Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 285


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di kediaman Frans.


Siang ini Frans sedang sibuk menyiapkan barang seserahan untuk mempelai perempuan. Dia dengan dibantu oleh kayaknya merapikan barang belanjaan seperti pakaian, tas dan sepatu tak lupa mereka juga membeli seperangkat perhiasan untuk seserahan utamanya.


"Bos kamu baik banget ngasih uang banyak buat modal nikah," ucap kakaknya Frans.


"Alhamdulillah, Kak. Mereka sangat baik," ucap Frans.


"Yang kamu nikahi ini kakaknya majikan kamu. Jelas saja mereka memberikan kamu modal, semua demi kebahagiaan calon istrimu," ucap kakak iparnya Frans.


"Mbak Mawar dan Tuan Muda Abymana juga memberikan modal nikah untuk dua rekanku," jelas Frans karena tak ingin keluarganya berburuk sangka pada keluarga Mawar.


"Alhamdulillah. Orang baik akan selalu dikelilingi orang baik," ucap kakaknya Frans.


"Semoga acaranya lancar. Eh kamu kenapa minta beli kerudung bukannya calon istrimu tidak berhijab?" ucap kakak iparnya Frans heran.


"Aku ingin dia berhijab seperti kakak. Setelah menikah nanti, perlahan aku akan memintanya menutup auratnya. Sudah cukup mengumbar auratnya," jelas Frans.


"Anak keluaran pesantren pacaran sama orang begajulan. Setelah ini tugas kamu akan lebih berat karena harus membimbing istrimu menuju jalan yang benar. Jangan-jangan dia juga gak bisa shalat," ucap kakaknya Frans.


"Jangan suudzon, Mas. Seburuk-buruknya umat muslim pasti mereka bisa shalat karena itu pelajaran dasar saat masih kecil," ucap istri kakaknya Frans.


"Mereka orang kaya. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan sementara urusan anak, mereka serahkan pada pembantu, bukan tidak mungkin mereka tidak tahu caranya shalat."


"Kak, jangan khawatir. Jingga bisa shalat dan bisa baca Al_quran karena keluarga mereka baik dan juga taat agama," jelas Frans lagi.


Ya. Setelah mereka berdamai dengan keadaan dan setelah Bu Marisa menyadari kesalahannya, mereka mulai mendekatkan diri pada penciptanya dan Jingga juga mulai melakukan shalat dan membaca al_quran seperti yang dulu dia pernah lakukan bersama keluarganya. Karena itulah Frans memilih Jingga untuk menjadi istrinya karena Jingga bisa memperbaiki dirinya sendiri dan bertaubat dari semua kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya di masa lalu.


"Semoga pilihan kamu ini benar ya, Frans. Kalau sudah menikah nanti, bimbing istri kamu dengan baik. Jangan sampai memberatkan kamu di akhirat nanti," ucap kakaknya Frans.


"Insyaallah. Aku akan membimbingnya sebaik dan sebisaku."


*******


Beberapa hari berlalu. Setelah melewati hari-hari tanpa bertemu, kini akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.


Di kediaman keluarga Frans.


Pagi-pagi sekali mereka sudah sibuk menyiapkan barang bawaan untuk seserahan. Setelah semua barang itu masuk ke dalam mobil, mereka pun langsung berangkat dari rumah sekitar pukul tujuh pagi.


"Siap ya, Frans?" tanya kakaknya.


"Insyaallah," sahut Frans yang sudah gagah dengan stelan jas berwarna putih.


"Kakak adalah satu-satunya orang tua dan keluarga yang aku miliki. Maaf karena aku merepotkan kakak," ucap Frans pada kakaknya.


"Diamlah anak sulung ku. Cepat masuk mobil dan kita sahkan gadis cantik itu," ucap kakak iparnya Frans dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Frans tersenyum lalu mengangguk. Sedari kecil, setelah orang tuanya meninggal Frans memang tinggal bersama kakaknya hingga kini mereka memiliki hubungan yang sangat baik dan dekat hingga tidak ada jarak antara adik dan kakak ipar. Mereka pun mulai melakukan perjalanan menuju rumah mempelai wanita.


********


Di kediaman Mitha.


"Mas!" teriak Michelle pada Dirga.

__ADS_1


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Dirga.


"Ini gimana, gaun aku gak muat?" ucap Michelle sembari berusaha memakai gaun itu.


"Sayang. Cintaku, gaun ini gak mungkin muat orang ukurannya juga kecil. Gak merasa apa sekarang kamu udah montok dan perut kamu udah buncit gitu," ucap Dirga sembari mengambil gaun itu dari Michelle.


"Terus aku pakai apa?" tanya Michelle kesal.


"Pakai yang muat, dong. Sini kita cari bareng-bareng!" Dirga menarik tangan Michelle lalu membawanya mendekati lemari pakaiannya.


Di ruangan utama rumah mereka.


Bu Mitha baru keluar dari kamarnya dengan menggunakan kebaya berwarna maroon, dia terlihat cantik dan memesona. Roger dan Michaela tsepukau melihat penampilannya hingga mereka menatap Bu Mitha dengan tatapan mata yang tak berkedip sekali pun.


"Hei, ada apa dengan kalian?" tanya Bu Mitha pada anak dan menantunya.


"Mama cantik sekali," ucap Roger.


"Jangan memuji mama. Mama gak bakal mempan dengan gombalan kamu," ucap Bu Mitha dengan tawa kecilnya.


"Mama memang cantik," ucap Michaela yang sedang memangku bayinya.


