Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 124


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, kini pagi hari mulai menyapa matahari mulai menampakkan sinarnya. Dari celah-celah kecil lubang ventilasi sinar matahari pagi itu masuk ke dalam kamar Aby dan Mawar.


Sinar mentari pagi itu menyoroti wajah cantik Mawar yang masih tertidur pulas.


Merasakan silau pada matanya, Mawar mengerjakan matanya dan dengan perlahan membuka matanya.


"Astaga, aku kesiangan." Mawar langsung bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Ia pun segera berlari memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri!


Di dapur, Aby sudah memasak nasi goreng untuk mereka sarapan. Meski didalam kulkas banyak stok bahan makanan tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya nasi goreng saja yang bisa ia masak itupun dengan bumbu racik yang ia beli di toko yang terdapat di sekitar rumah tempatnya tinggal.


Dari kaca yang menjadi pembatas antara dapur dan taman yang ada di samping rumah, Salman dan dua rekannya tengah memperhatikan Aby yang sedang menyiapkan makanan untuk istrinya sarapan.


"Tuan Muda perhatian banget sama Mbak Mawar ya," ucap Frans.


"Iya padahal waktu itu Tuan Muda begitu membenci Mbak Mawar," sahut Joe.


"Siapa yang gak sayang sama Mbak Mawar, dia cantik, dia baik, dia jagoan, dia selalu menolong orang, dia sangat perduli pada orang lain yang kesusahan meski dirinya tak mengenal orang itu. Mbak Mawar jauh dari kata buruk, dia lebih mengarah pada kesempurnaan yang sebenarnya tidak akan pernah dimiliki oleh manusia," ucap Salman.


"Kamu benar, untuk seorang manusia Mbak Mawar sudah lebih dari sempurna untuk ukuran manusia seperti kita," ucap Frans.


"Tuan Muda beruntung memiliki Mbak Mawar," ucap Joe.


Tiga bodyguard itu terus menatap Aby yang sedang fokus pada pekerjaannya.


"Mas, kenapa kamu tidak membangunkan aku?" ucap Mawar sembari berjalan menghampiri Aby yang baru meletakkan teko berisi air di atas meja.


Aby menatap Mawar lalu tersenyum. "Baru aku mau membangunkan kamu ternyata kamu udah bangun," ucapnya.


"Kenapa gak bangunin aku?" tanya Mawar lagi.


"Bagaimana aku tega membangunkan kamu yang tengah tertidur lelap," sahut Aby.


"Seharusnya kamu tahu kalau aku harus kuliah di pagi hari," ucap Mawar.


"Aku tahu tapi sekarang baru jam berapa, ayo sarapan habis ini ngebut ke kampus," ucap Aby.


Mawar duduk di kursi makan dengan perasaan kesal karena kebiasaan Aby yang tak pernah membangunkan dirinya saat dirinya terlambat bangun tidur.


"Jangan cemberut nanti cantiknya hilang." Aby menyodorkan segelas air putih pada Mawar lalu menyendokkan nasi goreng buatannya untuk Mawar.

__ADS_1


Mawar mengerucutkan bibirnya lalu meminum air yang diberikan oleh Aby.


Aby hanya tersenyum melihat tingkah Mawar yang selalu berhasil membuatnya merasa bahagia.


*********


"Ussy, kamu udah selesai belum?" tanya Dirga.


"Selesai apanya, Pak?" tanya Ussy.


"Kerjaan kamulah, apalagi," ucap Dirga.


"Udah kalau Bapak mau berangkat kerja, pergi aja sana," ucap Ussy.


Dirga menatap Ussy dengan tatapan terheran-heran. "Kamu ngusir saya dari rumah saya sendiri?" ucapnya.


"Nggak gitu, Pak. Ussy cuma mengingatkan." Ussy nyengir kuda lalu setelah itu menundukkan kepalanya.


"Ayo kita berangkat, kamu mau kuliah gak?"


"Ya mau lah, Pak."


"Ya udah ayo kita pergi bareng daripada kamu naik angkot mending bareng saya lagipula kampus kamu dan kantor saya tuh searah," ucap Dirga.


