
Di kediaman Aby.
Mawar baru tiba setelah menjemput kedua orang tua angkatnya di stasiun kereta.
Mereka berjalan memasuki rumah mewah itu dengan penuh kegembiraan!
"Bapak, Ibu kita sudah sampai. Ayo aku antar ke kamar kalian," ucap Mawar.
"Terima kasih, Nak," ucap Pak Dirja.
"Iya benar, istirahat dulu habis itu makan. Aku pesan makanan via online dulu ya," ucap Abimana.
"Gak usah, By. Mama dan Jingga udah masak untuk kita semua," ucap Marisa yang baru muncul dari dapur.
"Marisa?" ucap Bu Ratna penuh tanya.
"Bude," ucap Marisa sembari berjalan mendekati Bu Ratna dan langsung mencium punggung tangannya.
Setelah itu Marisa juga mencium punggung tangan Pak Ija.
"Pakde, Bude maafkan saya ya," ucap Marisa dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu kenapa minta maaf sama kami? Menangnya kamu membuat kesalahan apa pada kami?" ucap Bu Ratna.
"Mama, kedua orang tuaku akan tinggal di sini sampai aku lahiran nanti," ucap Mawar pada Marisa.
"Syukur kalau begitu. Mama tahu kamu pasti sangat membutuhkan mereka saat kamu menghadapi lahiran nanti," ucap Marisa.
"Karena Mama udah masak, gimana kalau sebelum istirahat, Bapak dan Ibu makan siang dulu?" ucap Aby.
"Kamu benar, Mas. Bu, Pak ayo kita makan dulu," ucap Mawar.
"Mbak, ini barang-barang mau ditaruh dimana?" tanya Salman yang membawa barang bawaan orang tua angkat Mawar.
"Taruh di kamar depan aja," ucap Mawar.
"Jangan. Yang dua itu aja yang ditaruh di kamar, yang lainnya bawa ke dapur," ucap Bu Ratna.
"Iya. Yang dua itu pakaian Bapak dan Ibu sedangkan yang lainnya adalah hasil kebun yang sengaja kami bawa untuk oleh-oleh," ucap Pak Ija.
"Iya, sengaja kami bawa banyak karena separuhnya untuk Mahendra dan Marisa tapi karena Marisa sudah ada di sini jadi, gak usah repot-repot nganterin ke rumahnya," ucap Bu Ratna.
"Terima kasih, Bude. Kami sudah berlaku tidak adil pada kalian tapi kalian masih saja menghawatirkan kami," ucap Mahendra.
"Kalau gitu ayo kita makan sama-sama. Jingga sedang menyiapkan semuanya," ucap Marisa.
Mereka semua pun berjalan menuju meja makan yang ruangannya terdapat di belakang ruang keluarga!
********
Di kediaman Mitha.
"Rumah sudah bersih, waktunya kita pulang," ucap Ussy yang baru selesai mengepel lantai rumah mewah itu.
Ussy dengan dan semua anak-anak itu membantu merapikan dan membersihkan rumah Mitha. Meski anak-anak itu tidak bisa berbuat banyak tapi dengan semangat mereka membantu Ussy menyapu dan mengepel rumah itu.
"Terima kasih sudah membantu," ucap Michaela dengan senyum gembira.
"Sama-sama, tante," sahut mereka semua.
__ADS_1
"Jangan dulu pulang. Om ada hadiah untuk kalian semua," ucap Roger.
Roger duduk di bangku taman yang terdapat di halaman rumah orang tuanya itu.
Anak-anak itu berlarian mendekati Roger dan langsung mengelilingi laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh enam tahun itu.
"Apa hadiahnya, Om?" tanya salah satu anak itu.
Roger mengeluarkan satu gepok uang dari dalam saku celananya lalu memberikan satu lembar untuk satu anak.
"Ini, ada uang jajan untuk kalian," ucap Roger sembari memberikan satu lembar uang pada anak yang paling dekat dengannya.
"Terima kasih, Om," ucap anak itu.
"Antri ya. Satu-satu dulu," ucap Roger.
Setelah semua anak sudah kebagian semua Roger kembali memasukkan sisa uang itu ke dalam saku celananya.
"Ussy gak dikasih?" tanya Ussy.
Gadis yang sudah dekat dengan Dirga dan Michelle itu tanpa ragu meminta pada Roger.
"Khusus untuk kamu. Ini, ambil semuanya," ucap Roger sembari memberikan sisa uang itu pada Ussy.
Ussy membuka mulutnya lebar karena terkejut mendapat uang sebanyak itu dari Roger.
"Ini serius?" ucap Ussy.
"Serius. Ini ada lagi untuk kamu," ucap Michaela sembari memberikan sebuah amplop yang pastinya berisi uang yang entah berapa nominalnya.
