Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 262


__ADS_3

Setelah mengemudi sekitar lima belas menit, Fredy tiba di rumah sakit tempat papanya ditangani oleh tim dokter.


Fredy berlari menuju ruangan rawat sang ayah dengan tangan yang terus menggenggam tangan El!


Pemuda itu memang tidak pernah menemui sang ayah ke penjara tapi mendengar papanya dilarikan ke rumah sakit, dirinya langsung merasa khawatir karena takut terjadi apa-apa.


Tiba di depan sebuah ruangan rawat inap. Fredy langsung memasuki ruangan itu karena tahu bahwa ruangan itu adalah ruangan tempat sang ayah dirawat. Sebelumnya memang sang ibu sudah memberitahukan nomor ruangan tersebut.


"Papa," ucap Fredy sembari memasuki ruangan itu.


"Kamu sudah tiba, Nak," ucap mamanya Fredy.


"Ma, gimana keadaan papa?" tanya Fredy dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Wanita paruh baya itu tidak mengatakan apa pun pada Fredy, dia hanya menatap sang suami dan membiarkan sang anak melihat sendiri kondisi sang ayah yang sudah terbaring lemah dengan banyaknya kabel medis yang menempel di tubuh laki-laki yang selama ini menemani hidup mereka.


Fredy menatap sang ayah dengan mata yang perlahan mulai mengeluarkan air mata, dia begitu tidak tega melihatnya. Sosok ayah yang sangat dia banggakan kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Meski belakangan dirinya sangat membenci sang ayah tapi tak bisa dipungkiri bahwa dalam hati kecilnya, dia sangat menyayangi sang ayah sama seperti dulu, seperti waktu dirinya belum tahu tentang kenyataan bahwa sang ayah memiliki masa lalu yang begitu buruk.


"Maafkan aku, Pa. Aku sudah melupakan, Papa karena keegoisanku," gumam Fredy sambil menggenggam erat tangan Haris.


Tak ada respon dari laki-laki yang dipanggilnya papa, itu. Laki-laki yang sudah mulai menua itu hanya bisa diam tetapi meski begitu, dia masih bisa mendengar suara orang-orang di sekitarnya.


Kritis. Itulah keadaan Haris saat ini, bahkan untuk bernapas saja dia harus menggunakan bantuan alat medis.


El melangkah beberapa langkah untuk sampai pada Fredy yang kini duduk di kursi yang ada di samping Haris! Perlahan, dia mengangkat tangannya dan nengusap punggung Fredy dengan lembut.


"Sabar. Aku tahu perasaan kamu sekarang tapi kamu harus kuat demi mama kamu dan papamu juga," ucap El dengan suara lembut.


"Maafkan papa, Nak tolong jangan bebankan dia dengan kebencianmu padanya," ucap mamanya Fredy dengan suara serak khas orang yang sedang menangis.

__ADS_1


Fredy hanya diam dengan tangan yang terus menggenggam tangan sang ayah. Air matanya terus menetes membasahi pipinya. Pemuda itu sedang menyesali dirinya yang sebelumnya tidak bisa memaafkan sang ayah padahal ayahnya sudah menyesali dan sudah meminta maaf padanya.


Tak ada sepatah kata pun yang terdengar dari mulut semua orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka hanya diam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


El terus mengusap punggung Fredy dengan lembut, tatapan matanya tertuju pada laki-laki yang sudah mulai menua yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit. Betapa dirinya sangat egois karena membiarkan Fredy membenci orang tuanya sendiri.


"Kayaknya, kamu butuh waktu sendiri. Aku pulang ya," ucap El pada Fredy.


El melangkah mendekati Haris lalu membungkukkan badannya dan mengusap kepala laki-laki itu.


"Om, maafin aku ya. Om cepat sembuh, demi tante, demi Fredy, demi aku juga. Cepat sembuh biar kita bisa berkumpul bersama," ucap El pada Haris.


Dia tahu bahwa Haris tidak akan menyahuti perkataannya tapi, El tahu bahwa Haris masih bisa mendengar suaranya. El sudah berusaha menerima semua keluarga Fredy karena cintanya yang terlalu besar pada pemuda itu.


Namun, sayang saat dirinya sudah bisa menerima semua masa lalu buruk Haris. Semua ini terjadi dan menyebabkan penyesalan dalam dirinya dan juga Fredy tentunya.


"Nak, kamu gak boleh pulang sendiri. Sekarang sudah malam," ucap mamanya Fredy pada Eliandra.


"Gak apa-apa, Tante lagian aku biasa pergi sendiri, kok," sahut El.


"Gak usah. Kondisi hati kamu sedang tidak baik-baik saja, aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan," ucap El.


