Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 263


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul tujuh pagi. Michelle sudah tiba di rumah mewah milik Abymana, Michelle sengaja datang sepagi itu karena tahu telat sedikit saja Pak Mahendra pasti sudah pergi ke kantornya.


"Mbak Michelle, tumben pagi-pagi udah ada di sini?" tanya Joe.


"Saya mau ketemu Pak Mahendra. Apa beliau masih ada di rumah?" tanya Michelle.


Baru Michelle beratnya ternyata orang yang dicarinya ada di sana sedang berjalan menghampiri mereka.


"Ada perlu apa mencari saya?" tanya Pak Mahendra.


Pak Mahendra berjalan menghampiri Michelle yang saat itu sedang berdiri di depan pos penjagaan. Dia berjalan dengan menenteng tas kerjanya, ya saat itu Pak Mahendra sudah akan pergi ke kantornya.


"Ada yang ingin saya bicarakan pada Anda dan juga Bu Marisa. Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Michelle.


"Tentu saja. Mari masuki, kita bicara di dalam saja," ucap Pak Mahendra.


Pak Mahendra mulai berjalan memasuki rumah itu lagi dengan diikuti oleh Michelle di belakangnya. Mereka terus berjalan melewati ruangan demi ruangan yang ada di dalam rumah mewah itu untuk sampai di halaman belakang rumah itu.


"Michelle, pagi-pagi udah ke sini?" tanya Mawar yang melihat Michelle melewati ruang makan.


Michelle menghentikan langkahnya lalu menyapa sang pemilik rumah. "Pagi Mawar, Aby," ucapnya.


"Udah sarapan belum? Sarapan dulu mumpung aku dan Mawar masih di sini," ucap Aby.


"Tidak, terima kasih. Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan Pak Mahendra dan istrinya," jelas Michelle.


"Oh, ya sudah silahkan," ucap Aby lagi.


"Eum, Mawar kalau kamu udah selesai sarapan tolong temui aku. Aku juga perlu bicara padamu," ucap Michelle pada Mawar.


"Tentang apa?" tanya Mawar sambil menyuap makanannya.


"Nanti kamu akan tahu. Aku permisi," ucap Michelle lalu mulai melanjutkan langkahnya menuju rumah belakang untuk menemui Bu Marisa dan Pak Mahendra.


Setibanya di rumah panggung itu. Michelle duduk di depan rumah itu menunggu Bu Marisa keluar dari dalam rumahnya.


"Michelle, kamu sedang apa di sini?" tanya Jingga ya baru akan pergi bekerja.


"Dia ada urusan sedikit dengan Papa dan Mama, kamu pergi saja ke kantor," jelas Pak Mahendra.


"Papa dan Mama sedang tidak ada masalah 'kan, kenapa ada Michelle?" tanya Jingga.


Bukannya Jingga berprasangka buruk tapi dia tahu setiap ada Michelle pasti ada masalah yang mereka hadapi. Baginya Michelle bukanlah tamu sembarangan karena Michelle hanya akan datang untuk menyelesaikan suatu masalah. Entah itu masalah ringan atau pun berat, baginya Michelle adalah pakar penyelesaian dari masalah keluarga mereka.


"Tidak ada masalah apa-apa, aku hanya ingin bicara sebentar. Kamu jangan takut, aku tidak akan menyakiti orang tuamu," ucap Michelle.


"Aku tahu itu. Ya sudah aku pergi." Jingga pun langsung melangkah meninggalkan tempat itu.


Tak lama Bu Marisa keluar dari dalam rumah kayu itu dengan membawa secangkir teh hangat untuk Michelle. Dia meletakkan teh itu di samping Michelle lalu dia duduk di sana dan bergabung dengan Michelle dan Pak Mahendra.

__ADS_1


Dengan perasaan tak menentu dan penuh tanya, Bu Marisa menatap Michelle dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh pertanyaan.


"Saya datang untuk meminta sesuatu," ucap Michelle seolah tahu bahwa Bu Marisa sedang bertanya padanya.


"Minta apa?" tanya Pak Mahendra. Dia tahu bahwa yang diminta oleh Michelle bukanlah uang karena Michelle tidak mungkin meminta uang pada orang lain termasuk dirinya.


