Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 154


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Di sebuah jalanan di pinggiran kota.


Mahendra dan keluarganya tengah berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sepi tanpa adanya kendaraan atau manusia yang lewat di sana.


"Pa, aku lapar," ucap Jingga sembari terus berjalan dengan tangannya yang memegangi perutnya.


Mahendra menghentikan langkahnya lalu menatap Jingga.


"Sabar ya, sayang sebentar lagi kita sampai ditempat keramaian. Papa akan coba cari pekerjaan di sana," ucap Mahendra.


"Papa mau kerja apa?" tanya Marisa dengan suara pelan.


"Apa aja, Ma. Menjadi kuli panggul juga tidak apa yang penting kita bisa makan," ucap Mahendra.


Satu minggu sudah mereka lewati tanpa harta kekayaan yang mereka miliki. Kini mereka tengah berjalan tanpa arah dan tujuan, mereka tak tahu harus pergi kemana karena tak memiliki tempat untuk dituju.


Mereka tak punya tempat tinggal. Sudah berusaha mencari kemana-mana tapi tak ada rumah kontrakan yang kosong. Hari ini sudah siang tapi satupun diantara mereka belum ada yang makan karena uang mereka sudah habis dan mereka tak memiliki uang sedikitpun.


"Kasihan sekali mereka," ucap Joe yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Gimana lagi, kita tidak bisa membantu mereka," ucap Salman.


"Apa sebaiknya kita berikan roti ini pada mereka?" tanya Joe.


"Jangan, kalau Mbak Mawar tahu kita bisa kena masalah," ucap Salman.


Sedari tadi mereka berdua terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Mawar meminta mereka untuk terus memantau keluarganya itu, entah apa yang ada dalam pikiran Mawar. Dia menyuruh orang untuk memastikan keadaan keluarganya tapi tak membiarkan orang-orangnya membantu mereka.


"Telpon tuh," ucap Joe saat melihat ponsel Salman berdering.


"Mbak Mawar," ucap Salman saat setelah melihat siapa yang menelponnya.


[Kalian dimana?] tanya Mawar setelah Salman menerima telponnya.


[Kami dipinggiran kota. Pak Mahendra dan keluarganya belum berhenti berjalan dan kini mereka sedang kelaparan.]


[Kelaparan?] Mawar memastikan lagi ucapan Salman.


Mawar meras tak percaya dengan perkataan Salman. Yang ia tahu mereka pergi dari rumah kala itu dengan membawa uang yang lumayan besar.


[Iya, Mbak mereka sedang kelaparan kami tak tega melihat mereka.] Salman mengatakan isi hatinya pada Mawar dengan harapan Mawar akan memerintahkannya untuk membantu mereka.


[Selama satu minggu ini mereka tidur dimana dan mereka makan apa saja? Saya pikir uang sepuluh juta cukup untuk satu bulan.] Ucap Mawar lagi.


Ya waktu itu, Mawar memberikan sepuluh juta untuk Papanya. Menurutnya uang segitu bisa mencukupi kebutuhan mereka selama satu bulan tapi nyatanya baru satu minggu uang itu sudah habis tak tersisa lagi.


[Datu minggu ini mereka tidur di hotel karena tak kunjung menemukan rumah kontrakan dan untuk makan mereka setiap hari makan di restoran.]

__ADS_1


[Keterlaluan mereka,sudah tahu gak punya kerjaan masih saja menghambur-hamburkan uang. Beri mereka sedikit uang tapi ingat,jangan sampai mereka tahu siapa kalian.]


[Baik, Mbak akan kami laksanakan.] Salman langsung mematikan sambungan telponnya lalu melihat isi dompetnya.


"Apa katanya?" tanya Joe.


"Mbak Mawar menyuruh kita untuk memberi mereka uang tapi cuma sedikit," sahut Salman.


"Sedikitnya berapa? Orang kaya akan menganggap uang satu juta sedikit bahkan mereka akan menganggap uang segitu belum ada apa-apanya," ucap Joe.


"Tidak sampai satu juta. Hanya untuk mereka makan hari ini saja paling dua atau tiga ratus ribu saja," udah Salman.


**********


Di kediaman Aby dan Mawar.


"Hayo, kamu sedang mikirin apa?" ucap Aby pada Mawar.


Mawar menoleh menatap sang suami yang sedang berjalan ke arahnya.


"Mas," ucap Mawar.


Aby meraih pinggang Mawar dan melingkarkan sebelah tangannya di sana!


"Ada apa hemm? Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu," ucap Aby.