Sebagai seorang wanita yang sudah dewasa, El tahu apa yang sekarang dirasakan oleh kekasihnya itu. El tak ingin terjadi sesuatu pada Fredy saat berkendara sendirian setelah mengantarkannya pulang. Dalam kondisi sekarang ini, tidak memungkinkan Fredy pergi sendirian, bisa saja saat mengemudi dia kehilangan kendali karena melamun atau terus memikirkan sang ayah.


"Tapi aku yang menjemput kamu ke rumah. Aku gak bisa membiarkan kamu pulang tanpa aku, apa yang akan keluargamu pikirkan nanti? Aku tidak mau mereka berpikir buruk tentang ku yang akhirnya membuat hubungan kita semakin sulit untuk bersatu. Aku sudah pernah hampir kehilangan kamu, aku tidak mau lagi mengalami itu," jelas Fredy.


"Nggak. Kamu jangan berpikiran begitu lagipula kak Michelle pasti tahu masalah ini karena dia sering datang ke kantor polisi untuk melihat kondisi papa kamu," jelas El.


"Benarkah? Kenapa mama tidak pernah bertemu dengannya di kantor polisi?" ucap mamanya Fredy.


"Kakak datang diwaktu tertentu saja. Dia tidak pernah ingin tahu kalau sebenarnya dia perduli pada orang-orang yang pernah menjadi buruannya. Kak Michelle lebih tertutup dalam hal kebaikannya, dia lebih suka hidup biasa seperti orang pada umumnya. Besok pasti dia ke sini, aku yakin dia pasti ke sini," ucap El.

__ADS_1


Bari El selesai bicara bahkan bibirnya saja masih basah oleh salivanya. Pintu ruangan itu terbuka dan langsung menampakkan sosok Michelle di ambang pintu.


"Kak Michelle," gumam El saat melihat kakak iparnya itu.


"Dari mana kamu tahu kalau susmi saya di rumah sakit ini dan dirawat di ruangan ini? Tolong jangan hukum dia lagi," ucap istrinya Haris.


Michelle masuk ke dalam ruangan itu tanpa berucap sedikit pun, tatapannya terus tertuju pada Haris yang terbaring tak sadarkan diri.


"Terakhir kali saya datang ke kantor polisi tadi siang. Saya sudah mengajaknya untuk ke rumah sakit karena tadi dia merasa sakit pada bagian dadanya tapi dia menolak, malah dia meminta saya membawa Fredy dan Mawar ke kantor polisi," jelas Michelle.


"Kenapa kamu tidak segera meminta Fredy untuk datang?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Saya pikir baru besok saya akan datang lagi dengan membawa dua anaknya meski saya tahu akan sulit untuk membawa Mawar kehadapan seorang Haris Sitompul," sahut Michelle.


Michelle mendekati Haris lalu menatapnya dengan jangka waktu yang lama, dia mengingat pesan Haris padanya yang meminta dirinya mempertemukan Haris dengan keluarga Pak Mahendra untuk menyampaikan maafnya.


"Saya akan bawa mereka besok. Bertahanlah, sampai mereka memaafkan kamu, Pak," batin Michelle.


"Tolong jangan hukum suami saya lagi," ucap istrinya Haria dengan air mata yang tak pernah ada surutnya.


"Bu, saya ini bukan orang yang menghukum suami, Anda. Saya hanya perantara saja karena sebenarnya yang menghukumnya adalah perbuatannya sendiri," ucap Michelle.


"Karena kehadiran kamu yang membuat semua hukuman ini harus dijalani bukan hanya oleh susmi saya tapi juga saya dan anak saya," ucap perempuan paruh baya itu.


"Kalau saya tidak ada, mungkin suami, Anda sudah tiada di tangan anaknya sendiri. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi sekarang ini. Saya dan Mawar bukan penyebab dari semua ini, ini takdir yang harus kalian jalani satu hal yang harus, Anda tahu setiap kejahatan pasti akan terungkap meski orang yang berbuat jahat itu sudah bertaubat," ucap Michelle.


"Kalau begitu maafkan suami saya."


"Bukan saya yang harus dimintai maaf tapi mereka yang sudah menderita karena suami Anda," jelas Michelle.


"Dengan cara apa pun aku akan membawa Mawar ke sini, aku mau papa sembuh," ucap Fredy.

__ADS_1


"Berusahalah sebisa mungkin dan Bu, yang sabar ya semoga, Anda diberikan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Saya tahu Anda adalah perempuan yang hebat yang tahan dalam derasnya air yang coba menghanyutkan pendirian, Anda. Anda dapat bertahan dalam kencangnya angin yang menerpa yang mencoba membuyarkan tulusnya hati, Anda." Michelle berucap sambil terus menatap istrinya Haris yang mencoba tetap bertahan dalam hati yang rapuh.


Bersambung


__ADS_2