
"Saya tidak bisa menolong Mawar. Cepat cari siapa pun yang bisa menolong dia," ucap Mahendra setelah keluar dari sebuah ruangan.
"Tapi kenapa? Anda adalah Papanya Mawar," ucap Aby.
Mahendra menggelengkan kepalanya pelan, terlihat raut wajah penuh kekecewaan saat itu. Mahendra tak banyak bicara baginya saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
"Cepat cari pendonor itu. Keselamatan Mawar sangat penting buat kita semua," ucap Pak Mahendra.
Aby langsung berjalan menghampiri beberapa orang yang berada di dekat mereka!
"Pak, golongan darah Anda apa? Tolong bantu istri saya. Istri saya harus segera mendapatkan transfusi darah," ucap Aby pada seorang laki-laki di sana.
"Golongan darah saya B," sahut Bapak itu.
"Apa diantara kalian ada yang memiliki golongan darah A? Saya sedang membutuhkan darah itu untuk istri saya," ucap Aby pada beberapa orang di sana.
Tak tinggal diam. Jingga dan tiga bodyguard itu juga ikut membantu Aby untuk mencari pendonor untuk Mawar.
"Pak! Bu! Tolonglah kami. Apa di sini ada yang memiliki golongan darah A? Tolong kami, kami sedang membutuhkan darah itu," ucap Jingga dengan air mata yang tak pernah surut.
Sejak mengetahui Mawar sedang kritis Jingga dan yang lainnya sudah menangis karena khawatir pada Mawar apalagi Marisa, sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit pun dia sudah menangis karena khawatir pada Mawar.
"Siapa pun yang memiliki golongan darah A! Yang bersedia mendonorkan darah untuk istri saya, saya akan membayar berapa pun yang kalian minta. Tolonglah, Pak, Bu istri saya sedang membutuhkan darah itu," ucap Aby pada semua orang di sana tapi sepertinya tidak ada satu pun yang menggerakkan dirinya.
Di tempat yang lumayan jauh dari Aby.
Roger, Mitha dan Michaela sedang berjalan menuju pintu keluar. Mereka mendengar suara Aby yang terdengar begitu jelas ditelinga mereka, mereka pun berjalan menghampiri Aby untuk menanyakan apa yang sedang terjadi!
Aby sudah panik dan kebingungan karena tak juga mendapatkan orang yang bersedia mendonorkan darahnya pada Mawar. Dia meraih ponselnya dari dalam sakunya lalu menelpon Dirga.
[Halo, Tuan Muda, ada apa?] ucap Dirga dari sebrang telpon.
[Kumpulkan semua karyawan dan cari mereka yang memiliki golongan darah A! Mawar butuh darah itu secepatnya. Di sini tidak ada stok darah A dan juga tidak ada pendonor yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Mawar] jelas Aby.
"Jangan, By. Golongan darah saya A. Saya bersedia untuk mendonorkan darah saya."
Aby langsung mematikan sambungan telponnya tanpa berucap lagi pada Dirga, ia langsung berbalik badan dan melihat orang yang berbicara padanya.
__ADS_1
"Roger?" ucap Aby.
"Golongan darah saya A. Tunggu apa lagi? Ayo cepat temui dokternya untuk memeriksa apakah darah ku cocok," ucap Roger.
"Ayo ikut aku!" Aby langsung berjalan menghampiri kedua orang tua Mawar yang sedari tadi menunggu di depan ruangan itu!
Tak ingin membuang waktu, Aby memilih langsung membawa Roger pada dokter yang menangani Mawar! Saat ini ia hanya mengutamakan Mawar, ia tak perduli meski Roger adalah orang yang sangat ia benci karena pernah membuat dirinya kehilangan orang yang dicintainya.
Setelah menjalani proses pemeriksaan akhirnya Roger mulai mentransfer darahnya pada Mawar. Kebetulan darahnya cocok dengan darah Mawar.
Di luar ruangan.
Sedari tadi Marisa dan orang tua Mawar yang lainnya terus menangis karena ketakutan. Mereka takut tidak ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Mawar.
