Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 162


__ADS_3

Malam hari di rumah Mawar.


Saat sedang bersantai di halaman belakang rumahnya, tiba-tiba Mawar dan Aby mendengar teriakan yang begitu kencang dan sangat mengganggu pendengaran mereka.


"Ada apa dengan mereka? Berisik sekali," ucap Abymana yang merasa terkejut.


"Itu suara Bu Marisa." Mawar segera bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan langkah cepat ke arah pintu penghubung antara rumahnya dengan tempat keluarganya tinggal.


"Mawar hati-hati, kamu bisa terjatuh," ucap Abymana.


"Mas, aku takut mereka kenapa-kenapa," ucap Mawar.


"Gak akan. Bukanlah lahan di sana sudah pasti aman untuk ditempati," ucap Aby sembari berjalan mendampingi Mawar.


"Aman bagiku tapi tidak buat mereka. Aku sengaja melepas liarkan due ekor biawak di sana," ucap Mawar.


"Biawak gak bahaya, gak bakal mengigit juga kan," ucap Aby.


"Kalau biawaknya kamu ya gak bakal mengigit paling menji**t. Biawak yang aku lepas di sana biawak asli lho," ucap Mawar sembari berusaha membuka gembok yang mengunci rapat pintu itu.


"Pelan-pelan, sayang lagian kamu sendiri yang membiarkan biawak itu hidup di sana kamu juga yang khawatir sendiri sama mereka," ucap Aby.


"Awas ya kalau kamu genit-genit sama Jingga," ucap Mawar setelah pintu itu terbuka.


Aby tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Namanya juga melihat mantan yang pernah dicintai dan disayangi pasti ada sedikit rasa aneh tapi kamu tenang aja, kamu tetap yang aku cinta setulus hati," ucap Aby.


"Awas ya kalau macam-macam," ucap Mawar lagi.


"Nggak, sayang. Aku mana berani membuat kamu marah," ucap Aby lagi.


Mawar tak berucap lagi, dia segera berjalan ke arah rumah Mahendra!


"Ada apa ini? Kenapa berteriak? Suara Anda membuat saya terkejut," ucap Mawar.


"M_Mawar, a_a_ada tikus di sini. Saya takut," ucap Marisa.


Mawar menatap wajah Marisa dan terlihat dengan jelas kalau wanita itu sangat ketakutan.


"Maaf, Nak kalau teriakan Mama mengganggu kamu tadi Mama kamu ketakutan karena ada tikus lewat kedepannya," ucap Mahendra.


"Hhh apa sih udah sempit, panas, banyak nyamuk lagi," ucap Jingga yang tak menyadari ada Aby di sana.

__ADS_1


"Saya pikir ada apa. Tikus tidak akan sampai memakan Anda, Bu Marisa," ucap Mawar.


"Tolong, Mawar. Tolong biarkan Mama tidur di rumah kamu, Mama takut, Mama takut tikus itu datang lagi," ucap Marisa.


"Tidak bisa. Tempat kalian di sini," ucap Mawar.


"By, ternyata kamu di sini juga?" ucap Jingga yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


Aby yang hanya berdiri di depan rumah itu hanya menanggapi perkataan Jingga dengan tatapan dingin.


Mawar melirik Jingga yang tampaknya sedang mencari perhatian lebih dari Aby.


Terlihat jelas Jingga tersenyum ramah pada Aby dengan dadanya yang sedikit dinaikkan agar lebih terlihat menonjol.


Jingga yang memakai pakaian seksi tentunya bisa saja memancing hasrat Aby yang kini jarang tersalurkan karena keadaan Mawar yang tengah hamil.


"By, di sini aku kepanasan mungkin nanti malam aku akan kedinginan. Kamu gak kasihan padaku? Aku ini kakak ipar kamu lho," ucap Jingga.


"Mawar, kami di sini baik-baik aja lebih baik kamu masuk ke dalam rumah. Kamu lagi hamil gak boleh kena angin malam," ucap Mahendra.


"Mama gak baik-baik saja, Pa. Mama takut," ucap Marisa.


"Itu hanya tikus dan tikus tidak akan memangsa Anda," ucap Mawar.


"Kamu tega sama Mama. Kamu gak tahu diuntung padahal saya sudah melahirkan kamu," ucap Mawar.


"Ayo, Mas kita pergi," ucap Mawar sembari melangkah dari tempat itu.


Mahendra dan Jingga hanya diam dengan tatapan yang terus tertuju pada Mawar dan Aby sedangkan Marisa berlari memasuki kamarnya!


Di kamar Marisa.


