Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 81


__ADS_3

Setelah tadi mereka memulai acara dengan doa, kini mereka kembali menutup acara peresmian pembangunan pabrik itu dengan doa lagi dan diakhiri dengan makan bersama di sana.


Dari sebelum subuh memang Mawar dengan dibantu oleh orang-orang rumahnya, sudah sibuk memasak untuk acara hari ini, selain Mawar dan ibunya ada beberapa tetangga yang turut membantu Mawar dan ibunya untuk memasak salah satunya adalah orang tuanya Taufik.


Mereka pun menikmati hidangan yang disiapkan oleh keluarga Mawar secara bersama-sama.


"Semoga dengan adanya pabrik di sini bisa membantu perekonomian warga," ucap Pak Lurah pada Pak Randy dan Abymana.


"Amin, semoga saja ya, Pak. Kami akan merasa bahagia jika bisa membantu mengembangkan perekonomian warga di sini, tentunya dengan bantuan, Pak Lurah," ucap Randy.


"InsyaAllah saya pasti akan membantu selama saya mampu. Saya gak nyangka di kampung ini akan ada pengusaha yang mau membangun perusahaan di sini," ucap Pak Lurah lagi.


"Terimakasih, Pak."


"Saya dengar, Nak Abymana ini suaminya Mawar ya?" tanya Pak Lurah pada Aby.


Aby tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya tapi sedetik kemudian dia mendongak menatap Pak Lurah.


"Iya, Pak hanya saja kami tidak membuat pesta di sini. Saya menikahi Mawar di kota tempat kami tinggal," jelas Aby.


"Oh seperti itu rupanya. Sebagai Lurah di sini saya tahu dan kenal pada warga saya tapi sebelumnya saya tidak mendengar dan tidak ada yang memberitahu saya kalau Pak Ija menikahkan Mawar."


"Maaf Pak, bukannya kami tidak memberitahu, Bapak hanya saja kami ada sedikit maslah jadi tidak dapat mengadakan resepsi pernikahan di sini," ucap Aby lagi.


Tak ingin masalah keluarga terumbar kemana-mana, terpaksa Abymana harus berbohong pada Pak Lurah itu.


Di tempat lain.


"Mas ganteng, kamu sombong ya mentang-mentang kak Aby udah gak tinggal di rumah, Mas ganteng udah gak pernah ke rumah lagi," ucap Nasya pada Dirga.


"Ngapain aku ke rumah kalau kakak kamu udah gak tinggal di sana," ucap Dirga.


"Ya, ngapain kek. Temui aku misalnya," ucap Nasya dengan nada kesal.


Nasya berjalan sedikit lebih jauh dari kerumunan warga, dia berjalan menuju semak belukar yang tumbuh menjulang tinggi di sekitar tempat itu!


"Kamu mau kemana? Jangan pergi terlalu jauh, nanti ada hewan buas," ucap Dirga mengingatkan Nasya.


"Aku cuma mau melihat-lihat sekitar sini," sahut Nasya sembari terus berjalan!


Michelle melipir ke gundukan semak yang lain karena Nasya semakin mendekatinya!

__ADS_1


"Ngapain anak itu jalan ke sini? Aku gak boleh sampai ketahuan," batin Michelle sembari berpindah tempat.


"Semuanya hutan, gak ada pemandangan yang lain selain pepohonan dan rerumputan yang tumbuh liar," jelas Dirga.


"Mas ganteng, kapan kamu nikah? Ingat umur dong, masa udah mau tua belum nikah juga," ucap Nasya tanpa menatap Dirga yang berdiri dibelakangnya.


"Anak kecil nanya-nanya nikah. Gak ada pertanyaan lain apa?"


"Ada tapi aku maunya tanya itu," ucap Nasya.


"Nanti juga kalau udah ada jodohnya aku pasti nikah. Kamu jangan takut lagian tua nya juga baru mau berarti belum tua dong."


"Iya juga ya." Nasya menatap Dirga lalu nyengir kuda.


"Manggilnya mas ganteng, aku pikir kalian pacaran," batin Michelle yang bersembunyi di dekat mereka.


"Mas ganteng, cewek di panti itu cakep ya. Cocok kalau jadi kakak ipar aku," celetuk Nasya.


