
Mendengar suara teriakan El Dirga dan Michelle langsung berlari ke arah kamar El karena khawatir terjadi sesuatu pada adiknya itu. Dirga langsung mengetuk pintu kamar El dengan sangat keras karena sudah beberapa kali dirinya mengetuk pintu, tidak ada respon dari El maupun Fredy.
Tak lama Fredy dan El membuka pintu dengan El yang hanya menggunakan jubah mandi sementara Fredy masih berpakaian lengkap. Fredy menatap Dirga dan Michelle penuh tanya, dalam hatinya dia menggerutu sendiri. Mengapa mereka mengganggu kesenangannya?
"Kamu kenapa berteriak seperti itu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirga yang khawatir pada El.
"Aku baik-baik saja, Kak. Tadi ada kecoa jadi, aku berteriak karena takut," ucap El berbohong sementara Fredy hanya tersenyum tipis.
"Kecoa? Sejak kapan di rumah ini ada kecoa?" tanya Dirga lalu menatap Fredy curiga.
"Bilang saja kalau tadi, kamu ketemu sama ular kasur yang bentuknya panjang, kepalanya berbentuk helm bangunan dan satu lagi, ular itu tidak bersisik," ucap Michelle yang mengerti apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar.
"Biasa aja kali. Semua orang juga pernah mengalami ini. Jangan terlalu kasar pada wanita, kasian adik aku sampai teriak-teriak," celetuk Dirga pada Fredy.
"Kalian apaan, sih. Kita sedang tidak berbuat apa-apa. Serius deh," ucap Fredy.
"Jangan gulat dulu. Baru jam berapa ini? Udah bag-bug aja," sambung Michelle yang seketika membuat El malu.
*******
Di kediaman Aby dan Mawar.
Di tempat bisa trio pinky boy nongkrong.
Mawar berjalan menghampiri bodyguardnya dengan langkah panjangnya. Ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan olehnya pada Salman dan Joe. Setibanya di sana, Mawar duduk di kursi yang berada di samping Frans lalu tersenyum ke arah Salman dan Joe.
"Ada apa, Mbak? Mencurigakan banget," ucap Joe.
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa tak lama lagi Frans akan menikah. Kalian berdua tidak ada niatan menikahi pacar kalian masing-masing?" tanya Mawar.
"Saya gak mau mengganggu kuliah Ussy. Biarkan saja dia menyelesaikan pendidikannya dulu," sahut Joe tanpa berpikir panjang.
"Kamu, Salman?" Mawar menatap Salman.
"Saya belum siap menikah dan lagi Alena masih ingin menghabiskan waktunya sendiri," jelas Salman.
"Kenapa belum siap dan kenapa Alena masih ingin bebas?" tanya Mawar lagi.
"Saya belum cukup biaya untuk menikah dan Alena juga masih ingin mengejar kariernya," jelas Salman lagi.
"Untuk biaya, kamu gak usah pikirkan karena biaya pernikahan kalian semua, saya yang akan tanggung tinggal mantapkan hati untuk menikah dan pastikan perempuan yang kalian nikahi ada dan siap menjadi istri kalian," jelas Mawar.
"Terima kasih atas semua yang sudah, Mbak persiapkan untuk kami tapi kayaknya saya tidak akan menikah dalam waktu dekat. Mungkin satu atau satu setengah tahun lagi," ucap Salman.
__ADS_1
"Oke. Berarti yakin ya kalian berdua gak mau menikah bulan-bulan ini? Kalian gak iri apa sama Frans yang sebentar lagi akan menemui surga dunia?" goda Mawar.
"Setiap saya bertemu Ussy, saya rasa saya sedang menikmati surga dunia," ucap Joe.
"Bisa aja jawabnya. Asal kamu tahu aja, setelah nikah surga saat pacar akan terasa berbeda," ucap Frans.
"Kayak udah merasakan aja. Nikah juga belum," celetuk Salman pada Frans.
"Akan aku kasih tahu kalian nanti setelah aku sah menjadi suaminya Jingga," ucap Frans sembari tersenyum misterius.
"Gak usah. Kita udah tahu," ucap Joe.
*********
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa kini tibalah di hari akad pernikahan antara Nasya dan Reza.
Semua keluarga sudah berkumpul di rumah milik Pak Randy dan Bu Ratu, keluarga mempelai pria pun sudah tiba sejak sepuluh menit lalu. Mereka tinggal melangsungkan acara hari ini yang seratus persen sudah siap.
