Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 82


__ADS_3

Setelah beberapa menit, Nasya kembali dengan membawa jaket miliknya yang tadi ia tinggalkan di mobilnya!


"Nih, pakai ini aja." Nasya memberikan jaket jeans miliknya pada Dirga.


"Gak bakalan muat di badan aku. Badan kamu kan kecil," ucap Dirga.


"Jangan dipakai, tutup gini aja." Nasya menyampirkan jaketnya dipundak Dirga agar bisa menutupi bagian yang berdarah pada area dada Dirga.


"Kita pulang aja langsung," ucap Nasya lagi.


"Ke rumah orang tuanya Mawar," ucap Dirga.


Nasya terdiam dalam hati yang dipenuhi pertanyaannya. Setahunya orang tuanya Mawar adalah Pak Mahendra dan Bu Marisa dan mereka tinggal di kota bukan di kampung itu.


"Kamu gak tahu ceritanya, makanya bingung. Udah ayo ikut aku." Dirga meraih tangan Nasya lalu menariknya membawanya menghampiri Aby dan yang lainnya.


Setelah mereka pergi, Michelle keluar dari persembunyiannya dan menatap kepergian Dirga dan Nasya.


"Semoga dia tidak apa-apa ... Mas ganteng," batin Michelle.


Michelle tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Ia mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan untuk Randy.


[Temui saya di sini, di balik semak dekat batu besar yang ada di sebelah utara dari sana.]


Setelah mengirim pesan, Michelle langsung kembali ke tempat persembunyiannya.


Di tempat Mawar dan yang lain berkumpul.


Setelah membaca pesan dari Michelle, Randy pun langsung beralasan agar dapat menemui Michelle.


"Kalian kalau mau pulang, pulang duluan aja ya. Papa kebelet, mau buang air kecil di balik semak itu," ucap Randy.


"Jangan lama, Pa," ucap Ratu.


Randy terus berjalan tanpa menjawab lagi perkataan sang istri.


"Nanti pembangunannya yang diutamakan WC dulu ya, By biar gak kayak Papa tuh, masa buang air sembarangan," ucap Ratu pada Abymana.


"Siap, Ma lagian tanpa disuruh juga nanti para pekerja udah ngerti sendiri, WC kan kebutuhan mereka juga," ucap Aby.


"Tuan Muda, saya pulang duluan ya," ucap Dirga.


"Kenapa? Kamu lelah?" Aby menatap Dirga yang berdiri dibelakang Ratu.


Dirga membuka sedikit jaket yang menutupi darah itu agar Aby melihatnya.


"Eem, ya udah kamu duluan aja biar Mama sama Papa aku yang menunggu di sini," ucap Aby.


"Taufik! Fik tolong antar Dirga pulang," ucap Aby pada Taufik.

__ADS_1


Taufik langsung berjalan ke arah mobilnya diparkiran!


"Mawar, kamu pulang duluan deh sama Dirga ya," ucap Aby pada Mawar.


Aby sedikit merasa panik sekaligus khawatir melihat luka Dirga yang berdarah, di sana tidak ada puskesmas ataupun klinik kesehatan yang membuat luka yang diderita Dirga membutuhkan waktu lama untuk sembuh.


Mawar mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan perintah Aby, jika tadi dia sangat cemburu melihat dirinya bersama Dirga, mengapa saat itu Aby menyuruhnya pergi bersama Dirga.


"Luka Dirga, berdarah lagi tolong obati, jangan sampai Mama dan Papa tahu karena mereka akan panik dan ketakutan nanti," bisik Aby di telinga Mawar.


Mawar tersenyum tipis untuk menyembunyikan keterkejutan nya dari Ratu dan orang-orang lainnya.


Di tempat lain.


"Ini adalah orang yang selalu menghalangi orang-orang, Anda untuk melakukan pembangunan di sini," ucap Michelle sembari memperlihatkan foto Roger yang ada dalam ponselnya.


"Siapa dia? Saya tidak mengenalnya?" ucap Randy setelah melihat foto Roger.


"Dari hasil penyelidikan saya, saya rasa orang ini memiliki dendam terhadap keluarga, Anda terutama Anda sendiri," jelas Michelle.


"Dendam ...." Randy menggantung ucapannya mencoba mengingat apakah dirinya pernah mempunyai masalah dengan orang lain.


"Tapi dendam apa? Seingat saya, saya tidak pernah mempunyai masalah atau pun musuh," ucap Randy yang dipenuhi rasa penasaran.


"Saya tidak tahu karena saya belum menyelidiki ini lebih lanjut."


"Kalau gitu, saya ingin bertemu dia secara langsung. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik jika memang ada masalah diantara kami."


"Siapa dia?" Randy terlihat berpikir keras untuk dapat mengingatnya.