"Selama ini Haris sudah insyaf. Dia sudah menyesali semua perbuatannya sejak beberapa tahun belakangan–"


"Ada apa ini, kenapa membahas tentang dia?" tanya Bu Marisa memotong perkataan Michelle yang belum selesai.


Bu Marisa masih merasakan ketakutan yang luar biasa saat mendengar nama Haris disebutkan karena itulah dia tidak suka membicarakan laki-laki itu.


Meski kejadiannya sudah puluhan tahun yang lalu tapi Bu Marisa masih merasakan pedihnya diperlakukan tidak baik oleh Haris dan dua temannya. Sampai kini, Bu Marisa masih belum dapat melupakan kejadian itu.


"Michelle, tolong jangan bicarakan tentang dia di sini. Istri saya sangat ketakutan," ucap Pak Mahendra yang mulai melihat adanya ketakutan yang luar biasa dari seorang Marisa.


Dirinya mengerti bahwa yang dialami oleh sang istri di masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan, dirinya juga sangat memaklumi dengan apa yang dirasakan sang istri sekarang yang selalu merasa ketakutan meski tahu sekarang dia sudah aman dari orang-orang itu.


"Haris kritis. Sebenarnya sudah lama dia meminta saya untuk mempertemukan kalian dengannya tapi saya belum bisa karena saya tahu kalian tidak akan pernah mau datang ke kantor polisi untuk menemui penjahat itu," jelas Michelle.


"Kamu sudah tahu tapi kenapa sekarang kamu ke sini?" tanya Pak Mahendra.


"Sekarang ceritanya beda, Pak. Laki-laki itu sekarang sedang kritis, dia membutuhkan maaf dari kalian jika kalian masih memiliki sedikit saja rasa simpati tolong temui dia sebelumnya ajalnya tiba," ucap Michelle.


"Saya tidak mau, saya takut," ucap Bu Marisa.


"Tolong, Bu. Saya tahu Ibu sangat membencinya tapi apa salahnya memaafkan demi ketenangan jiwa Ibu juga. Toh meski Ibu dan Bapak sudah memaafkan Haris, dia akan tetap dipenjara itu pun kalau dia sembuh dari sakit yang dideritanya saat ini," jelas Michelle.


Bukan maksudnya ingin ikut campur urusan orang lain tapi dirinya takut, takut terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya. Mawar merasa dirinya sudah cukup menderita selama ini dan dia tidak ingin merasa kecewa lagi dengan adanya masalah yang orang tuanya sembunyikan dari dirinya.


"Mawar, tolonglah kamu datang juga untuk menjenguknya. Dia hanya ingin meminta maaf setelah itu semua terserah kalian tentang kalian mau memaafkan atau tidak, itu hak kalian setidaknya berikan dia kesempatan untuk meminta maaf. Kamu tahu 'kan Allah aja selalu mau memaafkan hambanya yang berdosa masa kita sebagai umatnya tidak mau memaafkan sesama umatnya," ucap Michelle dengan tatapan yang terus tertuju pada Mawar.


"Kalau Mama sama Papa mau ke sana silahkan saja. Aku sudah memaafkannya tapi aku tidak mau menemuinya," ucap Mawar sembari pergi meninggalkan mereka.


Michelle dan kedua orang tua Mawar itu hanya diam sembari menatap kepergian Mawar. Tak ada yang berani berucap apa pun apa lagi mencegah Mawar untuk tidak pergi, mereka tahu Mawar perlu berpikir untuk menemui Haris, pasalnya Mawar yang sedikit pendendam bisa saja dia benar-benar menjadi malakat maut untuk Haris.


"Biarkan saja dulu dia," ucap Pak Mahendra.


"Apa kalian mau menemui Haris? Jujur sekarang saya sedang tidak berpihak pada siapa-siapa. Saya di sini hadir sebagai penengah saja, masalah ini memang bukan masalah sepele tapi sebesar apapun masalahnya tetap harus diselesaikan," ucap Michelle lagi.


"Papa akan pergi ke sana, apa, Mama mau ikut?" tanya Pak Mahendra pada Bu Marisa.


"Kenapa, Papa harus ke sana? Biarkan saja orang itu," ucap Bu Marisa.