Di tempat yang sudah disediakan oleh keluarga. Reza duduk bersebelahan dengan Nasya dengan Pak Randy dan Pak penghulu yang duduk di sebrang meja yang ada di depan mereka. Senyum bahagia tak pernah ada pudarnya dari bibir kedua mempelai dan juga semua keluarga. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh mereka semua.
"Semuanya sudah hadir, ya? Saksi dari kedua belah pihak," tanya pak penghulu.
"Sepertinya sudah kumpul semua. Silakan dimulai saja, Pak," ucap Pak Randy.
"Sah?" tanya Pak penghulu pada para saksi.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah." Semua orang yang di sana pun mengucap syukur atas lancarnya acara hari ini.
Nasya mencium punggung tangan Reza lalu pemuda itu mencium kening Nasya. Setelah itu mereka mencium tangan orang tua mereka secara bergantian.
Setelah acara utama selesai. Pak penghulu dan para saksi pun langsung pergi dari rumah itu karena memang tidak ada acara lain lagi karena resepsi pernikahannya akan diadakan dilain waktu. Kini hanya menyisakan keluarga dan orang-orang terdekat saja yang masih berkumpul di rumah Pak Randy.
"Selamat ya, Adikku sayang. Jadilah istri yang baik, yang seperti suamimu inginkan," ucap Abymana.
"Terima kasih, Kak." Nasya tersenyum lalu memeluk kakak yang sangat dia sayangi itu.
"Akhirnya kamu menjadi milik orang lain. Jangan lupakan kakak, ya," ucap Aby lagi.
"Apaan, sih lebai banget. Aku gak akan membawa dia sampai ke ujung Dunia, gak perlu ada suasana kayak gini. Kayak gak akan bertemu lagi aja setelah ini," ucap Reza yang memang sudah berteman dekat dengan Aby.
__ADS_1
"Dasar adik ipar durhaka, lu." Aby meninju dada Reza pelan lalu memeluknya.
"Selamat ya. Awas kalau, lu bikin adik gue nangis," ucap Aby lagi setelah memeluk Reza.
"Tenang saja. Dia pasti nangis pas malam pertama setelah itu hanya akan ada kebahagiaan dalam hidupnya," ucap Reza dengan senyum jahil.
"Gila, lo. Istri satu-satunya mau dibikin nangis, kalau gitu aku gak mau melakukan malam pertama, langsung malam kedua saja," ucap Nasya.
Seketika orang-orang yang berada di dekat Nasya pun tertawa geli. Mana ada setelah menikah langsung malam kedua.
"Selamat ya, Sya. Udah pada nikah aja ya adik kecilku ini. Udah dewasa berati sekarang," ucap Dirga yang sudah menganggap Nasya sebagai adiknya.
"Mas ganteng." Nasya langsung memeluk Dirga, mungkin ini yang terakhir dirinya merasakan pelukan dari Dirga karena memang setelah Dirga menikah dengan Michelle hubungan mereka tak sedekat dulu.
"Aku akan merindukan pelukan ini. Setelah punya Dirga junior makin sulit saja kita bersama," ucap Nasya lagi.
"Hey. Kamu pikir kita gak akan bertemu lagi? Kita masih bisa bertemu nanti," ucap Dirga sembari mengelus punggung Nasya.
"Duh, cemburu nih gue kalau pelukannya lama gitu," ucap Reza.
"Sama, aku juga cemburu," timpal Michelle.
"Hahh, kalian ini. Masih saja cemburu padahal aku dan Nasya hanya menganggap adik dan kakak," ucap Dirga sembari melepaskan pelukannya.
"Canda kali. Gak mungkin serius juga," ucap Reza dengan tawa kecilnya.
"Semangat menempuh hidup baru," ucap Michelle pada Nasya dan Reza.
"Oh, ya aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Dirga pada Reza.
"Kalau mau memulai malam pertama, usahakan pelan-pelan agar tidak berisik. Jangan sampai mengejutkan orang rumah," sambung Dirga.
"Ssstt! Jangan bilang-bilang. Punya kakak ipar kok gacor bener," ucap Fredy yang tahu apa yang dimaksud oleh Dirga.
"Gacor ... emang burung," celetuk Mawar.
"Emang adik ipar durhaka, nih," ucap Michelle.
"Lagian mau bongkar rahasia orang," ucap El.
"Kalian tega ya ninggalin kita. Katanya mau balapan," ucap Reza.
Nasya yang merasa malu langsung mencubit perut Reza dengan keras hingga dia kesakitan. Reza merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
Bersambung