Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 213


__ADS_3

"Hai baby-baby yang lucu! Aunty datang," ucap Nasya sambil berjalan menghampiri dia bayi yang berada di dalam boks bayi.


"Waw baby twins," gumam El.


"Hai, Aunty. Aunty datang sama siapa?" ucap Mawar.


"Kak, kak Aby gak ada?" tanya Nasya pada Mawar.


"Tidak ada. Kakakmu sedang keluar," sahut Mawar.


"Selamat sore, kak. Perkenalkan nama saya Eliandra," ucap El sembari mengulurkan tangan pada Mawar.


"Kita pernah bertemu tapi belum kenalan ya. Panggil saya Mawar," ucap Mawar sembari menjabat tangan El.


"Iya, Kak kita pernah bertemu saat pernikahan kak Dirga dan kak Michelle."


"Adiknya Dirga kan?" ucap Mawar.


"Iya, Kak." El tersenyum ramah kepada Mawar.


"Siapa nama keponakan ku ini?" tanya Nasya.


"Maulana Aditya dan Maira Abbiyya. Kakakmu yang memberi mereka nama," ucap Mawar.


"Nama yang bagus. Aditya dan Abbiyya, kalian akan menjadi mainan Aunty mulai saat ini," ucap Nasya.


"Mereka masih terlalu kecil untuk diajak main. Kalau kamu gendong nanti remuk tulangnya," ucap El.


"Kamu pikir aku ini ular yang akan melilit mereka sampai tulang-tulangnya remuk semua," ucap Nasya.


"Meluk aku aja kadang aku sampai sesak gimana kalau meluk mereka yang masih unyu-unyu?" ucap El.


"Kalau meluk mereka ya pasti pakai perasaan lah, gak akan sama seperti aku memeluk kamu atau guling," ucap Nasya.


"Gimana dengan hubungan kamu dengan Reza?" tanya Mawar pada Nasya.


"Kayaknya gila deh, kak," ucap El.


"Maksud kamu gila gimana?" tanya Mawar pada El.


"Kamu jangan sembarangan ya, Nasya. Kamu tahu batasan berpacaran kan? Kakak bawel karena kakak gak mau terjadi sesuatu yang nantinya akan menjadi penyesalan dalam hidup kamu," sambung Mawar pada Nasya.


"Jangan dengarkan, El, Kak. Aku dan Reza biasa aja kok, aku tahu apa yang harus aku lakukan dan yang tidak aku lakukan," ucap Nasya.


"Maksud aku bucin nya itu lho, Kak. Parah, parah banget," ucap El.

__ADS_1


"Bilang aja kalau kamu iri karena kamu tidak punya pacar," ucap Nasya.


"Dih, apa sih? Nggak ya, aku gak pernah iri sama kamu."


"Tenang saja, Kakak Ipar. Nasya tahu apa yang harus dia lakukan dan yang tidak dia lakukan," ucap Reza sembari berjalan ke arah mereka.


"Lihatlah luka ini." Reza memperlihatkan luka pada lehernya yang masih belum mengering akibat gigitan Nasya.


"Kenapa itu?" tanya Mawar.


"Digigit sama Nasya," sahut Reza.


Mawar menatap Nasya dengan tatapan tajam. Bagaimana bisa mereka sudah main gigit-gigitan dan yang paling parah luka gigitan itu terletak pada leher Reza.


"Itu ... itu karena ...." Nasya kesulitan mencari alasan tidak mungkin dirinya mengatakan yang sejujurnya pada Mawar.


"Karena aku memaksanya mencium ku dan akhirnya aku kena gigit drakula ini. Sebenarnya aku yang salah karena salah memilih sasaran," ucap Reza jujur.


"Pagaran yang biasa saja, jangan melampaui batas. Nasya masih terlalu muda untuk mengenal percintaan orang dewasa, kamu sebagai polisi seharusnya bisa melindungi pacar kamu dari semua bahaya apalagi bahayanya hubungan percintaan!" tegas Mawar pada Reza.


"Maaf, Kak tapi awalnya aku hanya bercanda," ucap Reza.