Saat mereka sedang asyik berbincang, Michelle dan Dirga datang menghampiri mereka!
"Hai anak-anak," ucap Michelle.
"Aduh, aduh kamu udah berat sekarang ya," ucap Michelle sembari mengangkat anak yang usianya kira-kira lima tahun.
"Yakin kamu gak apa-apa?" ucap Dirga.
"Nggak. Aku aman kok," ucap Michelle.
Michelle duduk di samping Roger lalu membiarkan anak itu duduk di pangkuannya.
Tanpa basa-basi dan aba-aba terlebih dahulu, seorang anak perempuan mencium pipi Michelle. Hal itu membuat Michelle terkejut dan merasa bahagia.
"Aww, yang ini lagi," ucap Michelle sembari menyodorkan pipinya yang satu lagi.
"Hadiahnya mana?" ucap anak itu sembari menandakan tangannya.
"Apa? Jadi minta hadiah, ini ceritanya?" ucap Michelle tentunya dengan tawa kecilnya.
"Mau hadiah? Ayo ikut, Om!" ucap Dirga sembari berjalan ke arah mobilnya.
Anak-anak itu pun langsung berjalan membuntuti Dirga!
"Apa hadiahnya, Om?" tanya salah satu anak itu.
"Hadiahnya pilih sendiri. Kita pergi ke tempat belanja sekarang," ucap Dirga.
"Eh aku ikut," ucap Nasya.
__ADS_1
"Aku juga ikut!" seru El sembari berlari.
"Ayo kita pergi, kak," ucap Michelle pada Michaela.
Michelle meraih tangan kakak iparnya itu lalu menariknya agar ikut bersamanya.
"Eh, kok semua pergi? Aku ikut dong," ucap Roger sembari berlari menghampiri mereka semua.
"Yang lain masuk mobil Om Roger ya. Kita akan pergi ke Mall untuk membeli semua yang kalian inginkan," ucap Dirga.
"Hore!" Anak-anak itu pun bersorak sorai lalu langsung memenuhi mobil Dirga dan Roger.
"Ussy! Sy! Sini kamu," ucap Nasya.
"Sepertinya dia juga kenal dekat sama Ussy. Siapa sih sebenarnya perempuan ini?" batin El.
"Ada apa, Mbak?" ucap Ussy sembari berjalan menghampiri Nasya.
"Orang-orang pada mau ke Mall. Kamu gak mau ikut?" tanya Nasya.
"Mobilnya gak muat. Udah penuh tuh," ucap Ussy.
"Ayo sama aku, aku juga mau kali seru-seruan sama mereka."
"Kita pakai mobil siapa?" ucap El.
"Mobil aku aja," ucap Nasya.
"Ussy! Ayo masuk," ucap El.
Nasya pun langsung mengemudikan mobilnya setelah El dan Ussy masuk ke dalam mobilnya!
Mereka pun mulai melaju menyusul mereka yang sudah pergi lebih dahulu!
********
"Wah ternyata di sini juga ada kebun dan sawah," ucap Bu Ratna.
"Ini sawah dan kebun milik Mawar tapi saya yang menggarapnya," ucap Mahendra.
Bu Ratna dan Pak Ija menatap Mahendra secara bersamaan. Mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mahendra.
"Ceritanya panjang, Pakde, Bude. Kalian telah mendidik Mawar dengan baik sehingga dia tidak menyimpan dendam pada kami," ucap Marisa.
"Maksud kamu?"
"Kalian masih lama tinggal di sini, nanti kami akan bercerita banyak tentang kehidupan yang kami alami," ucap Mahendra.
"Mawar melakukan apa pada kalian? Bude tidak pernah mengajarkannya untuk membalas dendam," ucap Pak Ija.
"Mawar tidak membalas dendam tapi dia memberikan pelajaran yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya," ucap Marisa.
"Kapan kalian akan pulang? Bude ingin mampir ke rumah kalian juga," ucap Bu Ratna.
"Kami tinggal di sini, Bude. Itu rumah tempat kami berteduh dari panasnya matahari dan dinginnya air hujan," ucap Mahendra sembari mengarahkan jari telunjuknya pada rumahnya.
Bu Ratna dan Pak Ija kembali dikejutkan dengan pernyataan Mahendra yang ternyata mereka tinggal di rumah panggung seperti rumah yang ia miliki di kampung.
"Tapi apa kalian bisa tidur di tempat seperti itu? Kalian tidak pernah mengalami hidup susah begini," ucap Bu Ratna.
__ADS_1
"Kami bisa, Bude. Buktinya kami masih bisa hidup sampai sekarang," ucap Marisa.
Bersambung