Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 185


__ADS_3

"Aku bisa lebih nakal dari ini. Dahlah, ayo kita masuk. Mama pasti udah nunggu kita," ucap Michelle sembari berjalan memasuki rumahnya!


Dirga masih terdiam di tempatnya berdiri, dia menatap Michelle dengan bibirnya yang tersenyum tipis.


"Kita lihat nanti, senakal apa sih kamu. Apa kamu berani memanjakan ular piton ku," batin Dirga.


Dirga berjalan menyusul Michelle yang sudah jauh dari dirinya!


**********


Di kediaman Mawar.


Dari pintu keluar masuk tempat tinggal Mahendra sekarang.


Seseorang berdiri di sana sambil mencari-cari Marisa namun, dia tidak masuk ke area itu karena takut ketahuan oleh Mahendra.


Marisa langsung panik saat melihat Darko di sana, dia melihat kiri kanannya untuk mecari Mahendra.


Setelah memastikan bahwa Mahendra tidak ada di sana, Marisa pun langsung pergi menghampiri Darko!


Dengan langkah cepat sembari sesekali melihat ke belakang, Marisa terus berjalan ke arah pintu keluar!


"Ini sudah berapa hari, Marisa? Mana sepuluh jutanya?" ucap Darko.


"Sini kamu!" Marisa menarik tangan Darko ke balik dinding luar agar Mahendra atau Jingga tidak dapat melihatnya.


"Aku gak punya uang. Lihat saja, sekarang aku tinggal di tempat seperti ini dan sekarang suami aku me jadi petani," ucap Marisa lagi mencoba mejelaskan keadaannya sekarang.


"Aku tidak perduli. Lagipula yang aku butuhkan uang bukan curhatan kamu."


"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali," ucap Marisa.


"Gak bisa, Marisa. Berikan dulu uangnya."


Darko tetap terdiam di sana meski dirinya tidak mendapatkan apa yang ia mau dari Marisa.


"Mama!" teriak Mahendra yang baru keluar dari rumahnya.


Marisa dan Darko menoleh ke arah pintu, keduanya terlihat terkejut saat mendengar suara Mahendra.

__ADS_1


"Pergi kamu. Aku mohon pergi dari sini," ucap Marisa memohon pada Darko.


"Biarkan suamimu tahu semuanya," ucap Darko.


Marisa melepaskan anting berlianya lalu memberikannya pada Darko sebelum Mahendra datang dan melihat laki-laki itu.


"Ini, ambil ini dan pergilah. Harganya lebih dari sepuluh juga, aku harap kamu jangan datang lagi ke hadapanku," ucap Marisa.


Darko tersenyum penuh kemenangan. Diciumnya anting itu lalu berpamitan pada Marisa.


"Gitu dong. Kenapa gak dari kemarin aja kamu kasih ini ke aku. Terima kasih ya, aku pergi," ucap Darko lalu pergi meninggalkan Marisa.


"Mama! Mama sedang apa di sini?" ucap Mahendra.


Marisa yang sedang menatap Darko yang sudah menjauh terperanjat saat mendengar suara Mahendra.


Marisa menoleh ke arah Mahendra lalu tersenyum kaku.


"P_Papa. Papa ngapain di sini?" ucap Marisa gugup.


"Seharusnya Papa yang tanya, Mama sedang apa di sini?" ucap Mahendra.


"Mama baik-baik saja kan? Mama terlihat ketakutan," ucap Mahendra.


"Pa, tadi mama sedang mengejar kucing ke sini tiba-tiba ada orang marah-marah sama Mama katanya dia pemilik kucing itu padahal Mama cuma pengen kasih makan kucing itu."


Ahlinya berbohong. Marisa dengan mudahnya mencari alasan meski saat dalam keadaan panik sekalipun.


"Oh, Papa kira kenapa. Ya udahlah, Ma jangan dipikirin lagian orang itu juga gak apa-apain Mama," ucap Mahendra.


"Iya, Pa tapi Mama takut aja gitu. Ya udah yuk, Pa kita masuk aja," ucap Marisa.


"Ayo. Di sini panas banget. Mama gak sayang sama kulit Mama yang mulus ini?"


"Pa, apaan sih. Sekarang Mama udah gak perduli lagi dengan kulit atau kuku Mama. Masih bisa sama Papa aja Mama udah bahagia," ucap Marisa sembari menyandarkan kepalanya di bahu Mahendra.


********


Di kantor Randy.

__ADS_1


"Mama gak nyangka ini terjadi. Sam tidak seperti ini sebelumnya," ucap Ratu yang masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Samuel.


"Kenyataannya seperti ini, Ma. Udahlah, Ma kalau dulu dia bisa menyelingkuhi Mama bukan tidak mungkin dia juga melakukan kejahatan ini," ucap Randy.


"Maaf ya, Pa coba kalau sebelumnya Mama gak kenal sama Samuel mungkin kejadiannya gak akan seperti ini," ucap Ratu dengan raut wajah lesu penuh rasa bersalah.


"Ini bukan salah Mama. Kenapa Mama minta maaf."


"Papa." Ratu berhamburan memeluk Randy dengan air matanya yang mulai menetes dari pelupuknya.


"Udah mau punya cucu masih aja pada bucin," ucap Aby yang baru masuk ke dalam ruangan Randy.


"Aby, kamu ganggu orang tua mau berduaan aja. Gak bosan kamu dulu sering ganggu Papa dan Mama?" ucap Randy.


"Aku kangen disayang sama kalian. Aku juga mau dong dipeluk," ucap Aby sembari berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


Aby duduk di tengah-tengah Randy dan Ratu seolah tak rela dirinya dibiarkan sendirian.


"Aduh kamu ini, By. Udah mau jadi Ayah kok kelakuannya masih gini," ucap Ratu sembari menggeser duduknya.


"Anak ini memang gak pernah berubah. Gak bisa melihat Mama dan Papanya berduaan," ucap Randy.


"Eum ... Pa, Ma, aku mau berterima kasih sama Mama dan Papa," ucap Aby.


"Berterima kasih untuk apa?" tanya Ratu.


"Karena Mama sudah melahirkan aku dan Papa sudah memberikan apa yang aku butuhkan," ucap Aby lagi.


"Tidak usah berterima kasih. Buktikan saja kalau kamu sayang sama Papa dan Mama," ucap Randy.


"Bagaimana caranya? Aku sudah melakukan yang terbaik untuk kalian," ucap Aby.


"Cintai Mawar dengan tulus, jangan pernah membuka hati untuk permpuan lain lagi meski untuk Jingga," ucap Randy.


"Maksud Papa?"


"Papa tahu sekrang Jingga dan keluarganya tinggal bersama kalian, jangan berikan celah untuk dia masuk lagi ke dalam kehidupan kamu," ucap Randy.


"Papa benar, By. Mama gak mau ya menantu Mama yang paket komplit itu hilang dari genggaman," ucap Ratu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2