
Keesokan harinya di kampus Nasya.
Nasya dan El sedang berjalan di area kampus mereka. Dua gadis itu terlihat asyik mengobrol sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan mereka.
"Gimana dengan hukuman kamu, berapa lama kamu akan dihukum oleh polisi itu?" tanya El.
"Gak tahu. Aku harus gimana? Kak Aby udah tahu kalau kami pacaran," ucap Nasya.
"Kok bisa? Oh ya aku ingat, waktu itu kamu dan kakak kamu mengobrol bersama polisi itu. Aku pikir kalian sedang menyelesaikan masalah," ucap El.
"Reza sama kak Aby berteman baik. Aku harus apa agar bisa lepas dari polisi mesum itu? Gak mungkin aku bilang sama kak Aby kalau dia mencuri ciuman dariku nanti yang ada persahabatan mereka jadi hancur," ucap Nasya.
"Ya udah kalau gitu pacaran aja baik-baik."
"Merinding aku kalau pacaran secara baik-baik sama dia. Belum apa-apa aja aku sudah kecolongan lama-lama nanti aku bisa kebobolan," ucap Nasya.
Dua gadis itu terus berbicara hingga saat mereka melihat Reza barulah mereka berhenti berbicara.
"Sedang apa dia di sini?" ucap Nasya.
"Mana aku tahu," ucap Eliandra sambil mengangkat kedua belah bahunya.
"Hai, sayang," ucap Reza dengan senyuman manisnya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Nasya.
"Sedang mencintai pencuri," sahut Reza.
"Hah! Pencuri? Mana mungkin di kampus elit ada pencuri," ucap El.
"Ada. Buktinya aku di sini untuk menangkap pencurinya," ujar Reza.
"Kalau gitu cepat tangkap! Ngapain masih di sini," ketus Nasya.
Tiba-tiba Reza langsung memeluk Nasya dan memegangi tangannya dan menahannya di belakang Nasya agar tidak memberontak.
"Lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan?" ucap Nasya sembari memberontak.
El hanya diam sambil terus menatap mereka, dalam hatinya ia merasa takut jika suatu saat nanti dipertemukan dengan laki-laki yang seperti Reza.
"Aku sedang menangkap pencurinya dan jangan harap aku akan melepaskannya," ucap Reza.
"Aku tidak mencuri. Apaan sih kamu, aku tidak kekurangan apa pun tidak mungkin aku mencuri," ucap Nasya.
"Kamu sudah mencuri hatiku dan kamu harus ditangkap," ucap Reza.
"Haish! Aku pikir pencuri beneran ternyata cuma bahan kebucinan polisi mesum ini," batin El.
"Lepasin aku. Aku malu dilihat orang," ucap Nasya.
"Cium dulu," ucap Reza dengan berbisik di telinga Nasya.
__ADS_1
Nasya mendekatkan mulutnya ke leher samping Reza dan membiarkan laki-laki itu mrasakan hembusan nafasnya yang berderu tak beraturan dan satu detik kemudian ia mulai membuka mulutnya dan menggigit leher Reza dengan keras hingga Reza mengerang kesakitan dan refleks melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Nasya.
"Mantap kan ciumannya? Udah ya, aku pergi dulu," ucap Nasya dengan senyuman penuh kemenangan.
"Awh, aduh! Nakal kamu ya. Ternyata selain galak kamu juga ganas," ucap Reza sembari memegangi lehernya.
Nasya tak memperdulikan Reza, dia terus melangkah dengan cepat sambil menggandeng El! Sementara El hanya diam dan ikut saja kemana Nasya membawanya.
*******
Pagi hari di kediaman Abu dan Mawar.
Pagi itu sekitar pukul sembilan. Mawar sedang berjalan menuju halaman belakang rumahnya tiba-tiba perutnya terasa sakit.
"Ah, aduh sakit," ucap Mawar sembari memegangi perutnya.
Sepertinya Mawar akan melahirkan karena terlihat darah mengalir di kakinya.
"Awh, Ibu! Bapak tolong!" seru Mawar.
Mendengar suara Mawar meminta tolong Frans, Salman dan Joe berlarian memasuki rumah dan mencari dari mana sumber suara majikannya itu.
"Tolong!" seru Mawar lagi.
