
Sore hari, di kediaman Pak Randy dan keluarga.
Semua tamu sudah meninggalkan rumah mewah itu dan kini hanya menyisakan keluarga saja. Aby dan Mawar pun sudah meninggalkan kembali sejak beberapa menit lalu. Mereka tidak bisa menginap karena ternyata dua anaknya tidak betah tinggal di rumah mewah itu. Entah kenapa dua bayi itu terus menangis saat berada di dalam rumah itu. Mawar dan Aby sudah mencoba menenangkan anak-anak mereka tapi sepertinya dua bayi itu benar-benar tidak ingin tinggal lebih lama lagi di sana.
Di kamar Nasya.
"Kamu capek ya?" tanya Reza sembari duduk di samping Nasya yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang.
"Capek ... pasti. Hampir seharian kita melayani tamu-tamu yang datang," ucap Nasya.
"Itu baru tamu terdekat dari keluarga kamu dan aku. Coba nanti pas resepsi, kita akan menerima tamu dari keluarga Frans, Fredy, El dan juga Jingga dan tentunya orang-orang yang kita dan keluarga undang juga," jelas Reza.
"Ya, sudahlah. Mau bagaimana pun kita tidak akan pernah bisa kabur dari waktu itu," ucap Nasya sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Reza menatap Nasya beberapa waktu lalu dia tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Nasya.
"Tidak. Aku hanya tidak sabar ingin menyentuhnya," sahut Reza sembari meraih salah satu gunung kembar milik Nasya.
"Ahh. Nakal kamu ya." El memukul punggung tangan Reza.
"Eeh, jangan gitu. Aku berhak lho sekarang," ucap Reza.
"Astaghfirullah. Maaf, aku lupa."
"Baru sah tadi siang masa udah lupa? Gimana kalau aku ditugaskan di luar kota, bisa-bisa baru satu minggu tugas, kamu udah punya pacar lain," ucap Reza.
"Nggak gitu juga. Justru karena masih baru jadi lupa, kalau udah lama ya gak bakal lupa." Nasya kembali duduk lalu mencium pipi Reza sekilas.
"Ahh, Sya ... ciuman kamu terasa nikmat. Coba kalau ciumnya di bibir sambil tangannya main-main di tembakan perkasaku ini," ucap Reza dengan tatapan misterius. Dia menaikkan sebelah alisnya lalu memonyongkan bibirnya ke arah Nasya.
"Kamu membuat aku merinding." Nasya segera berpindah tempat untuk menjauhi Reza.
"Mau ke mana?" tanya Reza sembari menahan tangan Nasya agar tidak pergi lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Aku mau pergi biar gak kamu ajak gulat. Masih jam berapa, nih? Jangan panas-panasan dulu nanti gak tahan," ucap Nasya jujur.
Reza tertawa kecil lalu benar-benar menarik tangan Nasya hingga tubuh Nasya kini berada dalam pelukannya. Reza memeluknya erat, dia tersenyum penuh arti dan dengan tatapannya yang misterius membuat Nasya terpaksa menelan salivanya kasar. Saat ini jantung Nasya berdegup lebih kencang dari biasanya, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan yang kini menyerang hatinya.
"Kalau pun kita melakukannya sekarang, tidak akan ada yang melarang. Kenapa kamu harus mengulur waktu?" tanya Reza.
"Aku tahu itu tapi kita belum makan malam nanti yang ada aku pingsan karena kehabisan tenaga," ucap Nasya.
"Aku pikir, kamu takut pada si dia yang ukurannya luar biasa."
"Aku tidak takut lagian ngapain ngulur waktu toh besok atau lusa kita pasti harus menghadapinya."
"Oh, tidak takut ya. Cepat makan habis itu aku mau lihat seberapa beraninya kamu saat bermain di atas ranjang," ucap Reza.
"Siapa takut. Kita sudah sah jadi, tidak ada yang perlu dihalang-halangi lagi dan ditahan-tahan lagi." Nasya melepaskannya tangan Reza yang melingkar di tubuhnya lalu berjalan ke luar kamarnya. Sementara itu Reza hanya tersenyum lalu segera menyusul Nasya.