"Bercanda seperti itu tidak pantas apalagi kalian sudah sama-sama dewasa dan pastinya sudah tahu sensitifnya hal itu. Aku tidak akan membiarkan Nasya rusak karena ulah laki-laki seperti kamu, aku tidak takut walaupun kamu adalah seorang polisi. Salah tetaplah salah sampai kapan pun tidak akan bisa dibenarkan," sambung Mawar.


"Ada apa, Sayang? Kamu sepertinya sedang emosi," ucap Aby yang baru tiba di rumah.


"Kenapa? Dia menyakitimu?" tanya Aby.


"Dia meminta Nasya menciumnya. Keterlaluan kalian para laki-laki memang hanya mencari keuntungan dibalik kedok percintaan," ucap Mawar dengan kesal.


"Kamu kok jadi bawa-bawa aku segala?" ucap Aby sambil terus berjalan menghampiri mereka.


Sementara itu Reza hanya tersenyum kecil melihat Mawar yang begitu kesal padanya.


"Ada apa hem?" ucap Aby lagi sambil mencolek dagu Mawar.


"Kamu gak liat istri kamu sedang marah gitu?" ucap Reza.


"Kamu sudah mencium Nasya?" tanya Aby pada Reza.


"Tentu saja belum," ucap Reza.


Aby menghela nafasnya panjang lalu menghembuskan nya perlahan.


"Aku pikir kamu mau bilang tentu saja sudah," ucap Aby.

__ADS_1


"Gimana mau menciumnya sementara baru didekati saja sudah mengigit. Adik kamu itu persis seperti drakula lihat saja aku digigit sampai terluka seperti ini," jelas Reza.


Mawar yang sudah kesal pun terdiam sambil mengulum bibirnya, ada rasa malu dalam dirinya karena sudah marah-marah pada Reza.


**********


Di pasar tradisional.


"Di sinilah saat pertama Darko menemui saya setelah saya tinggal di rumah Aby," jelas Marisa sambil berjalan berdampingan dengan Michelle.


"Ceritakan bagaimana rupa wajahnya," ucap Michelle.


"Tubuhnya tinggi tidak besar tapi berisi karena dia memang seorang pekerja keras. Memiliki bentuk wajah oval, mata bulat dengan bola mata hitam, hidungnya mancung dan dia brewokan, kulitnya coklat sawo matang," jelas Marisa.


"Apa seperti ini?" Michelle memperlihatkan sketsa wajah Darko yang ia buat seperti cerita Marisa.


Marisa memperhatikan gambar itu dengan seksama.


"Hampir mirip seperti ini," ucap Marisa.


"Baiklah, ini titik awal kalian bertemu bisa jadi orang ini sering datang ke sini kalau saya tidak bisa menemukannya dalam waktu dekat ini terpaksa kita harus menunggunya datang menemui Anda," ucap Michelle.


"Terserah kamu saja, saya ikut apa yang menurut kamu baik," ucap Marisa.


**********


Di kediaman Roger.


Prang!


Suara gelas pecah yang sengaja dilemparkan oleh Roger ke lantai.


Michaela terperanjat melihat amarah Roger yang baru ia lihat setelah beberapa tahun berumah tangga.


"Kenapa, Michaela? Kenapa harus seperti ini?" ucap Roger.


"Aku memikirkan kamu, aku memikirkan masa depan kita. Untuk apa harta sebanyak ini tapi tidak ada anak yang menghiasi rumah kita," ucap Michaela.


"Tapi tidak harus menikah lagi, kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan," ucap Roger.


Michaela terdiam, dia hanya menunduk dengan air mata yang terus mengalir. Ia ketakutan melihat amarah Roger saat itu hingga membuatnya kesulitan untuk berpikir.


"Jangan bahas ini lagi. Aku tidak mau menikah dengan siapa pun, selain Mama, hanya akan ada kamu perempuan dalam hidup aku," jelas Roger lalu meninggalkan Michaela di ruang makan!


Makanan yang sudah terhidang di atas meja makan masih utuh tak sedikit pun ada yang menyentuhnya. Roger sudah pergi dan sepertinya sudah kehilangan nafsu makannya begitu pula dengan Michaela yang sudah merasa kenyang setelah pertengkarannya dengan Roger.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2