"Terima kasih. Terima kasih, eh ngomong-ngomong di mana Michelle dan Dirga?"


"Mereka masih di kamarnya," sahut Roger.


"Udah jam berapa ini. Nanti kita ketinggalan acaranya," ucap Bu Mitha lagi.


"Kita udah siap," ucap Dirga yang sedang berjalan berdampingan dengan Michelle menuju arah keluarganya itu.


"Aku kesulitan cari kostum. Gaunku semuanya gak muat," jelas Michelle.


"Mana ada yang muat, orang berat badan kamu aja udah naik berapa kilo," ucap Michaela.


"Baru naik tujuh kilogram," sahut Michelle.


"Udah-udah. Tujuh kilogram udah banyak itu, wajar kalau gak ada yang muat gaunnya. Sekarang udah ada yang pas 'kan? Ayo kita pergi sekarang takutnya ketinggalan!" Bu Mitha menarik Michelle dan membawanya meluar dari rumahnya.


"Aduh, Mama pelan nanti aku terjatuh," ucap Michelle.


"Ah kelamaan." Tanpa berkomunikasi terlebih dahulu. Dirga memangku tubuh Michelle ala bydal style dan langsung membawanya ke mobilnya.


"Anak itu," gumam Bu Mitha sembari menggelengkan kepalanya.


"Hah! Udah pada tua masih aja begitu kelakuannya," ucap Roger.


"Biarkan saja. Kamu ini risih saja," ucap Michaela.


"Abisnya aku iri," timpal Roger sembari merangkul Michaela dari samping.


"Bilang aja kamu juga pengen gitu tapi malu sama umur," celetuk Bu Mitha.


Seketika mereka pun tertawa tapi tak menghentikan langkahnya. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama dengan Dirga sebagai sopirnya dan Michelle duduk di bangku depan d samping Dirga sementara Michaela, Roger dan Bu Mitha duduk di bangku belakang. Dirga pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Abymana.


Setelah berkendara selama kurang lebih dua puluh menit, mereka tiba di kediaman Abymana dan ternyata keluarga Frans sudah tiba di sana dan sudah selesai melakukan acara serah terima, kini tinggal melangsungkan akad pernikahannya saja. Mereka langsung masuk ke dalam rumah karena tak ingin ketinggalan acara penting itu.

__ADS_1


"Udah siap semuanya ya? Kita langsung mulai saja acaranya," ucap Pak penghulu.


"Silakan, Pak," ucap kakaknya Frans.


"Baik. Bismillahirrahmanirrahim ...." Penghulu itu memulai acara hari itu dengan membacakan doa terlebih dahulu setelah itu dilanjutkan dengan Pak Mahendra mengucapkan kalimat ijab.


"Saya nikahkan engkau saudara Frans Diwangga bin Manaf kepada putri saya Jingga Erlintang binti Mahendra dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan seberat seratus gram dibayar tunai," ucap Pak Mahendra sembari menghentakkan tangannya yang tengah menjabat tangan Frans.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Jingga binti Mahendra dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai." Dengan satu kali tarikan napas Frans menjawab kalimat yang diucapkan oleh Pak Mahendra dengan begitu lancarnya.


"Gimana para saksi? Sah?" tanya Pak penghulu.


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada di sana.


Setelah acara itu selesai pak penghulu itu langsung pergi dari sana karena masih ada pekerjaan di tempat lain lagi. Para saksi pun ikut meninggalkan rumah itu karena sudah tidak ada kepentingan lagi di sana.


"Alhamdulillah ya, akhirnya sah juga," ucap Bu Marisa.


"Punya mantu kita, Ma," ucap Pak Mahendra.


"Dari dulu juga punya menantu tapi menantunya Aby," ucap Jingga.


"Iya, Papa tahu tapi sekarang sudah lengkap. Dua putri papa sudah menikah," ucap Pak Mahendra.


"Jingga. Selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Bu Mitha.


"Terima kasih, Tante," ucap Jingga.


Waktu terus berjalan hingga kini waktu malam pun telah tiba. Di rumah itu, di rumah biasa Frans bekerja, kini dia tidak lagi tidur di paviliun nya melainkan tidur bersama Jingga di kamar mewah itu.


Jingga duduk di tepi ranjang dan Frans masih berdiri sembari menatap perempuan yang baru dinikahinya tadi siang. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, dia bahagia kini bisa memperistri orang yang dia cintai.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Jingga.


"Kamu tidak mau membrikan hak saya malam ini?" tanya Frans.


"Aku pasrah. Maaf," ucap Jingga lalu menundukkan kepalanya.


Frans duduk di samping Jingga lalu menoyor dagunya agar Jingga menatap wajahnya. "Kenapa minta maaf?"


"Karena bukan yang pertama yang kamu dapatkan. Aku malu sama kamu," ucap Jingga.


"Lupakan yang sudah berlalu. Jangan malu padaku, aku menerima kamu apa adanya."


Jingga terdiam sambil terus menatap wajah Frans. Perlahan Frans mendekatkan wajahnya ke wajah Jingga hingga hidung mereka saling bersentuhan.


"Malam ini akan menjadi malam indah untuk kita. Lupakan semua masa lalu dan kita mulai hidup yang baru," ucap Frans lalu mengecup bibir Jingga sekilas.


Dia membaca doa sebelum melakukan aktivitas malam ini dan setelah itu dia mulai membuka baju Jingga dengan perlahan. Tak ada penolakan dari Jingga, dia hanya diam dan membiarkan Frans mengambil haknya saat itu juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2