempatkan diri untuk menyapa kedua anaknya yang ia cintai.


"Papa juga akan pergi." Mahendra langsung bangkit dari duduknya dan mulai bersiap untuk menemui Adi di tempat penyekapannya.


"Aku juga mau pergi," ucap Jingga.


Mereka semua pun mulai meningalkan meja makan dan memulai aktivitas masing-masing.


Mawar segera bersiap-siap, hari ini ia akan pergi mencari tahu apa yang seharusnya ia ketahui.


"Ma, Bu, aku titip Aditya dan Maira ya. Aku ada keperluan sebentar," ucap Mawar pada Bu Ratna dan Marisa.


"Jangan khawatir, kami akan menjaga mereka," ucap Bu Ratna.


Mawar tersenyum lalu mulai meninggalkan rumah.


"Mbak, mau saya antarkan?" tanya Joe.


"Tidak. Kalian jaga anak-anak saja," ucap Mawar sambil melenggang menghampiri motornya.


"Mbak! Jangan pergi naik motor," ucap Frans.


"Gak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Mawar lagi yang kini sudah menaiki motornya.


"Tapi, Mbak."


"Tenang saja. Aku kangen ngebut di jalan," ucap Mawar.


"Kamu sudah jadi ibu, jangan nakal di jalan," ucap Bu Ratna.


"Dari dulu aku gak pernah nakal, Bu," sahut Mawar lalu pergi.


Mawar mulai melajukan motornya menuju tempat yang belum ia ketahui.


"Aku harus tahu siapa yang akan ditemui oleh Papa. Tes DNA, Mama, aku dan Papa, sebenarnya ada apa ini?" batin Mawar sambil terus melajukan motornya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2