
Setelah satu jam bersenang-senang di rumah Aby, kini tibalah saatnya Dirga dan Michelle pergi. Hari masih siang mereka masih harus melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Di dalam mobil.
Dirga terus saja melirik Michelle yang duduk di sampingan. Sambil terus menyetir, entah kenapa mata laki-laki itu terus saja memperhatikan kekasihnya itu.
"Ada apa? Dari tadi kamu terus saja melirik ke arahku," ucap Michelle yang sebenarnya sedari tadi menyadari tatapan Dirga.
"Tidak. Kamu kegedean tahu gak," ucap Dirga menyangkal perkataan Michelle.
"Seharusnya kamu tidak lupa aku ini siapa. Sekecil apa pun pergerakan kamu, aku bisa mendeteksinya," ucap Michelle lagi.
Dirga nyengir kuda sampai menapakkan deretan giginya yang putih bersih.
"Tapi kamu gak tahu kan apa yang ada dalam pikiran aku?" ucap Dirga.
"Tergantung tapi apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang, aku tahu," sahut Michelle.
"Apa, memangnya apa yang sedang ada dalam pikiran aku sekarang?"
"Sepertinya aku salah kostum dan akhirnya gini deh. Otak kamu yang mesum itu terus meronta dan sialnya mata kamu juga ikut mesum yang akhirnya pandangannya terus ke arah sini," ucap Michelle.
"Sepertinya bukan aku yang mesum deh tapi kamu yang menggodaku."
"Mana ada, aku bukan Jingga ya," ucap Michelle lagi.
"Buktinya sama gadis yang lain aku biasa saja tapi sama kamu ...." Dirga menghentikan ucapannya.
"Udahlah, jangan dibahas. Dua puluh delapan hari lagi aku akan sampai pada puncak gunung itu," sambung Dirga.
"Dua puluh delapan hari? Itu kan hari pernikahan kita," ucap Michelle.
"Jadi, kamu juga menghitung hari itu?" tanya Dirga.
"Ya iyalah, siapa coba yang tidak menantikan hari bahagia itu. Semua orang pasti sangat menanti hari bahagia itu apa lagi kita menjalani hari itu dengan orang yang dicintai," jelas Michelle.
"Miris sekali pernikahan tuan muda dan Mawar waktu itu ya."
"Dih, kenapa tiba-tiba ingat mereka?" ucap Michelle yang merasa heran.
"Ya. Mereka menikah karena terpaksa, tuan muda bahkan pernah sangat kasar pada Mawar karena merasa Mawar sengaja masuk ke dalam kehidupannya disaat waktu seperti saat itu."
"Ya, aku tahu itu. Permainan Jingga yang bagus membuat Abymana tak menyadari bahwa Mawar adalah korban yang sebenarnya," ucap Michelle.
"Tapi sekarang semua sudah berlalu, sekarang tuan muda sudah sangat mencintai Mawar," ucap Dirga.
__ADS_1
"Semoga mereka bahagia, semoga keluarganya benar-benar berubah."
"Semoga saja."
**********
Di kediaman Ratu.
"Nasya!" seru Ratu pada putrinya itu.
"Iya, Ma," sahut Nasya sembari berjalan menuruni anak tangga.
"Bulan depan Mas ganteng mu itu mau nikah. Kamu mau kasih kado apa untuk pernikahan mereka?" ucap Ratu.
"Oh, tanggal pernikahannya sudah ditetapkan. Kapan?" tanya Nasya dengan antusias.
"Tanggal dua puluh bulan depan," sahut Ratu.
"Wah sebentar lagi. Duh Mas ganteng udah gak bisa nemenin aku jalan lagi dong."
"Dan jangan panggil Mas ganteng lagi, Mas Dirga aja," sambung Ratu.
"Oh ya itu. Selalu lupa manggil namanya abis udah nyaman manggil Mas ganteng," ucap Nasya.
