
Setelah kemarin hari akad pernikahan antara Jingga dan Frans, kini tibalah saatnya hari dimana resepsi pernikahan mereka akan dilangsungkan.
Pagi hari di kediaman Abymana.
Di rumah itu semua orang sudah sibuk. Mereka bersiap untuk pergi ke gedung resepsi yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Di sebuah kamar khusus untuk memake_up pengantin. Seorang perias pengantin itu sudah sibuk merias wajah Jingga sedangkan satu asistennya merias orang tua sang pengantin.
"Menang, saya juga harus dipakaikan bedak?" tanya Frans yang saat itu duduk sembari memperhatikan Jingga yang sedang dielus-elus dan dibelai-belai oleh seorang perias.
"Iya, Mas. Tenang saja, pakai bedak juga cuma sedikit, gak sampai seperti Mbaknya," sahut perias itu.
"Padahal saya sudah tampan walapun tanpa bedak," celetuk Frans.
"Masih tampan saya kemana-mana. Jangan ngelunjak jadi kakak ipar," ucap Aby yang saat itu sedang menimang baby Aditya.
"Iya. Tuan Muda jangan khawatir," sahut Frans.
"Aby aja kali ya, lebih enak didengar. Sekarang, kamu udah menjadi kakak ipar kita," ucap Mawar yang sedang mondar-mandir memilih pakaiannya.
"Pagi pakai baju yang mana dulu, Ma?" tanya Mawar pada Bu Marisa yang sedang didandani oleh asisten perias itu.
"Pakai warna silver dulu," jawab Bu Marisa.
"Mama Ratu dan keluarga Dirga udah tahu belum?" tanya Aby.
"Udah. Semalam udah meeting keluarga," sahut Bu Marisa.
*******
Di kediaman Pak Randy.
Di kamar Nasya.
"Sya! Ayo dong. Lama banget di kamar mandi," ucap Bu Ratu yang sudah bosan menunggu Nasya yang belum juga keluar dari kamar mandi padahal perias pengantinnya sudah menunggu Nasya sejak setengah jam lalu.
"Mama!" teriak Nasya dari dalam kamar mandi.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Bu Ratu.
"Perutku sakit," ucap Nasya sembari membuka pintu kamar mandi lalu berjalan menghampiri sang ibu.
"Kenapa, Nak. Perut kamu sakit kenapa?" tanya Bu Ratu penuh kekhawatiran.
"Dari semalam perutnya sakit. Aku udah ajak dia ke dokter tapi Nasya menolak," jelas Reza.
"Aku datang bulan, Ma. Kebiasaan deh setiap datang bulan selalu begini," ucap Nasya dengan nada kesal.
Nasya memang mempunyai masalah setiap dia kedatangan tamu bulanannya. Dia selalu merasa sakit pada bagian perut disetiap bulannya saat dirinya sedang datang bulan.
"Astaga. Dia datang bulan padahal aku belum melakukan malam pertama," batin Reza.
"Terus gimana? Kamu kuat gak mengikuti resepsi hari ini?" tanya Bu Ratu.
"Insyaallah aku kuat meski sedikit lemas tapi akan aku usahakan," ucap Nasya.
"Ya udah cepat ke kamar depan! Periasnya sudah menunggu," jelas Bu Ratu lalu segera pergi ke luar dari kamar Nasya.
Reza mendekati Nasya lalu membantunya berjalan. "Kamu ngapain datang bulan, sih? Janjinya kita mau tempur setelah resepsi tapi kenapa kamu datang bulan. Aku jadi gak bisa masuk karena banjir darah," ucap Reza sambil terus merangkul punggung Nasya dari samping.
Ya, mereka sah menikah pada tanggal sepuluh bulan ini dan hari ini tanggal dua puluh enam, tepatnya hari resepsi pernikahan mereka. Nasya terlalu takut hingga mereka menunda malam pertama sampai enam belas hari lamanya. Selama itu pula Reza bersabar menunggu karena katanya Nasya akan siap setelah resepsi pernikahan mereka selesai tapi apa yang terjadi hari ini sungguh sangat membuat Reza kecewa.
"Aku juga gak tahu kenapa aku datang bulan. Kalau bisa menolak, aku pasti menolak karena ini tamu yang suka datang tiba-tiba jadi, mau gak mau harus mau," ucap Nasya.