Entah kenapa tiba-tiba gadis itu teringat pada pertemuan pertamanya dengan Michelle di panti asuhan tempat Michelle tinggal. Meski dirinya tak sempat berkenalan apalagi mengobrol dengan Michelle tapi dirinya dapat melihat wajah Michelle yang cantik dan pastinya baik karena datang ke panti asuhan untuk melihat dan menyantuni anak-anak di sana.


"Cewek yang mana? Ngawur kamu," ucap Dirga yang lupa dengan orang yang dimaksud oleh Nasya.


"Tuh kan udah tua, lupa kan sama waktu yang sudah dilalui."


**********


"Bos, penyerangan nanti malam sudah siap. Kami sudah menemukan tempat Abymana menginap," ucap salah satu orangnya Roger.


"Dimana mereka tinggal?" tanya Roger.


"Di salah satu rumah warga tapi kami tidak mendapatkan informasi rumah siapa dan apakah mereka memiliki hubungan atau tidak."


"Tidak masalah, itu bukan urusan kita. Yang saya mau, Abymana atau istrinya tertangkap hidup-hidup," ucap Roger.


"Baik, Bos. Kami sudah menyiapkan senapan obat bius untuk nanti malam."


"Bagus. Jangan sampai gagal."


**********


Saat Dirga dan Nasya sedang bercanda, Nasya memukul dada Dirga karena memang sedari dulu dirinya senang memukul dada Dirga jika laki-laki itu menggodanya.

__ADS_1


Pukulan Nasya mengenai luka yang ada di dada Dirga hingga pemuda itu meringis kesakitan.


"Mas ganteng, kamu kenapa?" Nasya mulai panik dan berusaha bertanya apa yang terjadi pada Dirga.


"Gak apa, gak apa-apa," ucap Dirga sembari berusaha bersikap biasa saja.


"Aku cuma bercanda," sambung Dirga sembari menurunkan tangannya yang memegang dadanya yang terdapat luka itu.


"Astaga, darah." Nasya terkejut saat melihat darah segar membasahi baju yang dikenakan oleh Dirga.


"Ssst! Diam, jangan berteriak." Dirga menutup mulut Nasya agar teriakan gadis itu tidak terdengar oleh banyak orang terutama Randy dan Ratu karena kedua bosnya itu pasti akan sangat khawatir padanya.


"Mas ganteng kenapa?" tanya Nasya setelah sedikit tenang.


Merasa penasaran, Michelle mengintip mereka dan ia langsung melihat darah membanjiri kemeja Dirga.


"Luka kemarin, astaga bagaimana kalau nanti malam mereka menyerang. Dirga pasti belum bisa berkelahi," batin Michelle.


"Jangan pernah katakan ini pada Papa dan Mamamu ya," ucap Dirga pada Nasya.


Nasya mengangguk pelan sembari menurunkan tangan Dirga yang masih menutup mulutnya.


"Jadi kemarin ada sekelompok orang tak dikenal menghadang kami di jalan dan ini luka akibat bacokan senjata tajam milik mereka," jelas Dirga.


"Astaga, terus ini udah diobati belum? Bagaimana dengan kak Aby dan kak Mawar? Frans dan yang lainnya gimana?" Mengetahui hal itu membuat Nasya khawatir pada semua orang yang pergi bersama Dirga kemarin.


"Mereka baik-baik saja. Kamu tenang aja. Sekarang cari apa kek buat nutupin darah ini biar orang-orang juga gak pada penasaran dengan yang terjadi sama aku," ucap Dirga.


"Aduh, apa ya. Aku cari dulu deh, tunggu di sini sebentar." Nasya pun segera melangkah hendak pergi dari sana!


Di tempat lain yang masih satu wilayah dengan tempat itu.


Semua warga mulai meninggalkan tempat itu dan kini hanya menyisakan beberapa orang saja. Pak Lurah beserta orang-orang penting di desa itu juga sudah pergi sejak beberapa menit lalu.


"Pa, Ma, kalian mau langsung pulang atau mau menginap dulu?" tanya Aby.


"Langsung pulang aja," sahut Randy.


"Pak, Bu apa gak sebaiknya mampir dahulu ke rumah kami untuk beristirahat," ucap Ratna.


"Oh ya, pasti, Bu. Kami pasti mampir , mungkin maksud suami saya, kami tidak akan menginap karena banyak urusan di kota," ucap Ratu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2