
Setelah keluarga Reza pulang dari rumah keluarga Pak Randy. Aby dan Mawar pun langsung pergi, hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan pergi ke tempat-tempat dulu pernah mereka datangi. Setelah lama tak menghabiskan waktu dengan kemesraan di tempat-tempat Indah, kali ini mereka berniat mengulang masa itu. Masa-masa dimana mereka saling mendekatkan diri dan saling menumbuhkan cinta diantara mereka.
"Kali ini kita akan pergi ke resor," ucap Aby pada Mawar.
"Ngapain? Aku gak mau diajak kerja," ucap Mawar.
"Memang aku pernah mengajak kamu bekerja? Kita ke sana untuk pacaran," ucap Abymana.
"Pacaran bawa anak, gimana pacarannya yang ada nanti riweh sama anak terus," ucap Mawar.
"Kalau kalian mau pacaran, aku siap menjadi babysitter dadakan," ucap Nasya.
"Gak usah, jangan anggap serius kakak, kamu ini," ucap Mawar sembari tertawa kecil.
"Eh kalau mau jadi babysitter buat Aditya dan Maira boleh-boleh aja. Bagus itu," ucap Abymana.
"Dengan senang hati, asal bayarannya di atas rata-rata," ucap Nasya lagi.
"Kalian ini apaan, sih. Udah ah, Mas, ayo kita pulang sekarang!" ajak Mawar.
"Gak jadi, nih kita pacaran?" tanya Aby.
"Jadi, dong tapi lebih ke rekreasi bareng anak bukan pacaran," ucap Mawar.
"Pulang-pulang sana! Udah pada tua masih aja bucin-bucinan," ucap Nasya.
"Udah diusir sama pemilik rumah. Ayo kita pergi!" Aby pun mulai melangkahkan kakinya menghampiri mobilnya dengan diikuti oleh Mawar di belakangnya.
Nasya hanya nyengir melihat kakaknya pergi, ada rasa yang tak biasa dalam dirinya saat hari ini mereka bertemu. Canda yang selalu ada, kasih sayang yang selalu teetuju padanya dari sang kakak, mungkin akan berubah setelah dirinya menikah nanti. Dirinya merasa waktu berjalan begitu cepat hingga tak tersa sebentar lagi dirinya akan menjadi milik orang lain.
"Semoga aku dan Reza selalu seperti kalian yang selalu menguatkan satu sama lain, yang selalu menyayangi satu sama lain dan saling mencintai tanpa syarat," batin Nasya sembari menatap mobil Aby yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
*******
Di kediaman Aby.
Siang itu Bu Haris dan Fredy berkunjung ke rumah Aby dan Mawar. Mereka akan menyerahkan hak Mawar yang diberikan oleh papanya pada Mawar.
Saat mereka tiba di rumah mewah itu, mereka disambut oleh tiga bodyguard tampan. Dengan penuh keramahan bodyguard-bodyguard itu mempersilahkan Bu Haris dan Fredy masuk ke dalam rumahnya.
"Mawar nya ada?" tanya Bu Haris pada tiga bodyguard itu.
"Mereka sedang pergi ke luar," jelas Frans.
"Lama gak ya, perginya?" tanya Fredy.
"Kalau soal itu, kami tidak tahu," sahut Salman.
__ADS_1
"Masuk saja dulu. Siapa tahu sebentar lagi mereka pulang," ucap Joe.
"Siapa yang datang?" tanya Bu Marisa pada mereka.
Bu Marisa berjalan ke luar rumah untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumah anak dan menantunya itu. Bu Marisa tersenyum ramah saat tahu yang datang adalah Bu Haris dan juga Fredy.
"Ada keperluan apa kalian datang ke sini? Mari masuk!" ajak Bu Marisa pada tamunya.
"Kami ingin bertemu dengan Mawar tapi kayanya Mawar sedang tidak di rumah," ucap Bu Haris.
"Dia sedang pergi ke rumah mertuanya," jelas Bu Marisa sembari berjalan beriringan memasuki rumah.
"Silakan duduk. Mau minum apa?" tanya Bu Marisa setelah mereka tiba di ruang tamu.
"Tidak usah repot-repot, Bu kalau Mawar tidak ada di rumah, kami tidak akan berlama-lama di sini," ucap Bu Haris.
"Duduk dulu, minum dulu. Mungkin saja mereka sedang dalam perjalanan pulang soalnya mereka pergi dari pagi," ucap Bu Marisa lalu segera bergegas ke dapur rumahnya untuk membuat minuman.
*******
Di kediaman Mitha.
Michelle sedang asyik duduk menonton televisi sembari terus memakan camilan yang ada di tangannya. Semenjak hamil, dirinya menjadi gampang lapar hingga hampir seharian penuh kerjaannya hanya makan, minum, makan, minum saja.
Di samping Michelle, Michaela dan Bu Mitha duduk sambil terus mengajak bicara baby Samar. Sesekali mereka menatap tempat sampah yang sedikit lagi penuh dengan sampah snack yang habis dimakan oleh Michelle.
"Ma, kalau gini terus lama-lama stok makanan kita cepat habis dan kita juga menyumbang sampah lebih banyak dari sebelumnya," ucap Michaela.