__ADS_1
"Puasa lagi deh. Berapa hari aku harus menunggu?" tanya Reza.
"Satu minggu sampai sepuluh hari," sahut Nasya.
"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim." Reza mengucap istighfar sebanyak beberapa kali mendengar perkataan Nasya. Dirinya sudah menunggu selama enam belas hari dan sekarang ditambah sepuluh hari lagi. Sungguh penantian yang luar biasa untuk seorang laki-laki seperti Reza.
"Kenapa? Kayak lihat setan aja," ucap Nasya.
"Enam belas ditambah sepuluh sama dengan dua puluh enam. Mau digenapin tiga puluh hari gak tuh? Terlanjur nunggu lama," ucap Reza hingga tak terasa akhirnya mereka tiba di kamar depan tempat Nasya akan dirias.
"Gak lama, kok, Mas. Untuk merias Mbak Nasya paling tiga puluh menit," ucap perias itu yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Nasya dan Reza.
Nasya tertawa kecil mendengar perkataan perias itu. Dia menatap Reza lalu mengusap dada Reza yang seksi. Sebuah senyuman manis dia suguhkan untuk Reza yang terlihat cemberut.
"Sabar," bisik Nasya lalu dia duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya.
*******
Di kediaman Bu Athalia.
"Wah, istriku cantik sekali," ucap Fredy sembari menatap El yang sudah selesai dirias dan sudah menggunakan gaun pengantin berwarna silver.
"Suamiku juga tampan," sahut El dengan mengukir senyuman di bibirnya.
"Udah siap semuanya ya? Kita tinggal berangkat ke gedung resepsi," ucap Dirga.
"Udah semua," ucap Bu Athalia.
"Bu besan, Anda sudah siap 'kan?" tanya Bu Athalia pada Bu Haris.
"Sudah. Kita bisa pergi sekarang," jawab Bu Athalia.
Mereka semua pun berjalan ke luar rumah untuk segera meluncur ke gedung resepsi pernikahan El dan Fredy. Bu Athalia dan Bu Haris berjalan paling belakang sedangkan Dirga dan Michelle sudah ke luar lebih dahulu.
Fredy tersenyum tipis lalu tanpa berkata-kata, dia memangku tubuh El dan membawanya ke luar dari rumah dan langsung menuju mobil mereka. El hanya diam, awalnya dia terkejut tapi dia langsung tenang setelah tahu ternyata suaminya yang memangku tubuhnya.
"Anak-anak zaman sekarang beda ya, Bu dengan kita dulu," ucap Bu Haris sembari menatap Fredy dan El yang begitu romantis.
"Iya, Bu. Dulu kita, mana ada seperti mereka. Bawaannya malu sama keluarga," jawab Bu Athalia.
"Gayanya, bikin orang jomblo ketar-ketir," ucap Ussy yang sudah berada di depan mobil.
"Kalau iri ikutin, dong," ucap El yang masih berada dalam pangkuan Fredy.
"Ini lagi yang dibahas. Ussy mau jadi dokter dulu baru nikah," sahut Ussy sembari membukakan pintu mobil untuk El dan Fredy.
Fredy langsung memasukkan El ke dalam mobil setelah itu baru dirinya menyusul El ke dalam mobil. Seorang sopir sudah siap mengemudi untuk mengantarkan pengantin itu ke gedung resepsi.
"Sy! Kamu di mobil Fredy aja, duduk di depan di samping sopir jangan coba ganggu mereka yang lagi bucin-bucinya," ucap Dirga pada Ussy.
"Siap, Pak Bos." Ussy pun langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Mama yang cantik-cantik kayak bidadari ikut kita," ucap Dirga pada Bu Athalia dan Bu Haris.
"Oke, Pangeran ku yang tampan," ucap Bu Athalia.
Bu Athalia dan Bu Haris pun masuk ke dalam mobil milik Dirga. Mereka duduk fi bangku belakang sedangkan Michelle duduk di depan di samping Dirga. Mereka pun langsung melaju menuju gedung resepsi pernikahan tiga pengantin sekaligus.