"Di dapur," ucap Frans sembari berlari ke dapur rumah itu!
"Mbak Mawar!" seru Frans saat melihat Mawar duduk di lantai dengan darah yang sudah menggenang di sekitar Mawar duduk.
Dengan sigap tanpa rasa jijik terhadap darah itu, Frans langsung memangku tubuh Mawar dan membawanya ke dalam mobil!
Tanpa di minta, Joe berlari mendahului Frans untuk membukakan pintu rumah dan setelah itu membukakan pintu mobil agar Frans tidak kesulitan dalam membawa Mawar ke dalam mobil.
"Bu Marisa! Bu Ratna! Mbak Mawar mengalami pendarahan," ucap Salman setelah tiba di tempat Marisa.
"Apa! Dimana dia sekarang?" tanya Bu Marisa.
"Udah dibawa ke mobil, cepatlah Bu, kita harus segera ke rumah sakit."
Tanpa menjawab Marisa dan Bu Ratna pun langsung berlarian menghampiri Mawar!
"Cepat, Bu," ucap Frans yang sudah siap untuk mengemudi.
"Aw sakit. Bu! Sakit," ucap Mawar.
"Mawar ...." Marisa panik karena melihat Mawar pendarahan. "Bude pergi duluan, aku harus menyiapkan barang yang akan dibutuhkan nanti," ucap Marisa lagi.
Bu Ratna langsung masuk ke dalam mobil dan Frans pun langsung melakukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Salman cepat siapkan mobil untuk kita! Saya mau mengambil barang bawaan dulu," ucap Marisa sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"Oh ya, Joe cepat telpon Aby dan Pak Mahendra, katakan kalau Mawar mau melahirkan," ucap Marisa lagi pada Joe.
__ADS_1
Mereka pun langsung membagi tugas agar semua dapat selesai dengan cepat.
"Saya ikut," ucap Pak Ija pada Salman.
"Ayo masuk, Pak! Kita akan menyambut kehadiran Tuan Muda junior hari ini," ucap Salman.
*********
Di perjalanan menuju rumah sakit. Di dalam mobil Mawar.
"Bu, sakit sekali," ucap Mawar.
"Sabar, Nak tahan ya. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit," ucap Bu Ratna.
"Ah." Mawar terus meringis kesakitan, "telpon Mas Aby, aku mau dia ada di samping aku," ucap Mawar sambil terus menahan sakit.
"Tuan Muda sudah ditelpon oleh Salman," ucap Frans sambil terus fokus mengemudi.
"Aaaah." Mawar mencengkram tangan bu Ratna dengan kerat hingga wanita tua itu merasa kesakitan, meski begitu Bu Ratna tak membiarkan Mawar mengetahui itu ia tak mengapa jika harus merasa sakit asalkan Mawar menemukan sedikit ketenangan dalam rasa sakit yang kini sedang dideritanya.
"Bertahan, Nak kita sudah tiba di rumah sakit," ucap Bu Ratna.
********
Di dalam mobil Marisa.
"Salman! Yang cepat dong nyetirnya saya khawatir sama Mawar," ucap Marisa.
"Saya sedang berusaha menyusul mobil mereka, Bu," ucap Salman.
"Joe, apa Aby sudah jalan ke rumah sakit?" tanya Marisa pada Joe.
"Sudah. Tuan Muda langsung jalan ke rumah sakit," sambung Joe.
"Baguslah. Semoga Mawar melahirkan dengan selamat," ucap Marisa lagi.
"Bagaimana dengan Mahendra?" tanya Pak Ija.
"Beliau masih ada meeting. Jingga akan memberitahunya setelah meeting," jelas Joe lagi.
Tak lama mereka pun tiba di rumah sakit dan mereka melihat Frans sedang duduk di depan mobilnya. Mereka pun langsung turun dari mobil saat Salman sudah memarkirkan mobilnya.
"Frans! Dimana Mawar?" ucap Marisa.
"Mbak Mawar sudah di ruang persalinan. Mari kita ke sana," ucap Frans.
Frans sengaja menunggu mereka di sana agar mereka tidak perlu lagi mencari di ruangan mana Mawar ditangani oleh tim dokter.
Marisa mengangguk lalu segera berjalan mengikuti Frans!
Bersambung
__ADS_1