Merasa mereka tengah membicarakannya. Michelle menatap ke arah kakak iparnya dan mamanya, tak lupa dia juga melihat tempat sampah kecil yang terdapat di bawah meja, dia tersenyum ke arah mereka karena melihat ternyata tempat sampah itu sudah hampir penuh.
"Jangan ngomongin aku. Aku juga heran kenapa perutku gak mau berhenti mengunyah," ucap Michelle.
"Perut kamu gak sakit karena terlalu kenyang?" tanya Bu Mitha.
"Biasa aja tuh," sahut Michelle.
"Aduh, Nak. Lihat tante, kamu tuh makannya banyak banget kamu harus minum susu yang banyak biar gemuk dan sehat seperti tante," ucap Michaela pada bayinya.
Michelle menunduk ke bawah melihat tubuhnya sendiri. Dirinya tak merasa tubuhnya gemuk tapi kenapa kakak iparnya berkata seperti itu pada Samar.
"Gak gemuk. Aku masih langsing," gumam Michelle.
Bu Mitha dan Michaela saling menatap lalu mereka tertawa geli. Bagaimana bisa Michelle menyebutnya masih langsing sedangkan pipinya saja sudah terlihat membulat seperti bakpao.
*******
Di kediaman Athalia.
__ADS_1
Ussy dan El sedang duduk di kursi yang ada di halaman rumahnya. Mereka tengah melihat-lihat model pakaian yang akan dikenakan semua keluarga saat akad nikah El dan Fredy.
Dua gadis itu terlihat begitu serius dan fokus pada layar ponsel itu hingga mereka tak menyadarkan bahwa sedari tadi Dirga memperhatikan mereka dari luar. Dirga hanya berdiri di luar pagar dan terus menatap adiknya yang terlihat begitu bahagia. Kebersamaan El dan Ussy menambah kebahagiaan di hati Dirga karena mereka sangat akrab seolah tak ada perbedaan antara mereka.
"Yang ini, yang ini, Mbak. Kayaknya cakep," ucap Ussy sembari menunjuk layar ponsel itu dengan jari telunjuknya.
"Masa warna pink. Aku gak suka pink," ucap El.
"Bisa request warna kali, Mbak," ucap Ussy.
Setelah bosan melihat kedekatan mereka, Dirga membuka gerbang itu perlahan lalu memasuki area rumah dan membiarkan mobilnya tetap di luar. Dia berjalan menghampiri El dan Ussy yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Saking fokusnya pada handphone sampai gak sadar ada orang datang," ucap Dirga.
Ussy dan El pun mengalihkan pandangannya pada arah suara. Mereka tersenyum lebar saat melihat Dirga datang ke rumah itu.
"Dari kapan kakak di sini? Kok gak kedengeran suara buka gerbang?" tanya El.
"Kaliannya aja yang terlalu serius. Lain kali jangan terlalu fokus pada satu benda atau orang saja, di luar sana banyak orang jahat yang selalu memanfaatkan situasi seperti kalian barusan," jelas Dirga.
"Orang lagi seru, ya pasti fokusnya terus tertuju pada sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya," ucap El.
"Mana Mama? Kakak mau bicara," ucap Dirga.
"Di dalam lagi sibuk juga," ucap El.
Dirga pun langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui sang ibu. Dia langsung duduk di samping sang ibu setelah melihat sang ibu yang sedang duduk di kursi ruang keluarga.
"Ma, gimana dengan persiapan pernikahan El?" tanya Dirga pada sang ibu.
"Seratus persen udah siap. Cuma akad nikah aja gak harus persiapan banyak-banyak," jelas Bu Athalia.
"Persiapan resepsinya?" tanya Dirga.
"Udah mama bicarakan pada Bu Ratu katanya untuk biaya resepsinya, dia yang tanggung. Kita tinggal datang ke gedung yang sudah mereka sewa aja," jelas Bu Athalia.
"Ditanggung oleh mereka? Kok bisa?" ucap Dirga terheran-heran.
"Bisa, dong. Semua karena kakak yang sudah bekerja keras di perusahaan mereka dan akhirnya mereka gini, deh," ucap El sembari berjalan mendekati sang kakak.
Dirga tersenyum lalu menggeser duduknya agar El duduk di sampingnya. "Gak nyangka kamu udah besar. Sebentar lagi jadi milik orang," ucap Dirga sembari mencubit pipi El.
"Aw, aduh! Ahh, kakak apaan, sih sakit tahu," ucap El sembari berusaha melepaskan tangan Dirga yang mencubit hidungnya.
"Setelah menikah, jangan lupakan kakakmu ini. Ingat, kakak adalah cinta pertamamu jadi, jangan pernah lupakan cinta pertama kamu," jelas Dirga.
"Gak mungkinlah. Aku sayang sama kakak." El memeluk Dirga dengan erat dengan senyum penuh kegembiraan yang terus menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Melihat kedekatan kedua anaknya. Bu Athalia tersenyum bahagia, betapa dirinya bersyukur karena memiliki anak-anak yang baik sang saling menyayangi satu sama lain.
Bersambung