Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 144


__ADS_3

Dua puluh menit melakukan perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Joe itu tiba juga di kantor milik Mahendra.


Sebenarnya jika ditempuh dengan kecepatan maksimal hanya butuh sepuluh menit saja dari rumah Aby sampai ke kantor Mahendra. Karena kondisinya Mawar yang sedang hamil muda membuat Joe tak berani mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Joe, tunggu sebentar ya. Kamu gak masalah kan kalau nunggu setidaknya satu jam," ucap Mawar.


"Tidak masalah. Menunggu seharian pun akan saya lakukan," ucap Joe.


Mawar tersenyum kecil. "Jangan terpaksa kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, saya gak akan marah dan gak akan lapor pada Mas Aby," ucap Mawar.


"Tidak seperti itu, Mbak. Saya merasa saya juga mempunyai tanggung jawab untuk memastikan Mbak baik-baik saja. Saya tahu, Mbak bukan perempuan lemah tapi dalam kondisi, Mbak sekarang ini saya takut tiba-tiba Mbak pusing dan pingsan yang akhirnya menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Joe.


"Oke, kalau gitu saya pergi dulu ya." Mawar langsung melangkah memasuki kantornya!


Di ruangannya.


Seperti biasa Mawar akan memulai pekerjaannya dengan membuka laptopnya dan memberikan pekerjaannya hari ini.


Baru beberapa menit duduk, seseorang mengetuk pintu ruangannya dan perlahan membuka pintu itu.


Mawar menatap pintu ruangannya dan langsung nampak seorang karyawan di ambang pintu.


"Permisi, Bu. Ini teh nya," ucap karyawan itu.


"Oh kamu, masuk," ucap Mawar.


Seorang karyawan itu berjalan memasuki ruangan Mawar lalu meletakkan teh itu di atas meja kerja Mawar.


"Kenapa kamu yang membuatkan saya teh, karyawan yang biasa kemana?" tanya Mawar.


"Ada, tadi dia mengalami kecelakaan. Saat mengepel tangga tiba-tiba dia terjatuh," jelas karyawan itu.


"Terjatuh? Terus sekarang dia dimana? Ada yang luka nggak? Udah dibawa ke rumah sakit belum?" Mawar terus bertanya pada karyawannya itu.


"Dia dibelakang lagi diurut," sahut karyawan itu.


"Saya mau lihat dia," ucap Mawar sembari beranjak dari duduknya.


Sebagai seorang pemimpin di perusahaan itu Mawar tak bisa membiarkan karyawannya terluka atau sakit apalagi kecelakaan yang dialaminya terjadi di area kantornya.


Setibanya di suatu ruangan tempat karyawan itu berada.


"Ada yang luka nggak?" tanya Mawar.


"Bu Mawar," ucap karyawan yang sedang mengerumuni rekan kerjanya itu.


"Gak ada yang terluka, Bu hanya sepertinya kakinya keseleo," jelas karyawan lain.


Mawar berjongkok tepat di dekat kaki karyawan itu lalu menggerakkan tangannya untuk meraih kaki karyawan itu!


"Bu, jangan," ucap karyawan yang kakinya sakit.

__ADS_1


Mawar menatap perempuan itu. "Kenapa? Saya ingin membantu kamu dan saya ingin memastikan kaki kamu."


"Masa, Ibu memegang kaki saya."


"Tidak masalah, keselamatan kamu lebih penting," ucap Mawar.


Beberpa karyawan yang berada di ruangan itu saling menatap, mereka kagum terhadap Mawar yang tak memandang karyawannya rendah bahkan dia tak segan menyentuh kaki karyawan perempuan itu.


Mawar pun langsung memegang dan sedikit mengangkatnya! "Kaki kamu terkilir, tahan ya ini akan terasa sakit," ucap Mawar sembari mengurut kaki perempuan itu.


**********


Di kantor Aby.


"Aby, bagaimana dengan keadaan Mawar?" tanya Randy pada Aby.


"Mawar baik, Pa hari ini dia gak ke kantor," ucap Aby.


"Istri ksmu itu beda dari yang lain jadi kamu harus lebih ekstra ngurusin dia," ucap Rendy lagi.


"Maksud Papa?" ucap Aby yang tak mengerti dengan perkataan Papanya.


"Biasanya perempuan hamil suka menginginkan yang gak masuk akal karena Mawar mempunyai kemampuan diluar kodratnya perempuan mungkin saja dia menginginkan sesuatu yang berbahaya misalnya tiba-tiba ingin olahraga mengangkat beban berat atau apalah itu," ucap Randy.


