
"Kamu jangan membangunkan dia yang sedang tidur," ucap Aby saat merasakan gesekan bibir Mawar dan merasakan hembusan napas Mawar pada bagian dadanya.
"Kamu wangi sekali, Mas. Aku suka wangi keringat kamu," sahut Mawar.
Aby mengerutkan dahinya lalu tersenyum tipis.
"Pantas akhir-akhir ini sukanya nempel terus ternyata kamu suka aroma tubuh aku yang belum mandi ini," ucap Aby.
"Aku gak tahu kenapa aku jadi suka padahal biasanya aku gak mau kalau kamu belum mandi."
"Mungkin sekarang aku berubah menjadi lebih ganteng dari sebelumnya?"
"Bukan gitu. Tiap hari kamu ganteng maksimal untukku," ucap Mawar.
Aby tersenyum lagi, kali ini dia mencengkram bagian punggung baju Mawar sesaat sedang menahan sesuatu yang meronta ingin masuk sarangnya.
"Mas," ucap Mawar.
"Sayang, udah ya aku mau mandi," ucap Aby karena mulai tak tahan.
"Kenapa?"
"Kamu masih lemas dan baru aja merasa sakit dan pusing dikepala kamu," ucap Aby.
"Maksud kamu apa?" tanya Mawar yang tak mengerti dengan perkataan Aby.
"Sudah kubilang kamu membangunkan dia yang sedang tidur."
Mawar tersenyum lalu menggulir tubuhnya menjadi membelakangi Aby! "Maaf," ucapnya.
"Boleh aku mandi sekarang?" tanya Aby.
"Mmm." Mawar menganggukkan kepalanya, "tapi jangan lama-lama," sambungnya.
"Oke, sayang." Aby duduk dan menjuntaikan kakinya ke bawah tempat tidur dengan tangannya yang menggenggam kuat sesuatu miliknya yang sedang meronta ingin memuntahkan sesuatu di dalamnya.
Sebenarnya Mawar tidak pernah menolak saat dirinya menginginkannya tapi saat ini dirinya tak tega dengan kondisi sang istri yang sedang merasakan beberapa keluhan dalam dirinya.
Beberapa detik kemudian, Aby langsung bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi! Mawar hanya diam sembari menatap sang suami.
"Kenapa kamu tidak melakukannya saja sekalian, Mas? Apa tadi siang kamu melakukannya sama Jingga? Yang aku tahu Jingga akan memberikan apapun demi masuk lagi ke kehidupan kamu," batin Mawar setelah Aby memasuki kamar mandi.
Entah mengapa tiba-tiba Mawar teringat dengan Aby dan Jingga yang diam-diam bertemu di belakangnya.
Mawar duduk di atas tempat tidurnya dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
__ADS_1
"Gak mungkin, itu gak mungkin. Mas Aby adalah laki-laki yang baik yang tidak akan menyakiti perasaan istrinya, sekarang Mas Aby sudah sangat mencintai dan menyayangimu aku," batin Mawar lagi.
**********
"Hai Michelle, Assalamu'alaikum," ucap Dirga saat tiba di sebuah kafe dan sudah ada Michelle yang sedang menunggunya.
"Waalaikumsalam." Michelle tersenyum ke arah Dirga dan segera mempersilahkan Dirga untuk duduk.
"Udah nunggu lama ya?" tanya Dirga.
"Nggak, aku juga baru tiba. Belum memesan apa-apa."
"Oh, oke. Mau pesan apa? Sebelum pacaran pesan makanan dan minuman dulu biar pacarannya gak membosankan," ucap Dirga.
"Emang kita ke sini mau pacaran?"
"Kamu pikir mau apa? Aku gak bisa berantem sama kamu di sini," ucap Dirga lagi.
"Kenapa?" tanya Michelle yang menanggapi candaan Dirga.
"Karena aku bisanya berantem di dalam kamar dan di atas tempat tidur dalam keadaan t-e-l-a-n-j-a-n-g," ucap Dirga dengan mengeja kata terakhirnya.
"Bisa ya kamu bicara seperti ini? Nakal juga untuk ukuran usia kamu sekarang."
"Hah, nakal?" Dirga menatap Michelle, "memangnya aku apain kamu sampai kamu bilang aku nakal?" sambung Dirga.
*********
Di kediaman Mahendra.