"Yang dikatakan Michelle, benar. Tidak ada salahnya memaafkan dia agar kita juga mendapat ketenangan bukan tidak mungkin setelah dia meninggal atau mungkin kita meninggal kita tidak tenang karena masih memiliki dendam. Papa akan menemui dia kalau mama gak mau juga gak apa-apa, biar papa sendiri saja," ucap Pak Mahendra sembari menggenggam tangan Bu Marisa.


"Mungkin, Anda buruh waktu untuk merenung. Tidak apa-apa kalau pun tidak datang hari ini, masih ada hari esok atau lusa," ucap Michelle.


*********

__ADS_1


Di rumah sakit.


Haris yang masih terbaring di tempat tidur rumah sakit tiba-tiba menggerakkan jarinya pelan dan membuat istrinya merasakan gerakan halus itu.


"Papa," gumam istrinya Haris sembari menatap wajah sang suami.


"Fredy, cepat panggil dokter. Papa sudah sadar," titahnya pada Fredy.


Fredy langsung bangkit dari duduknya dan langsung berjalan mendekati sang ayah! Dia langsung pergi ke luar untuk memanggil dokter setelah melihat sang ayah sudah membuka matanya.


Tak sampai beberapa menit, Fredy sudah kembali dengan seorang dokter dan satu orang suster.


Istrinya Haris langsung menyingkir dari sana dan membiarkan dokter itu memeriksa suaminya. Dokter itu pun langsung memeriksa kondisi kesehatan Haris.


Tak lama, dokter itu pun selesai memeriksa Haris. Dia tersenyum ke arah keluarga pasiennya itu.


"Pasien sudah mekewati masa kritisnya. Ini jarang sekali terjadi pada pasien lainnya, perkembangan yang begitu cepat seperti pada pasien ini jarang sekali saya temukan dari pasien-pasien lainnya," jelas dokter itu.


"Alhamdulillah. Dokter apa ada kemungkinan besar untuk papa saya sembuh seperti semula?" tanya Fredy.


"Saya tidak bisa memastikan tapi melihat perkembangan kesehatan secepat ini mungkin saja pasien bisa sembuh lagi," sahut dokter itu.


"Dokter, berapa hari lagi suami saya harus dirawat di sini? Kalau boleh saya ingin suami saya dirawat di rumah saja," ucap istrinya Haris.


"Pasien memang sudah mekewati masa kritisnya tapi untuk dirawat mandiri di rumah, saya tidak bisa mengabulkannya karena terlalu beresiko."


Istrinya Haris diam sambil menundukkan kepalanya, dia sudah cukup mengerti apa yang dikatakan dokter dan dirinya tidak ingin meminta hal itu lagi.


"Kalau gitu saya permisi," ucap dokter itu.


"Baik, Dokter terima kasih," ucap istrinya Haris.


Dokter itu pun langsung pergi dari ruangan itu! Kini tinggal keluarga kecil itu di dalam ruangan rawat tersebut.


Fredy dan mamanya segera berjalan mendekati Haris! Fredy membiarkan sang ibu duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit yang ditiduri oleh Haris sementara dirinya berdiri di samping sang ibu.


"Alhamdulillah, Papa sudah sadar," ucap perempuan paruh baya itu dengan air mata bahagia yang mulai meluncur dari sudut matanya.


"Papa, harus sembuh," ucap Fredy.


"Maafkan Papa, karena perbuatan papa kalian menjadi menderita," ucap Haris dengan suara halus.


"Aku sudah memaafkan, Papa. Maaf karena kemarin sempat membenci papa, seharusnya aku tidak seperti itu," ucap Fredy lagi.


"Kamu tidak salah. Kamu berhak atas semua itu, papa yang salah tapi papa tidak mau kehilangan kamu dan juga mama, Papa sayang sama kalian," ucap Haris dengan berurai air mata.


"Sudah, Pa jangan bicarakan ini. Amu dan Fredy sudah memaafkan, Papa," ucap istrinya Haris tentunya dengan air mata yang belum surut.


Haris tersenyum tipis, digenggamnya tangan sang istri dengan lembut, betapa dirinya beruntung karena memiliki istri seperti istrinya sekarang ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2