"Sebaiknya, Anda pulang sekarang biar saya yang mengurus dia di sini selain itu saya juga perlu menyelidiki dia lebih lanjut lagi agar tidak ada kesalahpahaman diantara, Anda dan dia, bisa jadi semua terjadi karena kesalahpahaman," ucap Michelle.


"Kamu benar. Michelle, saya tidak ingin kamu sampai menghabisi nyawanya," ucap Randy. "Meski apapun yang terjadi," sambungnya.


"Saya tidak pernah mengotori tangan saya dengan membunuh orang. Anda tidak usah khawatir untuk itu."


*******


Di kota.


"Lama-lama, Aby susah untuk didapatkan. Apa dia udah jatuh cinta sama si anak kampung itu?" gumam Jingga.


"Nggak-nggak." Jingga menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Ini gak boleh terjadi, pokoknya aku harus merebut Aby, lagi," sambung Jingga.


Di kamarnya, Jingga tak berhenti memikirkan tentang Aby yang kini sangat sulit untuk dihubungi, Jingga mulai takut, takut tak dapat merebut Aby dari Mawar, biar bagaimanapun dirinya pernah mengecewakan Aby, dan sangat melukai hatinya, bisa saja Aby sedang berusaha mengobati lukanya dengan cara membuka hati untuk Mawar.


"Mawar datang ke sini karena dipaksa berarti dia harus kembali ke asalnya dengan cara dipaksa. Aku akan membayar siapapun yang dapat menyingkirkan dia dari kehidupan, Aby." Jingga terus bicara sendiri di dalam kamarnya itu.


*********

__ADS_1


"Eh ada yang tahu nomor handphone nya Mawar gak ya?" tanya Galaxi pada teman-temannya.


"Gak tahu lah, lu pikir kita berani deketin cewek yang lu suka," ucap temannya Galaxi.


"Kali aja lu pada dapat dari temannya yang dekat dengan Mawar," ucap Galaxi lagi.


Mendengar Galaxi, yang terus membicarakan Mawar bahkan sampai menanyakan siapa yang punya nomor handphone Mawar, membuat Yura kesal dan tak sabar ingin menyingkirkan Mawar jauh-jauh dari lingkungannya.


"Ada apa, bete banget?" tanya Mia saat melihat Yura cemberut sembari menatap ke arah Galaxi dan teman-temannya.


"Galaxi sampai berusaha banget buat dapetin nomor handphone nya Mawar. Gue di sini, dari dulu selalu memujanya tapi apa ... sedikitpun dia gak pernah melirik gue," ucap Yura yang diselimuti rasa cemburu.


"Kehadiran Mawar memang sangat mengganggu kita, lihat saja sekarang anak-anak tidak ada lagi yang mau diperbudak oleh kita. Mereka tidak takut lagi dengan kita bahkan si Sherin yang culun itu sudah tidak takut lagi pada kita," ucap Ghina.


"Anak itu harus cepat-cepat disingkirkan," gumam Yura.


"Gimana kalau lo minta bokap lo bicara pada Rektor dan memintanya mengeluarkan Mawar dari kampus. Bokap lo punya kekuasaan tinggi selain itu juga Bokap lo orang yang sangat disegani oleh semua orang pastinya Rektor kampus juga segan pada bokap lo," ucap Mia.


"Gila lo ya, yang ada nanti nama bokap gue jadi rusak gara-gara ini," ucap Yura.


Ide dari Mia itu memang bodoh tidak mungkin Yura mau mempertaruhkan kehormatan keluarganya.


**********


Di kampung.


"Kenapa bisa berdarah lagi?" ucap Mawar sembari terus mengobati luka Dirga dengan obat tradisional yang dibuat oleh Bapaknya.


"Maaf, aku tidak tahu kalau, Mas ganteng terluka tadi aku memukulnya," ucap Nasya.


"Tuh tersangkanya sudah mengakui kesalahannya tinggal diputuskan dia akan dihukum apa," ucap Dirga.


"Aku kan sudah minta maaf," ucap Nasya.


"Sebentar lagi Abymana dan juga Mama, Papanya datang. Mereka tidak boleh tahu ini," ucap Mawar.


Tak lama Mawar pun selesai dengan tugasnya. Luka Dirga sudah dibalut oleh perban dan sudah tertutup rapi dengan bajunya.


"Aku takut kalian kenapa-kepa, ayo pulang saja hari ini bersama kami," ucap Nasya.


"Gak bisa, kami masih ada urusan sedikit lagi dan lagi kakakmu belum berbulan madu di sini. Mereka selalu saja terganggu," ucap Dirga.


"Hiis! Kamu ini." Mawar memukul lengan Dirga dengan baju Dirga yang kotor.


"Kakak, kamu sudah mencetak keponakan untuk aku kan, jangan bilang kalau belum karena aku akan melaporkannya pada Mama nanti," ucap Nasya.


"Anak kecil, jangan bicara dewasa," ucap Mawar.


"Delapan belas tahun, aku rasa aku sudah cukup mengerti untuk itu semua," ucap Nasya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2