Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 54


__ADS_3

"Udahlah, Ma. Jangan ganggu kehidupan Mawar pagi. Sudah cukup kita membuat dia tersiksa. Papa kasihan sama dia, Papa merasa kita ini bersalah besar padanya. Mawar juga anak kita tapi selama ini kita tidak menganggapnya ada," ucap Mahendra yang tak ingin lagi mengusik kehidupan Mawar yang mungkin sudah bahagia bersama Aby.


Dari dulu, Mahendra memang sudah merasa bersalah pada Mawar, dirinya sempat ingin membawa Mawar pulang tapi Marisa tak mengizinkannya.


Sebenarnya dari awal, ia tak setuju istrinya membuang Mawar, menurutnya anak laki-laki maupun perempuan tidak ada bedanya, toh Mawar dan Jingga sama-sama terlahir dari rahim istrinya tapi Marisa kukuh tak ingin merawat Mawar karena dia menginginkan anak laki-laki bukan anak perempuan akhirnya Mahendra pun menitipkan Mawar pada kerabatnya yang tinggal di kampung yang kebetulan mereka tak memiliki anak.


Dirinya tak tega jika harus membuang Mawar di sembarangan tempat apalagi sampai melenyapkan nya. Saat itu, memberikan Mawar pada Pak Dirja dan Bu Ratna adalah jalan terbaik demi kelangsungan hidup Mawar.


"Pokoknya Mama mau Mawar pergi dan biarkan Jingga yang menjadi istrinya Aby."


"Mama! Mama kenapa? Dari awal Mama yang memaksa Papa untuk menikahkan Mawar dengan Aby, sekarang Mama memaksa Papa untuk memisahkan mereka. Pernikahan tidak bisa diputus seperti orang masih pacaran Ma. Pernikahan gak bisa dipermainkan gitu aja, Mama ngerti gak apa yang dimaksud dengan janji suci pernikahan?"


"Papa kok jadi marah sama Mama. Papa tega ya bentak-bentak Mama seperti ini hanya karena anak sial itu." Marisa menangis karena tak terima dibentak-bentak oleh sang suami.


"Karena Mama yang memancing emosi Papa."


Marisa berdecak kesal lalu pergi meninggalkan Mahendra! Sementara Mahendra hanya diam sembari menatap ke arah sang istri dan membiarkan dia pergi.


**********


"Kalian kapan mau kasih aku keponakan?" tanya Nasya saat ia sudah selesai memakan bakso nya.


Aby dan Mawar saling tatap lalu saling memberi isyarat agar salah satu dari mereka yang menjawab pertanyaan Nasya.


Aby ingin Mawar yang mencari alasan yang tepat sedangkan Mawar ingin Aby yang menjawab pertanyaan Nasya dengan jawaban yang tepat karena dirinya tidak tahu harus bilang apa.


"Kalian kenapa malah main kode-kodean gitu?"


"Nggak ada apa-apa," ucap Mawar lalu dia nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Masih kecil, jangan nanyain keponakan dulu lagian kalian pun kamu punya keponakan kamu gak akan bisa bantuin Mawar ngurusin keponakan kamu itu," ucap Aby.


"Biasa aja kali jawabannya, jangan kayak orang kejepit pintu gitu."


Mawar tertawa namun tak sampai bersuara. "Gimana ekspresi orang kejepit pintu?" tanyanya.


"Ya gitu, kayak orang lagi kesakitan tapi lagi kesal juga."


"Udah-udah, udah pada selesai kan makan nya? Kita pulang."


"Baru jam berapa, udah mau pulang aja," ucap Nasya sembari melihat jam di tangannya.

__ADS_1


"Kakak harus kerja besok dan kakak ipar kamu juga harus kuliah dan lagi kamu juga harus sekolah kan?"


"Oh iya kak Mawar hebat juga ya bisa keterima di Universitas itu," ucap Nasya penuh kekaguman.


"Siapa dulu dong yang jadi suaminya," ucap Aby dengan bangganya.


"Kok suaminya? Yang berjuang mendapatkan nilai kan kak Mawar bukan kak Aby, kok kakak yang sombong."