"Kasih aja apartemen, Ma habis nikah kan mereka harus punya tempat tinggal sendiri," ucap Nasya.
"Ide bagus tapi sepertinya mobil juga mereka butuh," ucap Ratu.
"Mas ganteng udah punya dua mobil hadiah dari Papa dan kak Aby masa mobil lagi kayak aku dong mau ngasih kado gaun malam," ucap Nasya.
"Kok gaun malam?" Ratu menatap Nasya.
"Maksud aku gaun tidur yang seperti ini." Nasya memperlihatkan gambar baju dalam ponselnya yang ia maksud.
**********
"Kita sampai. Ayo masuk kita turun," ucap Dirga.
"Aku mau pulang ngapain diajak masuk kantor. Aku bukan lagi karyawan Pak Randy," ucap Michelle.
"Pak Randy ingin bicara denganmu. Ayo," ucap Dirga sembari turun dari mobilnya.
"Bicara apa?" tanya Michelle yang juga mulai bergerak turun dari mobil.
"Mana aku tahu. Aku gak pernah ingin tahu urusan orang," ucap Dirga lagi.
__ADS_1
"Ish, gak ada rasa cemburu-cemburunya sama sekali sama pacar," ucap Michelle.
"Yang mau bicara sama kamu tuh bos aku dan dia udah tua ngapain juga cemburu sama Pak Randy kalau kamu jalan sama laki-laki lain yang seumuran dengan kamu atau aku baru aku cemburu," ucap Dirga.
Michelle tersenyum sambil terus berjalan memasuki kantor tempat Dirga bekerja!
**********
Di kediaman Mawar.
"Sudah siang, ayo kita masuk kamu harus istirahat," ucap Aby pada Mawar.
"Bawa aja Mawar masuk dan suruh dia tidur siang," ucap Mahendra.
"Ya udah ayo," ucap Mawar tanpa penolakan.
Aby pun langsung melangkah sembari mendorong kursi roda yang Mawar duduki!
Tiba di depan pintu masuk ke dapur rumahnya, Aby menghentikan langkahnya.
"Ada apa. Masuk saja," ucap Jingga yang sedang mengepel lantai.
"Rodanya kotor kalau dibawa masuk nanti kamu harus membersihkan lantai ini lagi," ucap Aby pada Jingga.
"Ya udah gendong aja. Kamu kuat kan mengangkat tubuh Mawar?" ucap Jingga yang sama sekali tidak terlihat adanya kecemburuan di hatinya.
"Kamu betul," ucap Mawar dengan penuh kegirangan.
"Maunya kamu emang dimanja-manjain," ucap Aby dengan senyuman di bibirnya.
Mawar tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada Aby.
Aby pun langsung memangku tubuh Mawar!
"Jingga, tolong rapikan kursi rodanya ya," ucap Aby sebelum pergi.
"Ya, tenang saja," ucap Jingga dengan mengulas senyum di bibirnya.
Jingga menatap punggung Aby yang kian menjauh dari pandangannya, setelah Aby sudah benar-benar tak terlihat ia menyandarkan punggungnya di dinding dan meletakkan telapak tangannya di dadanya! Air matanya menetes membasahi pipinya.
"Melihat kalian seperti ini, aku sangat kesakitan. Entah aku bisa terus menyembunyikan rasa ini atau tidak tapi aku akan berusaha menghilangkan rasa cinta ini, aku janji aku tidak akan pernah mengganggu kebahagiaan kamu lagi Mawar, aku sadar aku sudah membuat banyak kesalahan padamu," batin Jingga.
Jingga masih terdiam di tempat itu, dadanya terasa sesak saat melihat orang yang dia cintai bahagia bersama orang lain meski orang itu adalah adiknya sendiri. Mengharuskan dirinya melupakan orang yang dicintainya adalah hal terberat yang harus ia lakukan.
Bersambung
__ADS_1