Marisa duduk di atas kasur busa yang tingginya hanya beberapa centi meter itu. Dia duduk sembari memeluk kedua kakinya, kepalanya ia letakan di atas lututnya.


"Sampai kapan aku harus begini? Aku sendiri tidak mau seperti ini tapi kebencian ku tak pernah hilang meski aku terus mencoba untuk menerima Mawar. Aku sendiri sakit saat melihat wajah anak itu, aku tidak bisa tidak membenci anak itu," ucap Marisa di dalam hatinya.


Marisa terisak, selama ini ia sendiri menanggung beban berat karena terus membiarkan kebencian tumbuh dalam dirinya.


"Ya Tuhanku, kenapa kau masih memberikan aku napas jika selamanya harus menanggung beban seberat ini? Aku sayang pada keluargaku," batin Marisa lagi.


Perlahan Mahendra berjalan mendekati Marisa lalu duduk di sampingnya! Diusapnya punggung Marisa dengan lembut sambil berkata. "Ma, Papa harap mulai saat ini, Mama harus bisa lebih menerima Mawar agar Mama tidak terus tersiksa. Dulu Mama tidak sejahat ini tapi kenapa sekarang, Mama seperti ini pada anak kita sendiri?"


"Mama tidak pernah menginginkan kehadiran Mawar. Dia itu anak sial, anak yang tidak pernah Mama inginkan," ucap Marisa.

__ADS_1


"Ma, sadar, Ma! Dua puluh tahun lebih kita menyia-nyiakan Mawar. Mungkin sekarang adalah balasan untuk kita karena kita sudah zalim pada anak kita sendiri."


"Tidak mungkin. Kita tidak seharusnya mendapatkan balasan seperti ini, Mawar itu emang anak pembawa sial, aku tidak mau memiliki anak seperti Mawar, aku tidak sudi Pa." Marisa memukul dada Mahendra dengan sangat keras dengan diiringi tangisannya yang semakin deras.


Mahendra langsung memeluk Marisa dengan erat agar istrinya itu dapat lebih tenang lagi.


Ia sendiri tidak tahu mengapa istrinya bisa sebenci itu pada Mawar padahal pada Jingga, Marisa begitu sayang.


Sampai saat ini, setelah dua puluh tahun lebih mereka tidak pernah menemui Mawar, Marisa tetap saja membenci anak keduanya itu dengan alasan tak ingin memiliki anak perempuan lagi.


Di dalam kamar Mawar.


Mawar menangis dalam pelukan Abymana, dia menangis sesenggukan sambil terus memeluk Aby dengan erat. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya meski berulang kali Aby bertanya, kenapa Mawar menangis?


Setiap kali mendapatkan perkataan buruk dari Marisa, Mawar memang selalu menangis karena sakit di hatinya terasa amat dalam dan menusuk ke dalam hati terdalamnya.


"Ssst, sudah jangan nangis lagi. Ingat bayi ini akan ikut sedih kalau kamu sedih," ucap Aby dengan nada bicara halus.


Mawar tak menyahut, ia mer***s baju bagian belakang sang suami dengan sangat kencang. Mencoba menghilangkan rasa sakit dan sedihnya.


"Kalau dengan mengigit ku bisa membuat kamu tersenyum, aku rela digigit bahkan sampai mengeluarkan darah pun aku rela," ucap Aby.


Mawar melepaskan pelukannya lalu menatap sang suami. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Aku bukan zombie ya," ucap Mawar.


"Nah, gitu dong senyum. Kan cantiknya bertambah berkali-kali lipat," ucap Aby.


"Aaah kamu, jangan membuat aku terbang," ucap Mawar.


Ya, setiap bersama dengan Aby, sesakit apa pun, sesedih apa pun, se_sesak apa pun dirinya pasti semua rasa itu akan lebih cepat hilang karena Aby selalu berhasil membuat suasana hatinya membaik.


"Eh, bayinya nendang," ucap Mawar penuh kegembiraan.


"Mana? Aku mau merasakan tendangannya," ucap Aby.


Mawar meraih tangan Aby lalu menempelkan telapak tangan Aby pada perutnya!


Seketika Aby tersenyum bahagia saat merasakan adanya gerakan dari dalam perut Mawar.


"Aku merasakannya, dia bergerak, bayi kita menendang dengan keras," ucap Aby.


"Dia memang aktif, Mas."

__ADS_1


"Hey sayang, jangan kenceng-kenceng menendangnya kamu tahu kan Mamamu ini cengeng meski bisa melumpuhkan banyak penjahat dan sekali serang," ucap Aby dengan tatapan yang tertuju pada perut Mawar.


Bersambung


__ADS_2