Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 245


__ADS_3

"Lepasin!" El mendorong Fredy sampai Fredy mundur beberapa langkah.


"Sy, aku langsung pulang aja." El langsung berpamitan pada Ussy sambil berjalan memasuki mobilnya.


"El, Eliandra tunggu dulu!" Fredy menghalangi pintu mobil El agar El tidak bisa masuk ke dalam mobilnya.


"Kalau ada masalah lebih baik selesaikan secara baik-baik," ucap Ussy yang tidak tahu apa-apa.


"Aku gak mau ketemu sama kamu lagi. Anggap hubungan kita kemarin tidak pernah ada," ucap El pada Fredy.


"Aku sayang sama kamu, El, aku cinta sama kamu," ucap Fredy.


"Tapi aku sudah tidak mencintai kamu lagi," ucap El dengan suara tinggi.


"Aku tidak mau hubungan kita putus, aku punya harapan besar bersama kamu."


"Udahlah, Fredy lupakan semuanya," ucap El dengan air mata yang mulai meluncur dari pelupuknya.


Di sebrang jalan raya yang terdapat di depan panti itu. Reza dan Nasya memperhatikan Fredy dan El yang sedang bertengkar, sedari tadi mereka berdua memperhatikan Fredy dan El dari sana, mereka berharap hubungan El dan Fredy masih bisa dipertahankan.


"Aku mohon pergilah, Fredy. Aku butuh waktu untuk sendiri," ucap El dengan suara lirih.


"El, aku mohon–"


"Tolong, Fredy," ucap El lagi.


Fredy menyingkir dari depan pintu mobil El dan membiarkan El pergi!


El pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas!


"Kalian kenapa sih? Kok bisa begitu padahal baru jadian?" ucap Ussy.


Fredy tak menjawab pertanyaan Ussy, dia langsung memasuki mobilnya dan langsung mengejar Eliandra yang sudah mulai menjauh!


"Kasian Fredy," gumam Nasya.


"Karena masa lalu orang tua, Fredy harus kena imbasnya," sambung Nasya lagi.


"Fredy pemuda yang baik, aku yakin dia beneran cinta sama El. Kita harus membantu Fredy agar bisa kembali sama Eliandra," ucap Reza.


"Ya, aku akan bicara perlahan-lahan dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada El. Kasian Fredy," ucap Nasya lagi.


**********


Di kediaman Mitha.


Di kamar Michaela dan Roger.


Michaela duduk di tepi tempat tidurnya, terlihat dirinya seperti sedang memikirkan sesuatu yang entah apa itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Roger yang kala itu baru hendak masuk ke dalam kamar.


Roger berdiri di ambang pintu dan memperhatikan sang istri yang terlihat sedang melamun.


Michaela tak menyahut, dia masih terhanyut dalam lamunannya. Hal itu membuat Roger bergegas menghampiri sang istri!


Roger meraih pundak Michaela dan berhasil mengagetkan sang empunya!


"Astaghfirullah, Mas. Kamu bikin kaget saja," ucap Michaela.


"Dari tadi aku udah panggil-panggil kamu tapi kamu tidak menyahut juga. Apa yang sedang mengganggu pikiran kamu, hmm?" tanya Roger lagi.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja," sahut Michaela.


"Mau aku antar ke dokter?" Roger duduk di samping Michaela lalu meraih tangan sang istri dan menggenggamnya.


"Tidak usah palingan sebentar lagi juga sembuh," ucap Michaela.


"Kalau ada apa-apa, cerita sama aku jangan dipendam sendiri nanti kamu sakit," ucap Roger lagi.

__ADS_1


"Iya, Mas kalau ada apa-apa aku pasti cerita," sahut Michaela dengan senyum tipis di bibirnya.


********


Di rumah sakit tempat Mawar dirawat.


"Mas, katanya anak-anak mau ke sini? Kenapa belum tiba juga?" tanya Mawar pada Aby.


"Mungkin sedang di jalan," jelas Aby santai.


"Besok aku pulang ya," pinta Mawar pada sang suami.


"Nanti aku bicarakan dengan dokter ya," ucap Aby.


"Pastikan aku pulang besok, aku udah gak betah di sini," ucap Mawar.


"Pastikan kamu sembuh total dulu jangan sampai ada sesuatu yang terjadi yang tidak diinginkan oleh kita semua," ucap Dirga yang tiba-tiba muncul begitu saja dan langsung nimbrung pembicara mereka.


"Ga, ngapain kamu ke sini?" tanya Aby.


"Menurut Anda?" tanya Dirga sembari terus melangkah memasuki ruangan rawat itu!


"Dirga, aku harap kamu datang membawa mereka yang aku rindukan," ucap Mawar.


"Maaf, Mawar, aku tidak membawa siapa pun aku hanya datang untuk menjemput kamu dan bingkisan buah ini untuk kamu," ucap Dirga sembari memberikan parcel buah yang ia bawa pada Aby.


"Terima kasih," ucap Mawar.


"Assalamualaikum," ucap Bu Ratna dan Bu Marisa yang masing-masing menggendong baby Aditya dan Maira.


"Waalaikumsalam," sahut mereka semua yang ada di dalam ruangan itu.


"Tuh yang ditunggu-tunggu udah tiba," ucap Aby.


"Sayang! Cintaku, rinduku, belahan jiwaku," ucap Mawar sembari berusaha untuk duduk di atas ranjang rumah sakit itu.


Mawar langsung tersenyum gembira melihat kedatangan anak-anaknya.