*******
Di gedung resepsi.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh. Tiga pengantin itu masih sibuk melayani tamu-tamu undangan yang memberikan selamat dan doa untuk mereka. Mereka masih terlihat segar dan masih bersemangat hanya Nasya saja yang kurang bertenaga karena memang dia sedang bermasalah.
Acara hari ini begitu meriah dan penuh kebahagiaan. Salman datang bersama Alena sedangkan Joe dan Ussy sedang sibuk berduaan. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh tiga pasang pengantin yang sedang tertawa ria di atas pelaminan.
Para orang tua pun tersenyum bahagia melihat anak-anaknya bahagia. Mereka menjadi merasa memiliki ikatan yang semakin kuat setelah anak-anak mereka menikah. Bu Marisa terlihat berbunga-bunga di hari ini, bagaimana tidak. Sebelumnya dia sangat ketakutan kalau anaknya tidak akan ada yang menikahi karena keadaannya yang sudah tak utuh.
Sementara itu, di atas pelaminan. Setelah tamu undangan tidak ada lagi yang mengucapkan selamat dan doa untuk mereka. Nasya segera duduk di kursi karena dirinya sudah tak tahan merasakan sakit di perutnya.
"Kamu masih kuat? Atau mau istirahat saja dulu di kamar?" tanya Reza yang khawatir pada Nasya.
"Gak usah. Aku hanya sedikit sakit, aku udah biasa, kok kayak gini," sahut Nasya.
"Nasya kenapa?" tanya Jingga.
"Kenapa, kamu? Baru setengah hari udah letoy aja," ucap El.
"Dia lagi datang bulan dan katanya sakit perutnya," jelas Reza.
"Haha! Kasian banget kamu, baru nikah betapa hari udah datang bulan aja," goda Fredy.
"Ngapain datang bulan coba. Kamu gak kasian sama Reza?" ucap El pada Nasya.
"Gimana lagi, bukan inginku," sahut Nasya.
"Dia emang gak kasian sama aku," ucap Reza.
"Gak jadi dong, kita balapan nanti malam?" ucap El.
"Gayanya ngomong gitu padahal sering meringis," ucap Fredy.
Frans dan Jingga hanya tersenyum mendengar perkataan Fredy yang terbilang membongkar rahasia pribadi. Mereka berdua melakukan malam pertama dengan lancar tanpa adanya drama sedikit pun meski Jingga masih merasa sedikit kesakitan tapi dia enjoy aja malam itu.
"Nasya gak pernah meringis atau menjerit selama ini," ucap Reza.
"Hebat banget. Emang gak sakit?" tanya El.
Nasya hanya diam sembari nyengir hingga menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih. Dia memang belum merasakan hantaman ular kasur milik Reza.
"Gimana mau merasakan sakit, orang sampai sekarang dia belum blong. Dia masih tersegel rapi," jelas Reza.
"Apa!" Dua pasang pengantin itu terkejut mendengar perkataan Reza. Suara mereka yang keras membuka para orang tua ikut terkejut.
Para orang tua berjalan menghampiri tiga pengantin itu karena penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka juga takut ada berita buruk yang mereka terima.
––––– ––––
Seharian penuh mereka melangsungkan resepsi pernikahan itu. Kini malam sudah tiba, para tamu undangan pun sudah berangsur-angsur meninggalkan gedung itu dan kini hanya menyisakan orang-orang terdekat saja. Acara hari ini sudah selesai, mereka tinggal pulang dan beristirahat dengan tenang dan nyenyak.
"Akhirnya hari yang melelahkan ini selesai juga," ucap Frans.
"Kita bisa istirahat ya, setelah ini," ucap Jingga.
"Istirahat-istirahat aja padahal nanti ada yang merayap," celetuk Salman.
"Woy masih lajang, woy," ucap Joe pada Salman.
"Apa maksud kamu?" ucap Salman pada Joe.
"Apa maksud kamu?" Joe bertanya balik pada Salman.
"Ih, pada gak jelas nih anak dua," ucap Fredy.
__ADS_1
"Mereka emang gak jelas. Diantara kita bertiga, cuma saya yang jelas. Jelas tampannya, jelas gagahnya dan jelas orangnya tentunya," ucap Frans lalu mereka semua tertawa bersama.
Bersambung