Di kursi yang paling pojok. Marisa terus menangis sambil meremas jemarinya. Ia begitu khawatir pada Mawar, hubungannya dengan Mawar baru membaik, ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya pada Mawar.
"Ya Allah, selamatkanlah Mawar. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahan dan dosa-dosa ku kepada Mawar," batin Marisa.
Di kursi yang sama namun, di ujung satunya lagi. Mahendra duduk dengan diam. Tidak ada yang dia ucapkan dari mulutnya, dalam hatinya ia begitu sakit saat tahu ternyata Mawar bukanlah anak kandungnya. Meski begitu dirinya memilih tak membahas urusan pribadinya di sana karena tahu saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara.
Di dalam ruangan rawat Mawar.
"Bertahanlah, sayang. Aku mohon bertahanlah demi aku, demi anak kita." Aby meneteskan air mata karena tak tahan melihat istri yang sangat ia cintai terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Tanpa hentinya Aby mencium tangan Mawar dan sesekali ia mengelus pipi Mawar dengan lembut.
"Aku tidak sanggup melihat kamu seperti ini. Aku tidak bisa tanpa kamu, bangun, Mawar. Aku mohon bangunlah aku tidak bisa tanpa kamu," ucap Aby lagi.
"Aby, lihatlah anak-anak kamu lucu sekali. Mereka tampan dan juga cantik," ucap Bu Ratna sembari menggendong seorang bayi laki-laki dan di belakang Bu Ratna ada Pak Mahendra yang menggendong bayi perempuan.
Aby menatap Bu Ratna dan melihat Pak Mahendra yang juga sedang memangku seorang bayi.
"Anakku. Mereka anakku?" ucap Aby.
"Ya. Mawar baru melahirkan anak kembar," jelas Bu Ratna.
Aby menghampiri Bu Ratna lalu mengambil alih bayi itu! Sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya kala melihat bayi tampan itu.
__ADS_1
"Anakku," gumam Aby.
Aby membawa bayi itu ke samping Mawar dan mengenalkannya pada Mawar!
"Lihatlah, Mawar anak kita datang untuk menyapa mu, oh ya ada kejutan lainnya juga," ucap Aby pada Mawar.
Meski Mawar dalam keadaan kritis tapi dia tahu bahwa Mawar masih mendengar semua yang ia ucapkan.
"Papa, tolong bawa bayi itu ke sini," ucap Aby pada Pak Mahendra.
Mahendra berjalan dan mendekati Abymana!
Setelah Aby meletakkan bayi laki-laki di samping Mawar barulah Aby menggendong bayi perempuannya.
"Ayo buka mata kamu dan lihatlah bayi cantik ini. Dia begitu cantik, cantik seperti kamu," ucap Aby.
Di luar ruangan.
Setelah selesai mendonorkan darahnya, Roger segera keluar dari ruangan itu dan hendak segera pulang karena kasian pada Mamanya jika harus lebih lama lagi tinggal di rumah sakit itu.
"Roger," ucap Jingga dengan suara serak khas orang sedang menangis.
Roger menghentikan langkahnya lalu menatap Jingga tapi tak sedikit pun dia bergerak untuk mendekati Jingga.
Ada rasa takut dalam dirinya. Takut istrinya akan mengingat Jingga, takut istrinya akan mengetahui semuanya tentang dirinya bersama Jingga.
Dengan langkah pelan Jingga mendekat pada Roger dan menatapnya setelah mereka saling berdekatan.
"Terima kasih karena sudah bersedia mendonorkan darahmu untuk Mawar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu," ucap Jingga.
Ini pertemuannya yang pertama dengan Roger setelah Roger memutuskan menikah dengan Michaela tapi tak sedikit pun ada rasa ingin kembali seperti dulu lagi bersama Roger.
Saat ini dirinya sudah pasrah pada nasib hidupnya, ia sudah menyerahkan semua takdir yang akan dijalaninya pada sang penciptanya. Jika memang dirinya ditakdirkan untuk bahagia, maka kapan pun ia akan menemukan kebahagiaannya.
Roger masih berdiri di hadapan Jingga tanpa sedikitpun kata yang terucap dari bibirnya sementara di belakang Roger, Michaela terus memperhatikan mereka.
Bersambung
__ADS_1