"Aku udah gak sakit kok, Mas," ucap Mawar sembari menggerakkan tangannya untuk segera menggendong baby Aditya dan baby Maira!


"Mau gendong siapa dulu?" tanya Bu Ratna.


"Mereka berdua," ucap Mawar.


"Kamu masih sakit, luka di tangan kamu belum sepenuhnya sembuh. Gendong Maira dulu saja," ucap Bu Ratna sembari memberikan baby Maira ke dalam pangkuan Mawar.


"Jagoan Papa," ucap Aby sembari meraih baby Aditya dari pangkuan Bu Marisa.


"Doain biar Mama cepat sembuh biar bisa kumpul lagi di rumah," ucap Aby pada bayi mungil yang sedari tadi terus memperhatikannya itu.


Baby Aditya hanya tertawa riang mendengar sang ayah berbicara padanya, tangannya.


Dirga tersenyum sembari mengelus kepala baby Aditya!


"Semoga Michelle cepat hamil," batin Dirga.


********


El tiba di rumahnya, setelah memarkirkan mobilnya ia langsung berlari memasuki rumahnya dengan tanpa menghiraukan Fredy yang sedari tadi terus memanggil namanya.


El menutup pintu dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara berisik yang mengejutkan Athalia.


"Eliandra kamu kenapa?" tanya Athalia yang saat itu sedang asyik memainkan ponselnya.


El tidak menyahut, dia terus berlari memasuki kamarnya!


Di depan rumah mereka.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"El! Eliandra aku perlu bicara!" seru Fredy sembari terus mengetuk pintu.


"Fredy," ucap Michelle yang kebetulan berkunjung ke rumah ibu mertuanya itu.


Fredy menoleh menatap ke arah suara! "Michelle, sedang apa kamu di sini?" tanya Fredy.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," ucap Michelle dengan tenang.


"Ini rumah orang tua suamiku," sambung Michelle lagi.


"Jadi kamu kakak ipar nya El?" tanya Fredy.


"Aku cinta sama gadis itu tapi karena papaku, El menjadi membenciku dan tidak mau menemui aku lagi," jelas Fredy.


"Pulanglah, Fredy. Aku akan coba bicara dengannya lagipula itu masa lalu kan dan dilakukan oleh papa kamu bukan kamu," ucap Michelle.


"Aku harus bicara dengannya, aku tahu bahwa sebenarnya dia juga masih mencintai aku," ucap Fredy lagi.


"Kamu tunggu di sini, biar aku bujuk El agar mau bicara denganmu," ucap Michelle sembari membuka pintu dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, Ma," ucap Michelle sembari terus melangkah menghampiri sang ibu mertua!


"Waalaikumsalam," sahut Athalia.


Michelle langsung mencium punggung tangan Athalia lalu duduk di sampingnya.


"Jadi kamu yang mengetuk pintu," ucap Athalia.


"Bukan aku tapi Fredy. Dimana El?" ucap Michelle.


"Fredy? Kenapa tidak kamu ajak masuk?"


"Mereka sedang berantem. Ma, boleh aku bertemu dengan El?"


"Kayak anak kecil aja berantem. El ada di kamarnya," ucap Athalia.


Michelle segera bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju kamar El!


"El! Boleh kakak masuk?" tanya Michelle sembari mengetuk pintu kamar El.


Tidak ada jawaban dari El, Michelle pun membuka pintu itu dengan pelan dan ia langsung melihat El yang sedang menangis di tempat tidurnya.


"Ada apa El?" tanya Michelle sembari berjalan memasuki kamar El!


"Kak, tolong beri aku waktu untuk sendiri," ucap El tanpa menatap Michelle sedikit pun.


"Kenapa hmm? Sudah hampir satu minggu sejak kejadian itu tapi kamu masih menutup diri dan menghindar dari Fredy," ucap Michelle.


"Kak, aku–"


"Kalau berani mencintai harusnya kamu berani untuk menanggung resikonya. Jalanan saja tidak selamanya datar pasti ada turunan dan tanjakannya begitu juga kehidupan dalam percintaan, tidak selamanya cinta itu indah kadang cinta juga membawa luka dan kesedihan tapi yang terjadi pada kamu dan Fredy bukan duka cinta," ucap Michelle memotong perkataan El.


"Papanya Fredy seorang penjahat, Kak dia sudah melecehkan Bu Marisa kalau orang-orang tahu aku pasti malu dan kehormatan keluarga yang selama ini dijaga dengan baik oleh Mama dan kakak akan ternodai dengan adanya anak penjahat dalam keluarga kita," ucap El.


"Tidak, Eliandra, kamu terlalu berpikir jauh untuk itu. Semua itu hanya masa lalu lagipula tidak ada orang yang tahu bahwa dulu papanya pernah menodai Bu Marisa. Temui Fredy, El. Bicaralah padanya, kasian dia," ucap Michelle dengan suara lembut.


El tak menyahut, dia terus saja terdiam dalam posisi membelakangi Michelle.


"Lihatlah Fredy di sana, dia begitu mengharapkan dirimu," ucap Michelle lagi sembari menatap Fredy dari jendela kamar El.


Saat itu Fredy sedang duduk di tangga depan rumah mereka dengan raut wajah penuh pengharapan.


"Pemuda itu tulus padamu, El, kakak tahu sebenarnya kamu sangat mencintainya," sambung Michelle lagi.


El menoleh menatap Fredy yang sedang duduk di depan rumahnya, ada rasa sakit saat melihat laki-laki itu bersedih di sana tapi ia juga takut untuk memulai lagi kisah percintaan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2