
Keesokan harinya, Fredy dan mamanya sengaja datang ke rumah Aby untuk menemui keluarga Pak Mahendra.
Di kediaman Aby.
"Mbak, ada tamu," ucap Frans pada Mawar.
Mawar menoleh menatap Frans yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Siapa? Pagi-pagi gini udah ada tamu," ucap Mawar.
"Saya tidak tahu, mereka ingin menemui Mbak dan juga Pak Mahendra," jelas Frans.
Mawar menarik nafasnya lalu bangkit dari duduknya!
"Dimana suamiku?" tanya Mawar sembari berjalan keluar dari kamarnya.
"Di taman belakang, sedang main bersama anak-anak," sahut Frans sembari berjalan mengekor di belakang Mawar.
"Mawar," ucap mamanya Fredy dengan senyum ramah.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Mawar dengan nada ketus dan tanpa ekspresi sama sekali.
"Mawar, saya datang untuk meminta maaf atas perbuatan suami saya padamu dan pada orang tuamu," ucap mamanya Fredy dengan suara lembut.
"Selain itu kami datang ingin membicarakan tentang uang yang papa saya ambil dari perusahaan Pak Mahendra. Kami ingin mengembalikannya," jelas Fredy.
"Saya tidak punya maaf maaf untuk laki-laki itu, dan saya tidak ada urusan dengan uang hasil korupsi itu," ucap Mawar lagi.
"Aku tahu kamu pasti sangat membenci papaku tapi kami datang untuk memperbaiki hubungan kita," ucap Fredy.
"Saya tidak merasa kita punya masalah," ucap Mawar pada Fredy.
"Joe, tolong antarkan orang-orang ini pada Papa saya," ucap Mawar pada Joe.
"Siap, Mbak," sahut Joe lalu berjalan menghampiri mereka!
"Mari, Mas, Bu," ucap Joe pada tamu-tamu itu.
"Apa gak sebaiknya kamu juga ikut dalam pembicaraan ini? Kamu juga terlibat dalam masalah ini," ucap Fredy.
"Saya tidak ada urusan dengan uang korupsi dan saya tidak mau ikut campur urusan kalian," ucap Mawar lalu pergi meninggalkan mereka!
Fredy dan mamanya terdiam sambil terus menatap Mawar yang sama sekali tidak menyambut mereka dengan baik.
Fredy mengelus lengan sang ibu dengan lembut lalu berkata, "Papa memang salah, Mama jangan sedih karena ini."
"Mbak Mawar tipe orang pendendam tapi sebenarnya dia baik. Mungkin beliau buruh waktu untuk berdamai dengan keadaan," ucap Frans.
"Saya paham," ucap mamanya Fredy dengan suara lirih.
"Mari saya antar pada Pak Mahendra," ucap Joe.
Mereka pun memasuki rumah mewah itu dan langsung menuju lahan belakang rumah itu untuk sampai pada Pak Mahendra!
"Permisi, Pak ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap Joe pada Pak Mahendra yang baru selesai sarapan itu.
__ADS_1
Pak Mahendra menoleh menatap dua tamu yang ia sendiri belum mengenal mereka.
Pak Mahendra tersenyum lalu menjabat tangan mereka secara bergantian!
"Mari kita bicara di sana," ucap Pak Mahendra sembari berjalan menuju kursi yang berada di taman belakang rumah Aby.
"Maaf, sebelumnya kalau boleh tahu kalian ini siapa dan ada perlu apa dengan saya?" tanya Pak Mahendra.
"Saya istrinya Haris dan ini anak kami," ucap perempuan paruh baya yang kini duduk berhadapan dengan Pak Mahendra.
Pak Mahendra nampak terkejut begitu juga dengan Bu Marisa yang saat itu sedang mengajak dua bayi itu berjemur di sana.
"Kamu? Istrinya bajingan itu?" ucap Bu Marisa sembari berjalan menghampiri mereka!
"Ma, hati-hati," ucap Aby yang melihat Bu Marisa berjalan lunglai.
Bu Marisa langsung melemas saat mendengar pengakuan perempuan paruh baya itu.
"Mau apa kalian ke sini? Saya tidak sudi mendengar namanya di sebutkan!" teriak Bu Marisa.
Seketika mamanya itu langsung menangis sesaat setelah mendengar teriakan Bu Marisa.
"Kami datang untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada Anda," ucap mamanya Fredy dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Mama, sabar, Ma tenang," ucap Pak Mahendra sembari mengusap punggung sang istri.
"Bu, tolong bawa mereka masuk ke dalam," ucap Aby pada Bu Ratna sembari memberikan baby Maira pada Bu Ratna.
Bu Ratna hanya menurut saja pada Aby, dia pun langsung membawa baby Aditya dan baby Maira masuk ke dalam rumah!
"Mama, tenang dulu," ucap Aby dengan nada pelan.
"Bu, Pak tolong maafkan papa saya. Kami juga sangat tersakiti dengan adanya kenyataan pahit ini tapi saya sebagai anak tunggal dari beliau, secara pribadi atas nama papa saya, saya ingin meminta maaf pada Ibu dan Bapak," ucap Fredy.
"Tidak. Tidak ada maaf untuk bajingan itu," ucap Bu Marisa.
"Ma, mending sekarang mama masuk aja. Mama kayaknya lagi capek," ucap Aby yang tak ingin melihat Bu Marisa menangis histeris karena mengingat masa lalu kelam itu.
"Selain itu, kami juga ingin mengembalikan uang Bapak yang papa saya ambil dari perusahaan Anda dulu," lanjut Fredy.