"Papa lagi ngapain tumben masih di ruang kerja?" ucap Marisa.
"Papa masih ada pekerjaan yang belum selesai kalau Mama sudah mengantuk tidur duluan saja," ucap Mahendra.
"Mama belum mengantuk, Pa." Marisa duduk di kursi yang ada di sudut ruangan itu.
"Uang belanja sudah menipis Pa, Mama gak tahu cukup untuk dua minggu ke depan atau tidak," sambung Marisa.
Mahendra yang awalnya terus fokus pada laptopnya kini mengalihkan tatapannya pada sang istri.
"Papa bilang cukupkan uang itu untuk satu bulan, kenapa tidak cukup?" tanya Mahendra.
"Gimana lagi, Jingga minta uang jajan lebih besar daripada pengeluaran belanja perhari."
"Jangan dituruti dong, Ma. Mama tahu kan sekarang kita sedang dalam masa hukuman."
__ADS_1
"Lagian ngapain sih si Mawar itu tidak menggaji Papa padahal yang udah biarin aja berlalu tanpa harus diganti toh Abymana juga gak tahu kalau kita mencurangi dia."
"Sekarang mungkin gak tahu bagaimana kalau suatu saat dia tahu? Bisa masuk penjara kita," ucap Mahendra.
"Apa salahnya Pa, kita kerasin Mawar lagi biar dia, mau menggaji Papa lagi, lagian anak itu tidak mungkin berbuat apa-apa terhadap kita toh anak itu lemah," ucap Marisa yang tak tahu Mawar yang sebenarnya.
Marisa dan keluarganya memang tidak tahu bahwa Mawar tidak sama dengan perempuan pada umumnya karena Mawar tidak pernah menggunakan kemampuannya yang luar biasa untuk melawan mereka.
Bukan karena takut, Mawar melakukan itu semua karena di hatinya masih ada rasa sayang dan kasih terhadap keluarganya itu.
Mawar berharap suatu saat mereka akan menyadari kesalahannya dan meminta maaf padanya.
"Ma, jangan lakukan apa pun terhadap Mawar. Mungkin dengan cara ini dia merasa bahagia, biarkan Mawar menjalani hidup seperti yang dia mau, biarkan dia bahagia setelah sekian lama kita sia-siakan dia."
"Justru itu kita harus lebih tegas lagi pada Mawar. Bisa saja dia ingin membalas dendam pada kita karena kita sudah membuang Mawar."
"Bukan kita tapi kamu. Kamu yang bersikukuh ingin membuang Mawar, bukan aku."
Marisa terdiam dan tak punya kata-kata lagi untuk menjawab perkataan sang suami. Dahulu memang dirinyalah yang tak menginginkan Mawar dan memaksa sang suami untuk membuang Mawar.
********
"Mawar! Mawar sayang!" seru Aby karena tak melihat Mawar di dalam kamarnya.
Aby yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan menghampiri lemari pakaiannya dan langsung mengambil sembarangan baju yang ada pada tumpukan paling atas lalu segera memakainya!
Melihat kamarnya kosong, Aby langsung khawatir pada Mawar. Dalam keadaan sang istri yang menurutnya kurang fit membuat Aby takut Mawar kenapa-kenapa saat menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai utama rumahnya.
Setelah selesai berpakaian, Aby langsung berjalan cepat untuk mencari sang istri!
"Sayang kamu sedang apa di dapur?" tanya Aby.
"Bikin makanan. Kamu belum makan," sahut Mawar.
"Sini-sini," Aby merebut sodet pengaduk makanan dalam penggorengan itu dari tangan Mawar! "Biar aku saja yang melanjutkan, kamu duduk aja di sana," ucap Aby.
"Mas kamu kenapa sih?"
"Aku baik-baik saja sayang, aku cuma melakukan yang terbaik untuk kamu dan calon anak kita. Yang aku tahu orang hamil gak boleh terlalu banyak gerak dan kecapekan jadi kamu diam saja di sana ya."
"Ya ampun, Mas, aku baik-baik saja."
"Aku tahu kamu baik-baik saja lagian kalau pun merasa kesakitan kamu gak akan pernah bilang sama aku," ucap Aby.
Sementara itu Mawar hanya diam dan tak berpikir untuk berubah lagi, dia hanya bisa menuruti perkataan sang suami.
__ADS_1
Bersambung