"Kamu benar Sya, aku berjuang sendiri untuk mendapatkan nilai terbaik ngapain kakak kamu yang menyombongkan diri padahal waktu aku sekolah kan belum kenal sama kakak kamu."


Mawar dan Nasya pun tertawa melihat wajah Aby yang tiba-tiba ciut.


"Oh ya kak, aku mau dong belajar berantem."


"Hei-hey, hey! Ngapain belajar berantem? Belajar tuh yang bermanfaat dikit dong, masa belajar berantem," sarkas Aby.


"Bukan berantem tapi bela diri," sambung Mawar.


"Nah itu dia, tepat sekali," ucap Nasya.


"Nah kalau ngomongnya gitu benar lah tadi malah belajar berantem."


"Maksud aku biar bisa berantem melawan orang jahat kayak kak Mawar."


"Kalau mau masuk lah ke sekolah ilmu bela diri," ucap Mawar.


"Nggak ah, aku mau fokus sekolah aja. Aku maunya diajarin sama kak Mawar aja."


"Gak bisa lagian aku juga gak bisa apa-apa kenapa gak masuk sekolah aja lagian pelajaran dari guru sungguhan akan lebih cepat bisa melakukan semua gerakan perlawanan."


"Kamu tuh kalau mau apa-apa pikir dulu dong, kak Mawar kan juga punya kesibukan selain harus kuliah dia juga harus ngurus suaminya kan."


"Kakak kan bisa ngurus diri sendiri masa udah bangkotan gitu mau diurusin terus sama orang lain."


**********


"Oh jadi Pak Dirga belum punya pacar, maaf saya gak tahu," ucap Michelle.


"Gak apa-apa lagian sekarang udah ada kamu kan," ucap Dirga keceplosan.


"Apa? Maksudnya gimana Pak?" Michelle menatap Dirga dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Emm, nggak. Maksud aku ...." Dirga menggantung ucapannya dan mencari perkataan yang lebih tepat untuk mencari alasan.


"Duh ni mulut, ngapain pakek keceplosan segala," batin Dirga.


"M_maksud aku sekarang, di sini ada kamu yang menemani aku." Dirga berucap dengan sedikit tersenyum kaku, untunglah dirinya cepat mendapatkan alasan yang bagus.


Michelle hanya tersenyum dan langsung memalingkan wajahnya yang sedang menatap Dirga.


"Oh ya Michelle, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Tentu saja tanyakan saja."


"Tentang kehidupan kamu. Kamu bersedia menjawab?"


"Tergantung pertanyaan Anda. Tanya saja kalau aku rasa yang Anda tanyakan bukan sesuatu hal yang sifatnya private bisa saja aku jawab."


"Apa kamu tinggal di panti asuhan itu?" Dirga menatap Michelle berharap gadis itu menjawab pertanyaannya.


"Ya, di sanalah aku tinggal bersama Ibu asuh dan anak-anak yang lainnya."


"Maaf, memangnya orang tua kamu kemana?"


"Orang tua aku sudah meninggal sejak aku masih usia dua tahun dan, akhirnya aku di titipkan di panti asuhan."


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya orang tua kamu. Maaf ya jika yang aku tanyakan ini membuat kamu sedih."


"Tidak Pak, aku baik-baik saja. Oh ya aku sekalian mau bicara sesuatu tentang Ussy."


"Tentang Ussy? Kenapa dia apa kamu datang lagi ke rumah dan tidak diajak masuk oleh Ussy?"


"Nggak, aku mau minjam Ussy untuk beberapa minggu. Apa boleh?"


"Minjam? Maksudnya gimana?"


"Aku mau kerja di luar kota dalam waktu yang lumayan lama. Aku khawatir tidak ada yang membantu Ibuku merawat anak-anak itu jadi aku mau ngakak Ussy tinggal di panti agar dia, bisa membantu Ibuku."


"Kamu mau pergi ke kota mana? Bukankah kamu sudah mendapatkan pekerjaan di kantor temannya Pak Randy?"


"Emmm ... iya tapi. Ah ya sudahlah lagipula Anda tidak akan meminjamkan Ussy, dia kan asisten kesayangan Anda."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2