"Sejauh ini nggak sih Pa, dia cuma minta yang wajar seperti makanan dan minuman yang memang dia sukai."


"Papa hanya mengingatkan," ucap Randy.


"Terakhir Mawar curiga pada Tuan Muda dan sering minta dimanja," ucap Dirga yang nyelonong masuk ke dalam ruangan Randy.


"Sok tahu kamu. Biasanya juga Mawar sering minta dimanja," ucap Aby pada Dirga.


"Maaf Tuan Muda tapi kali ini beda terlihat dari gayanya bicara dan perlakuannya. Maaf-maaf nih ya Tuan Muda saat saya ke rumah Tuan Muda kemarin gak sengaja saya melihat perlakuan Mawar pada Anda," ucap Dirga.


"Eh malah ngomongin Mawar. Sekarang gimana soal kerjaan, siapa yang akan ditugaskan ke luar kota? Gak mungkin aku ya karena aku gak bisa pergi," ucap Aby.


"Saya yang akan pergi," ucap Dirga.


*******


Di panti asuhan.


"Kak Michelle!" Anak-anak itu berlarian menghampiri Michelle yang baru tiba di panti asuhan itu!


Mereka berhamburan memeluk Michelle bahkan ada yang mencium Michelle sebanyak beberapa kali.


"Ya ampun kalian kenapa?" ucap Michelle.


"Kakak, kami rindu," ucap mereka secara berbarengan.


"Setiap hari kita bertemu, kenapa masih rindu?" ucap Michelle.

__ADS_1


"Tapikan sebelum tidur kakak gak pernah ada."


"Hei kalian ada apa? Kakak kalian baru tiba sudah dikerumuni saja. Biarkan kak Michelle istirahat dulu," ucap Bu Jena.


"Michelle, ayo masuk, Nak," ucap Bu Jena pada Michelle.


"Kamu datang sama siapa ini?" tanya Bu Jena pada Michelle.


"Ini Mamaku, perempuan yang selama ini aku cari," ucap Michelle.


Bu Jena tersenyum pada Mitha lalu mengajak mereka masuk ke dalam.


"Silahkan duduk, Bu. Saya akan membuat minum sebentar," ucap Bu Jena setelah berada di dalam ruang tamu.


"Terima kasih," ucap Mitha.


Mereka pun duduk sembari memandangi anak-anak yang sedang bermain di halaman.


"Mereka sangat menyayangi kamu," ucap Mitha pada Michelle.


"Aku juga sangat menyayangi anak-anak itu. Mereka adalah keluargaku yang tidak akan pernah aku lupakan," ucap Michelle.


Bu Jena datang lalu menata minum yang ia bawa di atas meja.


"Silahkan diminum," ucap Bu Jena.


"Bu, terima kasih ya sudah merawat Michelle dengan baik," ucap Mitha pada Bu Jena.


"Itu sudah kewajiban saya sebagai pengurus panti ini. Ibu tidak usah berterima kasih," ucap Bu Jena.


"Saya gak tahu apakah saya bisa bertemu lagi dengan Michelle atau tidak kalau Michelle tidak dirawat oleh Ibu."


"Semua ini sudah takdir. Tuhan sudah menuliskan takdir kita untuk bertemu," ucap Bu Jena.


"Ibu sudah merawat Michelle dengan baik dan mendidiknya sampai memiliki akhlak yang baik. Ibu sudah berjasa banyak terhadap Michelle."


*******


Di ruangan pribadi Mawar.


"Pak Mahendra, saya ingin membuat laporan bulan ini untuk disetorkan pada Abymana tapi saya tidak sempat untuk membuat berkasnya, tolong tandatangani saja di bawah sini," ucap Mawar sembari memberikan selembar kertas kosong pada Mahendra.


"Kalau kamu lelah biar Papa saja yang membuat laporannya," ucap Mahendra.


"Anda sudah pernah mencurangi suami saya. Anda pikir saya akan percaya lagi pada Anda?" ucap Mawar.


"Papa hanya menawarkan diri agar kamu tidak perlu bekerja tapi kalau pemikiran kamu seperti itu tidak apa Papa akan menandatangani kertas ini," ucap Mahendra.


Tanpa ragu dan rasa curiga Mahendra meraih sebuah pulpen lalu menandatangani kertas kosong itu.


Mawar tersenyum penuh arti sembari terus menatap gerakan tangan Mahendra.

__ADS_1


"Selamat datang di kehidupan baru Pak Mahendra, mulai besok Akulah yang akan menjadi pemimpin dalam permainan yang sudah kalian mulai," ucap Mawar didalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2