********
Di kediaman Bu Haris.
Fredy dan El sedang berkunjung ke rumah itu. Sebenarnya mereka berniat untuk tinggal bersama Bu Haris tapi mereka harus mempersiapkan segalanya terlebih dahulu dan lagi El masih merasa berat jika harus meninggalkan ibunya sendirian di rumah.
"Kita baru menghadiri akad pernikahan anaknya Pak Randy," jelas Fredy.
"Oh, pantas kalian rapi begitu," ucap Bu Haris.
"Ma, sebenarnya aku mau minta maaf karena belum bisa tinggal sama, Mama. Aku belum bisa ninggalin mama sendirian," jelas El.
"Gak apa-apa. Mama dapat memaklumi itu, Mama hanya minta agar kalian sering-sering ke sini aja," ucap Bu Haris.
"Mama jangan khawatir. Nanti aku akan minta kak Dirga yang tinggal sama mama Athalia biar El bisa di sini sama Mama. Di rumah kak Michelle ada kakaknya yang tinggal bersama mamanya jadi, kita bisa tinggal di sini tanpa meninggalkan mama Athalia sendirian," jelas Fredy.
"Terserah kalian saja tapi jangan terlalu dipaksakan. Mama bisa menginap di rumah Mawar kalau Mama terlalu kesepian di sini," jelas Bu Haris.
********
__ADS_1
Di kediaman Mawar.
Malam ini Frans sudah siap untuk pulang karena harus menyiapkan segala sesuatu kebutuhan bawaannya di hari pernikahannya. Meski semua biaya sudah ditanggung oleh keluarga Aby tapi dirinya tetap harus menyiapkan barang-barang seserahan pernikahannya. Sebenarnya kayaknya sudah menyiapkan segalanya tapi Frans tetap harus pulang karena tak mungkin tetap di rumah mempelai wanita sampai hari akad pernikahan mereka.
"Baik-baik kamu di sana," ucap Salman pada Frans.
"Kalian juga baik-baik di sini. Jagain orang-orang rumah dengan baik dan pastikan calon istriku tidak digondol berondong lain," ucap Frans.
"Mana ada yang berani menculik Mbak Jingga, yang ada sebelum dia, diculik, penculiknya ucap diculik duluan sama Maira," ucap Joe.
"Kok, kamu bawa-bawa Maira?" tanya Mawar.
"Karena baby Maira terlalu centil dan genit hingga berbondong-bondong macam kami terpikat olehnya dan itu sangat memungkinkan penculik akan tertarik padanya juga," jelas Joe.
"Ada-ada saja kamu." Mawar dan yang lainnya tertawa lepas mendengar perkataan Joe.
"Hati-hati, Frans kalau mau bawa aja tuh mobil satu," ucap Aby pada Frans.
"Terima kasih, Tuan Muda tapi saya pakai motor saja," sahut Frans.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku setelah kamu tiba di rumah. Rumah kamu ya bukan rumah janda sebelah," ucap Jingga.
"Serem banget, janda sebelum. Janda yang utuh aja aku gak mau apalagi janda sebelah, horor banget," ucap Frans.
"Betul sekali," ucap Salman.
"Maksud aku bukan tubuhnya yang tinggal sebelah tapi janda yang tinggalnya di sebelah rumah kamu," jelas Jingga.
"Tenang saja di sekitar rumahku tidak ada janda sekali pun ada, aku gak akan tertarik karena hati dan cintaku, aku tinggalkan di sini," ucap Frans dengan senyum penuh percaya diri.
"Hmmm, keluar juga tuh gombalan," ucap Mawar.
"Itu serius, Mbak. Selama ini saya tidak pernah berbicara yang tidak saya pikirkan," ucap Frans.
"Udah, pulang sana gimana mau ngumpulin rindu kalau kamu masih anteng di sini," ucap Salman.
__ADS_1
Frans tersenyum lalu mulai pergi meninggalkan rumah itu.
Bersambung