Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 269


__ADS_3

Keesokan harinya, di tempat pemakaman umum yang berada di tempat terdekat dari kediaman Mitha.


Keluarga besar Mitha sedang berada di depan makam Sinta. Mereka baru saja selesai melakukan proses pemakaman terhadap perempuan yang sama sekali tidak pernah mereka kenali itu.


Michaela dan Roger berjongkok di samping makam itu sedangkan Mitha, Michelle dan Dirga berdiri di belakang mereka. Michaela menatap makam itu sembari mengusap nisan yang bertuliskan nama Sinta itu.


"Mbak Sinta, semoga kamu tenang di sana, semoga Allah menempatkan kamu di tempat terbaiknya. Aku dan Mas Roger akan mengurus anakmu dengan sebaik mungkin, kami akan mendidik anak itu menjadi anak yang sholeh yang akan selalu mengirim doa untuk Mbak Sinta dan suami Mbak Sinta," ucap Michaela.


Roger hanya diam, dalam hatinya mengaminkan semua perkataan Michaela. Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itu mengusap punggung sang istri karena Michaela mulai meneteskan air matanya.


"Mbak Sinta sudah istirahat dengan tenang. Sekarang tugas kita menjaga anaknya dan menyayangi anak itu seperti anak kita sendiri. Kita akan menjalankan amanah dari Mbak Sinta, kita akan merawat bayi itu dengan baik dan akan memberikan pendidikan yang layak," ucap Roger pada Michaela.


"Michael, Roger, kita pulang sekarang karena hari semakin siang. Kasian bayi ini kepanasan," ucap Mitha yang saat itu memangku bayi yang baru lahir kemarin.


"Iya, Kak. Kayaknya dede bayi ini udah kepanasan," ucap Michelle.


"Ya udah, kita pulang sekarang," ucap Roger sembari membantu Michaela untuk bangkit dari sana.


Mereka pun mulai meninggalkan makam itu meski masih ada kesedihan di hati Michaela. Michaela bahagia karena sekarang dia memiliki seorang putra tapi dia sedih karena disaat yang bersamaan orang yang memberinya kebahagiaan harus pergi untuk selamanya.


"Aku langsung ke kantor ya," ucap Dirga sembari memasuki mobilnya.


"Gak boleh," ucap Michelle dengan gaya manja.


"Aku harus kerja, Chell," ucap Dirga yang masih berdiri di depan pintu mobilnya yang sudah terbuka.


"Cium dulu," ucap Michelle sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, dia tidak menghiraukan keluarganya yang masih berada di sana.


Dirga terdiam, dia menatap sang ibu mertua lalu menatap Roger dan Michaela. Dirinya merasa malu jika harus meladeni Michelle yang entah kenapa minta cium didepan keluarganya.


Sebenarnya mereka sering melakukan ciuman tapi dalam batas biasa saja tidak seperti sekarang. Entah mengapa tiba-tiba Michelle berubah menjadi manja seolah sifat tegasnya hilang dari dirinya.


"Chell apaan, sih?" tanya Dirga.


"Kamu jahat. Aku cuma minta cium tapi kamu gak mau ngasih," ucap Michelle dengan nada bicara kesal.


Melihat perilaku Michelle yang tidak biasa, semua keluarganya merasa kebingungan hingga Roger mengecek suhu tubuh sang adik dengan menempelkan punggung tangannya di kening Michelle. Michelle hanya diam dan membiarkan Roger melakukan apa yang ingin dilakukannya.


"Tidak panas. Kamu salah minum obat gak, Chell?" tanya Roger.

__ADS_1


"Perasaan Michelle gak sakit." Dirga menutup pintu mobilnya lalu melangkah mendekati Michelle.


"Chell, kamu tidak sedang kerasukan makhluk ghoib 'kan?" tanya Dirga.


"Hus! Sembarangan kalau ngomong," ucap Michaela.


Bukannya marah karena disangka kerasukan, Michelle malah memeluk Dirga dan langsung mencium dagu sang suami tanpa merasa malu dan canggung pada keluarganya. Perilaku Michelle saat ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya, dia sangat manja dan tanpa ragu mengumbar kemesraan pada orang-orang disekitarnya.