"Mereka sudah tak memiliki uang lagi padahal waktu itu aku kasih sepuluh juta pada Pak Mahendra," jelas Mawar.


"Ya," ucap Mawar singkat.


"Kamu tidak tega melihat mereka kesulitan?" ucap Aby.


"Aku tidak tahu, dengan begini apa aku terlalu kejam pada mereka," ucap Mawar.


Aby tersenyum dengan tangannya yang malah mengeratkan pelukannya pada Mawar.


"Inilah istimewanya kamu. Mau balas dendam tapi tak tega, niatnya menyakiti mereka tapi kamu sendiri yang tersakiti. Apa perlu kita tarik lagi Pak Mahendra ke perusahaan kita?" ucap Aby.


"Jangan. Setelah penyiapan lahan dibelakang rumah selesai, aku mau membawa mereka ke sini. Apa boleh?"


"Untuk apa? Kamu gak takut Jingga merayuku nanti?"


"Dia tidak akan punya waktu untuk merayumu di sini. Mereka tidak akan tinggal satu rumah dengan kita tapi mereka akan tinggal di rumah kayu yang sekarang sudah berdiri lahan itu," jelas Mawar.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan."


"Mereka akan bertani di lahan itu dan mereka hanya akan makan hasil dari kebun mereka," jelas Mawar.


"Kamu yakin dengan ini mereka akan mengakuimu? Apa kamu yakin dengan begini mereka akan menyadari bahwa sebenarnya kamu sayang pada mereka?"

__ADS_1


"Aku tidak yakin pada Bu Marisa, aku tidak bisa melihat Pak Mahendra kelaparan di luar sana yang aku tahu dia menyayangiku," ucap Mawar.


"Bagaimana caranya kamu bisa tahu kalau Pak Mahendra menyayangimu?"


"Setiap hari di kantor dia selalu menunjukan perhatiannya apalagi saat tahu aku sedang hamil, dia menjadi begitu sayang padaku."


Tanpa disadari Mawar meneteskan air matanya saat mengingat hari-harinya bersama Mahendra saat di kantor.


Aby mengarahkan istrinya itu untuk duduk di kursi dan menceritakan apa yang ada dalam hatinya!


"Kamu menyesal dengan yang sekarang kamu lakukan ini?" tanya Aby dengan suara halus.


Mawar menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mereka yang sudah memulai ini semua, untuk apa aku menyesal."


"Kalau begitu jangan menangis. Ini hari libur bagaimana kalau kita pergi?" ucap Aby.


"Aku malas, bagaimana kalau perginya ke lahan belakang? Aku mau melihat para pekerja melakukan pekerjaan mereka, aku ingin melihat apakah pekerjaan mereka sudah selesai atau belum."


*******


Di suatu tempat.


"Mitha sudah sembuh. Roger pasti sudah tahu kalau Randy tidak bersalah, aku harus cari cara lain untuk menghancurkan Randy," batin seorang laki-laki yang kini tengah memperhatikan Mitha dari luar pagar rumah Mitha.


"Mama asyik banget di sini sampai menghabiskan waktu berjam-jam di sini," ucap Michelle yang baru keluar dari rumahnya itu.


"Mama suka dengan tanaman bunga ini makanya Mama betah di sini," ucap Mitha yang duduk di atas batu yang ada dihalaman rumahnya.


"Udah terik nih, Ma masuk yuk," ucap Michelle.


"Sebentar lagi sayang, Mama lagi membersihkan pohon bunga ini dari daun yang kering," ucap Mitha.


"Siapa itu?" batin Michelle yang tanpa sengaja melihat orang di luar sedang mengintip mereka.


Michelle terus melihat ke luar memastikan bahwa yang dilihatnya memang benar-benar seorang manusia.


"Ada apa, sayang?" tanya Mita.


Merasa Michelle menyadari keberadaannya orang itu langsung pergi dari sana!


Michelle berlari mengejar orang itu! Ia merasa ada yang tidak beres dengan orang itu.


"Michelle! Michelle kamu mau kemana!" seru Mitha yang tak tahu ada orang yang mengintipnya dari tadi.


Michelle terus berlari tanpa menyahut Mita yang berteriak memanggil namanya.


"Mau kemana dia? Siapa yang dia kejar itu?" gumam Mitha.


Sementara itu Michelle terus mengejar orang misterius itu sampai lumayan jauh dari rumahnya.

__ADS_1


"Hey! Siapa kamu!" seru Michelle sambil terus berlari!


Bersambung


__ADS_2