
Setibanya di pusat perbelanjaan, mereka langsung masuk ke toko mainan dan anak-anak itu pun langsung berkeliling memilih mainan apa saja yang mereka sukai dan mereka boleh membeli berapa pun yang mereka mau.
"Sayang, kamu duduk aja tuh di sana," ucap Dirga pada Michelle, tentunya dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengar perkataannya.
"Hah, kenapa emang? Aku mau seru-seruan sama mereka," ucap Michelle.
"Gaya berjalan kamu aneh. Kayak bebek," ucap Dirga.
"Masa sih?" Michelle melihat ke arah pinggulnya.
"Masih sakit ya? Maaf ya," ucap Dirga.
"Gak sakit, cuma gak nyaman aja. Kayak aneh gitu pas jalan," ucap Michelle.
"Iya kah? Aku ngeri liat kamu jalan. Ada ngilu-ngilunya gitu yang ada dalam pikiranku, sekarang kamu sedang menahan sakit."
"Iih lebai deh. Aku gak apa-apa kok."
"Kak Michelle!" seru seorang anak kecil pada Michelle.
"Ya, sayang!" ucap Michelle sembari menatap anak itu.
"Aku mau ini."
"Ambil saja, sayang. Nanti ada Om Roger yang bayarin," ucap Michelle.
"Eh, kok kakak? Bukannya tadi Dirga yang ngajak belanja ya?" ucap Roger.
"Anggap aja ini hadiah pernikahan kita. Jangan rugian sama adik sendiri," ucap Dirga.
"Kena deh. Ya udahlah gak apa-apa, apa sih yang nggak buat Mimi tercinta," ucap Roger.
Di lorong lain di tempat itu.
Michaela terus mendampingi anak paling kecil diantara yang lainnya, dia terus memantau anak itu dan ikut memilih mainan untuknya.
Dari arah yang tidak begitu jauh, Roger memperhatikan istrinya yang terlihat begitu menyayangi anak itu.
"Ya Allah, jangan hukum dia atas semua dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Berikanlah dia seorang anak, biarkan dia merasakan hamil dan melahirkan meski hanya satu kali. Aku mohon ya Allah," batin Roger.
Melihat istrinya yang kini sedang berbahagia bersama anak itu, membuat Roger merasakan kesedihan karena teringat dengan Michaela yang belum juga bisa hamil tapi disisi lain, ia juga merasa bahagia karena melihat senyum lebar dan kadang terdengar tawa bahagia dari istri tercintanya itu.
"Jangan melamun, nanti kesandung," ucap Dirga sembari menepuk punggung Roger.
Roger terperanjat dan seketika lamunannya buyar entah kemana.
__ADS_1
"Dirga, kamu ngapain sih? Ngagetin orang aja," ucap Roger.
"Ada apa dengan Michaela? Kamu teringat pada Jingga?" ucap Dirga.
"Sstt! Diam. Jangan sebut namanya nanti Michaela mendengar," ucap Roger sembari menutup mulut Dirga.
"Lepasin!" Dirga menurunkan tangan Roger dengan paksa.
"Biasa aja kali lagian aku bicara gak keras kok."
"Jangan pernah bahas tentang dia karena sedikit pun aku tidak pernah mengingatnya," ucap Roger.
Dirga tersenyum kecut lalu memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Ash, dasar pengecut. Setelah hilang manisnya dibuang begitu saja. Kamu gak mikir apa? Itu anak orang udah rusak, udah gak akan ada lagi laki-laki yang mau sama dia," ucap Dirga sembari pergi meninggalkan Roger.
Sebenarnya bukan maksud Dirga untuk mencari masalah dengan Roger di hari pertamanya menjadi adik iparnya Roger tapi entah kenapa saat Dirga tahu bahwa Jingga sudah berubah, ia jadi memikirkan tentang wanita itu.
Roger terdiam di tempatnya sambil terus menatap Dirga.
"Aku juga menyesal karena melakukan itu tapi aku tidak bisa menikahinya karena aku sangat mencintai Michaela," batin Roger.
Di tempat lain.
Hal itu membuat Dirga meringis kesakitan dan meminta ampun pada Michelle.
"Ah! Awh! Ampun. Ampun istriku," ucap Dirga.
"Dirga ... Oh ya ampun." Michelle langsung melepaskan tangannya lalu segera membantu Roger untuk berdiri.
"M_maaf. Maaf ya, aku gak sengaja," sambung Michelle.
Michaela dan Eliandra pun dibuat terkejut oleh perlakuan Michelle yang terbilang tidak wajar dilakukan oleh seorang wanita.
Michaela dan Eliandra memang tidak mengetahui bahwa Michelle adalah wanita tangguh yang tak mudah untuk dikalahkan.
Nasya bersorak hore melihat itu. Dia bertepuk tangan sambil tertawa kecil.
"Yeyy! Akhirnya ada yang berani melakukan itu pada kamu, Mas," ucap Nasya.
El kembali dibuat bingung dengan reaksi Nasya yang seolah bahagia melihat Dirga kesakitan.
"Sebenarnya gadis itu siapa sih? Sebenarnya dia tuh benar-benar baik atau cuma pura-pura baik. Jangan-jangan dia suka lagi sama kak Dirga?" batin El.
"Ya ampun, baru hari pertama jadi suami untuk mendapatkan KDRT dari istri," ucap Roger.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas aku pikir kamu orang jahat," ucap Michelle.
"Gak akan ada orang yang berani jahat sama kamu kalau pun ada, orang itu udah minder duluan," ucap Dirga.
"Ya ampun, ya ampun, Mas ganteng kesakitan," ucap Nasya sambil terus tertawa.
"Dih ganjen banget pakai panggilan Mas ganteng segala," ucap El, "ingat ya kak Dirga udah ada yang punya," sambung El.
Nasya menatap El tapi tak ada sedikit pun kemarahan dalam dirinya. Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini kenapa hah? Cemburu?" ucap Nasya sambil terus tertawa.
"Michelle, kamu serius bisa sekuat itu?" ucap Michaela.
"Jangan begitu, mematahkan tangan Dirga saja dia bisa," ucap Roger.
"Oh ya ampun ... kamu jangan memukul kakak ya kalau kakak punya sedikit masalah denganmu," ucap Michaela.
"Kakak bercanda aja. Gak mungkin aku memukul kakak," ucap Michelle.
"Udah-udah. Sekarang gimana ini? Tanganku sakit," ucap Michelle.
"Ya ... gimana lagi? Mau aku pelintir lagi," ucap Michelle.
"Ah manja kamu. Kena luka tusuk aja gak meringis masa gitu aja nangis. Jujur aja kalau mau disayang sama Mimi lagian kita juga gak akan melarang," ucap Roger.
"Mungkin Mas ganteng perlu aku cubit," ucap Nasya.
"Anak-anak udah selesai tuh belanjanya. Bayar sana, siapa yang mau bayar?" ucap El.
"Pak! Ussy boleh beli baju?" ucap Ussy pada Dirga.
"Duh kamu lagi, beli aja apa yang kamu mau. Tuh ada Nasya yang bayarin," ucap Dirga.
"Sukanya melempar tanggung jawab sama orang," ketus Nasya.
Dirga hanya tersenyum melihat Nasya yang terlihat kesal.
"Masih sakit ya?" ucap Michelle.
"Coba kamu pelintir lagi tapi ke arah berlawanan. Pasti sembuh," ucap Michaela.
"E_e_eh jangan. Baru jadi adik ipar sehari, kalian udah mau menyiksa aku aja," ucap Dirga.
Bersambung
__ADS_1