Dirga dan semua keluarga semakin dibuat bingung oleh tingkah Michelle saat itu. Mereka tak hentinya menatap Michelle yang semakin aneh.


"Chell, Chell lepasin aku. Malu, ah sama mama," ucap Dirga sembari melepaskan tangan Michelle yang melingkar di lehernya.


"Mungkin adikku lagi manja, lagi pengen dimanja," ucap Roger.


"Kayak lagu dangdut," ucap Mitha.


"Seharusnya kamu senang karena Michelle udah mau manja-manja," ucap Michaela.


"Sebenarnya senang tapi aneh juga. Michelle gak pernah gini," ucap Dirga.


"Jangan pikirkan. Mungkin dia sedang bercanda, ayo kita pulang!" ajak Mitha.


Mereka pun masuk mobil masing-masing dan akhirnya Dirga pun ikut pulang ke rumah karena tak mendapat izin pergi dari Michelle.


*******


Di kediaman Aby.


Saat ini Mawar sedang memberi makan kedua anaknya, dia menyuapi baby Aditya dan baby Maira secara bergantian.


Di sebelah Mawar, ada tiga orang bodyguard yang setia mendampingi Mawar dalam mengasuh dua bayi lucu itu. Frans terus saja mengajak baby Aditya berbicara sedangkan Salman mengajak baby Maira bermain dengan menekan-nekan mainan bayi yang mengeluarkan suara-suara.


"Calon ayah lagi pada latihan menjadi ayah yang baik," ucap Joe.


"Pintar-pintar ya anak mama. Duh makannya banyak," ucap Mawar.


"Joe, tolong air minumnya," ucap Mawar lagi pada Joe.


"Siap, ibu Ratu," sahut Joe sembari meraih air minum milik dua bayi itu dari atas meja lalu segera diberikan pada Mawar.

__ADS_1


"Hahay, ibu ratu. Kalian prajuritnya ya?" ucap Mawar.


"Wow. Dengan senang hati, hamba mengabdi pada ibu ratu," ucap Salman dengan penuh semangat.


"Saya akan menjadi panglima perang yang akan hadir terdepan saat ada peperangan," ucap Frans.


"Apa, sih kalian? Ada-ada aja deh. Udah ah bercandanya, tolong jagain anak-anak ya! Saya mau menaruh ini dulu ke belakang," ucap Mawar.


"Siap! Yang mulia ratu," ucap trio pinky boy itu dengan penuh semangat.


Mawar tertawa mendengar tiga bodyguardnya itu sambil terus berjalan memasuki rumahnya. Sementara itu di depan pos penjagaan trio pinky boy itu tertawa terbahak sembari terus waspada agar dua bayi yang sudah bisa merangkak itu tidak terjatuh dari strollernya.


*******


Di kantor Aby.


Dirga baru tiba di kantor padahal hari sudah mulai memasuki siang hari. Dia, berjalan memasuki kantornya dan langsung menuju ruang kerjanya.


"Jam berapa, nih?" tanya Aby saat melihat Dirga sudah tiba di kantornya.


"Sudah jam sebelas siang. Tadi saya sudah izin untuk masuk siang," sahut Dirga.


"Kamu izin masuk jam sepuluh tapi baru tiba di kantor jam sebelas. Kamu telat satu jam," ucap Pak Randy.


"Maaf, Pak. Tadi ada kendala yang tak terduga. Saya janji ini tidak terulang lagi," ucap Dirga.


"Biasa aja kali. Kita gak marah, kok," ucap Aby.


"Gak marah hanya saja sedikit kesal atau mungkin sebenarnya marah tapi tidak berani marah karena takut kehilangan asisten yang serba guna seperti saya," ucap Dirga.


"Songong lu," celetuk Aby.


"Bercanda saja, kalian. Kerja sana," ucap Pak Randy lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Nyuruh kerja tapi sendirinya malah pergi keluar," ucap Abymana.


"Beliau yang punya perusahaan. Bebas dong mau pergi kapan saja," ucap Dirga.


"Lah 'kan aku anak yang punya perusahaan," ucap Aby.

__ADS_1


"Udahlah, Tuan Muda yang terhormat ayo kita kerja. Pusing saya kalau gak kerja," ucap Dirga sembari berjalan ke ruangan kerjanya.


Bersambung


__ADS_2