"Diam kamu, cepat keluar! Kalau saya malu gak mungkin tiap hari saya antar kamu."


**********


Di rumah Mahendra.


"Hari ini Papa gak usah masuk kantor. Ngapain capek-capek kerja kalau gak digaji," ucap Marisa.


"Papa harus ke kantor. Papa gak digaji karena memang sedang menebus semua kesalahan Papa lagipula Mawar masih bijak dalam mengambil keputusan buktinya dia masih memberikan penghasilan bulanan dari saham kita yang cuma dua puluh persen itu," ucap Mahendra.


"Tapi uang segitu mana cukup untuk biaya hidup kita selama satu bulan, Pa," ucap Marisa.


"Cukup-cukupin aja dulu, Ma lagian nanti setelah semua uang Aby yang kita pakai sudah terganti Mawar pasti menggaji Papa," ucap Mahendra.


"Ya kali mau nunggu uang itu tergantikan semuanya. Mau sampai kapan Pa? Nanti yang ada aku dan Mama gak bakalan ngerasain masuk salon kecantikan lagi," ucap Jingga.


"Seharusnya kalian bersyukur karena Mawar tidak melaporkan kita pada Aby dan Pak Randy kalau Mawar melaporkan kita pada mereka jangan harap kita masih bisa hidup bebas karena Pak Randy dan Aby pasti akan melaporkan kita pada polisi dengan tuduhan korupsi di perusahaan," jelas Mahendra.

__ADS_1


Marisa dan Jingga terdiam, mereka merasa perkataan Mahendra ada benarnya juga tapi meski begitu mereka tetap membenci Mawar karena kehadirannya semakin membuat hidup mereka terancam.


**********


Di taman yang ada di area kampus Mawar.


Michelle duduk di sebuah kursi taman sembari memainkannya ponselnya.


Sengaja ia datang ke kampus Mawar karena ingin menemui Mawar, ada hal penting yang ingin dibicarakannya pada Mawar.


Tak lama ia melihat Mawar berjalan memasuki area kampus setelah dia memarkirkan motornya di tempat parkir khusus kendaraan roda dua!


"Mawar!" seru Michelle sembari melambaikan tangannya pada Mawar.


Mawar menatap Michelle dan mencobanya mengenali orang yang baru memanggil namanya itu.


"Siapa dia? Darimana dia tahu namaku?" batin Mawar.


Mawar segera menghampiri Michelle dengan langkah cepat!


"Ya, kamu memanggil aku?" ucap Mawar.


"Iya. Bisa bicara sebentar?" tanya Michelle.


"Maaf aku harus masuk kelas," ucap Mawar.


"Kelasmu jam sembilan dan sekarang baru jam delapan lewat sepuluh menit masih ada waktu untuk kita bicara," ucap Michelle.


"Baiklah." Mawar duduk di kursi taman yang tadi diduduki oleh Michelle!


"Siapa kamu? Darimana kamu tahu namaku?" sambung Mawar.


"Aku Michelle, aku memang sudah tahu nama kamu sejak beberapa bulan lalu," ucap Michelle sembari menghempaskan bokongnya ke kursi taman yang diduduki oleh Mawar.


"Tapi aku tidak mengenai kamu," ucap Mawar.


"Aku tahu itu karena aku juga tidak mengenal kamu. Aku mau minta maaf dan ingin memberikan ini padamu," ucap Michelle sembari memberikan bunga mawar hitam yang sudah ia awetkan yang beberapa bulan lalu petik dari kebun milik Mawar.


"Bunga ini–"


"Ya, akulah yang memetik bunga ini. Maafkan aku, aku pikir bunga ini tumbuh liar di hutan itu tapi ternyata bunga ini ada pemiliknya karena aku tidak berhak maka aku ingin mengembalikan bunga ini padamu," ucap Michelle memotong perkataan Mawar.

__ADS_1


"Jadi, waktu itu kamu ada di sana? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Mawar sembari menatap Michelle penuh tanya.


Bersambung


__ADS_2