"Sebenarnya sekarang saya tidak terlalu mempermasalahkan tentang uang itu, yang saya kecewa mantan karyawan saya sudah memberikan penderitaan yang begitu menyakitkan terhadap istri saya. Mungkin untuk uang itu tidak dikembalikan juga tidak apa, toh sekarang perusahaan saya sudah kembali bangkit tapi untuk memaafkan Haris dan mencabut laporan kami, saya tidak bisa. Penjara adalah hukuman terbaik untuk dia," jelas Pak Mahendra.
"Kami tidak meminta Anda untuk membebaskan dia dari penjara, kami hanya ingin meminta maaf atas semua yang terjadi dimasa lalu. Kami tahu kesalahannya tidak bisa dimaafkan tapi kami ...." perempuan paruh baya itu menangis sesenggukan hingga dirinya kesulitan untuk melanjutkan perkataannya.
Fredy menatap sang ibu dengan tatapan sendu, diusap nya punggung sang ibu agar merasa sedikit lebih tenang.
"Pak, ini ada cek senilai uang yang papa saya ambil dari perusahaan Anda nominalnya saya ganti dua kali lipat sebagai bunga selama saya menggunakan uang Anda," ucap Fredy sembari memberikan sebuah cek yang sudah ia tandatangani.
Pak Mahendra menatap cek itu tapi tidak menerimanya.
"Simpan saja, saya tidak butuh lagi uang itu," ucap Pak Mahendra.
"Kalian bisa mengembalikan uang itu tapi apa kalian bisa mengembalikan semua kebahagiaan saya?" ucap Bu Marisa.
"Kami hanya bisa mengganti ini saja, Bu. Maaf, saya tidak akan sanggup jika harus mengembalikan apa yang sudah hilang dari Anda," ucap mamanya Fredy.
__ADS_1
"Pak, Bu tolong terima cek ini mungkin ini tidak bisa mengembalikan kebahagiaan Bu Marisa selama ini tapi setidaknya kami sudah ada itikad baik untuk mengembalikan hak Bapak dan Ibu," ucap Fredy.
"Terima saja, Pa lagipula itu hak Papa dan Mama," ucap Mawar yang tiba-tiba berada di sana.
Mawar berjalan menghampiri mereka yang sedang berbicara di tempat biasa ia bersantai di taman belakang rumahnya!
"Mawar," ucap Pak Mahendra.
"Itu uang Papa yang penjahat itu curi menurutku itu masih hak Papa seutuhnya," ucap Mawar.
**********
Di kantor polisi.
"Jika benar perempuan itu anak saya yang dilahirkan oleh Bu Marisa, tolong pertemukan saya dengannya. Saya ingin meminta maaf padanya dan juga keluarga Bu Marisa," ucap Haris pada Michelle.
Ya hari ini Michelle memang sengaja datang untuk melihat kondisi Haris, setahunya saat ini Haris tengah sakit jadi ia datang untuk memastikan kondisi kesehatan laki-laki itu.
Haris yang hidup dengan bergelimang harta, bisa saja pura-pura sakit agar polisi membawanya ke rumah sakit dan akhirnya dia kabur dengan bantuan anak-anak buahnya.
"Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Anda, jika kamu bertemu dengannya sekali lagi saja, mungkin kamu sudah pindah alam. Perlu kamu ketahui anak itu sangat kejam dan kuat saat dia sedang marah, bisa saja dia menghabisi nyawa kamu saat itu juga," jelas Michelle.
"Tolong. Saya menyesal, saya tidak tahu Bu Marisa hamil karena perbuatan saya kalau saya tahu dari dulu saya sudah mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu," ucap Haris.
"Sudah terlambat, kamu bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kamu dengan mendekam di sel ini. Saya kemari hanya untuk memastikan kondisi kesehatan kamu dan saya lihat kamu baik-baik saja jadi, tidak perlu pergi ke rumah sakit," jelas Michelle.
"Aku memang tidak ingin ke rumah sakit, aku ingin bertemu dengan anakku, aku ingin meminta maaf padanya," ucap Haris.
Michelle terdiam sembari menatap Haris dengan tatapan misterius, entah mengapa ia merasa bahwa saat ini Haris benar-benar telah menyesali perbuatannya dimasa lalu.
*********
Di kediaman Mitha.
"Apa! Menikah lagi?" Mitha terkejut saat mendengar pernyataan Roger.
"Apa kamu sudah gila? Pikirkan perasaan istri kamu," ucap Mitha lagi.
"Aku yang meminta Mas Roger menikah lagi, Ma," ucap Michaela.
"Nggak-nggak, gak boleh. Kamu jangan menyakiti diri kamu sendiri dengan menikahkan suami kamu dengan perempuan lain," ucap Mitha.
"Aku punya alasan kuat mengapa aku harus menikahkan Mas Roger dengan perempuan itu tapi aku tidak bisa mengatakan apa alasannya pada Mama," ucap Michaela.
"Mama memang tidak mau mendengar alasan apa pun. Mama tidak setuju," ucap Mitha lagi.
"Mama, apa mama yakin mama kuat kalau tahu yang sebenarnya?" tanya Roger.
"Mas, Mama tidak perlu tahu," ucap Michaela yang tak ingin keluarganya tahu tentang keburukan Roger dimasa lalu.
"Ini sudah resiko aku. Aku memang pernah menjadi brengsek dan laki-laki tidak berguna di masa lalu," ucap Roger yang sudah pasrah dengan keadaan saat ini.
"Ada apa ini?" tanya Mitha.
Bersambung
__ADS_1